
"Ah, maaf saya tidak sengaja" Ucap Alisha saat dirinya tidak sengaja menabrak seseorang.
"Tidak masalah, aku juga salah karena jalan tidak sambil memperhatikan jalan" Balas seorang wanita.
"Kalau begitu, saya permisi sekali lagi saya minta maaf" Ujar Alisha segera berlari menuju halte bus.
Namun saat dia sampai di halte, ternyata dia sudah ketinggalan bus "Astaga, kenapa aku ceroboh sekali sampai ketinggalan bus" Ujar Alisha kepada dirinya.
"Hai, apa kamu butuh tumpangan? aku bis mengantarmu ke tempat kerjamu" Wanita yang tadi di tubruk bahunya oleh Alisha datang menghampirnya.
"Tidah perlu nona, saya bisa naik taksi saja" Jawab Alisha dengan sopan.
"Tidak perlu sungkan, lagian tujuan kita sama"
"Maksud nona?"
"Panggil aku Danilla, dan tidak perlu berbicara formal denganku karena kamu terlihat lebih dewasa daripada aku" Balas Danilla.
"Ah iya, namaku Alisha" Ucapnya.
"Bagaimana apa kamu mau menerima tawaranku? Lagian tujuan kita sama ke Wingston Grup"
"Bagaimana kamu tahu kalau aku akan ke Whingston Grup?" Tanya Alisha bingung.
Danilla menunjuk name tag pada baju Alisha dan juga nama perusahaan yang tertera di name tag nya.
Alisha mengangguk "Apa aku tidak akan merepotkanmu?"
"Tentu saja tidak, kamu tunggu di sini aku akan mengambil mobilku yang terparkir di depan toko kue"
"Baiklah" Balas Alisha.
Danilla pergi menuju mobilnya dan mengemudikannya ke arah Alisha.
Setelah mobil yang di tumpangi Danilla berhenti di depan Alisha dengan segera dia masuk ke dalam mobil.
"Kamu orang pertama yang aku kenal saat pergi ke Manhattan selain tunanganku" Ucap Danilla saat mobil yang dikendarainya membelah jalanan padat kota Manhattan.
"Apa kamu bukan orang Manhattan?"
"Bukan, aku berasal dari New York, aku ke sini karena ingin menemui tunanganku" Danilla menyunggingkan senyumannya ke arah Alisha.
"Apa tunanganmu juga bekerja di perusahaan Whingston Grup?" Tanya nya.
"Ku rasa bisa di bilang bukan hanya bekerja, tapi dia juga pemimpin di sana" Jawabanya.
"Pemimpin?" Lirihnya
__ADS_1
"Iya, Alison Whingston pemilik perusahaan Whingston Grup, dia adalah tunanganku" Ujar Danilla menekankan tiga kata terakhir pada ucapannya.
Alisha langsung terdiam mendengar perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Danilla.
"Tunangan?"
Dengan senyum bahagianya Danilla menganggukkan kepalanya "Kami sudah bertunangan dari beberapa tahun yang lalu, namun karena kesibukan yang dimiliki Alison kami terpaksa menunda pernikahan kami"
Ada rasa sakit yang dirasakan pada hati Alisha, dia merasa kalau selama ini Alison hanya mempermainkannya saja di saat perasaanya mulai melunak.
Tanpa sadar satu tetes air mata turun dari pipi Alisha.
***
"Kita sudah sampai" Ucap Danilla lalu turun dari mobilnya di ikuti oleh Alisha.
"Terima kasih atas tumpangannya Danilla" Ucap Alisha berlalu pergi memasuki kantor terlebih dahulu tanpa menolehkan kepalanya kepada Danilla.
Senyum licik tersungging di bibirnya "Ini baru permulaan Alisha, aku akan memastikan hubungan kalian berdua semakin menjauh dan setelahnya aku tinggal menyingkirkanmu dari sisi Alison untuk selamanya"
Sedangkan Alison yang sedang fokus dengan pekerjaannya, merasa terganggu saat pintu di ruangannya terbuka dengan kasar
BRAKKK
"Maaf Tuan saya sudah berusaha menahan Nona Danilla agar tidak masuk tapi dia terus memaksa untuk masuk"
"Untuk apa kamu kemari Danilla?" Tanya Alison dengan nada dinginnya.
"Suruh Edgar melepas cengkraman tangannya dari lenganku dulu" Pinta Danilla pada Alison.
Alison melirik Edgar "Lepaskan dia, dan keluar dari ruangannya" Perintah Alison.
Edgar melepas tangannya dari lengan Danilla, dengan tatapan tajam yang ditunjukkan kepada wanita di sampingnya ini lalu Edgar menuruti perintah Alison keluar dari ruangan bosnya tersebut.
Dengan langkah anggun dan senyum bahagianya, Danilla berjalan menghampiri Alison.
"Aku sangat merindukanmu Alison, pertemuan terakhir kita saat makan malam benar - benar melukai hatiku" Ucap Danilla bergeleyut manja di lengan Alison.
Alison menyentak tubuh Danilla kasar hingga membuat tubuh Danilla sedikit terdorong menjauh darinya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk membicarakan hal tidak penting denganmu"
Danilla tetap pura - pura tersenyum walau dalam hatinya dia merasa sangat kesal dengan Alison yang menolak sentuhannya.
"Aku masih tunangan kamu, kita tidak pernah membatalkan pertunangan yang kita jalani jadi aku masih berhak untuk kamu"
Alison terkekeh sinis "Sejak kapan aku menganggap pertunangan ini, bukankah kamu seharusnya ingat kalau aku sudah membatalkan pertunangan ini di hari di mana Dad di kebumikan"
__ADS_1
"Tapi aku tidak pernah setuju dengan pembatalan ini Alison" Balas Danilla dengan nada yang meninggi.
"Aku tidak peduli dengan persetujuanmu, jadi jangan bermimpi untuk menjadi wanita dalam hidupku"
Danilla menggelengkan kepalanya, sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terbawa amarah yang meledak - ledak "Tapi kamu juga harus ingat kalau kamu orang pertama yang sudah mengambil keperawananku dan tidur denganku"
"Itu bukan keinginanku, bukankah kamu sendiri yang sengaja memasukan obat perangsang di minumanku" Tekan Alison pada setiap ucapannya.
"Tapi kamu harus bertanggung jawab Alison, kamu tidak bisa mencampakkan ku ataupun meninggalkanku begitu saja setelah selama beberapa tahun ini aku membiarkanmu menghindariku" Ucap Danilla dengan marah.
"jangan memancing emosiku Danilla" Ancam Alison kepada Danilla.
"Apa kamu terpancing dengan apa yang aku ucapkan" Tanya Danilla lalu membuka kancing bagian atas kemeja yang dia pakai sehingga menampilkan dua bukit kembarnya yang hanya terbalut bra berenda hitam.
"Keluar sendiri atau aku yang menyeretmu dengan kasar keluar dari sini" Ucap Alison tegas dengan suara meninggi.
"Aku yakin kamu pasti sangat merindukan tubuhku Alison" Danilla berjalan mendekati Alison kembali.
Alison mencengkram kedua pipi Danilla "Aku sudah memperingatkanmu DANILLA"
"EDGARRRR" Teriak Alison menggelegar.
Edgar segera masuk ke ruangan Alison saat mendengar teriakkan bosnya itu, dia langsung mengalihkan tatapannya saat melihat tubuh bagian atas Danilla yang terbuka.
"Urus wanita gila ini" Ucap Alison melepas kasar cengkeramannya.
Alison berjalan keluar dari ruangannya.
"ALISON KAMU TIDAK BISA MEMEPERLAKUKANKU SEPERTI INI" Teriak Danilla meronta ronta dari cengkraman tangan Edgar, sedangkan berkali kali Edgar mengalihkan pandangan matanya saat tidak sengaja melihat bagian atas mantan tunangan atasannya itu.
"ALISON BERHENTI" Teriak Danilla lagi saat tubuh Alison mulai menghilang di dalam lift.
"Lebih baik anda segera keluar dari sini Nona, atau anda akan melihat sisi lain dari Tuan Alison" Peringat Edgar kemudian melepaskan tubuh Danilla.
"Awas kamu" Tunjuk Danilla dengan penuh emosi kepada Edgar lalu dia merapikan kembali pakainya kemudian dengan amarah dan emosi yang siap meledak Danilla keluar dari perusahaan Whingston Grup.
"Aku akan pastikan membuat kamu memohon kepadaku demi wanita kesayanganmu itu Alison" Lirih Danilla memukul kasar stir mobil nya, lalu mengambil dua butir obat untuk diminumnya.
Danilla mengambil sebuah foto dari tas jinjing nya yang memperlihatkan foto Alisha bersama Aaron yang sudah terdapat noda darah di tengahnya "Dan aku akan menghancurkanmu lewat dua orang kesayanganmu ini" Danilla tertawa kencang yang akan membuat siapapun akan bergidik ngeri dengan suara ketawa yang terdengar begitu nyaring dan menakutkan.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏