Cinta Tulus Mafia Kejam

Cinta Tulus Mafia Kejam
Selamat Tinggal Miranda


__ADS_3

Perlahan Alison membuka matanya lalu melihat ruang yang dia tempati di dominasi oleh warna putih, saat dia ingin menggerakkan tangan kanannya dia merasakan beban berat, dia sedikit menundukkan kepalanya saat melihat ternyata Alisha lah yang saat ini sedang tertidur dimana tangannya menjadi bantal tidurnya.


Dia mengusap rambut Alisha yang membuat tidur nyenyak Alisha terganggu, dia meraba rambutnya dan saat itulah tangannya bersentuhan dengan tangan Alison.


"Kamu sudah sadar?" Tanya Alisha ketika dia mengangkat wajahnya lalu tatapannya langsung bertubruk kan dengan tatapan milik Alison.


Alison menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil pada kedua pipinya.


"Aku akan memanggilkan dokter" Alisha menekan tombol darurat yang berada tidak jauh darinya.


Lalu seorang dokter dan perawat masuk untuk memeriksa perkembangan kondisi Alison.


"Bagaimana dok?"


"Kondisi pasien sudah mulai membaik, hanya menunggu semua luka jahitannya mengering saja"


"Baik dok, terima kasih"


Setelah kepergian dokter dan perawat, Alisha kembali menghampiri Alison.


"Apa kamu ingin minum?" Alisha menawarkan air putih kepada Alison yang mendapat anggukan kepala dari Alison


"Kamu baik - baik saja kan? Apa ada yang terluka?" Tanya Alison mengamati keseluruhan tubuh Alisha.


"Aku baik - baik saja Al, seharusnya kamu mengkhawatirkan keadaan kamu sendiri, bukan keadaanku, hampir saja kamu membuat aku hidup dengan rasa bersalah jika sampai nyawa kamu tidak tertolong" Alisha mengucapkannya dengan menahan air mata nya agar tidak menetes.


Alison mengusap pipi Alisha lembut "Apa kamu sebegitu mengkhawatirkanku, hmm?


"Tentu saja, apa yang akan aku katakan kepada Aaron jika sampai terjadi hal buruk kepada kamu" Runtuh sudah pertahanan Alisha, kini air mata yang di tahannya menetes membasahi pipinya.


Sedangkan Alison yang mendengar Alisha mengucapkan nama Aaron mengehentikan usapan nya pada pipi Alisha, melihat dari perkataan Alisha, dia yakin kalau Alisha belum tahu keadaan Aaron yang sebenarnya.


Setelah tersadar dari pikirannya, Alison mengusap air mata Alisha "Kamu tidak perlu mengatakan apapun kepada Aaron karena sekarang aku sudah baik - baik saja"


Lalu pikiran Alison melayang kepada kondisi Miranda setelah sama - sama tertembak dengannya kemarin.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi Kak Miranda?" Tanya Alison yang kini berusaha bangun dari baringan nya di bantu dengan Alisha.


Tatapan Alisha berubah menjadi sendu "Yang aku dengar kondisinya tidak baik - baik saja, kata Raynand Kak Miranda sempat mengalami henti jantung saat dibawa ke rumah sakit dan untuk sekarang aku sudah tidak tahu bagaimana kondisinya"


"Henti jantung?" Tanya Alison memastikan


Alisha menganggukkan kepalanya, memikirkan kemungkinan buruk yang di alami Miranda saat Raynand mengatakan kalau dua peluru berhasil mengenai organ intim Miranda.


"Aku ingin menemuinaya" Alison berniat turun dari ranjangnya namun di tahan oleh Alisha


"Kondisi kamu belum membaik Al, jangan melakukan hal nekat seperti ini, kamu di sini saja, aku akan mencari tahu kondisi Kak Miranda" Cegah Alisha masih memegang tubuh Alison agar tidak turun dari ranjang nya.


"Tidak, aku akan melihatnya sendiri untuk memastikan keadaan nya" Alison tetap memaksakan dirinya untuk menemui Miranda, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak.


"Baiklah, tapi kamu tunggu di sini dulu, aku akan meminta kursi roda untuk kamu, jangan membantah Al, ini pilihan terakhir jika kamu ingin menemui Kak Miranda" Ancam Alisha yang mau tidak mau terpaksa harus di turuti oleh Alison.


Sedangkan, Darren menatap kosong ke arah depan, perasaannya kini semakin kacau bukan hanya karena kebohongan Miranda kepadanya tapi lebih ke perasaan takut akan terjadi hal buruk kepada Miranda, apalagi ini sudah ke dua kalinya Miranda melakukan operasi, keadaan Miranda yang semakin menurun membuatnya tidak bisa tenang sejak kemarin malam, bahkan dia belum mengabari apa yang terjadi kepada ibu mertuanya.


Pintu ruang operasi terbuka "Bagaimana keadaan istri saya dok" Tanya Darren menghampiri seorang dokter yang terlihat letih dengan tatapan sendunya.


"Maaf kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi kondisi pasien yang semakin menurun dan luka tembak yang tepat mengenai bagian kiri paru - paru pasien, membuat luka fatal yang membuat nyawanya tidak bisa tertolong, jadi pasien kami nyatakan meninggal"


Jantung Darren terasa ingin berhenti saat ini juga saat mendengar ucapan dokter yang menyatakan kalau Miranda tidak bisa di selamatkan.


"Dokter tidak berbohong kan? tidak mungkin istri saya meninggalkan saya begitu saja?" Tanya Darren penuh dengan nada ketidakpercayaannya.


"Sekali lagi kami minta maaf, anda bisa menanda tangani surat kematian pasien"


Darren menyandar kan tubuhnya ke dinding, kakinya terasa lemas, perjuangan yang dia lakukan selama ini harus berakhir dengan kematian Miranda, wanita yang sangat dia cintai, wanita yang hingga saat ini masih belum bisa membalas perasaannya.


"Kamu mengingkari janji kamu Miranda, kamu pergi sebelum bisa membalas perasaanku" Lirih Darren saat mengingat janji Miranda yang dulu berjanji akan membalas perasaanya dan menjalani pernikahan penuh dengan kebahagiaan bersama nya.


Satu tetes air mata berhasil keluar dari mata Darren, laki - laki yang tidak pernah menangisi sesuatu hal bahkan saat ayahnya meninggal pun dia tidak mengeluarkan air mata satu tetes pun, Namun untuk pertama kalinya air matanya jatuh karena kepergian Miranda, separuh jiwanya.


***

__ADS_1


Alison dan Alisha segera menghampiri Darren saat melihat Darren yang terlihat putus asa dengan tubuh yang menyender pada dinding rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Kak Miranda, Darren"


Darren mengangkat kepalanya dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan juga mata yang memerah seperti menahan untuk tidak menangis.


"Dia pergi, Miranda memilih meninggalkan kita semua untuk mengakhiri semua luka hatinya selama ini" Ucap Darren yang langsung di pahami oleh Alison.


Alison menggelengkan kepalanya "Katakan kalau yang kamu katakan tidak benar, tidak mungkin Kak Miranda meninggal, dia wanita yang kuat"


"Tapi itulah kenyataan yang harus kita terima" Jawab Darren berusaha terlihat kuat.


Alison memejamkan matanya untuk menahan sesak dadanya saat mendengar kakaknya sudah tidak bernyawa lagi, wanita yang selama ini berusaha dia jauhi ternyata sudah meninggal karena berusaha menyelamatkan nyawanya, dia menarik nafasnya pelan untuk menghilangkan sesak di dadanya.


"Lalu apakah mom sudah tahu tentang semua ini?" Tanya Alison pelan.


"Aku hanya mengatakan kalau Miranda ada di rumah sakit, aku tidak mengatakan kalau Miranda sudah meninggal, dan assisten pribadiku yang akan mengantar mom ke sini, kita bisa jelaskan semuanya di sini" Ucap Darren.


Di sisi lain Alisha tidak menyangka kalau Miranda pergi secepat ini, bahkan dia belum mengenal baik Miranda tapi wanita itu lebih dulu meninggalkan mereka, ada rasa bersalah dalam hatinya karena dialah yang menyebabkan semua ini terjadi, hingga tatapannya mengarah kepada Alison yang tatapannya terlihat kosong.


"Maaf, maafkan aku Al" Ucap Alisha yang kini sudah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Alison yang berada di kursi roda.


Tatapan Alison beralih ke arah Alisha "Ini semua bukan salah kamu, ini semua salahku Alisha, Kak Miranda meninggal karena berusaha menolongku" Ujar Alison dengan mata yang semakin memerah namun tatapannya masih tetap kosong.


Se benci apapun Alison kepada Miranda, namun Miranda tetaplah kakaknya yang sedari kecil selalu mengobati lukanya jika ayahnya melukainya karena melakukan kesalahan.


Alisha memeluk Alison erat memberikan kekuatan kepada laki - laki yang kini terlihat begitu rapuh, terlepas dari sikap Alison yang terbiasa dengan tatapan tajamnya, dia juga memiliki perasaan yang rapuh jika orang terpenting dalam hidupnya kehilangan nyawa karena dirinya.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Rest in peach Miranda🕊️


Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏


__ADS_2