
*Bukan Sepenuhnya Orang Baik
"Sini sama mamah, biar mamah aja yang mangku!"
"No!! Zilda gak mau sama mamah, Zilda maunya sama papah"
"Zilda! papah tuh mau nyetir"
"No!"
"Udah gak apa-apa, Zilda bobo aja yah, gak usah gelisah"
"Iya papah!"
"Persis papahnya waktu dulu!" mendengar gumam kesal Iksi, pun Rafkil mulai menatap sinis isterinya itu, tanpa berkata apa-apa lagi ia kemudian menyetir dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang satunya lagi ia tempelkan pada punggung Zilda yang mulai terlelap itu.
"Hwuaah! aku kan udah bilang, gak usah bawa Zilda, bikin rusuh aja kan jadinya!" masih saja Iksi mengoceh namun tidak ada tanggapan apa-apa dari Rafkil.
"Cheri tau gak? tadi dia nangis sejadi-jadinya di dalam aula, ya ampun aku gak tau lagi muka aku mau taroh dimana!" ia kemudian menatap wajah Rafkil yang sedari tadi tak memberikan tanggapan apa-apa atas celotehannya itu.
"Cheri? denger aku gak?" lagi-lagi Rafkil tak memberikan respon apa-apa, ia hanya terdiam dengan wajah datarnya itu, pun Rafkil seakan enggan untuk menoleh ke arah Iksi, terus saja ia fokus untuk menyetir.
"Cheri? aku nanya, cheri denger aku gak?"
"Bisa gak, sekarang berhenti dulu dengan semua omelan kamu?"
"Cheri kenapa sih? cheri marah sama aku?"
"Cheri kalo aku salah, tolong kasih tau dimana kesalahan aku, biar besok-besok aku gak akan mengulanginya lagi" Rafkil hanya melihat Iksi sesaat, kemudian ia kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalan raya.
Meski masih saja diliputi oleh berbagai pertanyaan di kepala nya, namun Iksi lebih memilih diam karena berbicara sampai mulut berbuih pun sama saja tidak akan pernah ada tanggapan apa-apa dari mulut Rafkil.
Saat mereka akan masuk ke dalam rumah tiba-tiba Rafkil mulai bersuara.
__ADS_1
"Lain kali jangan kek begitu lagi!" ia kemudian mencubit hidung Iksi.
"Jangan kek begitu, kek gimana?" Iksi semakin bingung dibuatnya.
"dokter Adit" jawabnya singkat.
"Ohow! jadi cheri marah hanya karena aku ngomong sama dokter adit?"
"Gak, aku gak marah!"
"Ya terus?"
"Aku cemburu" wajahnya yang kaku itu seketika mengundang tawa Iksi.
"Bhuwws! okey cheri, aku minta maaf!"
"Okey!"
*****
"Wah makasih dok, dokter sendiri kapan nih punya anak ke dua? hehe" cetusnya bercanda
"Hehe! nanti lah, ow yah gimana pasien post op Ca Kolon kemaren?"
"Aman dok!"
"Hehehe" keduanya pun mengelakkan tawa bahagianya, namun tiba-tiba dokter Ilyas tertegun saat melihat Anisa yang baru saja berpapasan dengan mereka.
"Aam! dokter Akil kenal sama suster yang baru lewat tadi?"
"Ouw Anisa?"
"Maybe"
__ADS_1
"Kenapa dengan dia?" tanya Rafkil mulai penasaran.
"Beberapa kali aku sempat ngeliat dia membuntuti dokter Akil"
"Masa sih?"
"Iya, saran aja sih dok! Mending hati-hati deh, kelihatannya dia gak sepenuhnya orang yang baik-baik" cetuhnya sembari menepuk pelan pundak dokter Akil.
*****
Siang itu, Steven dan Dila tengah menikmati makn siang, di sebuah restoran yang sudah bertahun-tahun menjadi restoran langganan keluarga Steven.
"Gimana tanggapan orang tua kamu?" tanya Steven pada Dila.
"Huum! masih dengan jawaban yang sama!"
"Terua kamu sendiri? udah buat keputusan?"
"Steiv, sampai saat ini aku belum bisa membuat keputusan apa-apa!"
"Ya sudah aku yang akan buat pilihan, dan sekarang kamu akan putuskan pilihan mana yang akan kamu pilih"
"Pilihan?"
"Yaa, kalau kamu bener-bener cinta sama aku, maka lepaskan agama kamu, tinggalkan orang-orang terdekat kamu lalu ikut bersamaku, tetapi jika kamu lebih memilih agama kamu, maka lepaskan aku dan kita akan memilih jalan hidup masing-masing"
"Steiv, I love my religion, I love my family, may parrents, and I love you, but I can't choice anything"
"Kamu harus memilih, kalau kamu gak akan memilih maka selamanya hubungan kita akan seperti ini"
"Kalau sebaliknya pilihan itu ditimpahkan ke kamu, apa yang akan kamu lakukan?"
"I will choice my religion, my family and my parrent"
__ADS_1
"Okey, kita sudah memutuskan" dengan mata yang hampir berkaca-kaca, sontak Dila pun mulai terperanjat, tiba-tiba Steven bersuara lagi.
"But I love you, love you so much" Dila hanya menatap sayu Steven, tanpa berkata-kata lagi, ia pun bergegas meninggalkan Steven seorang diri, sementara Steven hanya mematung memandangi Dila yang terus melangkah keluar hingga sudah tak terlihat lagi dari pandangannya, Steven kembali duduk di kursi dengan tubuh yang tak bergairah, tatapan matanya masih saja sayu seakan menyesali keputusan yang baru saja mereka sepakati itu.