
"Aku akan pulang lebih awal" Ucap Alison memakai jas kerjanya.
"Baik Sir"
Edgar dan Alison berjalan turun menuruni lift, semua karyawan yang berpapasan dengan Alison menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Alison mengernyitkan kepalanya saat beberapa karyawan berlari menuju arah samping lift yang merupakan tempat tangga darurat jika tiba - tiba lift mati secara mendadak.
"Ada apa itu? kenapa para karyawan berlari ke arah sana" Alison mengarahkan tatapannya pada kerumunan karyawan dan terlihat ada beberapa karyawan yang sedang berjongkok seperti berusaha menyelamatkan seseorang.
"Biar saya lihat sir" Ucap Edgar.
"Tidak perlu, aku akan melihatnya sendiri" Balas Alison.
Entah kenapa dia begitu tertarik untuk melihat sendiri apa yang sedang tejadi padahal biasanya dia tidak akan peduli dengan sesuatu yang terjadi di sekelilingnya.
Semua karyawan yang menyadari ke hadiran Alison segera menyingkir dan memberikan jalan ke arah Alison, detak jantung Alison berpacu lebih cepat saat melihat apa yang terjadi di hadapannya saat ini, di mana tubuh Aaron tergeletak dengan darah yang sudah menggenang di lantai.
"Dad" Lirih Aaron sebelum matanya tertutup rapat.
"Aaron" Alison segera menyingkirkan pegawai yang sedang berusaha menyelamatkan Aaron.
"Aaron bangun" Alison segera berjongkok di samping Aaron yang sudah menutup matanya.
"EDGAR" Teriak Alison yang membuat semua karyawan terdiam.
"Iya Sir"
"Cepat siapkan mobil, Aaron harus segera di bawa ke rumah sakit"
Edgar segera berlari menuruti perintah yang di berikan Alison sedangkan Alison segera mengangkat tubuh Aaron tanpa mempedulikan kemejanya yang sudah dipenuhi dengan noda merah yang berasal dari darah Aaron.
Para karyawan hanya menatap bingung ketika melihat atasan mereka yang terlihat begitu panik dan cemas sedang mengangkat seorang bocah kecil dengan kepala yang sudah berlumuran darah dan setelahnya terdengar beberapa bisikan karyawan yang mempertanyakan siapa bocah itu.
Dengan cepat Alison masuk ke dalam mobil bagian penumpang, dia beberapa kali berusaha menghentikan pendarahan pada kepala Aaron.
"Edgar apa kamu tidak bisa lebih cepat" Teriak Alison dengan wajah yang semakin panik saat darah pada kepala Aaron semakin mengalir deras.
"Maaf Sir, di luar sedang terjadi macet yang cukup parah, kita tidak mungkin menerobosnya tapi anda tenang saja karena sebentar lagi kita sudah sampai rumah sakit terdekat"
"Kamu harus bertahan Aaron, jangan buat Dad merasakan rasa bersalah yang amat dalam jika sampai terjadi hal buruk kepadamu" Lirih Alison yang masih bisa di dengar oleh Edgar.
Terkejut, itulah yang di rasakan Edgar saat ini saat Alison secara tidak langsung mengatakan kalau dia adalah ayah dari Aaron.
"Hubungi Alisha dan katakan kalau Aaron sedang berada di rumah sakit"
__ADS_1
Tanpa berfikir dua kali, Alison keluar dari dalam mobil kemudian berlari menerobos kemacetan dengan melewati trotoar, dia sudah tidak memperdulikan lagi jika banyak orang yang mengenalinya ataupun akan muncul pemberitaan baru tentang nya karena baginya keselamatan anaknya lah yang lebih penting dari hal apapun.
Edgar keluar dari mobil berusaha mengejar Alison namun baru beberapa langkah dia berlari, suara bunyi klakson dari belakang mobilnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengejar Alison
"****" Umpat Edgar.
"DOKTER, SUSTER, SELAMATKAN ANAK SAYA" Teriak Alison yang sudah sampai di depan rumah sakit.
Seorang perawat yang melihat kedatangan Alison segera membawakan brankar lalu membawa Aaron menuju ruang UGD.
"Tuan lebih baik anda tunggu di luar, saya akan memeriksa keadaanya putra anda terlebih dahulu"
"Selamatkan anak saya dok, saya akan bayar berapapun untuk anda" Pinta Alison.
"Itu sudah menjadi tugas saya"
Pintu ruang UGD tertutup, Alison menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit, dia menyugar rambutnya kebelakang, rasa khawatirnya saat ini begitu besar, dia tidak bisa membayangkan kalau sampai hal buruk terjadi pada Aaron maka seumur hidupnya akan di penuhi dengan rasa penyesalan.
"Dad mohon bertahan Aaron dan setelahnya dad akan memberikan apapun yang kamu inginkan" Lirih Alison.
Ya, sejahat apapun Alison kepada musuhnya namun jika sudah menyangkut orang yang di sayangi nya bisa membuatnya menjadi pria yang lemah, terutama itu jika menyangkut Alisha dan Aaron, anaknya.
***
Dia tadi juga sudah mengabari Michael tentang keadaan Aaron.
"Alison, bagaimana keadaan Aaron?" Tanya Alisha dengan nada khawatirnya.
Alison mengangkat kepalanya yang tadi menunduk "Aaron sedang ditangani oleh dokter" Jawab Alison.
"Bagaimana bisa Aaron berada di kantor?" Cerca Alisha kepada Alison.
Alison menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu, aku hanya melihat Aaron saat dia sudah tergeletak di lantai dengan penuh darah"
"Astaga Aaron" Lirih Alisha dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
Setelahnya tidak ada pembicaraan apapun antara Alisha dan Alison, mereka sibuk dengan pemikirannya masing - masing sambil menunggu pintu UGD terbuka.
"Terima kasih karena sudah membawa Aaron ke rumah sakit, Ini kedua kalinya kamu menyelamatkan Aaron dari bahaya" Ucap Alisha memecah keheningan di antara mereka.
Alison menolehkan kepalanya "Apa kamu tidak ingin tahu alasanku melakukan semua itu kepada Aaron?" Tanya Alison.
Alisha membalas tatapan Alison "Apa aku harus mengetahuinya? Apa itu bukan karena memang kamu tulus menolong Aaron"
"Tentu saja aku tulus menolong Aaron, hanya saja sebenarnya aku a......."
__ADS_1
Pintu ruang UGD terbuka yang membuat Alison tidak melanjutkan ucapannya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Alisha.
"Ada hal penting yang ingin saya sampaikan, mari ikut ke ruangan saya"
Alisha mengikuti langkah dokter tersebut menuju ruang pribadinya, sedangkan Alison hanya bisa terdiam menatap kepergian Alisha, dia sangat ingin mengikuti Alisha ke ruang dokter namun rasa ingin melihat kondisi Aaron sekarang lebih besar.
"Killian" Panggil seseorang yang menghentikan langkah Alison yang akan memasuki ruangan untuk melihat kondisi Aaron.
"Michael" Ucap Alison.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Michael lalu tatapan matanya beralih ke arah baju Alison yang di penuhi dengan darah.
"Aku yang membawa Aaron ke sini" Balas Alison.
"Apa Aaron datang ke kantor mu?"
"Ya, bahkan aku tidak tahu bagaimana bisa Aaron berada di perusahaan ku" Jawab Alison.
"Dia merindukanmu" Ujar Michael.
"Merindukanku?"
Michael mengangguk "Semalam dia mengatakan kalau sangat ingin bertemu denganmu, tapi kakakku berbohong kalau kamu sendang sibuk dan kamu tahu hal itu membuat wajah Aaron menjadi murung"
Ucapan Michael membuat dada Alison terasa seperti di remas oleh tangan tak kasat mata, ada perasaan bersalah karena hingga saat ini dia belum bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya sendiri bahkan dia tidak menyadari kalau Aaron merindukannya dan justru hampir melupakan keberadaan Aaron walau hanya sesaat.
"Sampai kapan kamu akan membuatnya menderita Killian? Dia tidak tahu apapun tentang masa lalu kalian, tapi lihat lah Aaron justru semakin menderita karena merindukan sosok ayah dalam hidupnya"
Alison memejamkan matanya sebentar "Aku akan mengatakannya setelah keadaan Aaron membaik, aku akan mengatakan kalau aku adalah ayah kandungnya yang selama ini dia rindukan" Ucap Alison dengan nada penuh ketulusan.
"Pyarrr" Bunyi benda kaca jatuh membuat Alison dan Michael menolehkan kepalanya.
"Alisha" Kakak" Ucap Alison dan Michael terkejut menyadari kehadiran Alisha yang berdiri mematung melihat ke arah mereka dengan mata yang berkaca - kaca.
.
.
.
Bersambung
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏
__ADS_1