
"Al, bangun"
Alisha menepuk pipi Alison pelan, dia masih berusaha membangunkan Alison yang sejak tadi tidak nyaman dalam tidurnya.
Keringat sebesar biji jagung terus membasahi kening Alison yang terus menyebutkan namanya dengan nada ketakutan.
"Al, aku di sini" Alisha mengusap kening Alison pelan.
"ALISHA!!!" Teriak Alison lalu matanya terbuka lebar dengan nafas yang memburu.
Matanya kembali mengedar ke sekeliling ruangan, tempat yang sama yang ada di dalam mimpinya tadi.
"Alison" Panggil Alisha lembut saat melihat Alison tidak menyadari keberadaan nya.
Pandangan Alison langsung menatap ke arah Alisha yang menatapnya dengan nada khawatir.
"Kamu masih hidup" Alison memeluk tubuh Alisha erat.
"Aku sangat ketakutan kalau semua mimpiku itu nyata" Nada suara Alison tidak bisa menutupi rasa takut nya tentang mimpi buruknya tadi.
"Aku di sini Al, dan aku masih hidup" Alisha membalas pelukkan Alison tidak kalah erat.
Alison menguraikan pelukkan nya lalu dia menangkup wajah Alisha dengan sebelah tangannya yang tidak terpasang infus "Aku bermimpi kalau kamu dan Aaron meninggalkanku Alish, aku sangat takut kalau semua yang ada di mimpiku itu nyata" Ucapnya.
"Aku dan Aaron tidak akan pernah meninggalkan kamu Al, kita akan selalu bersama kamu" Jelas Alisha dengan mata yang berkaca - kaca.
"Lalu bagaimana keadaan Aaron sekarang?" Tanyanya dengan debaran di dadanya yang belum sepenuhnya hilang.
"Aaron memang sempat mengalami henti jantung tapi semuanya kembali membaik setelah dokter berhasil mengembalikan detak jantung Aaron bahkan kondisi Aaron sudah semakin membaik"
Mendengar itu membuat Alison menjadi lega"Jangan pernah meninggalkanku Alish, berjanjilah untuk itu" Alison kembali memeluk tubuh Alisha.
"Aku berjanji Al, aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu"
"Justru kamu yang membuat aku khawatir saat Edgar mengatakan kalau kamu tiba - tiba pingsan dan sudah dua hari ini kamu tidak sadarkan diri" Jelas Alisha yang membuat Alison perlahan mengingat kejadian setelah dia mendapat panggilan telfon dari Alisha.
Ya, dia sekarang mengingat setelah dia meluncurkan tembakkan untuk Dave, kepalanya tiba - tiba terasa pusing dan dia merasa kepalanya terasa berputar lalu setelahnya dia sudah tidak mengingat apapun lagi.
"Maaf karena sudah membuat mu khawatir" Di usapnya lembut kepala Alisha.
__ADS_1
Alisha menganggukkan kepalanya "Sekarang kamu istirahat lagi, atau ada yang ingin kamu minta?, minum misalnya?" Alisha berniat mengambilkan Alison minum tapi tangannya di tahan oleh Alison.
"Aku tidak memerlukan apapun selain temani aku tidur di sini" Jawab Alison.
"Baiklah, aku akan menemani kamu tidur, jadi sekarang tidurlah" Alisha membantu Alison membaringkan kembali tubuhnya.
Alison menggeser tubunya lalu menepuk ranjang rumah sakit di sebelahnya yang kosong "Tidurlah di sampingku"
"Tidak Al, ranjang itu tidak akan muat jika aku juga ikut tidur di sini" Balas Alisha.
"Aku tidak suka di tolak Alisha, bukankah kamu sendiri yang bertanya apa yang aku inginkan, jadi yang aku inginkan adalah kamu sekarang tidur di sampingku" Paksa Alison yang akhirnya di angguki oleh Alisha.
Dia naik ke atas ranjang perawatan Alison dan menidurkan tubuhnya tepat di samping Alison "Sekarang tidurlah, aku sudah ada di sampingmu" Ucap Alisha.
Alison menganggukkan kepalanya lalu matanya mulai terpejam, Alisha yang sudah beberapa hari ini tidak tidur ikut memejamkan mata seperti Alison lalu tidak lama dia mulai terlelap.
Alison membuka matanya saat mendengar dengkuran halus dari bibir Alisha, dia kembali mengusap kepala Alisha lalu menciumnya dengan lembut "Entah apa yang kamu lakukan kepadaku sehingga membuat aku menjadi laki - laki paling lemah jika sudah berhubungan dengan mu Alish" Lirihnya menatap wajah lelap Alisha.
Ketika dia ingin kembali menutup matanya, terdengar suara deritan pintu yang di buka dari luar.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau ada nona Alisha di sini" Ucap Edgar dari ambang pintu.
"Tidak masalah" Alison membuka pelan infus yang terpasang di tangannya.
.
"Ada hal penting yang perlu aku bicara, dan tidak mungkin juga kalau aku membicarakan nya di sini" Ucap Alison melirik ke arah Alisha yang terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.
"Tapi punggung tangan anda"
Alison mengangkat tangannya "Darahnya akan berhenti dengan sendirinya"
Dengan pelan dia turun dari ranjang kemudian keluar dari ruangan di ikuti oleh Edgar dari belakang.
"Bagaimana keadaan Dave?" Tanya nya kepada Edgar setelah mereka sudah berada di luar.
"Tuan Dave sempat di bawa ke rumah sakit oleh Tuan Darren dengan luka parah di sekujur tubunya, saat di rumah sakit Tuan Dave masih bisa di selamatkan namun tidak lama dia meninggal karena kehabisan banyak darah" Jelas Edgar kepada Alison.
"Apa ada yang curiga dengan kondisi tubuh nya?" Tanya nya lagi.
__ADS_1
"Tidak ada Tuan, semuanya sudah di atur oleh Tuan Darren, dan dia juga di makamkan dengan baik dan layak oleh Tuan Darren" Balas Edgar.
"Lalu bagaimana dengan semua anggota Klan Alexander, apa terjadi pemberontakan?"
"Semua sudah di urus oleh Tuan Dominic dan Tuan Raynand" Jawabnya.
Setelah pembicaraannya dengan Edgar selesei, Alison kembali ke dalam ruang perawatannya.
Di tatapnya Alisha dengan penuh kelembutan "Kau harap setelah ini semuanya akan baik - baik saja, tidak ada lagi yang mengganggu hubungan kita lagi".
***
Di waktu yang sama Darren saat ini sedang mengunjungi makam Miranda "Hai, apa kabar?" Sapa Edgar saya dia sudah menjongkok kan tubunya di samping makan Miranda.
"Maaf karena selama dua hari ini tidak mengunjungi kamu" Darren menguap nisan Miranda lembut penuh dengan kasih sayang.
"Kamu tahu, Dave meninggal dua hari yang lalu, dan kamu tahu kata terakhir apa yang di ucapkan Dave sebelum dia pergi?" Tanyanya.
"Dia menyebut nama kamu Miranda, sama seperti kamu yang setiap malam sering menyebut namanya saat kamu sedang tidur" Darren tersenyum sendu saat mengingat seberapa cintanya Miranda kepada Dave.
"Aku berharap dia bisa menjaga kamu di sana Miranda, walaupun rasanya aku tidak rela kalau Dave lebih dulu bertemu dengan kamu tapi takdir mengatakan kalau aku akan selalu kalah dengan Dave jika itu menyangkut kamu"
"Ah iya, mungkin untuk beberapa waktu ke depan aku tidak akan bisa sesering ini untuk mengunjungi kamu, Minggu depan aku akan kembali ke Itali untuk mengurus Bisnisku di sana, aku harap setelah ini kamu tidak akan kesepian karena sudah ada Dave yang menemani kamu" Darren mencium nisan Miranda.
"Aku pamit Miranda, tapi aku berjanji akan meluangkan waktu ku untuk mengunjungi makam kamu lagi walau aku berada di tempat yang jauh, salam untuk anak kita Miranda"
Pamit Darren lali dia berdiri dari jongkoknya kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat pemakaman.
Miranda memang sempat mengandung anak bersama Darren namun di usia kandungan tiga bulan, Miranda mengalami keguguran akibat pendarahan hebat yang pernah di alami Miranda saat mengandung anak bersama Dave dulu dan setelah itu Miranda di vonis akan kesulitan memiliki anak karena rahimnya yang bermasalah namun walaupun begitu Darren tetap setia bersama Miranda karena baginya anak tidak terlalu penting untuknya yang terpenting saat itu adalah dia bisa selalu bersama Miranda walau pada akhirnya maut lah yang memisahkan Darren dan Miranda
.
.
.
Bersambung
Bagiamana dengan part ini?
__ADS_1
Kalian senang enggak kalau 3A akhirnya kembali hidup semua?š¤
Jangan lupa Like, Vote dan Komenā¤ļø