
Alisha meringis saat melihat Edgar menjahit luka pada lengan Alison yang terbuka karena ulahnya, kejadian beberapa waktu lalu saat Alison ingin semakin intim dengan Alisha justru membuatnya harus merasakan sakit lagi, karena luka pada lengannya tidak sengaja di pukul oleh Alisha yang membuka jahitannya terlepas.
"Sudah selesei tuan, saya harap anda lebih berhati - hati lagi dan jangan melakukan kegiatan apapun yang membuat luka anda kembali terbuka" Ucap Edgar melirik ke arah Alisha.
Alisha yang merasa di lirik oleh Edgar hanya diam saja, tapi ada rasa malu yang terlihat jelas di wajahnya saat paham maksud dari ucapan asisten bosnya itu.
Edgar yang tadi baru saja akan masuk kedalam mobilnya tiba - tiba mendapat telfon dari Alison yang menyuruhnya untuk segera kembali ke penthouse untuk menjahit kembali lukanya yang robek, tentu saja karena tidak ingin ditunkan gajinya dia terpaksa bergegas kembali ke penthous milik bosnya itu.
"Mom sebentar lagi waktunya Aaron berangkat ke sekolah" Ucap Aaron yang berada di samping Alisha.
"Ayo, mom akan memandikanmu dan menyiapkan semuanya kemudian mom akan mengantarmu ke sekolah"
"Biarkan Edgar yang melakukan semuanya" Ujar Alison menyela.
"Tapi Tuan saya tidak pernah memandikan anak kecil" Sela Edgar.
"Apa aku menyuruhmu untuk membangkang setiap perintahku" Alison menatap tajam Edgar.
"Tidak Tuan, baik saya akan melakukan semua perintah anda" Ucap Edgar.
Edgar berjalan menghampiri Aaron dan mengajaknya keluar dari kamar.
Saat akan masuk ke kamar mandi, langkah Edgar berhenti "Kenapa?" Tanya Edgar.
"Paman tunggu di luar saja, Aaron bisa mandi sendiri, nanti kalau Paman ikut memandikan Aaron yang ada nanti Paman merusak suasana mandi Aaron yang penuh ketenangan dan mengajak Aaron main kuda - kudaan" Aaron segera masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Edgar yang mengelus dada berusaha sabar menghadapi sikap dan ucapan Aaron yang hampir sama dengan Alison, hanya saja Alison memang lebih menyakitkan dan menakutkan saat sedang berbicara.
Aaron sendiri merasa kehidupannya lebih ceria saat bertemu dengan Alison, dia seperti merasa menemukan sosok ayah yang selama ini dia rindukan, dia juga menjadi anak yang banyak bicara dibandingkan saat di rumah dan disekolah walaupun selama ini Michael selalu ada untuknya namun dia tidak bisa merasa begitu nyaman saat bersama Alison padahal dia baru satu hari bersama dengan pria itu.
Sedangkan suasana canggung kini di hadapi Alisha "Sir, saya harus segera berangkat bekerja, tidak mungkin kalau hari ini saya tidak masuk lagi"
"Kamu tidak perlu berangkat ke kantor, hari ini kamu temani aku di sini"
"Tapi Sir....."
"Kamu mau aku cepat?" Tanya Alison dengan nada menggerutu.
Alisha menggelengkan kepalanya, dia tentu saja tidak mau jika sampai harus keluar dari perusahaan sebesar itu, apa lagi gaji yang di tawarkan Whingston grup sangat besar.
"Tidak Sir"
__ADS_1
"Mulai hari ini tidak usah bicara terlalu formal denganku dan jangan memanggilku dengan sebutan Sir jika tidak di kantor, cukup panggil namaku saja"
"Tapi itu tidak sopan sir, anda atasan saya"
"Jangan membantah Alisha, apa susahnya tinggal memanggilku dengan nama saja" ucap Alison jengkel sebab dia merasa kalau sifat Alisha sangat jauh berbeda seperti dulu yang selalu menuruti perkataannya.
"Tapiiiii....." Alisha menjeda ucapannya saat melihat tatapan tajam Alison
"Iya Sir...maksudku Alison" Ucap Alisha sedikit gugup saat untuk pertama kalinya dia memanggil nama atasannya hanya dengan nama saja.
"Sekarang, kemari" Panggil Alison dengan lambaian tangannya.
Alisha melangkah dengan gugup menuju Alison, saat sampai tepat di samping ranjang Alison menarik tubuh Alisha hingga terjatuh di pangkuannya.
"Alison apa yang kamu lakukan" Pekik Alisha terkejut.
Alisha tersenyum miring "Aku suka dengan panggilan itu Alisha"
Alison mendekatkan bibirnya ke bibir Alisha, hingga ketika bibir mereka akan saling menyatu suara teriakan Aaron berhasil menggagalkan semuanya.
"MOM, PAMAN" Teriak Aaron.
Mendengar teriakan anaknya, Alisha segera turun dari pangkuan Alison.
Sedangkan Edgar segera memalingkan wajahnya saat melihat Aaron dan Alisha yang akan berciuman.
"Aaron mau berangkat"
"Hati - hati sayang" Ucap Alisha.
"Paman cepat sembuh ya, nanti kita bermain lagi di ruang bawah tanah" Ucap Aaron berbisik yang mendapat usapan lembut di kepalanya.
"Tentu kalau Paman sudah sembuh nanti kita ke ruang bawah tanah lagi"
Setelah berpamitan, Aaron berlalu pergi bersama Edgar yang akan mengantarnya, Alisha tersenyum melihat perubahan sikap Aaron, sekarang anaknya itu lebih banyak bicara dan lebih ceria, tidak seperti biasanya yang terlihat murung dan menyendiri.
"Apa selama ini sikap Aaron sering murung?" Tanya Alison membuyarkan lamunannya.
"Ya?" Tanyanya mengulangi.
__ADS_1
"Aku melihat sikap berbeda anakmu saat pertama kali kami bertemu dan hari ini" Lanjut Alison
"Saya.....maksudnya Aku sendiri juga tidak percaya dengan perubahan sikap Aaron padahal dia baru bersama kamu dari kemarin tapi dia sudah berubah menjadi anak yang lebih banyak bicara" Jawab Alisha sejujurnya.
"Apa aku boleh tahu dimana ayahnya?" Tanya Alison ingin tahu jawaban apa yang akan di berikan Alisha.
Alisha terima sejenak mendengar jawaban yang di utarakan Alison "Maaf, aku rasa aku tidak perlu menjelaskan mengenai siapa ayah dari Aaron karena ini sudah menyangkut privasi" Ucap Alisha dengan nada tidak sukanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu"
Alisha memberikan senyumannya "Tidak masalah, sudah banyak orang yang menanyakan hal yang sama seperti yang kamu tanyakan"
"Kalau begitu aku akan menyiapkan makanan di dapur" Alisha mengatakannya dengan nada sedikit gemetarnya.
Alison menatap kepergian Alisha "Apa aku terlalu dalam menyebabkan penderitaan untukmu Lili" Lirih Alison menyebut nama kesayangan Alisha yang dulu pernah dia berikan.
Di dapur Alisha berusaha menahan air matanya agar tidak menetes, pertanyaan Alison mengingatkannya akan sikap buruknya di masa lalu, dimana dia dengan mudahnya menyerahkan harga dirinya dan membuat Aaron hidup menderita karena tidak mempunyai seorang ayah, hal itu juga yang membuatnya takut untuk memiliki hubungan lebih dengan seorang pria, apalagi dengan luka yang pernah di torehkan Killian kepadanya dulu.
"Kamu kuat Alisha" Alisha berusaha menyemangati dirinya sendiri karena dia tidak mau lagi menjadi wanita yang lemah.
Dia dengan cekatan membuatkan berbagai jenis olahan makanan yang akan mereka makan nanti, hingga terdengar suara bel penthouse Alison berbunyi.
Dengan ragu dia ingin membukanya atau meminta izin terlebih dahulu dengan Alison.
Dia berjalan ke arah kamar tidur, namun tidak menemukan Alison di dalamnya hingga terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.
"Apa dia sedang mandi" Gumannya.
Karena bel yang terus berbunyi membuatnya mau tidak mau harus membukanya.
CEKLEK
"Siapa kamu?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏