
Killian yang baru sampai rumah, melihat raut khawatir Michael yang seperti berusaha menelpon seseorang lewat ponselnya, namun dia berusaha mengabaikannya, Killian masuk ke dalam rumah, rasa rindunya kepada Alisha membuatnya ingin segera pulang dan memeluk wanita itu.
Killian mengernyitkan dahinya saat tidak menemukan keberadaan Alisha di dalam rumah, lalu dia mengingat raut khawatir yang tadi di tunjukkan Michael.
"Dimana Alisha?" Tanya Killian dengan nada khawatirnya.
"Aku tidak tahu dimana keberadaanya, tadi siang Davin meminta izinku untuk menjemput Kak Alisha pulang tapi sejak tadi aku berusaha menghubungi ponselnya tapi tidak bisa sama sekali"
"SIAL, kenapa kamu membiarkan Alisha bersamanya" Ucap Killian dengan emosi yang sudah tidak bisa di tahannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Michael tidak mengerti maksud amarah Killian yang tiba - tiba muncul.
Namun tidak lama kemudian dia menyadari sesuatu "Jangan bilang Davin....." Ucapan Michael berhenti saat Killian sudah mencengkram kerja bajunya.
"Katakan dimana alamat pria itu?" Tanyanya yang hanya dibalas gelengan kepada oleh Michael "kalau sampai terjadi apa - apa dengan Alisha akan aku pastikan hidupmu tidak akan tenang" Ancamnya
Killian melepas cengkraman nya dengan kasar, tanpa menunggu jawaban Michael, dia berjalan pergi begitu saja.
Killian mengambil ponselnya "Siapkan mobil dan dalam waktu lima menit lacak tempat tinggal pria bernama Davin Axson" Ucap Killian kepada Hans dari seberang telfon.
Tidak sampai lima menit muncul pesan dari Hans yang mengirim alamat rumah Davin dan juga sebuah mobil yang saat ini sudah berhenti di depannya.
"Biar saya yang mengantar anda Tuan, saya khawatir kalau terjadi sesuatu dengan anda jika mengemudikan mobil dengan emosi tidak stabil seperti ini"
"Akan lebih baik jika aku yang menyetir sendiri" Killian berlalu masuk ke mobil meninggalkan Hans yang masih berusaha mencegahnya pergi sendirian karena Hans tahu pengendalian emosi yang dimiliki Killian sangatlah buruk, dia takut kalau Killian sampai berbuat nekat.
Dengan rahang mengeras, Killian menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang tadi dikirimkan Hans, dia berjanji akan menghancurkan pria itu jika sampai dia berani menyentuh Alisha.
"****" Umpat Killian saat sudah sampai di depan rumah Davin, dengan emosi yang sudah memenuhi dirinya, dia menendang pintu utama dengan kakinya.
"Akhhhh" Saat mendengar suara teriakan Alisha, dengan cepat Killian menuju salah satu ruangan yang pintunya tertutup rapat.
BRAKKKK
"Sialan"
Killian menarik kasar tubuh Davin yang hampir berhasil memasuki Alisha.
"Bedebah Sialan" Killian menerjang tubuh Davin dan memukul tubuhnya dengan membabi buta.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak mendekati milikku seharusnya kamu mengerti dengan arti ucapanku" Ucap Killian yang sudah mengangkat tubuh Davin dan menekan tubuhnya ke dinding.
__ADS_1
"Hiks...Hiks...Hiks" Tangisan Alisha semakin kencang saat dia mendengar suara pukulan Killian, namun seperti orang kesetanan Killian mengabaikan suara tangisna Alisha.
Seringai kejam Killian muncul dari sudut bibir Killian, dia mengambil sebuah pisau kecil yang dia goreskan ke wajah Davin
"SREETTTT"
"AKKHHHH" lengkingan suara Davin saat meraskan sakit pada sekujur tubuhnya tidak juga membuat amarah Killian mereda, dia berniat untuk membunuh Davin sekarang juga jika saja Michael tidak menghentikan Killian.
"SREETTTT"
"AKKHHHHHH" Teriak Davin lebih keras lagi saat Killian berhasil melukai kedua telapak tangannya yang kini sudah di penuhi dengan darah segar
"SIALAN, kamu bisa membunuhnya jika tidak melepaskannya Killian"
Michael yang baru saja sampai setelah berhasil mengikuti mobil yang dikendarai Killian dengan cepat menarik tubuh Killian ketika Killian berniat mencekik Davin yang hampir ke habisan nafas.
"LEPAS, aku harus melenyapkan siapapun yang sudah berani menyentuh milikku" Killian berhasil melepas tarikan tangan Michale dari tubuhnya.
"Dan membiarkan kakakku ketakutan melihat pria yang dicintainya menjadi seorang PEMBUNUH" Perkataan yang di ucapkan Michael berhasil membuat Killian melepaskan cekikan tangannya pada leher Davin yang sudah merosot ke bawah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Alisha" Guman Killian lirih lalu pandangan nya beralih ke Alisha yang menggigil ketakutan di dalam pelukan Michael.
Sedangkan pikiran Alisha sendiri setengah kosong, jiwanya benar - benar terguncang dengan apa yang barusan terjadi, diapun hanya bisa diam dengan air mata yang terus mengalir deras tanpa suara.
Killian berjalan menghampiri Alisha dengan tubuh gemetar, melihat keadaan Alisha yang sangat memprihatinkan membuat hati Killian begitu sakit.
"Alisha" Panggil Killian lirih.
Alisha hanya diam matanya menatap kosong ke arah depan, air matanya juga sudah mulai berhenti mengalir.
"Alisha sayang, maaf karena aku datang terlambat, pasti dia sudah banyak menyentuh kamu"
Killian melepas jaket miliknya untuk membungkus tubuh telanjang Alisha lalu mengangkatnya ala bridal style keluar dari kamar yang banyak meninggalkan trauma untuk Alisha.
Michael menatap sendu kepergian Killian dan Alisha, dia sengaja membiarkan Killian membawa kakaknya pergi karena rasa bersalahnya yang tidak bisa menjaga kakaknya dengan baik, bahkan saat Alisha yang hampir dilecehkan oleh Davin, dia tidak bisa menolongnya jika saja bukan karena Killian.
Tatapan nyalang dia tujukan kepada Davin yang sudah pingsan di atas lantai, Michael berjalan ke arah Davin dan memastikan kalau pria itu masih bernafas lalu menghubungi rumah sakit agar lukanya bisa segera di obati.
Bukannya Michael berbaik hati kepada Davin namun dia hanya tidak ingin Davin mati begitu saja tanpa merasakan sakit yang di rasakan kakaknya, dia yakin kalau Killian tidak akan begitu mudah melepaskan Davin setelah apa yang pria itu lakukan kepada Alisha karena satu hal yang baru dia tahu kalau Killian bukanlah orang biasa yang bisa dia remehkan melihat dari bagaimana menyeramkannya saat Killian marah dan juga dari pria bernama Hans yang terlihat begitu menghormati Killian.
***
__ADS_1
Killian merebahkan tubuh Alisha ke atas tempat tidur.
"Aku akan membantu kamu mengganti pakaian" Ujar Killian tanpa ada penolakan dari Alisha.
Dengan sabar Killian memakaikan baju ke tubuh telanjang Alisha, tidak ada sedikitpun gairah yang dirasakannya saat melihat tubuh telanjang Alisha yang terpampang di depannya saat ini, hanya rasa marah yang dirasakannya saat melihat tubuh Alisha yang dipenuhi dengan bekas ciuman Davin.
"Sekarang kamu tidur ya, aku akan menemani kamu di sini" Ucap Killian mengusap lembut rambut Alisha.
Bukannya memejamkan mata, Alisha justru kembali menangis "Hiks, Hiks, Hiks, aku kotor, aku perempuan kotor" Ucap Alisha yang menggosok kasar bagian tubuhnya.
"Hentikan, kamu bisa menyakiti dirimu sendiri Alisha"
Killian memeluk tubuh Alisha erat, mencegah agar Alisha tidak semakin menyakiti tubuhnya.
"Kamu tidak kotor, Alisha." Peluk Killian semakin erat lagi hingga tangisan Alisha perlahan mulai mereda.
"Apa kamu akan jijik dengan tubuhku setelah melihat bagaimana dia menyentuhku" Tanya Alisha dengan penuh luka.
"Tentu saja tidak, aku sangat menyayangi kamu bahkan jika bajingan itu sudah berhasil menodaimu sekalipun aku akan tetap menerima kamu, maaf tidak lebih cepat menolong kamu"
"Tapi.....aku...." Ucapan Alisha terhenti saat merasakan bibirnya di kecup lembut oleh Killian.
"Sekarang kamu tidur, aku akan menemanimu disini"
Alisha menenggelamkan tubuhnya di dalam pelukan Killian, jiwanya sedikit mulai tenang mendengar ucapan Killian, walau jauh di dalam hatinya ada rasa takut kalau Killian akan menjauhinya karena jujur dia tidak lagi bisa membohongi perasaannya kalau dia sudah mulai jatuh cinta kepada Killian.
Merasakan kalau Alisha sudah mulai terlelap dengan pelan dia melepaskan pelukannya lalu mencium kening Alisha lama.
Ada hal yang saat ini harus Killian pastikan, tentu dia harus memastikan kalau Davin menerima balasan yang lebih menyakitkan dari apa yang wanitanya rasakan saat ini.
"Sampai bertemu di neraka yang sesungguhnya Davin Axon" Ujar Killian dengan tatapan elangnya.
.
.
.
Bersambung
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏
__ADS_1