Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 9


__ADS_3

*Apa Sebenarnya Yang Telah Terjadi?


Tak terasa hampir dua bulan sudah iksiru melewati hari-hari dinasnya di rumah sakit yang menurutnya agak sedikit tidak nyaman itu, dikarenakan sikap dr. Akil yang begitu arogan, dan hari ini iksiru dipanggil menghadap direktur RS. tersebut.


"Saya dr. Burhan selaku direktur di rumah sakit ini" ucap pak Burhan memperkenalkan diri pada Iksi yang duduk tepat di hadapannya.


"Saya iksiru pak, mahasiswi praktek disini" sambung Iksi sedikit canggung.


"Iya saya tau, saya sudah sering dengar tentang kamu dari perawat-perawat disini, bahkan dari anak saya sendiri, kamu kenal dr. Akil?"


"Jadi dr. akil anak bapak? ya allah saya minta maaf pak atas sikap saya waktu itu" tukas Iksi sangat terkejut.


"Kamu tidak salah, saya yang seharusnya meminta maaf karena sikap anak saya waktu itu, saya sudah liat bagaimana kamu menolong anak itu di rekaman CCTV, dan sudah sesuai dengan SOP yang berlaku, banyak perawat-perawat yang cerita mereka sangat suka dengan kinerja kamu disini"


"Ehem, jangan berlebihan pak, saya hanya mahasiswi praktek disini" ucap Iksi sangat canggung.


"Justru karena kamu masih mahasiswi praktek disini, gimana nanti kalo kamu sudah bekerja, pasti akan sangat lebih baik lagi kinerja kamu"


Iksi hanya terdiam mendengar ucapan dr. Burhan, sesaat kemudian dr. Burhan pun memanggil dr. Akil agar segera ke ruangannya, mendengar hal itu, Iksi pun berniat untuk meninggalkan ruangan dr. Burhan, rasanya tidak ingin kedua kalinya ia bertemu dengan dr. arogant itu menurutnya.


"Aaam! pak kalo gitu saya pamit dulu yah?


"Mau kemana? tunggu anak saya bentar lagi kesini"


"Tapi pak!"


"Gak usah takut, dia itu sebenarnya baik hanya saja......"


"Pagi pah" dr. Akil memotong pembicaraan ayahnya.

__ADS_1


"Pagi nak! ow yah ini iksiru"


"Udah tau pah, ngapain dia kesini?" ucap dr. Akil sedikit kesal.


"Papah yang panggil dia kesini, nih papah mau kasih tau sama kamu, mulai tahun depan dia yang akan jadi partner kamu di ruang bedah"


"What?" dr. Akil yang mendengar keputusan sang ayah seketika kaget bukan kepalang, begitupun dengan Iksi.


"Why? any something wrong Akil?"


"Of course pah! this is not fair for me, papah apa apaan sih, papah nyuruh aku berpartner sama dia?"


"Loh emangnya kenapa?"


"Raina jauh lebih baik dari dia pah, Raina tamatan S2, sementara dia, dia kuliah profesi aja belum tamat" dengan gaya arogantnya sambil nunjuk-nunjuk iksiru.


"Akil, Raina tahun depan udah gak disini lagi, dia mau fokus jadi dosen, tenang aja tahun depan Iksi jg udah selesai kuliah profesi kok"


"Kil? akil? akil?" dengan perasaan marah yang ber api-api Akil berlalu tanpa menoleh sedikitpun, apatah lagi dengan perasaan Iksi yang begitu sakit mendengar kata demi kata yang dilontarkan dr. Akil, Iksi hanya bisa menahan tangisnya dan berpura-pura tegar di hadapan dr. Burhan.


"Iksi maaf kan sikap anak saya yang berlebihan tadi yah, saya tahu dia tidak bermaksud seperti itu"


"Iya pak, gak apa-apa, tapi maksud pembicaraan bapak tadi...." Iksi yang enggan untuk melanjutkan ucapannya, seketika mengunci rapat mulutnya.


"Saya serius dengan ucapan saya tadi Iksi, kamu gak usah denger ucapan Akil tadi, seperti yang sudah saya katakan dia itu anak yang baik! ow yah ini kartu nama saya ada kontak saya disitu, nanti hubungi saya setelah kuliah profesi kamu udah selesai" sembari menyedorkan kartu namanya ke iksiru.


"Saya pikir-pikir dulu yah pak!" sembari mengambil kartu nama yang disedorkan dr. Burhan.


"Ok, tapi saya sangat berharap besar tahun depan kamu mau bekerja disini" tukas dr. Burhan.

__ADS_1


Setelah lama berbincang-bincang akhirnya Iksi pun bergegas pulang, saat ia akan menuju gerbang rumah kosan tempat ia tinggal tiba-tiba handphonenya berbunyi.


"Halo assalamualaikum, dengan siapa ini?" tanya Iksi penasaran.


"Waalaikumsalam Iksi, ini aku Anisa" sahutnya di balik telpon.


"Ya allah nis! gimana kabar lu sekarang, sumpah aku kangen banget sama lu, udah lama banget lu gak ada kabar tau gak!" ucap Iksi menahan tangis bahagianya.


"Alhamdulillah sehat Iksi, sama aku juga kangen bangat sama lu, maafin aku yah, aku bener-bener minta maaf sama lu Iksi! hiiks..hiiks..hiikss!" ucap Anisa tersesuh-seduh tak mampu menahan tangisnya.


"Iya gak apa-apa nis, ternyata sifat baper lu gak ilang-ilang yah, hehe!" ucap Iksi ingin menghibur anisa.


"Aku serius Iksi, aku udah buat kesalahan yang begitu besar sama kamu, dan aku harap kamu gak akan pernah membenciku seumur hidup lu Iksi, hiiks...hiikss...hiiks"


"Lu kenapa nis? lu gak ada salah apa-apa kok sama aku nis, udah lu cerita sekarang apa masalahnya siapa tau aku bisa bantu" ucap Iksi menenangkan.


"Gak lu yang harus cerita, lu masih ingat janji lu dulu? mau cerita sesuatu ke aku"


"Bukan saat yang tepat sekarang nis, nanti aja aku cerita"


"Lu harus cerita sekarang nis, aku benar benar penasaran pengen dengar cerita lu, jadi lu harus cerita sekarang"


"Ya udah, sebenarnya aku...aku udah rasa kan yang namanya jatuh cinta nis, heheh!" tukas Iksi sedikit malu dengan anisa.


"Ow yah? dengan siapa Iksi? hiikss..hiikss " tanya nisa sembari menahan tangisnya.


"Aaam! sama..sama kak Khalief, nis"


"Ow yah, hiikss...hiikss" ucap nisa tak mampu menahan tangisnya.

__ADS_1


"Lu kenapa nis? halo? halo nis?" tiba-tiba Anisa memutuskan telpon, Iksi mencoba berkali-kali untuk menelpon balik anisa namun nomornya sulit untuk dihubungi, hal ini membuat iksiru bertanya-tanya dengan sikap Anisa.


__ADS_2