Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 72 (Part II)


__ADS_3

*Rayuan Maut Sang Penggoda


Di jam yang sama setiap sore, Rafkil selalu menyisihkan waktunya untuk berolahraga di tempat biasa (taman mini), namun untuk samapai ke taman mini, ia harus berlari dari rumahnya dan melewati beberapa rumah tetangga termasuk salah satunya ialah rumah Anisa, tepat di depan rumah Anisa ia mendengar teriakan orang yang meminta tolong.


"Tolong! tolong! tolong!" suara itu terdengar lagi di telinga Rafkil, sontak ia pun menegunkan langkah sesaat, jelas sekali suara yang didengarnya itu berasal dari dalam rumah Anisa.


"Anisa? Anisa?" teriak Rafkil dari luar, ia masih ragu-ragu melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam, setelah beberapa saat ia berdiri di depan rumahnya kini sudah tidak terdengar lagi suara-suara dari dalam sana, namun tetap saja Rafkil masih menaruh rasa khawatir pada Anisa yang mungkin saja sudah di apa-apa kan oleh orang jahat anggapnnya.


Seketika ia mulai melangkah masuk ke dalam rumah, dengan hati-hati ia mencoba untuk membuka pintu, yang ternyata pintu itu tidak di kunci hanya sekedar tertutup rapat saja, ia kemudian menyusuri segala ruangan yang ada, namun tetap saja ia masih belum menemukan keberadaan Anisa.


"Anisa?" teriaknya lirih, hingga nalurinya mulai berkata untuk masuk ke sebuah ruangan dan lagi-lagi pintu dari ruangan itu sama sekali tidak di kunci, beberapa langkah ia memasuki ruangan itu sungguh hal yang mencengangkan yang saat ini dilihatnya adalah hampir seluruh dinding kamar itu ditutupi oleh foto-fotonya sendiri, beragam fotonya yang sudah di koleksi oleh Anisa bahkan ia sendiri kebingungan dari mana ia memperoleh semua foto-foto itu.


Masih digeluti rasa penasaran ia kemudian berjalan lebih dekat ke arah dinding, disitu ia mendapati beberapa tulisan yang bertuliskan "I love you so much dr. Rafkil (aku sangat mencintaimu dr.Rafkil)" dan "I would die for you, if I don't get your love (aku rela mati demi kamu, jika aku tak mendapatkan cintamu)"


Rafkil kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan fikirannya yang tengah kacau ini, ia tak habis pikir Anisa bisa segila itu padanya, namun saat ia menoleh ke arah cermin rias lagi-lagi ia masih menemukan sebuah tulisan "Finally, to day I found my soulmate in hospital and he's a doctor (akhirnya hari ini aku menemukan belahan jiwaku di rumah sakit dan dia seorang dokter)" Rafkil sangat meyakini, tulisan ini ditulisnya pada saat pertama kali mereka berpapasan.


"Dabraaaaak!" tiba-tiba terdengar bunyi keras tutupan pintu, sontak Rafkil sangat terkejut lalu menoleh ke belakang, betapa lebih terkejutnya lagi saat ia melihat Anisa yang hanya mengenakan sepenggal handuk mandi itu.


"Anisa kamu mau ngapain? tadi bukannya kamu yang teriak-teriak minta tolong?" Rafkil mulai gelagapan, sementara Anisa tengah sibuk mengunci pintu kamar, lalu kuncinya itu ia buang ke luar lewat bolongan bawah pintu.

__ADS_1


"Hai..dokter Rafkil!"


"Buka pintunya sekarang, aku mau pulang!"


"Hahahaha! pulang? ups maaf dok, kuncinya udah aku buang ke luar tadi!" jawabnya santai, ia kemudian berjalan menghampiri Rafkil sembari memegang pisau ditangannya.


"Anisa kamu jangan macam-macam yah!"


"Tenang aja dok, aku gak bakalan macem-macem kalo dokter gak macem-macem juga, ikuti aja apa yang aku suruh! okey?" ia lalu tersenyum memandangi wajah Rafkil, sementara Rafkil mulai menatapnya sinis.


"Hei, kenapa dokter ngeliat aku sinis kek begitu?" tiba-tiba ia berbicara kasar pada Rafkil, namun Rafkil kemudian membuang muka dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Nah, gitu dong, coba deh kalo di dalam kamar kek begini tuh, dokter gak usah jadi munafik, aku tau kok dokter suka kan dengan tubuh seksi aku?" di atas tempat tidur ia menggerutu sambil perlahan-lahan ia memainkan jari-jarinya dengan menggelitiki manja betis yang mulus itu hingga ke atas pahanya, ia berusaha merayu rafkil namun lagi-lagi Rafkil masih saja membuang muka, Anisa yang mulai merasa jengkel kemudian berdiri menghampiri Rafkil.


"Jangan dekat-dekat!" ujar Rafkil, mendengar gelagapan itu, Anisa kemudian tersenyum simpu lalu ia memegang ikatan handuknya kemudian secara perlahan ia membuka balutan handuk yang saat ini melilit tubuh seksinya itu, sebagai laki-laki yang normal tentunya Rafkil mulai terangsang atas tingkah genit Anisa saat ini.


Tanpa ragu-ragu lagi Anisa kemudian membuang handuk yang dipakainya tadi ke segala arah, benar saja iman Rafkil mulai lemah dan beberapa kali ia menelan ludahnya saat melihat seluruh tubuh Anisa yang tanpa busana itu, dengan senyuman menggoda Anisa kemudian menempel di tubuh Rafkil lalu berbisik-bisik di telinga dokter tampan itu.


"Ssshuut, tenang aja gak ada siapa-siapa kok disini, yang ada hanya kita berdua, huuum aku sangat menyukai bau tubuh mu dokter Rafkil!" ia kemudian mengusap-usap pelan wajah Rafkil dengan jari-jari nakalnya itu.

__ADS_1


"Tenang aja, meskipun aku belum menikah, kalau masalah di atas ranjang aku sudah sangat senior, mau tau sedikit cerita kenapa aku bisa dengan mudahnya merebut beasiswa Iksi? ya dengan cara seperti ini lah, menjadi ******* untuk para petinggi-petinggi di kampus, dari luar mereka terlihat berwibawa dengan tampilan jasnya, hum! dan ternyata mereka semua hanyalah sekumpulan orang-orang munafik busuk yang bertopengkan kedudukan, Iksi itu orangnya terlalu polos dan terlalu jujur, makanya apapun yang sudah menjadi haknya ia akan kesulitan untuk memilikinya, karena ada banyak *******-******* kampus yang akan merebutnya" ia kemudian mengecup pelan pipi Rafkil, sembari tangannya yang nakal itu mulai memegang kancing baju Rafkil, seketika Rafkil hanya bisa berekspresi geli menikmati tingkah genit ******* kampus itu.


"Astagfirullah hal adzim..." ia kemudian beristighfar sebanyak-banyaknya, lalu mendorong Anisa hingga terjatuh disisi tempat tidur, dengan langkah yang terburu-buru ia mengambil pisau yang terpental jauh dari tubuh Anisa saat ini.


Segera saja ia mendobrak-dobrak pintu kamar itu, namun tetap saja pintu tersebut sangat sulit untuk di buka, hingga akhirnya Rafkil memutuskan untuk terjun bebas dari jendela kamar, untung saja tidak ada cedera yang di alami hanya terlihat jejak tanah menghitam yang menempel di baju kemeja Rafkil.


*****


"Loh cheri dari mana? bajunya kok kotor banget" tanya Iksi, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut suaminya itu, melainkan hanya tatapan mata yang terus saja membuat Iksi semakin bingung, bahkan gara-gara tatapan Rafkil, Iksi sampai malu dibuatnya, tiba-tiba ia menghampiri Iksi lalu menggendongnya, sampai di atas tempat tidur, Rafkil kemudian mulai membuka kancing bajunya, Iksi yang mulai paham atas tindakan Rafkil ini seketika ia bersuara.


"Ee..eh tunggu, tunggu, tunggu, gimana kalo aku mandi dulu, cheri juga mandi nanti selesai mandi..." Rafkil lalu menindih ucapan Iksi.


"Gak, aku pengennya sekarang!" Rafkil tak bisa lagi menahan nafsunya yang tengah memuncak ini.


"Cheri kenapa sih..." lagi-lagi menindih ucapan Iksi.


"Shhhuuuut!" ia kemudian membaca do'a bersenggama lalu memulainya bersama Iksi, pasangan yang sudah halal untuknya, Iksi pun hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan suaminya itu.


Jangan lupa follow dan vote yah🤗

__ADS_1


masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆


__ADS_2