
Sejak tadi Alisha menatap anaknya yang terlihat murung, dia mengira Aaron akan melanjutkan tidurnya tapi kini dia justru mendapati Aaron duduk di meja makan dengan wajah yang menampilkan raut sendu.
Diusapnya rambut anaknya "Kamu ada Masalah saat di sekolah tadi" Tanya Alisha duduk di samping Aaron.
Aaron menatap ke mata Alisha lalu tangan mungilnya mengusap kelopak mata milik Alisha "Kenapa warna mata milik Aaron tidak sama dengan punya mommy?" Tanya Aaron dengan suara lemahnya.
Alisha sendiri bingung harus menjawab apa, tatapannya pun menjadi sendu "Kenapa kamu menanyakan itu? bukanya setiap orang memiliki mata yang berbeda beda" Jelas Alisha.
"Tapi Cheryl pernah bilang kalau warna mata yang dimilikinya mirip dengan milik papahnya, apa punya Aaron juga mirip dengan Daddy?" Tanyanya yang membuat Alisha terdiam.
Melihat tidak mendapat jawaban dari Mommynya, tangan mungil Aaron menggenggam tangan Alisha.
"Uncle yang tadi mengantarkan kita pulang warna matanya mirip dengan Aaron mom, Aaron juga merasakan kalau uncle tadi menatap Aaron dengan pandangan sedih, apa mungkin Uncle tadi daddynya Aaron?"
Dengan reflek Alisha menggelengkan kepalanya "Itu tidak mungkin sayang, Uncle tadi adalah pemilik perusahaan besar di tempat mommy bekerja dan Uncle tadi juga terlihat lebih muda dari mommy sedangkan daddynya Aaron Usinya lebih tua dari mommy" Balas Alisha dengan hati yang sakit saat dia mengetahui anaknya menganggap orang lain sebagai ayahnya.
Mendengar jawaban Alisha membuat wajah Aaron menjadi murung kembali, dia hampir saja membuat Mommynya sedih lagi karena dia bertanya tentang daddynya lagi.
"maaf karena Aaron bertanya soal Daddy lagi dan membuat mommy sedih" Aaron menundukkan kepalanya.
Alisha menampilkan senyumannya "Seharusnya mommy yang minta maaf karena tidak bis memberikan kehidupan yang untuk kepada kamu" Ucapnya dengan nada suara sedikit serak karena berusaha menahan isak tangisnya.
"Mommy jangan menangis karena Aaron tidak suka lihat air mata mommy, Aaron janji ini untuk terkahir kalinya Aaron bertanya tentang Daddy ke mommy"
Tersenyum Alisha berusaha menguatkan dirinya "Mulai sekarang kamu bebas menanyakan soal Daddy kepada mommy, tapi maaf kalau mommy tidak bisa menjawab semua pertanyaan kamu sebab mommy juga tidak tahu banyak tentang daddy kamu namun yang mommy tahu, dia orang yang baik karena sudah membantu mommy dan uncle Michael"
Aaron merasa senang saat mommy nya membolehkannya menanyakan apapun tentang daddynya walaupun sejak kecil hanya mommy dan unclenya yang merawat tapi ada rasa keinginan untuk bertemu dengan daddynya dan mengajak Daddynya bermain sepak bola bersama, itulah impian kecil Aaron bisa bertemu dengan sosok pria yang sangat ingin dia peluk selain Unclenya Michael.
***
Kini Alison sedang menikmati wine di gelasnya dan sesekali bibirnya menghisap Vape dengan pelan.
__ADS_1
Ingatannya melayang pada pertemuannya dengan anak Alisha, entah ada perasaan aneh apa yang dia rasakan saat matanya saling bersitatap dengan anak itu.
Edgar yang sudah melihat Alison mulai mabuk berusaha mengambil gelas wine ke 10 yang sudah Alison minum.
"Tuan anda sudah terlalu banyak minum lebih baik sekarang saya antar anda pulang"
Dengan perlahan Edgar memapah tubuh Alison yang sudah sempoyongan karena terlalu banyak minum
"Dia sudah memiliki anak, Apa kamu tahu itu Ed" Racaunya sambil menunjuk - nunjuk dada Edgar lalu berusaha melepaskan tangan Edgar tapi selalu gagal karena Edgar memegangi baju Alison dengan erat.
Edgar berhasil membawa Alison ke dalam mobil, Alison sendiri tidak berhenti meracau tidak jelas, sejujurnya baru pertama kali ini dia melihat bossnya bisa mabuk separah ini sebab biasanya diantara teman - temannya hanya Alison yang tidak pernah sampai mabuk seperti sekarang.
Dari sekian banyak racauan yang di ucapkan Alison hanya satu hal yang membuatnya menetap ke arah Alison.
"Lili" Guman Alison sebelum terlelap di dalam mobil.
"Siapa Lili?" Ucap Edgar dengan penuh tanda tanya.
***
"Apa yang mom lakukan di kamar Alison, kalau sampai dia tahu mom masuk ke kamarnya aku yakin dia pasti akan sangat marah.
Liza mengusap selembar foto milik Alison bersama seorang wanita yang tidak dia ketahui namanya, seorang gadis buta dengan tongkat di tangannya.
"Apa wanita ini yang menyebabkan semua kebencian Alison kepada daddynya yang tidak pernah aku ketahui"
"Maaf" Ucap Miranda.
Menolehkan kepalanya Liza memandang putri sulungnya menelisik "Jangan bilang kamu mengetahui semua ini?"
Miranda menggelengkan kepalanya "Miranda tidak tahu siapa wanita itu, hanya pada saat itu dad meminta Miranda untuk mendatangi wanita itu dan memintanya untuk menjauhi Alison tapi belum sampai Miranda mendatangi wanita itu,Alison lebih dulu tahu kedatanganku di tempat dimana wanita itu berada"
__ADS_1
"Lalu, dimana sekarang wanita itu mungkin dengan kehadiran wanita itu kembali bisa membuat Alison memaafkan semua orang termasuk daddymu yang sudah tidak ada"
"Miranda tidak tahu dimana wanita itu yang Miranda tahu dad mengancam kalau saat itu Alison tidak menjauhili wanita itu maka wanita buta itu akan hancur" Ucap Miranda mengingat kembali bagaimana marahnya Alison saat mendengar ancaman ayah mereka.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada mom" tidak terasa air mata menetes dari kedua matanya saat mengetahui kalau suaminya yang selama ini dia anggap baik tega menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri.
"Saat itu kondisi mom sedang tidak stabil"
Liza menangis tergugu "Aku memang ibu yang tidak pecus bagaimana bisa aku tidak tahu apa - apa tentang masalah diantara mereka"
Ya, Liza tidak pernah tahu pasti apa permasalahan yang terjadi antara suami dan anaknya, yang dia ketahui kalau anaknya seperti ini karena suaminya itu memaksa Alison untuk menjadi pewarisnya sedangkan dia tahu kalau anaknya sedari awal tidak pernah berniat menjadi penerus keluarga Whingston.
Miranda memeluk Mommynya "Mom tidak bersalah, semua sudah berlalu"
Mengingat sesuatu, dia melepas pelukannya dari Miranda "Apa yang menyebabkan Alison harus di rawat di rumah sakit juga karena masalah ini?"
Sekali lagi Miranda menganggukkan kepalanya "Karena Alison tidak menuruti permintaan dad untuk menuruti perkataannya, dad berusaha menyakiti wanita itu dengan menyuruh seseorang untuk menodai wanita itu dan hal itu berhasil di ketahui oleh Alison, karena panik orang suruhan dad justru menusuk perut Alison dengan pisau dan memukul kepalanya dengan tongkat, hal itu yang membuat Alison berakhir koma di rumah sakit"
Isak tangis Liza semakin kencang, dia tidak menyangka bahwa anaknya selama ini pernah berkorban begitu besar untuk seorang wanita bahkan rela menukar nyawanya dengan keselamatan seorang wanita yang bahkan baru dia ketahui hari ini, kalau bukan karena keinginan kuatnya untuk masuk ke kamar tidur anaknya mungkin dia tidak akan mengetahui tentang semua fakta ini.
Pandangannya mengedar ke setiap sudut kamar tidur putranya, banyak sekali foto wanita itu terpasang di kamar ini, jadi ini alasan Alison melarang semua anggota keluarga untuk masuk kedalam kamarnya.
"Ya Tuhan, semoga aku bisa bertemu denganmu" Pinta Liza sambil memandang foto seorang wanita yang sedang memegangi sebuah bunga Lily di tangannya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏