
Alisha saat ini sudah berada di kediaman Whingston, dia mengikuti Alison untuk pergi ke Los Angeles untuk melakukan pemakaman Miranda di sini, Alisha sejak tadi memainkan kedua tangannya dengan gugup, saat ini dia terus menatap ke arah Liza, ibunya Alison yang membelakanginya.
Dia sangat ingin meminta maaf atas kematian Miranda, kalau bukan karena sikap pembangkang nya kepada Alison tentu saja hal ini tidak akan terjadi, semua orang terluka karena berusaha menyelamatkan nya, bahkan Alison terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakaknya sedangkan sudah sangat jelas kalau dirinya lah akar dari semua kejadian ini.
"Nyonya Liza" Panggil Alisha memberanikan diri.
Liza yang menatap kosong ke jendela kamarnya menolehkan kepalanya ke arah Alisha yang berdiri tepat di depan pintu.
"Alisha" Jawab Liza mengusap air matanya saat melihat sosok Alisha menyapanya dengan tatapan sendunya.
"Maaf karena sudah menganggu anda, ada hal penting yang ingin saya sampaikan" Alisha mengatakan keinginannya dengan sedikit ragu apalagi melihat keadaan Liza yang begitu kacau dengan mata yang terlihat lelah karena terus menangis.
Liza tersenyum ke arah Liza "kemarilah"
Alisha menghampiri Liza dengan perasaan yang campur aduk antara takut, penyesalan dan rasa sesak yang tiba - tiba muncul di dadanya.
"Saya ingin meminta maaf atas semua yang terjadi, sa-ya sangat merasa bersalah karena gara - gara saya putri anda harus kehilangan nyawanya" Alisha berlutut tepat dia hadapan Liza dengan suara seraknya menahan tangis.
"Kamu tidak bersalah Alisha, apapun yang sudah terjadi, ini memang sudah menjadi jalannya Miranda harus pergi" Liza ikut mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Alisha.
"Ta-pi....." Suara Alisha tercekat saat mengingat rangakaian kejadian mengerikan yang di alaminya.
Liza mengusap lembut kepala Alisha "Kamu tahu, sejak dulu Miranda selalu menyimpan kesedihannya sendiri bahkan saat Miranda hampir mencoba bunuh diri, aku tidak ada di dekatnya, kalau bukan karena Darren mungkin Miranda sudah meninggalkanku lebih cepat"
Alisha mengangkat wajahnya menatap Liza yang matanya menerawang jauh ke depan.
"Dan yang lebih buruknya, aku tidak tahu apa alasan Miranda mencoba bunuh diri, sejak dulu aku lebih peduli dengan kebahagiaan Alison di bandingkan dengan Miranda, walupun aku lebih menyayangi Alison, aku tidak pernah tahu kalau selama ini dia juga hidup menderita karena ulah ayahnya sendiri" Liza menatap kembali ke arah Alisha.
"Bukankah aku ibu yang buruk?" Tanyanya kepada Alisha.
Alisha menggelengkan kepalanya "Anda ibu yang sangat hebat, tidak ada ibu yang buruk selama dia mencintai anaknya dengan tulus" Jelas Alisha.
Liza kembali menyunggingkan senyumnya "Jangan meminta maaf atas apa yang terjadi, ada atau tidaknya kejadian ini mungkin memang ini sudah waktunya Miranda mengakhiri semua kesakitan nya yang di alaminya selama ini"
"Sa-ya sangat berterima kasih karena anda sudah memaafkan saya"
__ADS_1
"Jangan terlalu formal kepadaku, kamu panggil saja mom saat memanggilku seperti Alison memanggilku" Jelas Liza.
"Itu terlalu berlebihan, saya hanya orang asing jadi tidak sepantasnya saya memanggil anda dengan sebutan mom"
"Aku tidak ingin mendengar bantahan, jadi anggap saja aku seperti ibu kandung kamu sendiri karena mulai sekarang dan seterusnya kamu adalah putriku, aku selalu berdoa kalau kamu bisa membawakan kebahagiaan di kehidupan Alison" Ucap Liza dengan penuh harap, dia berharap kalau Alisha bisa mengubah pribadi Alison kembali ke seperti dulu lagi.
Alisha menganggukkan kepalanya, dia terharu dengan setiap ucapan yang di ucapkan Liza, dari awal dia sudah menyiapkan mental apabila ibunya Alison akan marah dan mencaci maki dirinya namun justru pelukkan hangat seorang ibu yang dia dapatkan.
Ya, walaupun awalnya Liza sempat terbawa emosi saat mengetahui penyebab kematian Miranda tapi dia berusaha menerima semuanya dan tidak menyimpan dendam terlalu lama karena baginya semuanya yang terjadi memang seharusnya terjadi, mungkin inilah akhir yang di inginkan Miranda, meninggal untuk melindungi Alison dan bisa membalaskan luka hatinya di masa lalu.
***
"Nyo..... .maksud nya, mom kita ada di mana?" Tanya Alisha.
Liza membuka sebuah kamar yang tempatnya tidak jauh dari kamar yang tadi di tempati Liza, suasana gelap langsung menyapa saat pintu sudah terbuka.
ceklek.
Liza menyalakan lampu agar kamar Alison yang dia masuki menjadi terang, hal pertama yang di lihat Alisha adalah banyaknya foto dirinya yang tertempel di dinding, bahkan bukan hanya di dinding di atas laci pun di penuhi dengan fotonya dulu.
"Apa ini kamar Alison?" Tanya Alisha untuk memastikan tebakannya.
"Kamu benar, ini kamar Alison selama dia masih tinggal di sini, terakhir aku melihat isi kamar ini sebelum Alison memutuskan pergi ke Toronto" Jelasnya.
"Lalu setelahnya aku tidak pernah lagi masuk ke dalam kamar ini, dan aku baru memasukinya lagi saat Alison pergi ke Manhattan, saat itu aku ingin memastikan apa yang menjadi penyebab Alison tidak pernah membiarkan orang lain memasuki kamarnya dan aku juga ingin tahu apa yang menyebabkan sikap Alison yang berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya" Liza duduk di atas ranjang Alison, lalu dia mengambil foto Alisha yang dulu membuatnya penasaran, seorang wanita buta dengan bunga lili di tangan nya.
"Mom" Alisha berjalan mendekat ke arah Liza yang memegangs sebuah bingkai foto yang ternyata itu adalah fotonya tujuh tahun lalu saat dia masih berada di Toronto.
"Kamu tahu nak? hal apa yang paling menyakitkan saat mengetahui kalau hal yang paling mendasar yang mengubah sikapnya adalah ayahnya sendiri yang selalu mengekang hidupnya, dan lebih menyakitaknnya lagi ketika fakta yang membuat Alison semakin terpuruk adalah ketika ayahnya lah yang sudah memisahkan Alison denganmu"
Alisha terkejut saat mendengar ucapan Liza "Apa karena aku dari keluarga miskin dan kondisku yang buta?" Tanyanya dengan nada tercekat
"Aku tidak tahu pasti apa alasannya, tapi setelah Alison sadar dari komanya dia mengalami amnesia sementara, satu tahun kemudian ayahnya menjodohkannya dengan wanita bernama Danilla lalu mereka bertunangan, namun setelah ayahnya meninggal, Alison memutuskan pertunangannya secara sepihak kemudian dia pergi ke Los Angeles tanpa mengatakan apapun"
Alisha mendengarkan setiap perkataan Liza yang membuat dadanya terasa sesak, dia dulu mengira kalau dirinya lah yang sangat menderita setelah kepergian Alison namun ternyata Alison juga mengalami hal yang sama dengannya bahkan sakit yang harus di tanggung Alison lebih banyak dari dirinya.
__ADS_1
Ketika Alisha ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tiba - tiba ponselnya yang tadi sempat dia bawa untuk mengetahui kondisi Aaron berbunyi.
"Michael" Lirih Alisha lalu mengangkat panggilannya
"Halo"
"Kak, kondisi Aaron semakin menurun, dokter mengatakan kita harus menerima apapun hal buruk yang bisa saja terjadi kepada Aaron, termasuk........ sebuah kematian" Ucap Michael dengan suara yang semakin mengecil di akhir kalimatnya.
Prangggggg
Ponsel milik Alisha terjatuh saat dia mendengar kalimat terkahir yang di ucapkan Michael.
"Tidak" Alisha menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Alisha apa yang terjadi?" Tanya Liza yang tidak mendapat jawaban dari Alisha.
Tanpa menjawab pertanyaan Liza, Alisha segera mencari keberadaan Alison yang terkahir kali dia melihatnya berada di ruang kerjanya.
BRAKKK
Alisha membuka pintu ruang kerja Alison dengan kasar.
"Kenapa kamu tidak mengetakan kebenaranya?" Tanya Alisha dengan suara menahan tangisannya dan setelahnya semua menjadi gelap.
.
.
.
Bersambung
Haiiii, author mau tanya nih, menurut kalian Aaron kita meninggalkan saja apa tetap di hidupkan karena jujur ide awalnya mau buat Aaron meninggal seperti Miranda tapi author nya enggak tega, tapi kalau Aaron hidup kasian juga kalau dia lumpuh😭
Jangan lupa Like, Vote dan Komen🤗🙏
__ADS_1