Cinta Tulus Mafia Kejam

Cinta Tulus Mafia Kejam
Pikiran Kotor Edgar


__ADS_3

Alison berjalan dengan tatapan dinginnya saat melewati beberapa anak buahnya yang menunduk hormat saat kedatangannya.


"Ambil pistol Desert Eagle kesayanganku dan pisau jagdkommando sekarang" Perintah Alison kepada anak buahnya.


"Maaf bos, apa anda yakin akan menggunakan pisau itu?" Tanyanya.


"Apa aku menggajimu untuk melanggar perintahku" Tanya Alison tajam.


"Maaf bos" Ucapnya lalu melaksanakan perintah yang di perintahkan Alison.


Ini untuk pertama kalinya bosnya itu memakai pisau yang hanya ada beberapa saja di dunia, pembuatannya pun juga sangat dibatasi karena setiap luka yang dihasilkan dari pisau itu akan sangat sulit untuk disembuhkan dan dalam hal ini bisa dipastikan tidak akan ada kata ampun untuk pria yang saat ini hanya tinggal menunggu kapan kematian menghampirinya.


Alison menatap pria yang wajahnya tertutup kantong kain berwarna hitam.


"Buka semua penutup kepalanya" Perintah Alison.


Saat penutup kepala pria tersebut dibuka dan lakban yang menutup mulutnya dibuka, tidak ada perkataan yang di ucapkan sama sekali.


"Aku tidak bertanya siapa orang yang sudah menyuruhmu karena aku tahu siapa orang yang ada di balik semua kejadian ini" Ucapnya


"Namun aku hanya tidak suka ada orang yang berani menyakiti orang yang ada di sekitarku"


"Ramon berikan apa yang aku minta"


Pria yang dipanggil Ramon menyerahkan sebuah pistol dan belati yang tadi diambilnya dari tempat persenjataan.


Alison berdiri dari duduknya lalu mendekati pria tersebut yang seluruh tubuhnya terikat di di tiang besi.


"Apa tidak ada satupun kata yang ingin kamu ucapkan?" Tanya Alison yang sudah menempelkan belatinya di pipi pria tersebut.


"Kalau pun kamu membunuhku tidak akan ada untungnya karena justru dia akan semakin melukai anak dan juga wanitamu" Ucap pria tersebut tanpa ekspresi.


SREETTTT


Alison menggoreskan pisaunya tepat pada pipi sebelah kanannya yang kini sudah banyak mengeluarkan darah, tapi pria itu masih tetap menahannya.


"Aku tidak tahu jaminan apa yang dia janjikan kepadamu tapi percaya padaku kalau dia tidak akan menjamin apa yang sudah dia janjikan"


"Tapi justru istri dan anakmu akan lebih menderita dari apa yang kamu pikirkan"


"Itu tidak akan terjadi dia sudah berjanji untuk menjamin keselamatan keluargaku" Teriak pria itu.


"Orlando Gabriel dan Vanezsa Aaliya, bukankah itu nama orang yang berharga dalam hidupmu"


"Jangan berani menyentuh mereka, urusanmu bersamaku"


"Sayangnya aku bukan orang sebaik itu" Ucap Alison


SREKKKK


AKHHHHH

__ADS_1


Untuk kali ini pria tersebut tidak bisa menahan sakit pada sepanjang garis tangannya saat pisau yang dibawa Alison merobek hampir seluruh kulit tangannya dari lengan hingga telapak tangan.


"Itu pembalasan dariku karena hampir membunuh anakku"


Alison berjalan memutari tubuh pria tersebut yang meringis menahan tubuhnya yang hampir mati rasa.


SRETTTTT


Alison kembali menancapkan pisaunya tepat pada punggung pria itu yang masih tertutup baju kulitnya lalu menariknya hingga membuat luka lurus di sepanjang punggung pria itu.


"Dan ini untuk orang yang sudah berani mengusik kehidupan seorang Alison Whingston"


"SIALAN LEBIH BAIK LANGSUNG BUNUH SAJA AKU DARI PADA MENYIKSAKU SEPERTI INI" Teriak pria tersebut saat kini merasakan panas dan nyeri yang amat dalam pada punggungnya.


"Dan....."


DORRRR


AKHHHHHH Teriaknya nyaring


Alison mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya hingga mengenai kaki sebelah kanan pria tersebut hingga darahnya mengenai celana yang dia pakai.


Dileparnya pistolnya ke anak buahnya "Lenyapkan dia, aku akan mengurus nasib anak dan istrinya" Ucap Alison


"SIALAN JANGAN PERNAH BERANI MENYENTUH ISTRI DAN ANAKKU" Teriak pria itu lagi saat melihat Alison yang berjalan pergi meninggalkannya.


Hingga suara tembakan nyaring terdengar dari ruang bawah tanahnya yang menandakan kalau pria itu mungkin saja sudah tidak bernyawa lagi.


"Davin, aku pastikan tanganku sendiri yang akan melenyapkanmu" Ucap Alison dengan tatapan penuh amarah.


***


Alison menatap dua orang yang disayanginya sedang tidur dengan saling berpelukan, dia merapikan anak rambut Alisha yang menjuntai menutupi wajah cantiknya, lalu beralih ke arah Aaron dan mengusap rambut anaknya yang hitam lebam seperti miliknya.


"Paman Alison sudah pulang" Ucap Aaron serak yang terusik dari tidurnya.


"Apa paman mengganggu tidurmu" Tanyanya.


"Tidak"


"Kalau begitu cepat lanjutkan tidurmu, ini masih cukup malam untukmu terbangun" Ucap Alison berdiri dari ranjang.


"Paman mau kemana? Kenapa tidak tidur di sini saja?" Ucap Aaron mengucek - ngucek matanya.


Alison terdiam cukup lama "Baiklah paman akan tidur bersama kalian"


Alison memposisikan dirinya di samping kanan ranjang yang kosong dengan Aaron berada ditengah - tengah antara dirinya dan Alisha.


"Selamat tidur paman" Ucap Aaron yang memejamkan matanya kembali lalu tidak lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan kalau anaknya itu sudah berada di alam mimpinya.


Alison ikut memejamkan matanya, mungkin akhir - akhir ini dia akan terbiasa tidur dengan nyenyak kembali seiring hadirnya Aaron dan Alisha lagi.

__ADS_1


***


Alisha menggeliatkan tubuhnya saat merasakan tangan seseorang memeluk erat dirinya, perlahan dia membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Alison yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.


Dia berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Alison, namun pelukan yang di berikan Alison semakin erat.


Alisha menghela nafasnya pelan "Sir, bangun ini sudah pagi, kita harus segera berangkat bekerja"


"Aku masih mengantuk Alisha" Ucap Alison yang semakin menarik Alisha dalam dekapannya, dia berusaha mencari keberadaan Aaron yang seingatnya kemarin tidur bersamanya kenapa tiba - tiba menjadi Alison yang tidur dengan memeluknya.


"Kalau begitu lepaskan saya sir, dan anda bisa melanjutkan tidur anda"


Alison membuka matanya sebentar lalu memejamkan nya lagi dan menutup seluruh tubuhnya dan tubuh Alisha dengan selimut tebalnya.


"TUAN APA YANG ANDA LAKUKAN" Teriak Alisha.


Sedangkan Edgar yang menemani Aaron menonton film terkejut mendengar suara teriakan Alisha, sedangkan Aaron tidak mempedulikannya dan terus memakan es krim yang saat ini berada di tangannya.


"Paman Edgar mau kemana?" Tanya Aaron.


"Paman mendengar suara teriakan jadi aku harus melihatnya"


"Tidak perlu paman, jangan ganggu mom Dan paman Alison" Ucap Aaron membuat kernyitan bingung di kening Edgar.


"Maksud kamu, mamah kamu dan Tuan Alison berada di satu kamar berdua"


Aaron menganggukkan kepalanya "Tadi Paman Alison bilang jika ada suara apapun dari kamar tidur jangan di hiraukan karena Paman Alison bilang kalau ada hal penting yang harus mereka lakukan dan tidak boleh ada satu orang pun yang menggangunya termasuk paman Edgar"


"Uuhuuukkk" Edgar tersedak saliva nya sendiri saat mendengar perkataan Aaron, hal yang sangat sulit dipercayanya bahwa saat ini bosnya sedang tidur berdua dalam satu ranjang bersama seorang wanita.


"Tuan Alison bilang seperti itu"


Aaron menganggukkan kepalanya lagi lalu kembali fokus pada film yang tadi ditontonnya.


"AKHHHH SIR, LEPASKAN" Teriak Alisha lagi yang membuat Edgar bergidik ngeri membayangkan kegiatan apa yang di lakukan bosnya.


"Ekhemm, paman rasa sekarang paman akan pergi dari sini untuk mencari kopi hangat"


"Kenapa paman tidak membuatnya saja di dapur, paman Alison punya banyak stok kopi" Balas Aaron.


"Maksudnya, pacar paman pagi ini mengajak untuk meminum kopi berdua di kedai" Ucap Edgar berbohong lalu pergi meninggalkan Aaron yang hanya mengendikkan bahunya, dia ingin segera meninggalkan penthouse bosnya itu agar telinganya tidak ternodai dengan suara aneh yang mungkin akan dia dengar lagi.


Di luar pintu penthouse Alison, Edgar berusaha menghilangkan pemikiran kotornya, sejujurnya di umurnya yang menginjak 26 tahun, dia belum pernah berpacaran apalagi melakukan hubungan ONS dengan para wanita bayaran, setiap pergi ke club pun dia selalu menghindar jika ada para wanita yang mencoba mendekatinya, entah kenapa tadi saat dia mendengar teriakan Alisha membuatnya berfikir kalau bosnya itu sedang merencanakan membuat penerus untuk Whingston Grup.


"Astaga, aku rasa aku perlu segera melepas keperjakaanku" Ucapnya segera menuruni lift menuju lantai bawah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏


__ADS_2