
*Waspada
"Hiss...auuh..hiiisss..!!!" iksi terus meringis sembari mengusap-usap pinggangnya
seketika itu ia mengamati time screen pada layar handphonenya yang kini tengah menunjukkan pukul 01:30 WIB, rasanya tidak ada posisi yang nyaman bagi iksi saat berbaring, selain pinggangnya yang terasa sedikit nyeri itu beberapa kali juga ia sempat bolak-balik ke kamar mandi, keseringan buang air kecil merupakan hal yang normal bagi ibu hamil yang sudah memasuki usia kehamilan trimester ke tiga
dengan pelan iksi berupaya untuk berdiri, dengan tangan yang terus menopang pinggangnya, tak sengaja ia menjatuhkan handhponnya hingga tergelatak dilantai, suara gelatakan itu cukup mengejutkan rafkil yang sebelumnya tertidur pulas
Rafkil : "Hmmm....Cheri..???"
siru : "Ummm?"
Rafkil : "Cheri mau kemana?"
siru : "aaam...mau pipis cheri!" cetuhnya lemas campur meringis
Rafkil : "haah? eeh..eh..eh bentar-bentar biar aku temenin okey?" cetuhnya sembari bergegas menghampiri iksi dengan tangannya yang terus mengusap kedua kelopak mata
siru : "gak apa-apa cheri....cheri tidur aja, lagian juga kamar mandi deket kok dari sini!"
Rafkil : "No...biar aku yang nemenin Cheri!"
siru : "gak apa-apa aku bisa sendiri kok, lagian Cheri juga masih capek, cheri tuh butuh istirahat yang cukup"
Rafkil : "Cheri please!!!"
__ADS_1
siru : "huuufttt...okey, maaf yaaah...aku jadi bangunin cheri"
Rafkil : "kan aku udah bilang, kalau cheri mau pipis, mau makan, mau ngemil malam-malam kek gini, gak apa-apa bangunin aja aku!"
siru : "huuuph aku gak tega lah bangunin cheri" cetuhnya pelan
Rafkil : "Cheri denger....saat ini hal yang paling penting bagi aku adalah kesehatan dan keselamatan cheri, kita gak tau kan kalau kalau cheri bisa jatuh"
siru : "hahahaha!" gelak tawanya seakan hendak meledek rafkil
rafkil : "kenapa cheri ketawa?"
siru : "Cheri..cheri..ehemang aku orang tua yang berpotensi untuk jatuh?"
rafkil : "Cheri...ibu hamil juga berisiko untuk jatuh tau gak, nih berdiri aja udah gak seimbang" balasnya meledek
seketika itu rafkilpun tersenyum kecil sembari terus menggiring iksi sampai kekamar mandi, setelah itu dengan pelan dan langkah yang tertatih iksi mencoba meraih tangan rafkil namun dengan cepat kaki kanannya tergelincir sontak saja rafkil segera menggapai tubuh iksi dan memeluknya dengan erat
"are you okey?" ujar rafkil sangat cemas
"yaa...Cheri aku takut" balasnya dengan suara yang agak gemetar
"it's ok...it's ok...!" balas rafkil menenangkan
rasanya jantung rafkil seakan tertanggal saat menyaksikan iksi yang hampir saja terjatuh, dengan pelan ia mencoba mengatur nafasnya dan segera menggiring iksi diatas tempat tidur
__ADS_1
********
"Cheri belum mau tidur?" ujarnya saat melihat iksi yang masih saja duduk termenung sembari mengusap-usap pinggangnya
"kenapa dengan pinggang cheri?" lanjutnya
siru : "aam...sakiiiit!"
Rafkil : "huum..sini biar aku pijitin!" cetuhnya sembari meraih minyak gosok diatas mini table yang ada didekat tempat tidurnya
siru : "makasih!"
"U'uuum!" balas rafkil dengan manja ia mencubit hidung iksi, seketika itupun ia juga memulai pijatannya
siru : "huuuw selalu aja nyubit hidung, auuu..aduh..pijatnya ke bawah dikit cheri"
Rafkil : "sorry..sorry, loh ini kenapa pinggang Cheri merah semua?" tanyanya sangat terkejut
siru : "yah..dipijatlah makanya merah"
Rafkil : "Cheri..pijat pinggang gak boleh terlalu ditekan, cheri taukan nyeri pinggang saat hamil itu hal yang wajar, kalau ditekan dari luar..dari dalam juga tertekan bisa bahaya tau gak?"
siru : "iya cheri..tapi aku gak tahan dengan nyerinya"
Rafkil : "aku kan udah bilang, kalau nyeri tarik nafas, kalau gak mempan juga usap-usap bagian nyerinya"
__ADS_1
siru : "huuufttt...iya..iya!!!"
tanpa lelah Rafkil duduk melipat kaki dan terus memijat pinggang iksi sesekali tangan iksi mengarahkan rafkil pada titik-tikik tertentu yang sangat dirasakan nyerinya untuk dipijat, hingga isteri tersayangnnya itu mulai memejamkan matanya, setelah melihat iksi tertidur dengan nyenyak rafkil merasa sedikit lega, bahkan tanpa sadar ia tertidur dengan posisi duduk yang hanya ditopang beberapa bantal dengan tangannya yang terus menggenggam tangan iksi