
"ALISHA"
Alison terbangun dari tidurnya dengan keringat yang mengucur deras, dia menoleh sekelilingnya yang ternyata dia saat ini berada di rumah sakit.
Jarum infus menancap di tangan kanannya, dia melihat sekeliling tempatnya berada saat ini, dengan kasar dia melepas jarum infus yang berada di tangan nya.
Namun sebelum dia turun dari tempat berbaring nya, pintu ruang perawatannya lebih dulu terbuka.
"Sir, anda belum benar - benar pulih" Edgar berjalan cepat ke arah Alison lalu menahan tubuh Alison agar tidak turun dari ranjang rumah sakit.
"Katakan kalau semua yang aku alami ini hanya mimpi, Alisha dan Aaron tidak meninggalkanku kan? mereka baik - baik saja kan?!!!" Alison mencengkram kemeja Edgar dengan kuat.
Edgar menghela nafasnya pelan "Semuanya benar sir, Nona Alisha ditemukan meninggal di tempat kejadian dia melompat dari balkon penthouse anda dan kematian tuan muda Aaron juga benar"
Dada Alison berdetak cepat, hatinya terasa di hantam oleh ribuan batu saat mendengar perkataan yang di ucapkan Edgar.
Alison mendorong tubuh Edgar hingga menyingkir dari hadapannya "Sir anda belum pulih" Ucap Edgar.
"Aku harus menemui Alisha, dia pasti menungguku di penthouse, aku sudah meninggalkannya terlalu lama" Ucap Alison terus berjalan tanpa mempedulikan Edgar yang masih berusaha mencegahnya.
Dia menahan rasa pusing di kepalanya yang semakin terasa, pandangnya pun mulai berkurang - kunang.
"Alison" Panggil Liza, ibu Alison yang saat ini berdiri tepat di depan Alison dengan raut wajah penuh kesedihan nya.
"Kamu mau kemana nak?" Liza mendekat ke arah Alison yang terlihat berantakan dengan tatapan bingungnya.
"Mom kenapa ada di sini? bukankah seharusnya mom ada di New York"
Liza menangkup wajah putranya "Mom di sini untuk menemani kamu, ayo kita kembali ke ruang perawatanmu, kondisi kamu masih lemah dan belum stabil" Liza menuntun Alison untuk kembali ke ruang perawatannya.
Alison menarik tangannya dari genggaman Liza "Aku harus kembali ke penthouse ku mom, Alisha pasti menungguku, kondisinya masih sangat terguncang setelah kepergian Aaron" Jelas Alison.
Liza saling pandang dengan Edgar dengan tatapan iba nya melihat kondisi Alison yang seperti orang linglung dan sulit mempercayai tentang kematian Alisha.
"Alisha sudah pergi Al, dia sudah di makamkan tadi pagi, maaf karena kami tidak menunggu kamu untuk pemakaman Alisha karena kondisi kamu yang semakin menurun dan sejak semalam kamu juga tidak membuat mata sama sekali, hal itu membuat adiknya Alisha mempercepat pemakaman"
"Apa mom dan Edgar mencoba membohongiku, Alisha baik - baik saja, jiwanya hanya terguncang dan dia saat ini pasti membutuhkanku" Alison kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit
__ADS_1
Air mata Liza menetes melihat kondisi Alison, namun dia segera menyekanya dan kembali berjalan untuk mencegah kepergian Alison.
"Mom tidak berbohong, Alisha memang sudah tenang bersama Aaron sekarang, dia memilih menyusul putranya daripada memilih hidup bersama kamu Al, mom mohon sadarlah" Teriak Liza.
Ucapan Liza seketika mengehentikan langkah Alison "Mom"
Liza mengguncang tubuh Alison "Alisha sudah meninggal nak, kalau kamu tidak percaya mom akan menunjukkan makamnya tapi setelah kondisi kamu stabil" Ucapnya lirih di akhir kalimat.
"Ja-di, semuanya nyata, Alisha meninggalkanku dengan cara bunuh diri, jadi apa yang aku lihat kemarin malam itu memang Alisha" Ucapnya.
Liza menganggukkan kepalanya "Semua itu benar, Alisha sudah pergi, mom harap kamu juga tidak berniat meninggalkan mom sendiri di dunia ini" Liza memeluk tubuh Alison yang membeku, di dalam pelukkan Alison tangisan Liza pecah saat satu persatu orang yang di sayangi nya pergi meninggalkan nya bahkan cucu yang baru dia ketahui keberadaanya juga meninggalkan dunia Ini sebelum dia sempat menyapa nya.
Mata Alison kembali mengeluarkan air mata, pikirannya kosong, semuanya sangat sulit dia percayai orang - orang yang sangat dia cintai dan sayangi satu persatu pergi meninggalkannya, lalu alasan apa lagi yang harus Alison buat agar dia mampu untuk bertahan hidup sedangkan separuh kehidupannya sudah pergi meninggalkannya.
"Aaron"
"Alisha"
Panggil Alison pada keheningan, hanya ada suara tangisan ibunya saja yang bisa dia dengan saat ini.
***
Dan hebatnya lagi tidak ada tangisan yang keluar dari matanya saat dia mengusap lembut nisan milik Alisha.
Sebelum ke makam Alisha, dia memesan banyak bunga lili kesukaan Alisha dan menaruhnya hingga memenuhi makam Alisha.
Edgar melirik atasannya dari kaca spion, dia merasa kan aura berbeda dari diri Alison, entah hilang kemana tatapan menakutkan dan dingin Alison yang selama ini dia lihat, kini hanya ada tatapan kosong yang terlihat.
"Sir, kita sudah sampai" Ucap Edgar saat mereka sudah sampai di penthouse Alison.
Tanpa mengucapkan apapun, Alison menaiki lift menuju unitnya.
Di dalam penthouse sudah ada Liza yang menyiapkan makanan kesukaan Alison, dia berharap Alison tidak terpuruk dalam kesedihannya walaupun dia sendiri tahu kalau cinta Alison kepada Alisha sangat besar.
"Mom sudah menyiapkan cake kesukaan kamu" Liza menghampiri Alison yang baru sampai di penthouse.
Alison menolehkan kepalanya "Aku tidak lapar mom, aku hanya ingin beristirahat di kamar"
__ADS_1
Alison pergi menuju kamarnya meninggalkan Liza yang menatap kepergian Alison dengan tatapan sendunya "Mom hanya berharap kamu juga tidak melakukan hal yang sama yang di lakukan Alisha"
Di dalam kamar, Alison membuka laci bagian bawah lalu mengambil semua foto Alisha yang dia simpan dengan rapi di dalam sebuah kotak kayu.
Senyumannya muncul saat melihat foto Alisha yang terlihat begitu cantik dan anggun "Kamu berhasil membawa separuh ragaku pergi bersama ragamu Lili, dan dengan teganya kamu meninggalkan ku di saat seharusnya kita saling menguatkan atas kepergian Aaron"
Tidak jauh dari tempatnya berdiri sudah ada bunga lili yang sudah mulai layu, dia mengambilnya dan mencengkram tangkainya dengan kuat "Kamu pergi bersamaan dengan bunga kesukaan mu yang mulai layu"
Setelah nya Alison berbaring di atas ranjang dengan mata yang menatap ke atas langit langit kamar.
Dia merogoh sesuatu dari saku celana nya yang ternyata ada sebuah belati di dalamnya.
Dengan senyuman kecilnya, Alison menggores Nadi tangan kanan nya dengan belati miliknya hingga tetesan darah dari tangannya mengubah warna sprei yang semula putih menjadi merah, kemudian perlahan mata Alison mulai melemah dan menutup.
"Alison"
"Alisha"
.
.
.
Sad Ending
😭😭😭
Maafkan Author karena para pemainnya mendadak meninggal semua....
Kayaknya ending nya gini aja udah cukup ya....
Tapi kalau Komennya di part ini banyak protesnya, nanti bakal author pikirin lagi cara ngehidupin para tokoh utama yang kalian sayang😌 dan membuat mereka hidup bahagia.
Kalian team ending sekarang tapi sad ending apa pengen ending nya nanti tapi happy ending🥳
Bersambung or End?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komen🙏