Cinta Tulus Mafia Kejam

Cinta Tulus Mafia Kejam
Menyelamatkan Aaron


__ADS_3

"Mau kamu bawa kemana Alisha?" Tanya Danilla.


"Itu urusanku, sekarang tugas kamu adalah memastikan kalau anak itu meninggal terbakar dalam gedung ini, dan setelahnya kamu bebas untuk memiliki Alison dan aku akan membawa Alisha bersamaku" Jawabnya lalu meninggalkan Danilla.


Danilla menatap kepergian Dave "Ikuti kepergian Dave, dan bunuh Alisha jangan sampai gagal" Perintah Danilla pada anak buahnya, dia sudah berjanji untuk tidak membiarkan Alisha hidup maka dengan cara apapun dia akan melenyapkan Alisha.


"Aku yang akan membakar gedung tua ini" Ucap Danilla saat melihat anak buah Dave yang bersiap untuk menuangkan minyak ke sekitaran gedung.


Anak buah Dave menyerahkan botol yang berisi minyak tanah kepada Danilla dengan ragu.


Setelah memastikan tidak ada orang lagi selain Aaron di dalam gedung, dia menyiram minyak ke area bangunan lalu menyalakan korek api "Selamat tinggal sayang, maaf karena sudah menghentikan masa depan kamu" dan setelahnya api sudah mulai merambat membakar gedung tua itu bersama Aaron di dalamnya.


Danilla segera pergi menjauh saat mendengar suara mobil semakin mendekat ke arahnya, dia bersembunyi di balik pohon besar yang cukup jauh dari gedung yang sudah terbakar.


Alison turun dari mobilnya dengan perasaan tidak menentu, tanpa berpikir dua kali dia berniat menerobos masuk ke kobaran api.


"Apa yang mau kamu lakukan bodoh" Raynand menarik tubuh Alison.


"Lepas Ray, aku harus menyelamatkan Aaron dan Alisha sebelum gedung ini habis terbakar" Dengan paksa Alison melepaskan tangan Raynand dan berjalan masuk menerobos api memasuki gedung yang setengahnya sudah habis terbakar.


"Dasar keras kepala" Ucap Raynand yang berniat kembali mencegah Alison namun Dominic menarik tubuhnya.


"Biarkan Alison melakukan apa yang dia inginkan, percayalah dia bisa keluar dengan selamat sama seperti dulu saat dia beberapa kali hampir merenggang nyawa karena ulahnya sendiri"


Di dalam gedung, Aaron yang tadi sempat pingsan mulai membuka matanya, dia terkejut saat banyak sekali asap yang masuk ke dalam hidungnya apalagi sekarang api sudah mulai membakar tempatnya berada sekarang.


"Dad, Aaron mohon tolong Aaron" Ucap Aaron dalam hati, dia berusaha melepaskan ikatan tangannya namun gagal hingga dia mendengar teriakkan Alison yang memanggil namanya.


Aaron masih berusaha untuk terus melepas ikatan pada tangannya, hingga dia menemukan sebuah serpihan kaca dan mengambilnya dengan kaki lalu menggesekkan nya hingga membuat tali yang mengikat tangannya terlepas.


"Daddy, Aaron di sini, uhukkkk" Teriak Aaron setelah penutup pada mulutnya terbuka.


Dia berusaha berdiri namun rasa sakit pada kakinya membuatnya tidak mampu melakukan apapun.


Uhuk Uhuk Uhuk


Asap yang semakin memenuhi paru - paru nya membuat dada Aaron terasa sesak.


"Daddy, tolong Aaron" Tubuh Aaron kembali terkulai lemas kembali saat dia merasakan dadanya semakin sesak.

__ADS_1


Sedangkan Alison yang berusaha menerobos kobaran api mendengar suara teriakan Aaron dari salah satu ruangan yang pintunya tertutup rapat.


"Aaron, kamu dimana, panggil nama Daddy lagi, nak" Teriak Alison mendekati pintu yang hampir disambar oleh kobaran api.


"Daddy, tolong Aaron dad" Terdengar suara Aaron yang semakin melemah.


Alison menendang pintu dengan kencang hingga terbuka sempurna, pemandangan yang dia lihat pertama kali sungguh membuat hatinya tersayat.


"Aaron ini Daddy" Alison menepuk pelan pipi Aaron.


"Daddy, dada Aaron sesak, tubuh Aaron juga sakit, kepala Aaron sangat pusing, Uhukk" Ucap Aaron dengan lemah.


"Maaf, maafkan Daddy, kamu haru bertahan Aaron, dad sudah ada di sini dan akan menyelamatkan kamu"


Alison segera mengangkat tubuh Aaron yang terkulai lemas, dengan cepat dia membawanya keluar namun dia mulai kesulitan karena api sudah merambat hampir keseluruhan bangunan.


"Bertahan Aaron" Ucap Alison masih berusaha menerobos kobaran api yang semakin besar.


Tubuh Aaron yang sudah mulai melemah membuatnya tidak bisa menahan lagi kesadaran nya, dengan nafas yang tersenggal mata Aaron dengan perlahan mulai menutup.


Alison yang melihat mata Aaron yang menutup dibuat semakin khawatir, ketika dia hampir mencapai pintu keluar, tiba tiba sebuah balok kayu panas jatuh dari atas dan hampir saja menimpa tubuhnya.


Raynand segera menghampiri Alison yang sudah berhasil keluar bersama Aaron dalam gendongannya.


Alison mengeluarkan salah satu ponselnya "Ikuti titik yang tertera di gps, ponsel ini sudah terkoneksi dengan chip yang aku taruh di belakang telinga Alisha"


Ya, Alison memang sengaja menaruh dua chip pemberian Raynand dalam tubuh Alisha, karena dia yakin kalau yang di incar Dave memang Alisha dan mengecoh nya tentang keberadaan Alisha namun dia tidak menyangka kalau Dave akan menyakiti anaknya dengan kejam seperti ini yang seketika membangunkan jiwa iblis nya kembali yang sudah lama terpendam dan mungkin sebentar lagi akan terlampiaskan ketika dia bertemu dengan Dave.


Melihat kondisi Aaron yang sudah semakin parah, Alison segera mengemudikan kendaraannya keluar dari hutan di ikuti oleh beberapa anak buahnya untuk berjaga - jaga jikalau anak buah Dave menyerangnya.


Di balik pohon, tangan Danilla mengepal kuat saat melihat Aaron berhasil di selamatkan oleh Alison "Si*l, bagaimana bisa Alison mengetahui tempat ini dan kenapa bocah itu masih bernafas seharusnya aku membunuhnya terlebih dahulu sebelum membakarnya" Desis Danilla penuh dengan amarah.


Saat Dominic akan memasuki mobilnya, dia merasakan ada seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka.


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Dominic menembakkan tiga peluru pistolnya ke atas "Apa yang terjadi?" Tanya Raynand.


"Aku hanya merasa ada seseorang yang sedari tadi memata - matai kita" Ucap Dominic mempertajam pengelihatannya.


Sedangkan Danilla menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat dia akan berteriak mendengar suara tembakan dari pistol Dominic, dia tidak boleh ketahuan kalau dia lah yang sudah membakar gedung ini.


"Tidak ada orang di sini, mungkin itu cuma perasaanmu" Balas Raynand.


Dominic menganggukkan kepalanya berjalan memasuki mobilnya, Danilla yang merasa situasi sudah mulai aman segera berlari pergi


Dorrr


"Akhhh" Teriak Danilla saat merasakan kakinya terluka akibat terkena tembakkan.


"Ternyata memang ada orang di sini" Ucap Dominic berdiri menjulang tinggi di hadapan Danilla.


"****" Umpat Danilla lalu tertawa kencang.


"Ah, Dominic lama kita sudah tidak saling bicara" Danilla berusaha berdiri dengan baik walau kakinya terasa kebas.


"Apa yang kamu lakukan di sini" Tanya Dominic "Jangan katakan..... kamu yang sudah membakar gedung ini" Selidik Dominic mencengkram kuat bahu Danilla.


"Jangan menyentuhku" Danilla mengibaskan kuat lengannya hingga membuat cengkraman tangan Dominic terlepas.


"Ya, memang benar aku yang sudah membakar gedung ini namun sayang anak itu tidak mati" Desis Danilla marah.


"Hentikan semua kegilaan ini Danilla, atau kamu akan melihat kemurkaan Alison yang sangat mengerikan, dia bisa saja membunuhmu tanpa ampunan" Peringat Dominic lalu meninggalkan Danilla dengan wajah datarnya.


"Apa kamu takut kalau aku mati?" Tanya Danilla menghentikan langkah Dominic, namun tidak lama dia kembali berjalan meninggalkan Danilla menyusul Raynand yang aduhai terlebih dahulu pergi bersama anak buah mereka.


Air mata Danilla menetes saat melihat punggung Dominic, lalu dengan kasar dia mengusap air matanya kemudian menatap kepergian Dominic dengan tajam.


"Dulu, kamu bisa melakukan hal gila yang menyakitiku maka akan aku tunjukkan seberapa gila aku untuk melenyapkan orang - orang yang menghalangi jalanku" Kekeh Danilla di ikuti dengan tawanya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏


__ADS_2