
Edgar sangat berhati - hati saat mengambil peluru pada bahu Alison, bahkan dia tanpa sadar meringis saat melihat luka pada bahu atasannya yang terlihat cukup dalam.
Tadi saat dia berada di rumah sakit untuk menjaga Aaron dan Alisha, Raynand menelfon nya dan mengatakan keadaan Alison yang kembali terkena peluru, dan setelah dia memastikan kalau anak buah Alison sudah kembali berjaga di sekitaran rumah sakit dia segera bergegas melihat kondisi Alison.
"Ashhhh" Desis Alison saat Edgar masih berusaha mengambil peluru di bahunya, dia berusaha mati - matian menahan sakit saat alat yang di gunakan Edgar untuk mengambil peluru di bahunya menggores kulitnya yang terluka.
Setelah tadi sempat menutup matanya sebentar untuk meredakan rasa sakit di bahunya, kini Alison sudah membuka matanya kembali ketika Edgar mulai merobek bahunya untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang di bahunya.
"Ahhhh, akhirnya pelurunya bisa terambil" Edgar menghembuskan nafasnya lega lalu menjahit luka Alison dan menutupnya dengan perban.
Raynand dan Dominic berdiri tidak jauh dari mereka, Raynand dengan tatapan datarnya sedangkan Dominic dengan tatapan dinginnya, Mereka terkesan biasa saja dengan keadaan Alison namun sejujurnya perasaan khawatir tentu saja di rasakan mereka, walaupun mereka bertiga sudah terbiasa terluka seperti ini dengan peluru yang mengenai tubuh Alison bukanlah peluru sembarangan, jika saja peluru itu mengenai organ vital pada tubuh Alison, bisa di pastikan kalau Alison saat ini tidak lagi bisa bernafas di dunia ini.
"Bagaimana keadaan Aaron?" Tanya Alison saat Edgar mengemasi semua peralatan kedokterannya.
"Tuan muda Aaron baik - baik saja Tuan, dan anda tidak perlu khawatir karena Tuan Raynand sudah mengirim beberapa anak buahnya untuk menjaga Nona Alisha dan putra anda" Jawab Edgar.
Semua orang keluar meninggalkan Alison sendiri dan membiarkannya untuk mengistirahatkan tubuhnya, namun yang dilakukan Alison justru mengambil ponselnya untuk mencari sesuatu yang membuatnya penasaran.
Alison mencari Email yang dulu pernah dikirimkan ayahnya sebelum ayahnya meninggal, dia membuka sebuah file berkas yang tidak pernah dia buka selama ini karena kebenciannya pada semua yang ayahnya lakukan kepadanya dulu.
Alison mengernyitkan dahinya "Jadi benar kalau Klan Alexander adalah milik Dad, jadi Dave sudah merencanakan pembunuhan ini untuk menguasai Klan Alexander" Berkas yang dibaca Alison berisi tentang semua kepemilikan harta ayahnya semasa hidup dulu dan termasuk di sini tercantum tentang Klan Alexander yang bahkan sudah berdiri sebelum Klan miliknya berdiri.
Alison segera mengambil jaket kulitnya lalu dipakainya, dia ingin segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Aaron dan juga Alisha.
"Edgar kita pergi ke rumah sakit sekarang" perintah Alison saat melihat Edgar sedang duduk bersama Raynand tanpa adanya Dominic.
"Tapi anda masih dalam keadaan tidak baik Tuan, nanti biar saya yang menyampaikan kepada Nona Alisha kalau anda hari ini tidak bisa datang ke rumah sakit" Jelas Edgar
"Aku tidak ingin membuat Aaron mencariku saat bangun dari tidurnya nanti" Balas Alison "Kalau kamu tidak mau, aku masih bisa menyetir mobil sendiri" Lanjut Alison pergi begitu saja meninggalkan Edgar.
Melihat kepergian Alison, Edgar dengan segera menyusulnya "Maaf Tuan Raynand, saya harus mengantarkan Tuan Alison, kita bisa melanjutkan pembicaraan ini lain waktu lagi" Pamit Edgar yang mendapat anggukkan kepala dari Raynand.
"Tuan biar saya saja yang menyetir" Cegah Edgar saat Alison akan membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Setelahnya Alison duduk di bagian belakang mobil sambil menyandarkan kepalanya, dia berusaha memposisikan bahunya agar tidak sampai membuat luka nya terbuka lagi.
Dia sampai di rumah sakit saat hari sudah mulai pagi, dengan langkah pasti dia berjalan menuju ruang rawat anaknya.
Seorang perawat terkejut saat membuka pintu sudah ada Alison yang berdiri dengan tatapan datarnya, namun perawat tersebut seketika terpesona dengan ketampanan yang di miliki Alison "Ma-aaf Tuan, saya tidak tahu kalau ada anda di depan pintu, apa anda adalah kerabat dari pasien yang ada di dalam?" Tanyanya sedikit basa - basi.
"Aku ayah dari pasien, jadi bisa anda minggir'' Ucap Alison yang membuat perawat tersebut terkejut sekaligus malu karena mengira kalau pria di depannya ini belum menikah.
Perawat tersebut segera bergeser dari depan pintu dan membiarkan Alison masuk ke dalam "Kenapa aku seperti tidak asing dengan wajahnya" Lirih perawat tersebut sebelum pergi.
Alisha yang sendang merapikan makanan Aaron menolehkan kepalanya saat melihat suara pintu Kembali terbuka, sedangan Aaron sendiri masih tertidur di ranjang rumah sakitnya.
"Aaron, kenapa kamu kesini lagi, bukankah seharusnya kamu bersiap untuk berangkat bekerja" Ucap Alisha.
"Aku ingin menemui anakku, dan aku tidak akan berkerja selama Aaron masih di rawat di rumah sakit.
"Daddy, Mommy" Panggil Aaron sambil mengucek matanya khas orang bangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Alison menghampiri Aaron.
"Kamu makan dulu ya, biar mom suapi" Ujar Alisha mengambilkan makanan untuk Aaron.
"Aku tidak mau memakan makanan rumah sakit lagi mom, aku ingin makan pizza kesukaanku" Balas Aaron dengan wajah memelasnya.
"Tapi itu tidak baik untuk pemulihan kamu sayang" Alisha berusaha memberikan pengertian kepada Aaron.
"Aku bosan mom, semua makanan rumah sakit rasanya hambar" Gerutu Aaron.
"Baiklah, Dad akan menyuruh Paman Edgar untuk membelikan pizza untuk kamu" Sahut Alison yang menerbitkan senyuman pada kedua bibir Aaron.
"HOREEE, terima kasih Dad" Ucap Aspen dengan bahagia.
"Al" Geram Alisha tidak suka dengan sikap Alison yang terlalu menuruti kemauan Aaron yang dalam proses penyembuhan seperti ini.
__ADS_1
Alison menolehkan kepalanya dari layar ponselnya yang baru saja mengirim pesan pada Edgar untuk memerintahkannya membeli pizza untuk Aaron.
"Aku hanya menuruti permintaan anakku Lili" Balas Alison yang kembali menggunakan panggilan sayangnya dulu untuk Alisha.
Alison menolehkan kepalanya dari layar ponselnya yang baru saja mengirim pesan pada Edgar untuk memerintahkannya membeli pizza untuk Aaron.
"Aku hanya menuruti permintaan anakku Lili" Balas Alison yang kembali menggunakan panggilan sayangnya dulu untuk Alisha.
Alisha yang merasa tidak nyaman dengan panggilan Alison segera mengajaknya untuk keluar dari ruang perawatan Aaron.
Setelah mereka sudah berada di luar kamar perawatan anaknya, Alisha menatap tajam ke arah Alisha "Jangan terlalu menuruti semua permintaannya untuk saat ini, Aaron tidak seharusnya memakan makanan siap saji seperti ini, dia masih dalam proses penyembuhan jadi dia memerlukan makanan yang sehat"
"Aku mengerti Lili, tapi apa kamu tega melihat Aaron yang merengek karena bosan memakan masakan rumah sakit"
"Setelah ini jangan pernah menuruti permintaan Aaron sampai dia kembali pulih secara total, dan satu lagi aku tidak suka jika di panggil Lili karena namaku Alisha bukan lili" Balas Alisha dengan nada dinginnya.
"Tapi aku menyukai panggilan itu" Ucap Alison yang langsung menarik tubuh Alisha untuk mendekat dan mencium bibirnya dengan penuh kelembutan.
Dia semakin merapatkan kedua tubuh mereka dan memperdalam ciumannya sampai Alisha merasa kalau pasukan oksigen pada paru - parunya semakin menipis kemudian Alisha mencengkram bahu Alison lalu mendorongnya hingga tautan bibir mereka terlepas.
"Akhhh" Desis Alison saat cengkraman tangan Alisha berada tepat pada lukanya yang membuat jahitannya terbuka.
Alisha membelalakkan matanya saat melihat jaket yang dipakai Alison berubah warna menjadi merah pekat seperti darah.
"Astaga, Alison kamu terluka" Paniknya saat melihat Alison menahan rasa sakit pada bahunya akibat darah darah yang terus membasahi bajunya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏