
Elle hanya terdiam di dalam ruang perawatan Alisha, dia masih mengingat dengan jelas pertemuannya dengan Raynand beberapa saat lalu, untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun lalu dia bisa menatap mata Raynand lagi, tatapan lembut yang selalu dia sukai kini sudah berubah menjadi tatapan tajam yang sudah tidak dia kenali lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Alisha tadi dia paksa untuk tidur, dia tidak tega melihat kondisi Alisha yang berantakan dengan kantung mata hitam di bawah matanya, dan juga bekas air mata di pipinya yang belum mengering.
Elle keluar dari ruang perawatan Aaron untuk mencari udara segar, dia tidak bisa terus memikirkan Raynand sedangkan Raynand sendiri sama sekali tidak mengingatnya.
Dia menutup pintu dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Alisha "Apa kita sebelumnya pernah bertemu" Suara bariton seorang laki - laki menghentikan langkah Elle yang akan berjalan menuju taman rumah sakit.
Elle membalikkan badannya, hal pertama yang dia lihat adalah sosok Raynand yang berdiri dengan sebelah tangan yang di masukkan kedalam saku celananya.
"Kenapa anda bisa ada di sini, bukankah tadi anda pergi bersama Mr. Alison" Ucap Elle dengan nada formalnya karena bagaimanapun Raynand adalah teman atasannya dan dia pun sudah menjadi orang asing untuk Raynand.
Tanpa menjawab pertanyaan Elle, Raynand berjalan mendekat ke arah Elle lalu menarik pinggang Elle hingga tubuh Elle menempel pada dada bidang nya, dia menatap Elle dengan teliti penuh selidik.
"A-pa yang anda lakukan tuan?" Tanya Elle dengan gugup.
"Tadi kamu menyebutku hanya dengan menggunakan nama, tapi kenapa sekarang kamu berubah menjadi formal seperti ini?" Raynand semakin menarik pinggang Elle agar semakin dekat.
"Lepas, apa yang kamu lakukan?" Elle berusaha memberontak dalam dekapan Raynand saat tubuhnya semakin menempel pada tubuh Raynand bahkan jarak wajah mereka pun sangat dekat.
Raynand sendiri masih terus memandang lalu meneliti kembali wajah Elle yang menurutnya sangat tidak asing "Aku merasa kita memang pernah bertemu di masa lalu, kamu benar - benar membuat aku penasaran" Ucap Raynand.
Elle mendorong tubuh Raynand dengan kasar "Saya pikir kita sebelumnya tidak pernah bertemu, maaf tadi saya memanggil nama anda karena sebelumnya saya pernah bertemu anda saat Tuan Edgar mengantar barang yang di minta Tuan Alison untuk menyelamatkan Alisha" Alibi Elle, sungguh bukannya Elle tidak ingin mengatakan yang sebenarnya hanya saja dia takut kalau reaksi Raynand justru menyakitinya.
Setelah mengatakan hal tersebut Elle pergi menjauh dari Raynand, Raynand yang awalnya tidak berniat mengejar Elle segera mengurungkan niatnya saat tanpa sengaja matanya melihat gelang yang berada di pergelangan tangan Elle.
"Elle" Ujar Raynand yang menghentikan langkah Elle.
__ADS_1
Tubuh Elle menegang saat mendengar Raynand menyebut namanya.
Di baliknya tubuh Elle dengan kasar "Elle, apa kamu benar - bener Elle Aliana? kamu kemana saja, aku sangat merindukanmu" Raynand membawa Elle kedalam pelukannya.
"Kamu masih mengingatku?" Tanya nya saat masih berada di pelukkan Raynand.
"Maaf, karena tidak mengenali kamu sebelumnya"
Raynand mengurai pelukkan mereka "Aku mengira kalau kamu melupakanku Ray"
"Sungguh aku tidak menyangka kalau kita akhirnya bisa bertemu, maaf karena sudah mengingkari janji ku saat itu untuk tidak meninggalkan kamu" Jelas Raynand.
Ya, Elle dan Raynand berteman sewaktu mereka masih kecil, sebelum ibunya meninggal Elle lah yang selalu membantunya mengobati luka pukulan yang diberikan kepadanya karena wajahnya yang begitu mirip dengan sang ayah, laki - laki tidak bertanggung jawab yang meninggalkannya dan ibunya saat dirinya masih di dalam kandungan karena alasan keluarga ibunya yang tidak sebanding dengan keluarga ayahnya yang berasal dari keluarga terpandang.
Hingga setelah ibunya meninggal, ayahnya tiba - tiba datang membawanya pergi meninggalkan tempat tinggalnya yang berdampingan dengan Elle dan sejak saat itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan Elle.
"Aku senang kalau kamu hidup lebih baik dari dulu" Ucap Elle dengan suara seraknya, dia terharu karena akhirnya dia bisa bertemu dengan orang yang selama ini paling ingin dia temui.
Raynand mendekatkan wajahnya ke arah Elle, hingga tinggal beberapa centi lagi bibir mereka akan saling bersentuhan, Elle sendiri memejamkan matanya saat merasakan sapuan halus dari bibir Raynand, tidak ada penolakan darinya saat Raynand semakin memperdalam ciuman nya.
Di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat Raynand dan Elle saling berciuman, berdiri Edgar yang hanya diam menatap kegiatan mereka dengan tatapan dinginnya, lalu dia membalikkan badannya dan membuang makanan yang sudah dia beli untuk Elle ke dalam tempat sampah kemudian berlalu pergi meninggalkan dua orang anak manusia yang sedang menyalurkan rasa rindunya.
***
Alison kini sudah berdiri di depan pintu ruang bawah tanah yang dia gunakan untuk menyekap Dave setelah dokter mengatakan kalau keadaannya sudah mulai membaik.
"Masuklah terlebih dahulu, bukankah kamu bilang ingin mengatakan hal penting sebelum Dave merasakan apa yang kakakku rasakan" Ucap Alison kepada Darren yang kini berdiri bersebelahan dengan nya.
__ADS_1
Darren menganggukkan kepalanya lalu memasuki ruangan, dengan langkah tegasnya dia menghampiri Dave yang terduduk lesu di balik jeruji besi yang sudah Raynand siapkan untuk Dave.
Dave mengangkat wajahnya saat mendengar suara langkah seseorang mendekat ke arahnya "Kenapa kamu datang di sini?" Tanya Dave dengan nada dingin nya.
Darren menunjukkan seringai tipisnya, dia melempar sebuah map ke arah Dave "Buka dan baca semua nya, agar kamu paham seberapa menderitanya Miranda karena ulah mu dulu"
"Aku ucapkan selamat karena kamu sudah benar - benar membunuh Miranda seperti yang kamu lakukan dulu kepadanya, dan aku harap setelah ini kamu merasakan penyesalan terdalam karena sudah membuat orang setulus Miranda menyerah pada hidupnya akibat ulah mu"
Darren melangkah pergi meninggalkan Dave yang tidak menjawab ucapan Darren sama sekali, dia menatap ke arah Map cokelat yang di lemparkan Darren ke arahnya, dia mengambilnya kemudian membuka nya secara perlahan.
Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah foto USG milik Miranda beberapa tahun lalu, bukan hanya itu saja banyak sekali surat yang Miranda tulis untuknya yang berisi rasa bahagia Miranda karena sudah mengandung anaknya, anak yang dulu tidak pernah dia percayai kehadirannya, namun setelah melihat semua bukti ini justru membuatnya mulai yakin kalau yang di ucapkan Miranda dulu bukanlah sebuah kebohongan.
Dia kembali membuka sebuah surat rumah sakit "Tidak, ini tidak mungkin" Dave menggelengkan kepalanya tidak percaya saat membaca surat kematian Miranda.
Tanpa sadar air mata Dave menetes saat dia membaca kalau Miranda dinyatakan meninggal beberapa hari lalu karena luka tembak yang berasal darinya.
"Tidak, ini pasti tidak benar, ini pasti hanya rencana laki laki itu saja agar membuat aku menyesal atas kematian Miranda yang tidak benar" Dave membaca ulang surat tersebut, namun di situ tertulis jelas kalau memang Miranda, perempuan yang dulu begitu mencintainya namun justru dia balas dengan rasa sakit, kini sudah pergi dari dunianya.
Tubuh Dave terduduk di lantai dengan pandangan kosong, kedua tangannya masing masing memegang foto USG anaknya dan juga surat kematian Miranda, entah dari mana rasa sesak di dadanya saat ini yang jelas rasa penyesalan yang seharusnya dia rasakan sejak dulu baru muncul sekarang saat dia kehilangan orang yang ternyata pernah mengisi hatinya walau selalu berusaha dia tampik karena adanya Alisha.
"Miranda" Lirih Dave dengan air matanya yang kembali menetes.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa Like, vote, dan Komen nya🙏