
"Apa kamu sudah menyiapkan jawaban dari pertanyaanku kemarin?" Tanya Davin.
Davin menatap Alisha dengan perasaan cemas, ada perasaan takut jika apa yang akan di ucapkan Alisha tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Sedangkan Alisha masih bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan yang pernah Davin ajukan beberapa Minggu lalu, dia mengira kalau Davin tidak akan mengingatnya lagi sebab sudah hampir dua Minggu ini Davin sama sekali tidak menemuinya.
Tapi dia sudah memutuskan untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan apa yang ingin hatinya berikan.
"Maaf Vin, aku tidak bisa menerima kamu lebih dari teman, sejak dulu hingga sekarang perasaanku kepadamu tidak lebih dari teman, sekali lagi aku minta maaf" Ucap Alisha dengan perasaan tidak enaknya karena merasa sudah menyakiti hati Davin dengan jawaban yang dia berikan
Bohong, jika Davin tidak merasa sakit hati setelah mendengar jawaban dari Alisha, tapi dia juga tidak bisa memaksa Alisha untuk menerima perasaanya, mungkin dia akan lebih berusaha lagi untuk membuat Alisha menerimanya.
"Tidak masalah, aku tahu kalau perasaan memang tidak bisa dipaksakan seharusnya aku sadar kalau dari awal kamu hanya menganggapku tidak lebih dari teman, tapi harapanku masih sama, aku berharap suatu saat aku bisa merubah keputusanmu hari ini" Balas Davin.
"Maaf" Ucap Alisha sekali lagi.
Davin tersenyum meraih tangan Alisha "Aku baik - baik saja Alish, bukankah kita masih bisa menjadi teman, aku rasa itu juga tidak buruk" Kekehnya dengan senyuman.
Mendengar senyuman Davin membuat Alisha sedikit merasa lega karena Davin bisa menerima jawaban yang dia berikan.
Tanpa Alisha sadari kalau senyuman yang diberikan Davin bukanlah senyuman yang sesuai dengan apa yang dipikirkan Alisha karena setelahnya Davin memberikan senyuman liciknya.
"Kalau begitu biarkan nanti aku yang mengantarmu pulang, aku rasa Michael tidak akan keberatan jika aku mengambil alih tugasnya hari ini"
"Tapi...." Balas Alisha ragu.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan meminta izin langsung kepada Michael" Lanjut Davin sebelum mendengar penolakan yang Alisha berikan.
Sebenarnya bukan karena Michael yang membuatnya ragu untuk menerima tawaran Davin, tapi karena dia takut Killian akan salah paham dan yang berakhir dengan ancaman yang akan diberikan kepadanya, hubungan Alisha dan Killian sendiri sudah banyak kemajuan, dia perlahan mulai terbuai oleh sikap perhatian yang Killian berikan kepadanya, bahkan hampir setiap malam Killian akan menyusup ke kamarnya dan berakhir dengan mereka tidur bersama dan hal itu juga yang membuat dinding pertahanannya untuk menjauh dari Killian roboh yang tersisa hanya rasa nyaman yang Killian berikan untuknya.
Sedangkan setelah mengatakan itu, Davin berpamitan pergi menuju mobilnya, sebelum benar - benar masuk ke dalam mobil dia berbalik badan untuk memperhatikan Alisha kembali.
"Jika aku tidak bisa memilikimu dengan cara yang benar maka aku akan membuatmu menjadi milikku dengan cara kotor sekalipun Alisha" Guman Davin dengan seringai liciknya.
***
__ADS_1
Michael memasukkan ponselnya setelah mendapat pesan dari Davin kalau dia meminta izin untuk mengantar Alisha pulang, karena memang hari ini dia akan pulang sedikit telat maka dia mengizinkan Michael untuk menggantikan posisinya hari ini, dia yakin kalau Michael bisa menjaga kakaknya seperti dulu saat mereka masih bertetangga.
Michael menatap Killian yang saat ini duduk di depannya, dia tidak mengerti dengan sikap yang akhir - akhir ini Killian tunjukkan, dia bukannya tidak tahu kalau hampir setiap hari Killian sudah mulai berani menunjukkan sikap perhatiannya kepada Alisha, apalagi kakaknya itu juga merespon sikap Killian dengan malu - malu, dia hanya berharap semoga kakaknya tidak sampai terbuai dengan sikap yang Killian tunjukkan.
"Jangan menatapku seperti itu, jika yang kamu pikirkan saat ini tentang cara menjauhkanku dari Alisha, maka aku tidak akan melakukannya lagi, dan aku sudah tidak peduli dengan ancaman mu itu" Jawab Killian lalu berlalu meninggalkan Michael dengan wajah mengerasnya karena marah dengan ucapan Killian.
Untuk kali ini Killian tidak akan terpengaruh lagi dengan ancaman yang diberikan Michael kepadanya, sebab tidak ada hal di dunia yang membuatnya takut namun sejak bertemu dengan Alisha ketakutannya hanya satu yaitu kehilangan Alisha di dalam hidupnya.
***
Seperti yang di ucapkannya tadi, kini Alisha sudah berada di dalam mobil bersama Davin yang akan mengantarnya pulang, sejak tadi sebenarnya perasaan Alisha sudah tidak enak tapi dia berusaha untuk menepisnya.
Alisha merasa aneh bukankan jalan toko bunga dengan rumahnya tidak terlalu jauh tapi kenapa sedari tadi mobil yang mereka tumpangi tidak kunjung berhenti membuat perasaan Alisha semakin gelisah.
"Vin bukankah seharusnya kita sudah sampai dirumahku tapi kenapa sedari tadi mobil kamu tidak berhenti"
Davin tidak menjawab pertanyaan Alisha membuat perasaannya semakin tidak menentu, tidak lama mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti seketika membuat perasaan Alisha menjadi lebih lega karena dia berpikir dia sudah sampai di rumahnya, tapi perasaan lega itu hanya bertahan sebentar saat mendengar jawaban Davin untuk pertanyaannya.
"Vin apa kita sudah sampai di rumahku?" Tanya Alisha yang sudah membuka sabuk pengamannya dan bersiap untuk segara turun.
Seringai licik kembali muncul di wajah Davin, dia mengelus pelan pipi halus Alisha, "Ini memang bukan rumahmu tapi ini rumahku yang mungkin sebentar lagi akan menjadi rumah kita sayang"
Dengan kasar dia menepis tangan Davin saat alarm tanda bahaya dalam tubuhnya memperingatkan, tanpa mengatakan apapun dia berusaha pergi menjauh dari Davin namun tangannya tiba - tiba dicekal kasar oleh Davin.
"Lepas Vin, apa yang kamu lakukan, aku ingin pulang" Balas Alisha berusaha melepas cekalan tangan Davin.
"Tidak, sebelum kita bersenang - senang malam ini"
Davin menyeret tubuh Alisha dengan kasar, tentu saja dengan pemberontakkan yang berusaha Alisha lakukan.
"Lepas Vin, aku mohon lepaskan aku jangan seperti ini" Teriak Alisha dengan amarahnya.
"Ini adalah balasan karena kamu sudah berani menolakku"
Davin menghempaskan tubuh Alisha ke atas ranjang dengan kasar.
__ADS_1
"Tidak Vin, jangan lakukan hal ini atau aku akan membencimu seumur hidupku" Teriak Alisha berusaha bangun dari tempat tidur, dia berusaha melepaskan diri dari Davin walau dengan kondisinya yang buta.
"Aku tidak peduli karena setelah ini aku akan pastikan kamu akan menjadi milikku seutuhnya Alisha sayang" Ucap Davin melepas sampul dasinya untuk mengikat tangan Alisha.
Berontakan demi berontakan sudah Alisha berikan namun hasilnya tetap nihil, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, dia hanya berharap ada yang segera menolongnya atau hidupnya akan hancur hari ini juga
"Hiks...Hiks...hiks lepas BRENGSEK" Umpat alisha dengan tangisnya.
"TOLONG" Teriak Alisha masih dengan suara tangisannya.
"Teriak semampu kamu karena tidak akan ada yang bisa menolong kamu di sini, jadi mari kita nikmati kenikmatan bersama malam ini" Ucap Davin lalu menindih tubuh Alisha.
Davin mencium bibir Alisha dengan kasar yang membuat dirinya merasa sangat terhina,
"Manis" Ucap Davin setelah berhasil menikmati bibir milik Alisha.
Davin sudah membuka kemeja yang dipakainya lalu tanpa di duga, Davin menyobek baju atasan milik Alisha yang menampilkan bukit kembar milik Alisha.
Alisha yang mulutnya sudah di tutup sapu tangan oleh Davin hanya bisa diam saat merasakan sakit pada kedua bukit kembarnya akibat ulah Davin, yang dia lakukan hanya bisa menangis menyesali semua yang terjadi padanya hari ini.
Davin melepas sapu tangan yang menutupi mulut Alisha "Aku ingin kamu menyebut nama ku saat aku berhasil memasukimu" Ucap Davin yang justru semakin membuat air mata Alisha semakin deras.
Sekarang tubuh Alisha sudah polos sepenuhnya, dia merasakan sesuatu benda asing yang berusaha menerobos inti tubuhnya, dia hanya berharap Killian akan menolongnya.
"AKHHHH" Teriak Alisha.
.
.
.
Bersambung
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏
__ADS_1