Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 57 (Part II)


__ADS_3

*Tetangga Rumah B.85


"Assalamualaikum!" seketika Anisa menyapa Iksi


"Wa..wa'alaikumussalam, nis..Nisa?" sahutnya kebingungan, entah ada keperluan apa, sampai-sampai Anisa berkunjung ke rumahnya sepagi ini, Iksi kemudian memerhatikan make up, gaun dan pernak-pernik yang ia gunakan saat ini, terlihat seperti sesuatu yang menyilaukan mata, dandanan dan penampilannya sangat menor, layaknya ia akan menghadiri sebuah acara nikahan.


"Hai, Iksi!" sahutnya terdengar sangat akrab dengan senyuman lebar yang ia suguhkan, namun tetap saja Iksi masih di selimuti berbagai pertanyaan di kepalanya.


"Aam! hai, masuk yuk, masuk" dengan senang hati Anisa melangkah masuk ke dalam, sambil matanya yang terus saja melihat arah sana-sini, seperti hendak mencari sesuatu.


"Ouw yah, mau minum apa nis?"


"Aaam! orange juice, boleh?"


"Boleh! bentar yah, aku buatin dulu" ia lalu menganggukkan kepalanya dengan matanya yang terus saja jelalatan sana-sini.


"Ngapain sih dia bertamu sepagi ini? mana dandanannya menor banget, bikin aku jadi ilfil aja" gumamnya sembari terus melangkah ke dapur.


Anisa yang masih menunggu di ruang tamu, seketika melihat Zilda yang baru saja keluar dari kamar dengan rambutnya yang acak-acakan.


"Hei..hei, sini..sini!" panggilnya dengan suara lirih, pun Zilda dengan mata sayunya itu segera menghampiri Anisa.


"Aunty Anisa yah?" tanyanya dengan suara yang masih serak.


"Iya sayang ini aunty Anisa"


"Tane kok cantik banget!" Zilda kemudian memuji penampilan Anisa yang sangat menor itu.


"Ouw yah?" bukan main betapa girangnya Anisa saat dipuji oleh Zilda.


"U'um! emangnya aunty Nisa, mau ke acara nikahan aunty siapa?" dengan polosnya Zilda kembali melontarkan pertanyaan yang mulai membuat Anisa merasa aneh dengan penampilannya, seketika ia mulai memerhatikan gaun yang ia kenakan serta pernak-pernik yang menempel ditubuhnya saat ini, hingga akhirnya ia sendiri pun mulai merasa risih atas penampilannya saat ini.


"Gak, sayang! aunty emang setiap hari penampilannya seperti ini"


"Ouw gitu yah aunty, tapi kata mamah sama papah Zilda, bergaya berlebih-lebihan itu gak baik aunty!" Zilda kembali membuat Anisa semakin risih atas penampilannya itu.


"Aaam! iya Zilda sayang, ouw yah papa Zilda kemana?"


"Ke rumah sakit!" cetuhnya pelan.


"Ouw yah? bukannya papah Zilda hari ini libur?"


"Papah memang libur hari ini, cuma tadi di rumah sakit nelpon papah suru kesana"


"Zilda?" seketika Iksi bersuara sembari menghampiri mereka.


"Iya mah!"

__ADS_1


"Mandi dulu sanah, mandi..mandi cepet, gak malu apah belum mandi udah duduk sama aunty Nisa" tanpa bantahan apa-apa Zilda kemudian bergegas ke kamar mandi.


"Aaam! nis, ini minumnya!"


"Makasih ya!" Iksi hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


"Aam! aku suka banget ngeliat Zilda, mukanya tuh mirip banget ama papahnya"


"Aam! nis?"


"Hmm?"


"Ada perlu apa yah, kamu pagi-pagi gini udah mampir kesini?" tanya Iksi sedikit ragu-ragu


"Gak, gak ada apa-apa kok, emangnya kenapa? kamu gak suka yah aku maen ke sini?" dengan tatapan yang sangat serius ia menyoroti Iksi.


"Bukannya gitu, cuman sedikit aneh aja sih, kamu jauh-jauh dateng kesini hanya untuk menikmati segelas orange juice!"demi menjaga perasaan Anisa, Iksi sangat berhati-hati meluapkan kata-kata nya.


"Seriously kamu gak tau?"


"Tau tentang apa?"


"Aku tuh sekarang udah jadi tetangga kamu Iksi, aku baru aja pindah kemaren, nomor rumah aku B.85 nanti jangan lupa maen-maen ke rumah aku ya!"


"Ouw! tapi sekarang kamu udah kerja di rumah sakit Harapan Sehat (rumah sakit milik pak burhan) kan?"


"Terus kenapa kamu pindahnya kesini?"


"Memangnya kenapa Iksi?"


"Bukannya jarak tempuh ke rumah sakit lebih jauh? dibandingkan dengan tempat tinggal kamu sebelumnya?"


"Aku kan punya mobil, kamu kenapa sih Iksi nanya nya kek begitu? kamu gak suka ya aku ada disini?"


"Gak..gak, aam! ayo nis diminum minumannya" cetuhnya yang semakin mencurigai tingkah Anisa.


Sekarang seperti ada jarak yang tengah memetakkan kehidupan mereka, yang dulunya mereka adalah sepasang sahabat, yang selalu bergantian pena untuk melukis senyuman, yang selalu terjatuh dan berlari bersama, yang selalu tak pernah lelah saling menyeka air mata, hingga di akhir perjalanan panjang, salah satu dari mereka meninggalkan salah satunya hanya karena pantulan cahaya yang sudah membutakan mata dan hatinya ia berlari sejauh mungkin tanpa jejak kaki, dan saat ini ia datang lagi dihadapannya, entah datang sebagai sahabat atau sebagai label yang lain.


*****


"Tadi Anisa dateng kesini!" ujarnya dengan wajah yang cemberut, ia lalu berjalan menghampiri Rafkil yang tengah kelelahan itu.



"Ouw yah?" tanya Rafkil denga wajah kagetnya.


"Terus dia ngomong apa?" lanjutnya.

__ADS_1


"Katanya sih, cuman mau maen aja kesini, tapi dandanan nya itu ya allah, kek orang yang mau ke undangan gitu" cetusnya masih dengan wajah yang cemberut.


"Masa sih?" ia pun turut menampilkan wajah cemberut dihadapan Iksi, seraya mengejek sang isteri yang tengah merajuk itu.



"Iya cheri, orang aku liat sendiri dengan mata kepala aku, mulai sekarang cheri tuh harus hati-hati sama dia, kita gak tau kan niat manusia dibelakang kita"


"Udahlah gak usah cemberut lagi!" seketika Rafkil mencubit hidung Iksi.


"Cheri tuh kalo dikasih tau, gak pernah di anggap serius"


"Huum! okeey"


"Ok apa?" ia menatap wajah Rafkil dengan pelotitan matanya.


"Bhuuws! ok, aku akan berhati-hati sama Anisa"


"Cheri? selama hidupku, cheri lah satu-satunya wanita yang mampu mencairkan hatiku yang membeku ini, hingga tak tersisa lagi bongkahan kecil didalamnya, so satu-satunya wanita yang ku butuhkan saat ini dan nanti hanya lah cheri, bukan wanita lain" ujarnya lagi sembari mengecup kening Iksi.


"Papah!!!" teriak Zilda dari luar sembari berlari kencang menghampiri Rafkil, ia kemudian menindih tubuh ayahnya itu hingga keduanya terbaring di atas tempat tidur, seketika Rafkil mulai menggelitik manja sang putri semata wayangnya itu yang sering disebut-sebutnya sebagai only one my queen yang artinya satu-satunya ratuku.


"Zilda udah belajar belum?"


"Udah di ajarin mamah tadi!" balasnya pelan.


"Pah, please buy me a doll, like a robot! (pah, belikan aku boneka robot)"


"No, itu mainan anak laki-laki sayang!"


"But I like it papah! (tapi aku suka pah)"


"No, eh look I have question for you baby! (denger papah punya pertanyaan untuk kamu sayang)"


"Wah is it papah? (apa itu papah?)"


"Zilda mau gak punya adek lagi?" hampir saja Iksi jantunga saat mendengar pertanyaan Rafkil barusan.


"No papah, I want to be alone (gak pah, aku maunya sendiri aja)"


"If you have a sister, you won't be lonely anymore baby! (kalau kamu punya adik, kamu gak akan kesepian lagi sayang)"


"No papah! I want to be the only queen in this house (gak pah, hanya aku satu-satunya putri di rumah ini)" didepan sang ayah, zilda berteriak lantang ia benar-benar kesal atas pertanyaan ayahnya barusan.


"But..but" Rafkil yang mulai bersuara lagi semakin membuat Zilda naik pitam, seketika Zilda mulai menggigit tangan sanga ayah hingga memerah.


"Auu..auu, Zilda sakit" sontak Iksi mulai tertawa kecil melihat tingkah lucu sang anak dan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2