
Dalam sekejap Alison sudah berada di New York, dimana perusahaan milik Xavier Sannovax berada, di dalam ruangan hanya ada Xavier dengan wajah angkuhnya dan Alison dengan wajah tenangnya.
"Ada kepetingan apa seorang Alison Whingston tiba tiba datang di perusahaan kecil seperti milikku ini" Kekehnya dengan suara pelan "Ah iya anda datang sebagai Alison Whingston yang baik hati atau sebagai seorang Alison Whingston penguasa dunia gelap?" Tanya Xavier menunjukkan wajah mengejek.
"Apa keinginanmu dengan memanfaat pengkhianat itu untuk mencuri persenjataan Klan Alexandrov?" Alison menyilangkan kedua kakinya dengan tatapan datarnya.
"Seharusnya anda bertanya kepada diri anda sendiri alasan kenapa menolak kerja sama yang kutawarkan, bukankah lebih mudah jika anda menjual persenjataan itu dan aku akan memberikan uang dengan jumlah besar, tapi sayangnya anda menolak tawaran itu"
Alison terkekeh meremehkan "Bagaimana bisa aku mempercayai seorang pecundang sepertimu, seorang pria dengan banyak skandal buruk dan tega melenyapkan kakaknya sendiri demi seorang wanita pengkhianat lalu memasukkan ayahnya ke rumah sakit jiwa hanya karena membela kakaknya, katakan dimana letak bisa aku mempercayai orang yang tidak memiliki keahlian sepertimu?"
Merasa tidak terima dan tersinggung dengan ucapan yang di ucapkan orang di depannya, Xavier berdiri dari duduknya "Kauuuuu" Xavier menodongkan pistol ke arah Alison.
Alison sendiri tidak merasa terancam dengan pistol yang mengarah tepat ke kepalanya karena dia tahu kalau tidak mungkin ada keberanian pria itu untuk membunuhnya.
Dia berdiri dari duduknya, lalu melangkah maju ke arah Xavier yang justru terlihat ketakutan mendapat tatapan tajam dari Alison.
"Aku memberikanmu waktu dua hari untuk mengembalikan semua senjata itu, jika dalam dua hari kau tidak melakukannya...." Alison maju satu langkah lagi "Maka perusahaan dan wanita kesayanganmu yang akan menjadi taruhannya" Lanjut Alison berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Xavier yang diliputi amaran.
Namun sebelum benar - benar keluar, Alison menjatuhkan sebuah benda dimana setelah dia keluar dari ruangan itu akan mengeluarkan asap yang secara perlahan akan membunuh orang yang menghirupnya.
Diluar sudah ada Edgar dan juga satu anak buahnya lagi "Bereskan semuanya, atur seolah - olah kematiannya adalah bunuh diri dan pastikan tidak ada cctv yang merekam kedatanganku" Perintahnya.
"Baik tuan, akan saya lakukan" Jawabnya.
Lalu Alison berjalan keluar dari pintu belakang di ikuti oleh Edgar menuju mobil mereka yang terparkir cukup jauh dari perusahaan.
Awalnya Edgar tidak mengetahui kalau Alison memiliki usaha dunia gelap, dulu dia hanya berkerja dengan Alison karena ingin membalas kebaikan Alison yang sudah banyak membantunya, tapi seiring berjalannya waktu dia tahu kalau Alison tidak seputih kelihatannya, hingga pada malam itu juga dia melihat Alison menyiksa seorang pengkhianat di depannya, dan sejak saat itu pula dia harus membiasakan diri dengan dunia hitam atasannya itu.
***
Alisha saat ini sedang berbaring di samping anaknya yang sudah tertidur pulas, pikirannya tidak berhenti memikirkan Alison, entah dia merasa kalau dia seperti tidak asing dengan pria itu sebelumnya tapi hingga sekarang dia belum mengetahui pernah bertemu dengan atasannya itu dimana, karena memang sejak pertama kali mereka bertemu di acara itu, dia sudah merasakan perasaan aneh, sebuah perasaan yang lebih mengarah kekecewaan.
__ADS_1
"Astaga Alisha kenapa kamu bisa memikirkannya, tidak mungkin kamu pernah bertemu dengannya kalaupun iya mungkin itu hanya pertemuan yang tidak disengaja" Guman nya pada diri sendiri.
Karena merasa tidak bisa tidur akhirnya Alisha memutuskan untuk menonton acara tv malam, berharap dengan menonton tv setelahnya dia bisa tertidur dengan pulas.
Saat Alisha sudah sampai di ruang tengah flatnya, dia melihat Michael yang sedang menelungkup kan kepalanya di meja dapur.
"Kamu kenapa belum tidur" Tanya Alisha kepada adiknya.
Michael mengangkat kepalanya saat mendengar pertanyaan kakaknya.
"Kakak sendiri kenapa belum tidur?"
Duduk di kursi samping Michael, dia menatap wajah adiknya dengan pandangan bertanya "Belum ngantuk" Jawab Alisa "Apa kamu masih memikirkan masalah pekerjaan lagi?" Tanyanya lagi.
Michael menggelengkan kepalan lalu dia menatap kakaknya dengan pikiran berkecamuk antara harus mengatakan apa yang baru dia lihat atau tidak.
"Lalu apa ada masalah lain yang tidak aku ketahui?" Tanah Alisha lagi.
Setelah berperang dengan pikirannya, Michael memilih untuk menceritakan apa yang terjadi tadi, dia berusah meyakinkan kalau apa yang dia ceritakan tidak akan membuat kakaknya sedih.
"Killian" Cicitnya.
"Iya, tadi aku sempat ingin mengejarnya tapi dia lebih dahulu masuk ke dalam mobil" Balasnya.
Alisha hanya terdiam setelahnya, dia tidak menyangka akan mendengar nama itu lagi, seharusnya nama itu sudah dia lupakan sejak saat dimana dia sepakat untuk meninggalkan pria itu karena dia juga merasa tidak pantas jika terus berada di sisi Killian.
"Kak" Panggil Michael yang melihat kakaknya terdiam cukup lama "Apa kamu masih belum bisa melupakannya?" Tanyanya.
"Ah, aku rasa aku mulai mengantuk, aku akan pergi ke kamar tidur, selamat malam" Alisha meninggalkan Michael yang diliputi rasa bersalah karena sudah menyebut nama laki - laki itu lagi dan ternyata justru membuat kakaknya sedih.
Di dalam kamar tubuh Alisha merosot ke bawah, saat merasakan hatinya yang berdenyut nyeri setelah mendengar nama Killian.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa semuanya harus terjadi kepadaku, kenapa?" Alisha terisak pelan sambil memukul dadanya yang nyeri saat mengingat kenangannya bersama laki - laki bernama Killian.
Dan malam itu Alisha menangis sepanjang malam dan baru bisa tidur setelah jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi.
***
"Lili, aku mohon jangan lakukan itu" Sebuah pisau di arahnya ke bagian perutnya
"Selamat tinggal"
"LILIIIIII" Teriak Alison terbangun dari tidur malamnya lagi.
Dia sebenarnya sudah terbiasa dengan mimpi itu lagi, tapi rasa takutnya sampai saat ini masih begitu nyata, memakai jubah tidurnya Alison mengambil air putih dingin dari lemari pendingin lalu meminumnya hingga habis.
"Aku rasa, aku membutuhkan obat tidur itu lagi" Guman Alison pada keheningan malam.
Dia sendiri tidak mengerti sampai kapan mimpi buruk ini akan berakhir, bayangan wanita itu terus berputar di alam bawah sadarnya saat tidur.
Ditekannya dadanya pelan, selalu ada rasa sakit setiap dia teringat dengan wanita yang sudah dia tinggalkan dan meninggalkannya, tapi tidak sekalipun hal itu membuat Alison bisa melupakan wanita tersebut.
Dia merasa alam semesta pun seolah sedang menghukum dirinya atas semua kejahatannya dengan selalu mengingat satu wanita yang bisa jadi akan menjadi kelemahannya suatu saat.
"Kenangan itu tetap sama, luka itu tetap sama dan cinta itu juga tetap sama"
Mungkin orang di luar sana akan melihat seorang Alison Whingston yang kuat dan tidak punya kelemahan tapi pada kenyataanya di masa lalu bahkan dia rela mengorbankan nyawa dan kebahagiaannya hanya untuk seorang wanita dengan segala kesederhanaannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏