
"Al, apa yang sebenarnya terjadi kenapa kamu ada di kursi roda dan kenapa tubuh kamu di penuhi dengan perban?" Tanya Liza, ibu Alison yang menatap heran ke arah Alison.
"Dan Darren kenapa kamu ada di luar, kenapa tidak menemani Miranda di dalam ruang perawatannya, bukankah kamu bilang kalau Miranda di rawat di rumah sakit ini" Liza mengalihkan tatapannya kepada Darren yang hanya diam saja.
"Mom" Panggil Alison, dia bangun dari kursi rodanya dengan menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya, Alisha sendiri tidak mencegah Alison saat mendekati Liza.
Alison berlutut di depan Liza "Maaf, maafkan Alison Mom, gara - gara berusaha menolong Alison, Kak Miranda harus kehilangan nyawanya" Pandangan Alison menunduk tanpa berani melihat ekspresi yang di keluarkan ibunya saat mendengar ucapannya.
"Mak-sud kamu apa, Miranda dia baik - baik saja kan, kemarin dia baru mengobrol dengan mom dan Darren mengatakan kalau Miranda hanya di rawat di rumah sakit bukan meninggal, jangan mengatakan omong kosong Alison, mom tahu kamu tidak menyukai kakak kamu tapi bukan berarti kamu bisa mengatakan hal buruk kepada Miranda" Jelas Liza.
"Sekarang kamu bangun, dan jelaskan kepada mom apa yang terjadi pada kamu dan Miranda? apa kalian bertengkar lagi dan menyebabkan kamu dan Miranda berada di rumah sakit saat ini" Liza mengabaikan ucapan Alison dan menganggap kalau ucapan Alison hanya bualan saja.
"Mom, yang Alison katakan benar kalau Miranda kini sudah pergi meninggalkan kita semua, dia sudah merasa tenang sekarang mom" Lirih Darren menggenggam kedua tangan Liza, sosok mertua yang sudah dia anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri.
"Darren kenapa kamu juga ikut - ikutan mengatakan hal buruk tentang Miranda, dia istri kamu" Mata Liza sudah mulai berkaca - kaca berusaha mencerna ucapan Alison dan Darren.
"Miranda menunggu mom di dalam, sebelum tubuhnya menyatu dengan tanah, mom bisa melihat wajah Miranda untuk yang terakhir kalinya" Ucap Darren dengan suara tercekat.
"Darren, jadi... yang di ucapkan Alison benar, ka-lau.... Miranda sudah meninggal?" Tanya Liza dengan nada suara terbata.
Darren menganggukkan kepalanya "Darren antar mom ke dalam" Darren menuntun tubuh Liza yang berubah menjadi lemah saat fakta yang sedari tadi dia tampik ternyata bukanlah bualan saja, saat matanya melihat sendiri bagaimana tubuh Miranda terbujur kaku tidak bernyawa di atas ranjang rumah sakit dengan kain yang sudah menutup tubuhnya.
Dia membuka kain penutup tubuh Miranda bagian atas "Miranda" Lirih Liza sangat pelan.
__ADS_1
Air mata Liza menetes dia tidak menyangka kalau anak yang sangat dia sayangi, anak yang kadang kurang dia perhatian karena rasa sayang berlebihannya kepada Alison kini meninggalkannya tanpa ucapan perpisahan apapun.
"Miranda, apa yang terjadi dengan kamu nak, kenapa kamu meninggalkan mom" Liza memeluk tubuh kaku Miranda dengan Isak tangisannya.
"Maafkan mom karena selama ini tidak pernah adil kepada kamu dan Alison, maafkan mom juga yang dulu pernah menyalahkan kamu atas kematian dad kamu, maaf, tolong maafkan mom" Tangisan Liza pecah saat mengingat semua perbuatannya kepada Miranda dulu yang terkesan pilih kasih.
Darren yang sedari tadi berusaha menahan air matanya berjalan menghampiri Liza "Mom kita keluar, sebentar lagi tubuh Liza akan di urus oleh pihak rumah sakit, Miranda sekarang sudah bahagia, tidak ada lagi luka dan trauma yang dia rasakan selama ini"
Liza menatap Darren dengan mata yang sudah berkabut karena air mata "Darren, terima kasih karena sudah selalu ada untuk Miranda" Ucap Liza memeluk Darren.
Darren membalas pelukkan Liza "Itu keinginan Darren dari dulu, Mom tahu sendiri seberapa besar rasa sayang dan cinta Darren kepada Miranda sejak kami masih kecil" Darren menyunggingkan senyuman kecilnya saat melihat wajah Miranda yang terlihat begitu damai dalam tidur panjangnya.
"Selamat tinggal Miranda, aku Darren Anderson sangat mencintai kamu dulu sekarang dan nanti hingga kita kembali bertemu lagi di kehidupan yang lainnya" Ucap Darren dalam hatinya, dia sudah berusaha mengikhlaskan kepergian Miranda walaupun setelah ini hanyalah kekosongan yang akan menghinggapi hatinya karena sejak hari ini dia berjanji hanya Miranda lah wanita pertama dan terakhir yang akan Darren cintai hingga akhir hayatnya.
***
Pemakaman Miranda sudah selesei di lakukan, semua orang sudah pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Miranda.
Seorang pria dengan kaca mata hitam di matanya berjalan dengan membawa sebuah bunga mawar putih kesukaan Miranda.
Pria tersebut berjongkok lalu membuka kaca matanya "Kamu pergi begitu cepat Miranda, ternyata memang benar kalau perasaanku selamanya tidak akan pernah bisa tersampaikan kepada kamu hingga detik ini"
Edgar mengusap nisan Miranda lembut "Aku membawa bunga mawar putih kesukaan kamu, aku masih mengingat jelas seorang remaja berpakaian baju sekolah menengah atas yang membawa setangkai bunga mawar putih di tangannya menolongku saat seorang preman berusaha mengambil uangku, terima kasih karena sudah menolongku saat itu dan memberikan aku satu kotak plester untuk mengobati lukaku" Edgar mengambil kotak plester dari saku jasnya.
__ADS_1
"Aku kembalikan ini ke kamu, walau kamu tidak tahu kalau aku lah bocah kecil itu tapi aku selalu mengingat kalau remaja itu adalah kamu, dan ternyata takdir menemukan kita lewat Tuan Alison yang kembali menyelamatkanku namun sayangnya saat kita kembali bertemu aku tetap tidak bisa mengatakan semuanya hingga kamu berhasil mematahkan hatiku saat kamu menikah dengan Tuan Darren" Edgar tersenyum tulus.
"Terima kasih untuk semuanya, maaf kalau sikapku selama ini terkesan membenci kamu, hal itu aku lakukan untuk membatasi hatiku yang sudah terlanjur jatuh ke kamu, izinkan aku menyimpan nama kamu di hati aku Miranda hingga aku menemukan perempuan yang bisa mengetuk pintu hatiku seperti kamu"
"Aku pamit, jika ada waktu aku akan datang ke sini lagi untuk membawakan Bunga mawar putih kesukaan kamu"
Edgar memakai kaca matanya kembali lalu berjalan pergi meninggalkan makam Miranda, wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta karena kebaikannya.
Walaupun perasaan Edgar di penuhi dengan kedukaan, namun ada kelegaan dalam hatinya ketika dia sudah mengatakan perasaan nya kepada Miranda walaupun dengan keadaan Miranda yang sudah tidak ada di dunia ini lagi, namun baginya Miranda akan selalu hidup di bagian tertentu di hatinya.
Hari ini walaupun tubuh Miranda sudah menyatu dengan tanah, kepergiaan nya berhasil membuat orang - orang mengalami kesediaan yang paling dalam, banyak cinta yang orang lain berikan padanya tanpa dia sadari dan hari ini dua hati pria di penuhi kedukaan atas kepergiannya, mungkin bukan hanya dua hati bisa saja ada tiga hati pria yang sangat berduka atas kepergian Miranda.
Beristirahatlah dengan damai Miranda, orang - orang yang mencintaimu akan selalu menyimpan nama kamu di dalam hatinya.......
🕊️🕊️🕊️
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏