
"Tu...an" Lirih Alisha saat terdengar suara derap langkah semakin mendekatinya.
Alisha semakin mencium bau parfum maskulin dari pria dihadapannya ini, sesuai yang dikatakan pria tadi kalau saat ini telinganya sudah di tutup oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa mendengar suara di sekitarnya.
"Akhh Tuan" Erang Alisha saat dia merasakan sapuan hangat di sekitar lehernya.
"Cantik" Ucap pria itu tanpa bisa di dengar oleh Alisha.
Alisha merasakan panas di sekujur tubuhnya akibat sentuhan yang diberikan oleh pria yang kemarin menyuruhnya untuk dipanggil Key.
Sedangan pria dengan sebutan nama Key terus mencium hampir seluruh tubuh Alisha yang tidak tertutup lingerie.
"Akhhh, Key" Pekiknya dengan nada tertahan saat merasakan ciuman kasar yang terus di berikan di lehernya.
"Kamu nikmat Alisha" Desisnya dengan suara penuh hasrat.
Krekkkk
Key merobek secara kasar lingerie yang dipakai Alisha "Tubuhmu sangat indah"
Dengan jarinya, Key mengelus lembut setiap inci tubuh Alisha yang membuat Alisha menggeliat di bawahnya.
Alisha berusaha menutupi tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun dengan tangannya namun dengan cepat Key menyingkirkan tangan Alisha dan menguncinya di atas kepala.
"Akhh Key" Desah Alisha untuk kesekian kali nya saat Key memainkan salah satu bagian sensitif dari tubuhnya.
Sedangkan Key mencumbu setiap inci tubuh Alisha dengan memuja, kini Key juga sudah sama polosnya dengan Alisha.
Dia menindih tubuh Alisha dan berusaha memposisikan tubuh mereka, Alisha yang merasa bagian bawahnya akan terkoyak mencengkram kuat punggung Key dengan jari tangannya.
"Shittt, kamu sangat sempit Alisha" Desis Key dengan nada rendahnya.
Dengan sekali sentak tubuh mereka sudah saling menyatu, karena merasakan sakit di area bawah tubuhnya tanpa sadar Alisha meneteskan air matanya, hingga rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang baru pertama kali dirasakan Alisha.
"Key" Racau Alisha saat dia merasa akan ada yang keluar dari inti tubuhnya.
Key menggerakkan tubuhnya semakin cepat hingga tidak lama kemudian mereka mencapai puncak secara bersamaan di tengah dinginnya malam dengan kondisi Alisha yang tidak mengetahui siapa yang sudah mengambil keperawanannya yang sudah dia jaga semalam 24 tahun.
Dan lagi air mata Alisha menetes saat Key melepaskan penyatuan mereka dan membuka penutup telinga nya, setelahnya dia mendengar suara pintu tertutup dari luar, yang menandakan kalau dia tidak lebih dari seorang wanita sewaan yang habis manis langsung di buang dan ditinggalkan begitu saja didalam kamar.
"Hiks, maaf" Lirih Alisha yang menaikkan selimutnya untuk menutupi tumbuh telanjangnya.
***
Hari telah berganti menjadi bulan, ini sudah tepat tiga bulan sejak kejadian dimana dia menyerahkan keperawanannya untuk ditukar dengan kebebasan adiknya, bahkan niatnya untuk menutupi semuanya terpaksa dia katakan satu bulan yang lalu saat dokter mengatakan dia dalam keadaan mengandung yang tentu saja membuat Michael marah dan menyalahkan dirinya dengan semua yang terjadi padanya hari ini.
__ADS_1
Alisha mengelus perutnya lembut, walaupun awalnya dia hampir saja melenyapkan anaknya sendiri karena tekanan yang dia dapatkan saat pertama kali mendengar kondisinya, namun seiring berjalannya waktu dia mulai menyadari kalau anak dalam kandungannya tidak bersalah, dia berhak hidup walau kehadirannya berasal dari sebuah kesalahan yang dia perbuat.
"Kak, aku sudah membuatkan kakak susu hamil, agar kakak tidak merasa mual lagi" Ucap Michael.
Michael pun sudah mulai menerima kondisi kakaknya, bagaimanapun semua yang terjadi dengan kakaknya saat ini juga tidak lepas karena demi dirinya.
"Terima kasih, bisakah kamu hari ini menemani kakak untuk pergi ke toko bunga milik Bibi Anne, Kakak ingin mengganti bunga lili kakak yang sudah layu" Ucap Alisha yang diangguki kepala oleh Michael.
"Baiklah aku akan mengantarkan kakak nanti siang" Michael berjalan masuk ke dalam rumah yang sebentar lagi akan mereka jual.
Ya, rumah yang saat ini ditempati Alisha dan Michael akan mereka jual karena Alisha menginginkan kehidupan baru bersama anaknya kelak, yang jelas dia ingin pergi sejauh mungkin dari Toronto.
Di tempat yang cukup jauh dari keberadaan Alisha, seorang pria paruh baya yang tak lain ayah kandung Killian sedang menahan amarahnya setelah mendengar perkataan dari salah satu anak buahnya.
"Jadi anak itu masih diam - diam mencari tahu tentang wanita itu" Ucap Axel dengan penuh nada penekanan.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, lenyapkan wanita itu untuk selamanya dari dunia ini"
"Baik Tuan, saya akan melakukan perintah anda" Balas salah satu anak buah Axal.
"Kamu ternyata benar - benar mengabaikan perkataan ku, maka kamu sendiri harus terima akibat dari ulah mu yang tidak menuruti semua perkataan ku"
Sedangkan Killian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah mengetahui kalau anak buah ayahnya berniat untuk menyakiti Alisha membuat perasaan Killian tidak tenang, dia takut kalau dia sampai telat menyelamatkan Alisha maka dia yakin seumur hidupnya akan di penuhi dengan segala penyesalan.
"Hallo" Killan mengangkat ponselnya yang terus berbunyi.
"Cari tahu dimana keberadaannya sampai ketemu, jangan sampai anak buah dad yang menemukannya terlebih dulu" Perintah Killian tanpa bantahan.
"Baik Tuan, saya akan berusaha mencari keberadaan Nona Alisha"
Panggilan telfon terputus, setelahnya Killian semakin mempercepat laju kendaraan.
Di depan toko milik Bibi Anne, Alisha duduk di salah satu bangku kosong dengan membawa setangkai bunga lili di tangannya, dia sedang menunggu Michael yang tadi izin mengangkat telfon sebentar, tanpa menyadari kalau bahaya sedang mengintainya.
Dibalik sebuah pohon besar, seseorang sudah siap mengarahkan pistolnya tepat dimana saat ini Alisha sendang duduk sendirian.
Killian yang sudah sampai di depan toko Bibi Anne segera menghampiri Alisha, hingga ekor matanya melihat seseorang yang sudah siap menarik pelatuknya ke arah Alisha.
Dengan cepat dia segera berlari ke arah Alisha.
"ALISHA, AWASSS" Teriak Killian yang membuat Alisha mengalihkan pandangannya.
DORRRRR
"AKHHHH" Teriak Alisha menutup kedua telinganya, namun dia tidak merasakan rasa sakit di tubuhnya.
__ADS_1
"Killian"
"Tuan"
Teriak Michael dan Hans secara bersamaan, Hans berlari menghampiri Killian yang sudah berlumuran darah sedangkan Michael berusaha menenangkan kakaknya yang terlihat shock.
"Aaapa itu Killian" Tanya Alisha mengarahkan tongkatnya berjalan ke arah kerumunan orang .
"Killian" Lirih Alisha yang sudah mendudukan dirinya di samping tubuh Killian, dia meraba tubuh wajah Killian.
"Aaalisha, uhukk" Ucap Killian dengan suara tersendatnya akibat luka tembak parah di dadanya.
"Tuan saya akan membawa anda ke rumah sakit"
Dibantu beberapa orang Hans membawa Killian masuk ke dalam mobil, di ikuti Alisha yang sudah berderai air mata.
"Nona lebih baik anda tidak ikut, karena ini akan semakin membahayakan nyawa anda" Ucap Hans yang mendapat gelengan kepala dari Alisha.
"Tidak, biarkan aku ikut" Mohon Alisha
"Maaf saya tidak bisa membawa anda untuk ikut" Ucap Hans.
"Jangan pernah berusaha membunuh anak dalam kandungan mu" Ucap Killian sebelum
pintu mobil tertutup, meninggalkan Alisha yang berusaha mengejar mobil yang di kendarai Hans.
"Killian, aku mencintaimu" Ucap Alisha saat merasa dia sudah tidak mampu lagi berlari.
Karena mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan kurangnya fokus, Hans tidak sadar kalau di depannya sudah ada kendaraan boxs besar yang sedang mengalami rem blong hingga menghantam mobil yang dikendarainya.
BRAKKK
Mobil yang dikendarai Hans beberapa kali berguling di jalanan sampai akhirnya menghantam pohon besar yang membuat Tubuh Killian maupun Hans bersimbah darah dengan asap yang keluar dari bagian depan mobil.
"Selamat Tinggal Alisha, Aku sangat mencintaimu" Ucap Killian sebelum matanya tertutup rapat.
.
.
.
Bersambung
Maafkan kalau adegan dewasanya kurang panas karena author belum berbakat nulis cerita dengan genre dewasa😌
__ADS_1
Ucapkan selamat tinggal untuk kisah Killian dan Alisha, saatnya kembali ke kisah Alison dan Alisha🤗
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏