Cinta Tulus Mafia Kejam

Cinta Tulus Mafia Kejam
Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Kini Alison sudah berbaring di atas ranjangnya, di ikuti oleh Aaron yang terduduk di atas ranjang di samping Alison berbaring.


Edgar sedang mensterilkan peralatan yang akan dia gunakan untuk mengambil timah panas yang bersarang di bahu Alison.


enam tahun yang lalu saat untuk pertama kali, dia bertemu dengan Alison, dia hanya seorang bocah SMA yang dijual oleh ayahnya untuk menjadi seorang tenaga kerja tanpa bayaran hingga akhirnya dia dibantu oleh Alison saat berusaha kabur dari orang - orang yang akan menjualnya, dan sejak pertemuan itu Alison membiayainya untuk melanjutkan pendidikannya sebagai seorang dokter.


Dan kini dia mengerti alasan Alison dulu memasukkannya ke pendidikan kedokteran jika pada akhirnya dia menjadi asisten pribadinya, karena ternyata banyak yang berusaha membunuh bosnya itu entah dari dunia bisnis maupun dunia hitam yang dijalankannya sebagai seorang mafia yang di takuti, dan dialah yang harus mengobati setiap luka yang hampir setiap saat bisa saja muncul entah itu luka karena sayatan maupun luka karena tembakan.


"Apa masih sakit paman?" Tanya Aaron menyentuh lengan Alison yang masih mengeluarkan darah.


"Hanya sedikit sakit" Balas Alison berusaha memberikan senyumannya padahal dia merasakan kebas dan nyeri secara bersamaan.


"Benarkah, padahal dulu waktu Aaron jatuh dari sepeda dan hanya mendapatkan goresan kecil di lutut tapi sudah terasa perih" Ucap Aaron.


"Karena saat itu Aaron masih kecil, tapi jika nanti kamu sudah besar kamu harus terbiasa menghadapi setiap luka yang akan timbul di tubuhmu, dan ingat seorang pria tidak boleh menangis hanya karena luka kecil seperti ini" Alison mengusap puncak kepala anaknya.


Aaron menganggukkan kepalanya "Aaron tidak menangis paman, justru Mom yang menangis setiap melihat Aaron terluka"


"Apa mom sering menangis?" Tanya Alison berharap mendapat jawaban dari Aaron.


"Mom sering menangis kalau aku selalu bertanya soal keberadaan daddy, dan mom juga akan sedih jika aku berkata kalau ada teman sekolahku yang mengatakan aku tidak mempunyai dad, padahal kata Om Michael kalau aku punya Daddy tapi hanya saja dad tidak pernah mau pulang untuk menemuiku" Aaron menundukkan kepalanya sedih.


Alison menatap Aaron sendu, hatinya ikut sakit mendengar perkataan Aaron, ada rasa bersalah yang muncul di hatinya, andai dari dulu dia bisa melawan ayahnya dan memilih untuk terus bersama Alisha dan melindunginya mungkin hidup anaknya akan lebih baik dan Alisha tidak perlu banting tulang untuk menghidupi anak mereka.


"Tuan semua alat yang digunakan untuk mengangkat timah panas di lengan Anda sudah siap" Ucap Edgar.


"Cepat lakukan"


Alison sudah melepas bajunya, Edgar tidak menggunakan obat bius karena sejak dulu Alison selalu menolak jika dia berniat memberikan obat bius agar rasa sakitnya tidak terlalu terasa.


"Mungkin ini akan lebih sakit dari biasanya karena letak timahnya cukup dalam" Ucap Edgar.


Edgar menatap Aaron sebelum menyayat lengan Alison, dia ragu untuk melakukannya di depan anak sekecil Aaron.


"Cepat lakukan Edgar" Desis Alison yang paham akan keraguan Edgar, dia memang sengaja membiarkan Aaron melihatnya agar kelak tidak akan ada ketakutan yang di hadapi Aaron di masa depan, apalagi nanti semua bisnis yang dimiliknya akan jatuh ke tangan Aaron.


Alison sekuat tenaga menahan rasa sakit pada lengannya saat Edgar mulai menyayat lengannya hingga timah dari tembakan tadi bisa dikeluarkan, keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya sedangkan Aaron menatap serius kepada Edgar yang masih berusaha mengeluarkan timah panas dari tubuh Alison.

__ADS_1


Edgar tersenyum saat berhasil mengeluarkannya dan segera menjahit lengan Alison agar bisa menghentikan pendarahannya.


"Apa kamu tidak takut melihat saat paman Edgar menyayat lenganku" Tanya Alison setelah Edgar pergi dan lukanya sudah di bungkus oleh perban.


"Kenapa harus takut, Aaron justru suka melihat paman tadi yang begitu hebat bisa menghentikan pendarahan pada lengan paman"


"Bagus, kamu ingat hidup ini keras jadi kita tidak boleh takut dengan hal apapun dan jangan pernah berkorban untuk siapapun" Ucap Alison.


"Aaron akan selalu mengingatnya" Jawabanya.


"Apa kamu mau paman tunjukan sesuatu?" Tanyanya kepada Aaron.


Aaron menganggukan kepalanya "Mau paman" Jawab Aaron antusias


Tanpa mempedulikan lukanya yang baru saja di jahit, Alison mengajak Aaron ke ruang bawah tanahnya yang ada di penthouse ini, dia akan secara perlahan memperkenalkan dunianya kepada Aaron meskipun Aaron masih kecil dan belum tahu kalau dia adalah ayah kandungnya.


"WOW" Ujar Aaron saat pintu ruang bawah tanah yang ada di penthouse Alison terbuka.


"Apa kamu menyukainya"


"Ini sangat keren paman" Ucap Aaron yang menghampiri salah satu pistol kesayangan Alison.


"Apa kamu mau mencobanya?" Tanyanya saat melihat Aaron yang memegang pistol Smith & Wessong 500 Magnum yang merupakan pistol paling membahayakan di dunia.


"Apa boleh?"


"Tentu saja boleh"


Diambilnya pistol tersebut lalu dia membawa Aaron ke tempat penembakkan di mana di sana tersedia berbagai objek yang bisa di gunakan untuk melatih skill menembak.


Dia menyerahkan pistol iku kepada Aaron "Kamu lihat benda itu, pegang pistol ini dan arahkan tepat ke benda itu" Jelas Alison yang sudah berdiri di belakang Aaron yang membimbing Aaron untuk mengarahkan pistol ke objek sasaran.


"Tembak" Ucap Alison membuat Aaron segera menekan pistolnya.


DORRR


Aaron berhasil menembakkan pistol tepat sasaran, kini sebuah besi dengan tebal lima centimeter sudah berlubang akibat tembakan dari pistol yang Aaron pegang.

__ADS_1


"Permulaan yang hebat" Ucap Alison bangga.


"Aaron senang paman, akhirnya bisa memegang pistol sungguhan" Sahut Aaron dengan senyumannya.


"Suatu hari nanti kamu akan sering memegangnya dan memakainya" Ucap Alison kepada Aaron.


***


Setelah hampir satu jam mereka berada di ruang bawah tanah, kini Aaron sudah duduk di meja makan bersama Alison.


Tadi dia sempat menyuruh Edgar untuk membeli beberapa makanan siap saji yang di sukai anak kecil dan kini meja makan milik Alison sudah dipenuhi dengan makanan.


"Makanan sebanyak ini untukku paman?" Tanya Aaron dengan antusias.


"Tentu, kamu bisa memakan semuanya Jika kamu mau"


Alison memberikan spageti seafood kepada Aaron tapi Aaron menolaknya "Aku alergi udang paman, mom tidak pernah membiarkanku makan udang setelah aku masuk rumah sakit karena memakan udang" Ucap Aaron.


"Ternyata kita memiliki alergi yang sama" Balas Alison lirih sambil memperhatikan Aaron yang sudah melahap pizza di tangannya.


Sedangkan Alisha tidak berhenti menangis saat mendengar perkataan Miss Sandra, saat bekerja tadi Michael tiba - tiba menelfonnya dan menyuruhnya untuk datang ke sekolahan Aaron.


"Saya tidak tahu persis siapa orang itu, tapi dari penampilannya terlihat seperti orang kaya" Ucap Miss Sandra.


"Kamu di mana Aaron?" Lirih Alisha dengan nada khawatir.


Lalu tidak lama kemudian ponsel milik Alisha berbunyi.


"Hallo"


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Next babnya mari kita pertemuan 3A (Alison, Alisha dan Aaron) secara bersamaan.


Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏


__ADS_2