
Hubungan yang dijalani Alisha dan Killian semakin dekat, sejak kejadian dimana Alisha dilecehkan oleh Davin, Killian tidak mengizinkannya untuk bekerja lagi di toko bunga, dia hanya takut hal serupa akan terjadi kepada Alisha, di lihat dari respon yang diperlihatkan Alisha yang menuruti permintaannya, Killian menyadari kalau bisa jadi trauma yang dimiliki Alisa masih cukup dalam dan belum pulih hingga sekarang.
Keadaan Davin sendiri cukup mengenaskan dengan kondisi wajah yang dipenuhi luka yang membuatnya harus menjalani perawatan hampir satu bulan di rumah sakit untuk menyembuhkan semua luka yang disebabkan oleh Killian, karena perbuatannya, Davin harus mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, bukan hanya kasus pelecehan yang dilakukannya tapi ternyata Davin beberapa kali terlibat kasus penggelapan dana di perusahaan yang bekerja sama dengannya.
"Kenapa kamu tidak pernah memanggilku kakak, bukankah aku lebih tua 4 tahun dari kamu" Tanya Alisha yang menyenderkan kepalanya di bahu Killian.
Mereka berdua kini berada di salah satu taman yang berada di pinggiran kota Toronto.
"Karena dari awal aku menganggapmu wanita yang harus aku miliki, bukan sebagai kakak dari temanku" Balas Killian.
"Benarkah? sejak kapan kamu menyukaiku?"
Alisha menegakkan kepalanya menghadap ke arah Killian dan meraba wajah Killian, entahlah dia merasa harus melakukan ini untuk mengingat setiap detail wajah pria yang dia cintai.
"Sejak pertama kali aku melihatmu bersama Michael saat berada di kampus"
Killian memejamkan matanya menikmati setiap usapan lembut tangan Alisha di wajahnya.
"Selama itu ternyata, kenapa harus aku yang kamu sukai?" Tanyanya "Yang aku dengar dari Michael banyak gadis muda yang berusaha mendekatimu, bukankah mereka lebih sempurna dariku"
Killian mengecup telapak tangan Alisha yang masih menelusuri setiap inci wajahnya.
"Karena itu kamu, wanita yang bisa membuatku tertarik dengan segala kekurangannya bukan dengan segala kelebihan yang dimilikinya dan gadis diluar sana tidak ada yang bisa menarik perhatianku selain kamu"
"Aku takut kalau suatu saat nanti kamu meninggalkanku" Ucap Alisha dengan suara parau.
Killian menatap Alisha dengan penuh cinta, mungkin hanya kepada Alisha lah dia akan memberikan tatapan lembutnya bahkan keluarganya pun tidak pernah merasakan tatapan lembut Killian selain tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu, apapun yang terjadi aku akan memperjuangkan hubungan ini" Jawab Killian penuh dengan keseriusan.
Alisha mengangguk "Aku berharap kamu tidak mengingkari janjimu karena aku sudah begitu berharap dengan kamu" Ucap Alisha penuh harap.
__ADS_1
Killian menangkup wajah Alisha lalu menyatukan keningnya dengan kening Alisha "Aku sangat mencintaimu Alisha"
Bibir mereka saling menyatu, Killian memulai terlebih dahulu ciuman mereka, Alisha yang sudah terbuai berusaha membalas ciuman Killian tidak kalah kasarnya.
Tidak puas hanya mencium bibir Alisha, kini tubuh mereka sudah saling berbaring di atas rumput dengan bibir yang masih saling menyatu, ciuman yang diberikan Killian sudah merambat ke leher hingga bagian atas dada Alisha lalu kembali memberi gigitan kecil di telinga bagian bawah Alisha
"Akhhhsss" ******* Alisha keluar saat ciuman Killian semakin dalam dan menuntut.
Sadar kalau mereka saat ini berada di tempat umum, Killian melepaskan ciumannya walaupun dia menginginkan lebih dari ini tapi dia tidak mungkin melakukannya sekarang.
"Killian" Erangan Alisha saat Killian sudah melepaskan ciumannya dan memberikan kecupan singkat di keningnya.
Killian membantu Alisha bangun dari atas rumput yang menjadi saksi cumbuan panas mereka barusan.
"Aku benar - benar bisa gila Alisha, kamu harus tahu setiap bersama kamu aku tidak bisa mengendalikan keinginanku untuk menyentuh kamu lebih dari ini, tapi ini belum saatnya, suatu saat nanti aku akan pastikan akan memberikan apa itu namanya surga dunia" Ucap Killian dengan suara seraknya berusaha mengendalikan gairahnya yang sudah hampir tidak terkendali.
Wajah Alisha merona mendengar perkataan Killian barusan, dia tidak menyangka kalau Killian akan mengatakan hal se vulgar itu di depannya.
Diusapnya pipi Alisha yang memerah karena ucapannya "Wajah ini hanya boleh merona ketika bersamaku tidak boleh ada satupun pria yang membuatnya memerah selain aku" Ucap Killian dengan posesif lalu membawa Alisha kedalam pelukannya.
"Bagaimana dad bisa tahu keberadaan ku?" Tanya Killian dengan amarahnya.
"Maaf tuan, saya merasa kalau dari awal Tuan Axal memang mengetahui keberadaan anda karena saya sendiri sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memblokir semua akses info tentang anda" Ucap Hans.
Hans sendiri ragu apakah akan menyampaikan pesan dari Axal atau tidak, namun jika dia tidak mengatakannya, dia tidak yakin kalau setelah ini Alisha akan dalam keadaan baik baik saja.
"Tuan Axal berpesan kalau besok anda harus menemuinya di perusahaan, kalau tidak beliau mengancam akan melukai Nona Alisha"
Rahang Killian mengeras mendengar perkataan Hans "Aku tidak akan membiarkan dad menyentuh Alisha bahkan sehelai rambutnya saja" Killian menatap nyalang ke arah Hans.
"Katakan padanya, aku akan segera menemuinya" Killian bergegas keluar untuk menemuinya ayahnya, dia tidak akan membiarkan Alisha dalam bahaya karena ulah ayahnya.
__ADS_1
Killian memejamkan matanya, baru sebentar dia merasakan kebebasan dari kekangan yang di berikan ayahnya, namun sekarang dia harus merasakan terjebak lagi dalam kehidupan yang tidak pernah dia inginkan selama ini.
"Akhirnya kamu kembali lagi ketempat dimana seharusnya kamu berada" Ucap Axal yang baru saja memasuki ruangannya dan langsung di suguhkan dengan keberadaan anaknya.
"Katakan apa keinginan dad?" Tanya Killian dengan cepat.
Axal terkekeh pelan "Tinggalkan wanita itu dan kembali menjadi dirimu yang dulu lalu menikahlah dengan wanita pilihanku" Ujar Axal menatap tajam ke arah Killian.
Killian berdiri dari duduknya "Kalau itu yang dad inginkan, maaf sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkannya"
Killian berjalan keluar dengan aura dinginnya, tanpa mempedulikan rasa sopannya kepada ayahnya sendiri.
"Berarti secara tidak langsung kamu memilih kematian untuk wanita itu"
Langkah Killian berhenti, tangannya mengepal erat dengan ancaman yang diberikan Axal kepadanya.
"Jangan berani menyentuhnya atau aku akan menganggap kalau diantara kita tidak ada hubungan darah dan aku akan benar - benar meninggalkan nama keluarga ini"
Killian melanjutkan langkahnya menghiraukan Axal yang sudah di liputi aura kemarahan.
"Kamu lupa darah siapa yang mengalir di darahmu, aku bahkan akan lebih kejam hanya untuk membuat wanita itu menderita" Axal menunjukkan senyum kejamnya seolah - olah kapanpun siap untuk menghancurkan kehidupan Alisha.
Axal merogoh ponsel di saku celananya "Lukai wanita itu dan pastikan hidupnya menderita setelahnya" Suruh Axal pada salah satu anak buahnya.
Axal memutus sambungan teleponnya setelah mendapat jawaban dari orang suruhannya, dia sudah tidak sabar menunggu hari esok saat melihat kedatangan putranya yang merangkak memohon kepadanya untuk tidak melukai wanita kesayangannya itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏