Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 58 (Part II)


__ADS_3

*Menyalahi Aturan


"Permisi! dr. Akil nya ada?" ucap Anisa pada salah satu perawat bedah yang tengah beristirahat.


"Ada tapi dokter Akil sedang istirahat sekarang" cetuhnya pelan. dengan gegabahnya Anisa pun bergegas masuk kedalam.


"Mbak! maaf mbak, anda tidak bisa maen masuk aja ke dalam, semua punya SOP masing-masing, anda tau kan anda berada di ranah steril sekarang!"


"Saya temannya dokter Akil, dan saya mau bertemu dengan dia sekarang!" dengan lantang ia menyoloti ucapan perawat bedah itu.


"Mbak? mau mbak ini temannya dokter Akil, sepupunya dokter Akil, atau siapa nya dokter Akil, saya gak peduli sama sekali, disini mbak selalu dituntut untuk tetap profesional"


"Ya, kita semua disini dituntut untuk tetap profesional, termasuk kamu, jangan panggil saya mbak, saya bukan mbak kamu, panggil saya Ners Anisa" cetusnya sembari memaksa masuk ke dalam ruangan bedah.


"Siapa sih dia? kok aku baru liat"


"Dia itu perawat baru, dinasnya di ruang tulip, emang sih banyak yang gak suka sama dia"


"Jadi orang belagu banget, emang ini rumah sakit punya nenek moyang dia" sahut perawat lainya.


"Tau, mbak Iksi aja kalo kesini taat ama aturan, lah dia kenal juga kagak, tiba-tiba ngaku-ngaku jadi temen dr. Akil" satu demi satu perawat bedah itu mulai mengeluarkan unek-uneknya, berasa murka atas tingkah Anisa brusan.


Tepat didepan pintu ruangan dr. Rafkil, Anisa mulai tertegun, seakan mengambil ancang-ancang untuk masuk ke dalam, sambil sesekali ia memerhatikan penampilannya.


"Permisi dok!" seketika Anisa membuka pintu ruangan dokter Rafkil.


"Anisa? kamu ngapain ke ruangan saya?" ucap Rafkil yang sangat terkejut melihat penampakkan Anisa didepan pintu ruangannya itu.


"Ini dok, saya mau konsultasi terkait pasien tulip kamar VIP" cetusnya sembari melangkah masuk kedalam, tanpa merasa bersalah, tanpa permisi ia segera duduk dihadapan Rafkil.


"Kamu tau kan, gimana prosedurnya saat masuk di ruangan bedah?" dengan tatapan sinis ia menyoroti Anisa.


"Iya dok, tapi saya cuman mau konsultasi de..." seketika Rafkil menimpali ucapannya.


"Kalau cuman mau konsultasi, kan bisa di jam visite saya, bukan disini"

__ADS_1


"Keluar dari ruangan saya sekarang!"


"Baik dok!" tuturnya sembari bergegas meninggalkan ruangan dr. Rafkil, saat sampai diruangan awal ia bertemu lagi dengan beberapa perawat bedah tadi.


"Hei...hei, liat wajahnya, liat wajahnya" terdengar suara lirih dari salah satu perawat.


"Duuh! sedih banget, pasti dia habis dimarahin deh sama dokter Akil" sahut perawat lainnya.


*****


"Rozey, ambil cepet cokelatnya, jangan dibuang, nanti momy gak mau beliin lagi loh" dari kejauhan Anisa melihat dokter Zeyyan yang tengah membujuk anaknya, seketika ia pun menghampirinya.


"No momy, I want a ice cream (gak mami, aku mau es krim)"


"No! Rozey gak boleh minum es krim"


"Selamat siang dr. Zeyyan!" seketika Anisa menyapa dokter Zeyyan.


"Ya siang!"


"Hehe!" Zeyyan seakan merasa risih akan kehadiran Anisa saat ini yag bertingkah sok akrab di hadapannya.


"Aaam! kalau di liat-liat, sekilas wajahnya mirip dokter Rafkil yah?" dengan sengaja Anisa berkata seperti itu, agar Zeyyan kembali merasa tertekan atas isu-isu lama, yang nyaris sudah tidak lagi dibicarakan saat ini.


"Aam! kamu salah liat kali, malah gak ada mirip-miripnya sama dokter Rafkil, ya udah aku permisi yah!" sembari bergegas meninggalkan Anisa, namun dari belakang Anisa masih saja bersuara.


"Bukannya dia anaknya dokter Rafkil yah?" pertanyaan Anisa mampu menegunkan langkah dr. Zeyyan, ia lalu kembali mendekati Anisa dengan jarak yang sangat dekat ia bersuara lirih padanya.


"Tolong jangan ngebahas soal itu lagi, kamu gak bakalan pernah tau, seberapa sakitnya seberapa hacurnya hati ini, saat menelan mentah-mentah semua hinaan, cacian dan makian yang keluar dari mulut orang-orang di sini"


*****


Saat kembali ke ruang tulip, langsung saja Anisa di perintahkan untuk bertemu dengan bu Linda selaku kepala ruangan yang memiliki peranan besar dalam mengatur staf-stafnya.


"Anisa, kamu tuh dari mana aja sih?"

__ADS_1


"Aam, tadi...tadi aku keluar bentar bu!"


"Udah beberapa hari ini saya ngeliat kamu keluyuran kemana-mana disaat jam kerja"


"Maaf bu!"


"Kalian disini cuman dinas bertiga, kalu semua pekerjaan dilimpahkan terus sama dua orang temen dinas kamu, terus kamunya mau makan gaji buta?"


"Maaf bu!" tak ada kalimat pembelaan selain ungkapan maaf yang terus ia ucapkan, dengan wajahnya yang terus menunduk serasa ia tak punya nyali untuk melihat wajah bu Linda yang tengah berapi-api itu.


"Saya harap ini peringatan terakhir untuk kamu"


"Baik bu!"


"Ouw yah, lain kali kamu jangan pernah menyalahi aturan diruangan manapun saat kau berada!"


"Maksudnya bu?"


"Saya mendapatkan laporan dari perawat bedah, katanya kamu nyeleneng aja masuk kesana tadi, dan saya tidak mau kejadian seperti itu terulang lagi, paham?"


"Iya bu!"


*****


Saat Anisa akan kembali pulang, tepat di lobi rumah sakit, ia mendapati Iksi dan anaknya yang tengah menjemput Rafkil, anisa pun berniat menegunkan langkahnya, dari kejauha ia menyaksikan keharmonisan keluarga kecil itu, terlihat Iksi dengan senyumanya yang merekah-rekah ia lalu meraih jas putih dan mini bag Rafkiil, lalu menyalami punggung tangannya, begitupun Rafkil kemudian mengecup kening Iksi sembari menggendong Zilda, ketiganya kemudian bergegas menuju mobil.


"Kenapa sih Iksi, kamu selalu di takdirkan bahagia? sementara aku, selalu aja menangis, selalu aja sakit hati, di mana janji persahabatan kita dulu, yang katanya bahagia bareng-bareng, sedih bareng-bareng, suksesnya juga bareng-bareng, nyatanya kamu selalu aja nomer satu, egois, kamu egois Iksi!" gumam anisa dengan ke dua bola matanya yang terlihat mulai berkaca-kaca.


Setibanya Anisa di rumah, ia kemudian membuka catatan diarynya beberapa tahun silam, terlihat beberapa potongan foto Khalief didalamnya tersemat juga beberapa kalimat mutiara yang hanya sekedar pemanis dari isi diary itu, ia kemudian menangis seorang diri dikamar sembari merobek-robek diary kesayangannya itu.


"Dulu, aku juga mencintai lelaki yang sama, lelaki yang juga kamu cintai kala itu, dengan segenap keberanian yang ku punya, ku injak rasa malu ini, untuk mengutarakan perasaanku pada lelaki itu, namun apa yang aku dapat? dia lebih memilih kamu, dia cinta sama kamu, kamu gak akan pernah tau sakitnya hati ini Iksi, gak akan pernah tau" terus saja Anisa merengek seorang diri.



"Kamu pikir kamu pemenang sekarang? ha? kamu pikir kamu akan tetap menjadi yang nomor satu? hiiks..hiiks" Anisa kemudian berteriak kesal sembari menyoroti foto Iksi.

__ADS_1


__ADS_2