
Kleo sarapan dengan Betran diruangannya. Jantung Kleo sudah tidak karuan nafasnya terasa sesak. Dia seperti dikejar setan tidak bisa menikmati makanannya.
Padahal Betran tidak bicara apapun dia duduk dan makan dengan tenang.
"Tuhan tolong aku, melihat dia setenang itu aku malah takut, hukuman apa yang akan diberikan padaku, apa aku akan dipecat, disuruh bersihin toilet, dicium seenak jidatnya lagi, aaaa......
nggak jadi kupanggil siganis (Sigalak, tampan dan manis) kalau ini sih simonki (Simonster keren penuh misteri)."
Betran menyentuh ujung bibir Kleo mengelap sisa nasi yang nggak masuk.
"Kamu makan seperti anak kecil saja."
Ketakutan Kleo membuat dia tidak bisa makan dengan benar.
"Hah benarkah? " Kleo juga ikut mengelap bibirnya.
"Kenapa dia jadi perhatian gini?" Nggak aku nggak boleh baper."
"Terimakasih. "
"Hemm." Betran kembali melanjutkan makannya.
"Yaampun simonki ini bener-bener nggak bisa ditebak. "
Selesai makan Betran kembali menyeringai.
"Kamu tahu hukumanmu hari ini? akan aku pikirkan nanti."
Betran melenggang pergi meninggalkan ruangan Kleo, dengan perasaan puas seperti mendapat piala lomba.
Kleo nggak konsen karena Betran menggantung hukuman apa yang akan diberikan.
Betran tengah keluar dengan Rio menuju kampus yang akan mereka kunjungi. Seperti yang direncanakan tujuan dia sebenarnya adalah bertemu dengan pak Burhan.
__ADS_1
Tiba dikampus Betran dan Rio dibimbing seseorang menuju sebuah ruangan
yang memang sudah disiapkan.
"Selamat sore semuanya."
Pak Burhan tidak berkedip. Dia seperti tidak asing. Hari ini memang Betran sengaja berkunjung, biasanya ayahnya.
Betran lalu mendekati pak Burhan.
"Sore om, masih ingat dengan saya. "
Pak Burhan tampak berfikir.
"Saya Betran anaknya Ayah Bernard. "
"O.. itu kamu, om pangling kamu sudah besar dan tampan. "
"Om terlalu memuji. "
"Om sebenarnya ada hal lain yang ingin saya bicarakan."
Mereka masuk kesuatu ruangan dan hanya berbicara empat mata.
Rio yang menunggu Betran semakin penasaran apa yang dibicarakan oleh Betran.
"Pasti sesuatu hal yang penting, kalau untuk masalah pekerjaan bang Betran pasti ngajak gue, tapi kenapa ini gue disuruh nunggu diluar, pasti masalah pribadi tapi apa ya? "
Rio berceloteh sendiri sambil menunggu Betran. Dia masih tidak sadar kalau yang ditemui Betran ayahnya Kleo.
Karena dulu waktu SMA, Rio hanya melihat Pak Burhan sekali saja. Itupun cuma sebentar untuk pamit pulang. Karena beliau dulu dikenal sangat disiplin dan over protective.
Lama mereka didalam, membuat Rio seperti cacing kepanasan dihantui rasa penasaran.
__ADS_1
Pak Burhan dan Betran keluar dengan wajah bahagia, Rio semakin penasaran apa yang disembunyikan Betran darinya.
jam tiga sore mereka sudah selesai.
Dalam perjalanan pulang. Rio yang sudah kepo mulai bertanya. Apalagi melihat Betran yang wajahnya cerah karena senyuman.
"Bang kalau boleh tau tadi ngomongin apa sih, kok kayaknya seneng banget?"
"Iyalah ngobrol sama calon mertua. " Betran yang sangat bahagia nyeplos begitu saja.
Rio yang tengah minum air mineral langsung tersedak.
Betran menggelengkan kepala. "Aku nggak minat dengan minummu. "
"Mertua? Memangnya dia siapa?"
"Kamu nggak tahu, memangnya ada wanita lain yang dekat denganku? Dasar Lemot. "
"Huuu, ya kan gue nggak tahu, eh tunggu maksud bang Betran dia ayah Kleo? "
"Hemm. "
"Hah Rio masih tidak percaya."
"Bos gila ini, ternyata serius , gue ikut seneng bang akhirnya lo nemuin orang yang lo suka. Kleo adalah gadis yang baik, semoga kalian bahagia."
Sampai dikantor Betran langsung menuju ruangan Kleo.
Rio yang sudah paham dengan kedekatan mereka sudah tidak heran lagi.
Rasa bahagia bertemu ayah Kleo membuat Betran lupa mengendalikan diri. Dia membuka pintu dan langsung menyapa Kleo.
"Sayang!"
__ADS_1
Langkah Betran terhenti saat melihat orang yang ada diruangan Kleo.
Kira-Kira siapa ya readers, jangan lupa like dan komen ya.... ❤❤❤