
*Titihan Air Mata
"Cheri...cheri...bangun Cher!!!" iksi membangunkan rafkil yang tengah tidur nyenyak disebelahnya
"Uuuummm!!! Ada apa cheri?" seketika rafkil menoleh ke arah isterinya sembri mengusap-usap kedua matanya yang masih sulit terbuka itu
Siru : "cheri aku pengen sesuatu!"
Rafkil : "um...cheri pengen apa?" tukas rafkil pelan dengan suara yang masih serak
"Cheri...aku pengen makan buah kedondong" cetuh iksi ngidam ditengah malam
"Haaaaa???" sontak rafkil terkejut mendengarkan permintaan iksi yang cukup mencengangkan itu
Siru : "Cheri...please!" tukasnya sembari menarik-narik lengan rafkil
Rafkil : "inikan udah tengah malam cheri, nanti besok yah aku beliin di supermarket ok?"
Siru : "aku pengennya sekarang Cheri..dari tadi aku ileran muluw pengen makan kedondong"
Rafkil : "kenapa tadi saat di rumah sakit Cheri gak nelpon aku, biar sekalian aku beliin!"
Siru : "tadi aku belum pengen cheri" cetuhnya dengan manja
Rafkil : "huuufttt...cheri please!!! Tidur aja dulu yah, supermarket jauh dari sini sayang, nanti besok yah aku beliin janji"
Siru : "anak Cheri pengennya sekarang, gak mau besok!"
Rafkil : "Huuuufttt..ya udah, aku cuci muka dulu, cheri tunggu disini yah"
"Thank you Cheri!" dengan senyuman iksi segera mencium pipi kiri rafkil
Seketika rafkil terperanjat dari tidur sembari memegang pipi kirinya yang baru saja di kecup oleh iksi, perlahan ia mulai mengangguk pelan sambil tersenyum kecil pada isterinya yang terlihat sedikit salah tingkah itu
"Kan ka..ka..katanya one thanks one kiss" cetuh iksi sedikit terbata-bata, rasanya ia tak kuasa melihat senyum manis dari sang suami yang lagi-lagi membuatnya terus salah tingkah
Tanpa kata, rafkil hanya tersenyum pada isterinya sembari bergegas menuju kamar mandi untuk membilas mukanya yang sedikit kusam itu, sesaat setelahnya rafkil kemudian mengendarai mobilnya menuju supermarket untuk membeli buah kedondong, tak lupa ia menyuruh iksi untuk mengunci pintu saat dirinya tak ada dirumah
**********
ditengah perjalanan tiba-tiba handphone rafkil berdering, yang ternyata panggilan masuk dari papah nya Zeyyan, berkali-kali rafkil sempat tidak menggubris panggilan tersebut namun ia tercengang saat membaca pesan via Whatsapp dari papah nya Zeyyan
Kurang lebih 2 jam-an sudah rafkil tak kunjung kembali ke rumah, iksi tak tau harus melakukan apa untuk mengalihkan rasa bosannya saat sendiri dirumah, berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi nomor rafkil namun tetap saja tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh rafkil
"Huuufffftt....rafkil kok keluarnya lama banget sih..bikin khawatir aja" gumamnya dengan suara lirih
"kreeeeek!!!" rafkil membuka pintu dari luar
__ADS_1
"haaa? Cheri" sontak iksi terkejut sembari berlari kecil menghampiri rafkil
rafkil : "Cheri dari tadi nungguin aku?"
siru : "iya lah, Cheri kok keluarnya lama banget sih aku khawatir tau gak!" cetuhnya dengan wajah yang memelas
rafkil : "iya..iya sorry!"peliknya sembari mengelus-elus lengan iksi
siru : "Cheri kemana aja sih tadi...?"
rafkil : "aaam..aaam..aaam!" rafkil seakan tak tau harus memulai percakapan dari mana
siru : "mana buah kedondong nya?"
rafkil : "nih..." sembari mengangkat sebuah kantong plastik berukuran besar yang dipeganginya itu
"bentar yah aku simpan di piring dulu!" sambung rafkil
siru : "temanin aku makan yah?"
rafkil : " iya Cheri..!"
dengan tidak membuang-buang waktu lagi, rafkil segera menuju dapur untuk menyiapkan buah kedondong yang diminta oleh iksi sedari tadi, setelah tersaji rafkil lalu mengambil tempat duduk tepat disamping iksi
"ayo dimakan, katanya ngiler pengen makan buah ini!" pekik rafkil
"huuuffftt..kok cabenya gak ada sih!" iksi berdesis dengan wajah yang cemberut
siru : "kok satu sih..sepuluh lah cheri"
rafkil : "No...satu aja titik, cheri tuh lagi hamil gak boleh makan terlalu pedas, paham?"
siru : "huuum..ya udah satu aja cabe nya" tukasnya dengan pasrah
dengan semangat iksi terus mengunyah buah kedondong yang ada dipiringnya itu, seketika ia mulai kepedisan sembari mengusap peluh yang mulai bercucuran didahinya
Rafkil : "aaam..Cheri?"
siru : "ummm?"
Rafkil : "aaaaam aku mau ngomong sesuatu" pekiknya ragu-ragu
siru : "mmm..mau ngomong apa?"
Rafkil : "sebenarnya...sebenarnya tadi aku sempat ke rumah Zeyyan!"
__ADS_1
seketika iksi tak melanjutkan kunyahannya, dengan pelan ia menaroh kembali buah yang sudah setengah tergigit itu ke atas piring, sembari menelan ludahnya ia lalu menatap sendu wajah rafkil
siru : "Cheri ngapain kesana?" tanyanya dengan pelan
rafkil : "aku di telpon sama papah nya Zeyyan, dan..dan..dan kondisi Zeyyan saat ini benar-benar kritis!"
siru : "kritis?"
rafkil : "ya..!"
siru : "terus....?"
Rafkil : "Zeyyan mencoba untuk bunuh diri"
siru : "astagfirullah..kok Zeyyan bisa berfikiran sependek itu yah, apa ada kaitannya dengan Cheri?"
Rafkil : "ya...keluarga Zeyyan memintaku untuk segera menikahinya minggu depan!"
siru : "apaah???"
seketika iksi menutup mulut dengan kelima jari tangannya sembari terus mengedipkan kedua bola matanya untuk membendung titihan airmata yang sedikit lagi akan mencucur itu.
Rafkil : "apa keputusan cheri?"
siru : "entahlah cheri, awalnya aku sempat berfikir untuk ikhlas, tapi semakin kesini rasanya semakin berat..!" pungkasnya dengan hati yang terenyuh
Rafkil : "aku gak nyangka Zeyyan bisa senekat itu!"
siru : "lalu keputusan Cheri sendiri?"
rafkil : "I have no Choice right now"
siru : "apah....apakah itu berarti...??" iksi enggan untuk melanjutkan pertanyaannya
rafkil : "ya...aku terpaksa bilang pada orang tua Zeyyan kalau minggu depan aku akan menikahi Zeyyan!"
mendengar kalimat rafkil yang cukup mencengangkan itu, rasanya sulit untuk diterima oleh wanita biasa seperti iksi, berkali-kali ia mencoba untuk menenangkan diri sembari menarik nafas dalam dengan tatapan kosong ia menatap wajah rafkil
Rafkil : "Cheri I'm so sorry, I know I 'm wrong but this is for the good of all"
siru : "ya..mungkin!" pekiknya dengan cucuran airmata
Rafkil : "please don't be cry cheri"
siru : "cheri...aku hanya ingin menangis sekarang"
Rafkil : "I'm so sorry cheri" tukasnya sembari mencium kedua telapak tangan iksi
__ADS_1
siru : "Cheri gak salah kok, hanya saja hal yang paling aku takutkan adalah jangan sampai aku terus-terusan bertengkar dengan rasa cemburu ini..hiiiikss...hiiikss"
seketika rafkil memeluk iksi dengan erat tak tahan ia juga menitihkan airmata, saat melihat iksi yang terus menangis dengan wajah yang penuh dengan keputusasaan itu