
Saat ini tidak ada yang bisa di lakukan Alison selain diam dan menyesali semua perbuatannya, kini bocah kecil yang belum lama ini dia ketahui sebagai putranya sudah pergi meninggalkannya sebelum dia bisa mewujudkan semua mimpi Aaron, tidak ada kata perpisahan yang terucap dari bibir mungil itu untuknya.
Semua mimpi dan harapan yang dia susun untuk Aaron seakan lenyap begitu saja, dia tidak tahu lagi harus mengekspresikan seperti apa lagi rasa sedih dan kehilangannya ketika kematian Aaron menjadi kabar buruk yang dia terima beberapa waktu lalu.
Dia ingin sekali memeluk dan menenangkan Alisha yang tidak berhenti menangis, dia juga ingin mengatakan kepada Alisha kalau semua nya akan baik - baik saja, namun faktanya dirinya sendiri tidak baik - baik saja setelah kematian Aaron, ada kesedihan terdalam yang tidak bisa dia tunjukkan dan ungkapkan kepada orang lain.
Tidak ada lagi air mata yang dia keluarkan, semua terasa kering karena hatinya lah yang saat ini terluka, penyesalan karena tidak sejak dulu menemukan Aaron dan Alisha membuatnya tidak bisa lagi mengucapkan sepatah kata pun, waktu singkat bersama Aaron membuat Alison begitu menyayangi anaknya itu, dan sekarang dengan lancang nya kematian merebut kebahagiaanya, sudah tidak ada lagi tawa dan senyum Aaron yang selalu membuatnya tenang, semuanya sudah menjadi kenangan yang hingga saat ini belum bisa dia terima.
"Al" Panggil Michael yang membuyarkan lamunan Alison.
"Surat kematian Aaron semuanya sudah selesai di urus, kamu tinggal menentukan pemakamannya saja, bagaimanapun kamu ayah kandung nya jadi kamu berhak menentukan di mana Aaron akan di makamkan" Ucap Michael dengan nada penuh kesedihan nya.
Sedangkan Alisha tidak berhenti menangis di dalam pelukkan Elle, dia tidak menyangka kalau putranya yang dia besarkan penuh dengan kasih sayang pergi meninggalkannya begitu saja "Aaron" Isaknya bekali - kali menyebut nama Aaron.
"Kamu yang tenang, mungkin memang ini yang terbaik untuk Aaron, dia lebih memilih pergi meninggalkan dunia ini daripada dia harus menanggung penderitaan dengan menjalani kehidupan yang tidak sempurna" Elle berusaha menenangkan Alisha.
Alisha tidak menimpali ucapan Elle, di pikirannya hanya ada Aaron, dia mengingat setiap kenangan bersama Aaron, bagaimana dulu Aaron sangat ingin bertemu dengan ayahnya, bagaimana Aaron yang selalu memberikan senyuman kepadanya padahal banyak sekali kesedihan yang di simpan oleh anaknya itu.
"Maafkan mom Aaron, maaf" Lirihnya.
***
Tubuh Aaron kini sudah menyatu dengan tanah, pemakaman Aaron menyisakan banyak kesedihan terutama untuk orang - orang yang menyayanginya.
Untuk menutupi kesedihan di matanya, dia memakai kaca mata hitamnya agar tidak ada yang tahu seberapa sakitnya dirinya atas kepergian putranya.
Semua orang yang ada di pemakaman perlahan mulai pergi, kini hanya ada Alisha dan Alison saja yang berada di pemakaman, Edgar sendiri menunggu di luar pemakaman atasa perintah Alison.
Alison berjongkok tepat di samping Alisha yang tidak ingin pergi dari makam Aaron "Kita pulang, hari sudah semakin gelap, sebentar lagi juga akan turun hujan, besok kita kesini lagi untuk bertemu Aaron"
Alisha menggelengkan kepalanya "Aku ingin di sini bersama Aaron, dia sangat takut kegelapan Al, sejak kecil dia tidak terbiasa tidur di ruangan sempit, aku akan menemani dia agar tidak ketakutan sendirian di sini" Ujar Alisha mengusap nisan Aaron dengan tatapan sendunya.
__ADS_1
Alison mengusap kepala Alisha pelan, hatinya pun rapuh tapi dia tidak bisa menunjukkannya di depan Alisha.
"Dia tidak sendiri Alish, banyak yang akan selalu menemani dia, sekarang kita pulang ya" Alison berusaha membujuk Alisha agar mau pulang.
"Tidak, sudah aku katakan aku tidak akan pulang, aku akan tetap di sini menemani Aaron, kalau kamu ingin pulang kamu bisa pulang sendiri tidak perlu menungguku" Alisha semakin erat memeluk nisan milik Aaron.
Rintik hujan mulai turun "Kita pulang" Alison sedikit memaksa Alisha untuk berdiri, dia tidak ingin Alisha menyiksa dirinya sendiri yang akan mengakibatkan dia jatuh sakit nantinya.
"LEPAS, SUDAH AKU KATAKAN AKU TIDAK AKAN PERGI" Teriak Alisha, dengan kasar dia melepas tangan Alison di tubuhnya.
"Jangan keras kepala Alisha, apa kamu kira Aaron tidak akan sedih melihat ibunya seperti ini" Alison mengguncang tubuh Alisha dengan kasar.
Tubuh Alisha lunglai, dia terjatuh di dalam pelukkan Alison dengan tangisan nya "Aaron Al, dia pergi ninggalin aku" Lirihnya.
"Aaron tidak pergi, dia akan selalu di sekitar kita, dia akan selalu di hati kamu Alish" Di usapnya lagi kepala Alisha dengan lembut lalu dia mencium kening Alisha kemudian mengangkat tubuh Alisha ala bridal style untuk dibawanya ke dalam mobil.
Karena terlalu banyak menangis akhirnya Alisha tertidur saat perjalan menuju penthouse.
Di dalam kamar mandi, dia menatap pantulan dirinya melalui kaca "Brengse*, kamu tidak bisa menjaga anak mu sendiri dengan benar si*lan" Umpat Alison kepada dirinya sendiri di depan kaca.
Tangan Alison mengepal lalu dia memukulkan tangannya ke kaca dengan kuat, hingga pecahannya berserakan di lantai, dia keluar dari kamar mandi dengan tangan yang terus meneteskan darah.
Dia melirik Alisha sebentar yang ternyata masih memejamkan matanya, lalu dia melanjutkan langkahnya menuju ruang depan.
"Tuan, tangan anda berdarah" Edgar berdiri dari duduknya saat melihat Alison keluar dengan kucuran darah di tangannya.
"Saya akan mengobati luka anda" Edgar segera mengambil kotak obat lalu membersihkan serpihan kaca yang masih menancap di tangannya.
Alison hanya diam saja saat Edgar mengobati lukanya, tidak ada ekspresi sakit saat tangannya di siram dengan alkohol untuk mencegah agar lukanya tidak infeksi.
"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua ini, bagaimana cara agar tidak ada lagi yang harus kehilangan nyawa karenaku?" Ucap Alison yang membuat Edgar menghentikan tangannya yang mengobati luka Alison.
__ADS_1
"Semua ini bukan salah anda sir, tidak ada yang perlu di sesali, saat ini anda hanya perlu memberikan kebahagiaan dan kekuatan untuk nona Alisha" Jawab Edgar.
"Aku berniat untuk melamarnya ketika Aaron sudah keluar dari rumah sakit, bahkan aku sudah menyiapkan cincin yang akan aku berikan kepada Alisha, cincin ini pun adalah cincin yang Aaron pilihkan sendiri untukku berikan kepada Alisha, namun keadaan membuatku harus memikirkan ulang semua nya" Ucapnya.
BRAKKKKKKK
Suara benda jatuh terdengar dari dalam kamarnya, Alison maupun Edgar segera menuju kamar tidur untuk memastikan keadaan Alisha, namun mereka tidak menemukan keberadaan Alisha.
Alison menghampiri jendela balkon yang terbuka lebar, perasaannya mulai tidak enak, hingga......
DEGGG
Dia melihat tubuh Alisha tergeletak di lantai dasar dengan tubuh di penuhi darah.
"Alisha" Ucapnya dengan suara tercekat.
.
.
.
Bersambung
Maafkan author karena banyak tokoh yang akhirnya meninggal😭 kalau kalian suruh milih, kalian pengen siapa yang author pilih agar hidup lagi, Aaron, Miranda, Alisha apa Dave?
Apa kalian ingin ceritanya sad ending aja?
Tapi author ragu mau ngehidupin mereka lagi, kan nanti jadinya serem😌
Oh iya komen yang banyak - banyak ya biar author bisa semangat untuk update, biar kalian juga akan tahu gimana ending versi author🤗
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote dan Komen🙏