Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 63 (Part II)


__ADS_3

*Menguak Rahasia Lama


"Uuluh! cucuk nenek, makin cantik aja" Gemesh mama Ratna saat membuka pintu dan mendapati Iksi yang tengah berdiri sambil menggendong Zilda yang mulai terlelap itu.


"Datang kok gak beri kabar sih, loh! nak Rafkil mana?" Lanjut mama Ratna, namun Iksi tak merespon pertanyaan sang mamah, segera saja ia bergegas masuk kedalam sembari menidurkan Zilda di tempat tidur.


"Mamah tanya, nak Rafkil mana? gak biasanya kamu berkendara sendiri" mamah Ratna kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada Iksi, dengan cetusnya Iksi bersuara pada mamah Ratna.


"Jangan sebut nama dia boleh gak mah?"


"Lah, kalian lagi ada masalah?"


"Malas mah, ngebahas tentang penipu!" Iksi yang masih berwajah masam, kemudian terperanjat dan bergegas menuju dapur, tepat di meja makan ia menuang segelas air putih untuk diminumnya, sementara mama Ratna masih saja mengikutinya dari belakang.


"Penipu? maksudnya penipu apa nak?" tanya mama Ratna sangat bingung, mendengar pertanyaan sang mamah yang semakin membuatnya naik pitam, dengan keras ia menaroh gelas di atas meja hingga mama Ratna pun terkejut di buatnya.


"Kamu kenapa sih nak, marah-marah gak jelas!"


"Mah, mamah tau gak? ternyata selama ii aku hidup dengan komplotan penipu seperti mereka!"


"Aduh! penipu, komplotan penipu apa sih mama gak ngerti maksud kamu apa nak!"


"Mah! ternyata selama ini yang nabrak papah itu papa burhan, dan selama belasan tahun mereka nyembunyiin itu dari kita, huwaah aku bener-bener gak nyangka mah!" seketika mama Ratna hanya terdiam mendengar keluh kesah anak semata wayangnya itu, Iksi yang merasa aneh dengan sikap mama Ratna yang tak berespon apa-apa, ia kemudian melontarkan pertanyaan pada mamah Ratna.


"Mah? mamah kok diam aja sih? apa jangan-jangan...." seketika mamah Ratna langsung menindih ucapan Iksi.


"Yaa mamah udah tau, bahkan sejak hari kecelakaan itu"


"Mah?" Iksi yang antara percya dan tidak percaya dengan ucapan mamah Ratna, tak bisa berkata apa-apa lagi selai terus mengekang kepalanya, berasa otaknya semakin sulit untuk menalar permasalahan ini.


*****


"Zilda bobo yah udah malem!" tukasnya sembari mengelus-elus lengan Zilda.


"Papah kapan kesini? Zilda kangen papah mah!"


"Papah lagi sibuk, banyak pasien di rumah sakit, Zilda bobo yah?"

__ADS_1


"Zilda pengennya papah disini!" terus saja si kecil itu merengek di hadapan Iksi, semakin kesal dibuatnya, Iksi kemudian bersuara keras dihapan Zilda.


"Zilda! boleh gak sih nurut aja apa kata mamah"


"Tok..tok..tok!" seketika terdengar suara ketukan pintu, mama Ratna lalu membuka pintu dan bersuara pelan pada Iksi.


"Iksi? setelah ini turun ke bawah ya? papah mau ngomong!"


"Iya mah!" sahutnya pelan.


Selang beberapa saat, setelah Zilda terlelap Iksi pun segera ke ruang tamu, untuk menemui sang ayah yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Maaf yah pah, agak lama soalnya Zilda baru aja tidur!"


"Iya gak apa-apa nak, ayo duduk"


"Kamu kesini udah izin sama Rafkil?" tanya papah Adnan.


"Dia tau kok pah, aku kesini!" sahutnya datar.


"Terus nak Rafkil ngizinin Iksi kesini?"


"Iksi? dia itu syurga kamu nak, kamu tau gak? beban berat apa yang dipikul oleh pundak seorang suami?" papa Adnan terdiam seketika, sembari memandangi Iksi yang hanya membungkam di tempat duduknya itu.


"Beban berat yang dipikul oleh seorang suami adalah tanggung jawab, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat" lanjut papah Adnan.


"Nak! berselisih dengan suami bukan dengan cara seperti ini untuk menyelesaikannya, coba duduk berdua bicarakan dengan kepala dingin" mamah Ratna pun turut menambahkan.


"Iksi males liat muka dia mah, satu keluarga penipu semua"


"Astaghfirullah!" gumam lirih palah Adnan.


"Astaghfirullah! istighfar Iksi" pun mamah Ratna juga sangat terkejut mendengar kata-kata kasar Iksi barusan.


"Mamah sama papah juga, kenapa sih gak pernah cerita ke Iksi kalau mereka yang menyebabkan papah sampe cacat begini"


"Semua yang terjadi bukan atas dasar kesengajaan nak, itu semua sudah menjadi takdir allah, dan kita sebagai manusia hanya bisa memaafkan kelalaian manusia lainnya" tutur pak Adnan.

__ADS_1


"Ketika marah, coba Iksi pikirkan lagi kebaikan-kebaikan mereka selama ini" sambung mamah Ratna.


"Sulit mah, Iksi udah terlanjur kecewa sama mereka"


"Terus? apa keputusan Iksi selanjutnya?"


"Iksi mau minta cerai sama Rafkil mah!" mamah Ratna seakan tak bisa berkata-kata lagi, dengan pelan ia kemudian memegang dadanya yang mulai sesak itu, sementara papah Adnan memberikan beberapa untai nasehat penting pada Iksi.


"Astagfirullah! Iksi? kamu sadar gak apa yang kamu omongin? jangan pernah berfikir untuk egois, ingat Zilda, hampir semua anak akan mengalami stres berat saat menghadapi keluarga yang broken home, pikirkan itu baik-baik" merasa cukup, papa Adnan pun segera beranjak ke kamar, sementara mama Ratna dengan kesedihannya mulai bersuara lagi.


"Kamu gak kasihan sama nak Rafkil? selama belasan tahun sejak kecelakaan itu, yang mamah lihat, dia bertanggung jawab penuh atas kamu nak, semua biaya kuliah kamu di topang dengan setengah gajinya, dia juga pernah bilang sama mamah, jangan sampai Iksi merasa kekurangan sedikitpun mengenai keuangan" mamah Ratna mengambil jedah waktu seketika untuk menahan air matanya yang hampir menitih itu.


"Hingga suatu ketika mamah Ika berjanji untuk menikahkan Rafkil dengan kamu nak, meski mamah tau keputusan mamah Ika sangat berat untuk diterima oleh Rafkil, karena yang sedikit mamah tahu, saat itu Rafkil telah menyukai wanita lain, dan dia hanya menganggap Iksi sebagai adik meskipun waktu itu kalian belum pernah bertatap muka, sejak kecelakaan itu Rafkil sudah mengambil semua tanggung jawab papah sama kamu nak"


"Wajarlah mah, dia biayain aku kuliah, kan papah dia yang nabrak papah, huuftt! entah lah mah, saat ini yang ada di kepalaku tentang Rafkil hanyalah kebencian mah" seketika ia pun beranjak ke kamar, rasanya memikirkan masalah itu hanya membuat emosinya semakin meluap.


*****


"Aduh! mah, mana shower mah?" Tanya Zilda gelagapan dengan seluruh tubuhnya dipenuhi busa sabun mandi.


"Di rumah nenek gak ada shower, tuh pake gayung aja" seketika Zilda membasuh tubuhnya dengan air, semenjak kehadiran Zilda, rasanya kondisi kamar madi sang nenek terdengar sangat riweuh.


"Ya udah Zilda mandi yang bener yah, mamah mau nyiapin sarapan pagi dulu"


"Ok mah!" sahutnya.


"Jangan lupa pake shampoo, tuh handuknya ada di samping!"


"Okey mamah!"


Sesaat setelahnya, sang nenek pun mulai menghampiri Zilda yang masih ke asyikan bermain-main di dalam kamar mandi minimalis itu.


"Loh, Zilda kok belum beres juga mandinya!"


"Hehe!" ia hanya tertawa girang menanggapi ucapan sang nenek.


"Udah, udah mandinya, nanti Zilda masuk angin" seketika mama Ratna pun mulai membungkus Zilda dengan sepotong handuk anak yang sudah disiapkan Iksi sejak tadi.

__ADS_1


Jangan lupa follow dan vote yah🤗


masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆


__ADS_2