
Pagi yang cerah dua sejoli masih enggan untuk beranjak hingga suara khas orang kelaparan membuat mereka membuka matanya
"Kruk, kruk."
Betran dan Kleo langsung membuka matanya.
"Maaf aku lapar."
"Apa kamu tidak makan dari semalam." Sorot mata Betran tidak bersahabat.
"Kruk, kruk."
"Sepertinya itu juga bukan perutku." ucap Kleo menyindir suaminya.
Betran yang merasa malu mengalihkan pembicaraan, dia baru ingat kalau dia sendiri tidak sempat makan karena Rosi.
"Yasudah kamu cepat mandi, dan siapkan sarapanku, atau kita mandi bersama." senyum licik terbit diwajah tampan Betran.
"Tidak."
Kleo langsung berlari kekamar mandi melupakan rasa hausnya. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi jika mandi bersama suami mesumnya itu.
***
Sampai dikantor seperti biasa Kleo masuk beriringan bersama Betran Kleo memberikan senyuman membalas sapaan karyawannya berbeda dengan Betran yang selalu memasang wajah kulkasnya.
Kleo memasuki ruangannya dan memanggil Luna untuk menyiapkan data laporan keuangannya selama tiga bulan.
Diruangannya Betran tidak sempat membuka pekerjaannya sudah mendapat telfon dari rumasakit bahwa Rosi tidak inhin makan kalau tidak ada Betran. Betran akhirnya kerumahsakit untuk menmui Rosi dia lupa meminta ijin pada Kleo.
Rio yang akan keruangan Betran merasa heran tidak melihat Bos besarnya tidak ada.
Dia melihat jadwal hari ini banyak meeting penting kenapa Betran tidak ada yang membuatnya semakin heran kenapa Betran tidak memberitahunya.
Dia memutuskan keruangan Kleo untuk bertanya kemana Betran pergi.
"Tok, tok, tok."
"Masuk."
"Kle Bang Betran kemana? Aku tidak melihatnya diruangannya."
Dia hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu, bersikap tenang walaupun dia sangat penasaran dengan keberadaan suaminya.
Rio akhirnya menghubungi Betran karwna sebentar lagi ada jadwal meeting penting dengan klien dari luar negeri.
"Halo bang sebentar lagi ada meeting dengan klien dari singapura Abang dimana?"
"Aku dirumahsakit, aku harus mengurus Rosi kau urus dulu. "
"Tut, tut."
Sambungan terputus.
"Dimana Dia?" tanya Kleo.
"Dirumahsakit."
"Deg."
Jantung Kleo seakan berhenti, berbagai bayangan dan pikiran buruk bertaburan diotaknya.
Rio yang melihat raut wajah Kleo berubah memilih pergi meninggalkannya. Dia tidak mau terlibat terlalu jauh dengan sesuatu yang tidak menjadi urusannya.
***
__ADS_1
Dirumahsakit Betran dibuat kesal oleh Rosi tampak dia berulang kali menahan emosinya, karena merasa bertanggung jawab terhadap Rosi.
Betran menyuapi Rosi karena Rosi tidak mau makan jika tidak dari tangannya. Rosi tidak tidur sepanjang hari dia selalu mencari alasan agar Betran tidak kekantor.
Betran teringat dengan Dave yang sakit, dia bergegas menjenguknya karena dia kebetulan satu rumahsakit dengan Rosi.
Betran seharian penuh dirumah sakit dia bahkan melupakan makan siangnya dengan istrinya.
Jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Setelah Rosi tertidur dia bergegas menjenguk Dave.
***
Pukul 11.00 malam Betran baru pulang seperti sebelumnya Kleo menunggunya dan tertidur diruang tamu rasa bersalah kembali menyeruak dalam hatinya.
Betran berjalan mendekati Kleo dan mengecup keningnya.
"Maafkan aku, aku mengabaikanmu hari ini."
Dia mengangkat Kleo kekamarnya membaringkan Kleo perlahan agar tidak terbangun.
Selesai dengan ritual mandinya dia langsung menyusul sang istri kealam mimpi.
***
Tak terasa seminggu berlalu dan Betran tidak pernah ada dikantor selesai mengantarkan Kleo.
Kleo bersiri dijendela kantornya menerawang jauh.
"Aku tidak menyalahkanmu membantunya , tapi kenapa kamu lupa dengan tanggung jawabmu, bukan hanya dia yang membutuhkanmu. Apa aku egois jika Aku harus menahanmu, membantu orang yang menyelamatkan nyawamu. tapi kamu mengabaikanku bahkan aku seperti tidak ada dalam hidupmu."
Air mata Kleo mwngalir membasahi pipinya yang hakus dan bersih, wajah yang selama ini menunjukkan ketegarannya tidak dapat menahan sakit hatinya hingga lolos juga airmata yang ditahannya selama ini.
"Tok.tok."
Buru-buru Kleo menghapus airmantanya
"Masuk."
"Maaf Bu ada paket untuk Ibu."
Setelah Luna Keluar Kleo mengambil Amplop coklat
Air matanya jatuh seketika melihat kemesraan foto Betran dan Rosi.
Sudah satu minggu Betran mengabaikannya untuk menemani Rosi. Melihat foto keakraban mereka tentu hati Kleo tercubit karena suaminya bukan tipe yang mudah untuk dekat dengan wanita.
Dia menyimpan semua foto dilaci meja tidak membuang ataupun merobeknya. Entah apa yang ada dipikirannya.
Waktu sudah sore Kleo bergegas pulang tampak kesedihan dalam wajahnya, meskipun dia hanya diam tanpa mengatakannya.
****
Hari minggu semua aktifitas kantor libur tapi tetap tidak ada Betran yang menemani dia tetap pergi kerumahsakit.
Kleo bermain dengan asistennya menikmati hari liburnya mencoba menghibur diri untuk menguatkan hatinya.
Dia berusaha menunjukkan bahwa tidak terjadi apapun padanya
__ADS_1
hingga menjelang malam Betran baru pulang.
tidak ada percakapan ataupun makan bersama meski hanya sekedar sarapan.
***
Kleo kembali beraktifitas dikantor dia mendapatkan paket lagi foto yang sama dimana foto itu sangat mesra hingga membuat Kleo tidak dapat menahan sesak lagi.
Kleo berlalu keluar ruangan berpamitan pada Luna kalau dia akan pulang cepat.
Sepertinya dia harus bertindak setelah memendam cukup lama.
Dia akhirnya menemui menelfon seseorang mengajaknya bertemu disebuah restoran.
Meskipun dia seorang ceo, tapi dihadapan Kleo dia tetap saja bersikap seperti anak kecil, sok imut dan cute. Terlihat dari penampilannya yang tidak formal dan sederhana. melihat Kleo termenung dengan segelas minumannya Martin langsung menyapanya.
"Hai Non, apa sekarang kamu sudah ingat dengan teman tampanmu ini."
"Nggak usah lebay."
Martin memang orang humoris, tapi dalam keadaan genting dia bisa menjadi orang yang sangat bisa diandalkan. Kleo aakhirnya memilih Martin untuk menumpahkan isi hatinya karena hanya Martin orang yang dipercaya oleh Kleo saat ini, tidak mungkin dia akan mengadu pada keluarganya tentang masalah rumah tangganya.
Melihat wajah Kleo yang murung dia tahu kalau Kleo pasti sedang ada masalah.
"Ada apa Non?"
Martin tidak mau berbasa basi lagi.
"Apakah aku begitu tidak berarti, hingga orang yang aku cintai tidak peduli padaku."
Martin masih mendengarkan Kleo dengan wajah serius.
"Aku tidak tahu apakah balas budi itu harus dengan mengabaikan orang-orang disekitarnya. Aku terlalu lemah Martin aku lemah. hiks, hiks."
Kleo mulai terisak. Martin memberikan tisu padanya. Dia masih belum mengerti permasalahan apa yang dihadapi sahabatnya ini.
Selesai dengan isaknya Kleo mulai ingat dengan tujuannya bertemu Martin.
"Martin aku ingin meminta bantuanmu."
"Nyonya Richardo meminta bantuanku, sungguh seperti mimpi."
"Plakk." Kleo memukul tangan Martin.
"Iya baiklah katakan apa yang bisa kubantu?"
"Aku ingin kamu membantuku menyelidiki seseorang, dia adalah sepupu suamiku tidak mungkin aku minta tolong pada Rio."
"Baiklah Non gue bantuin, tapi kenapa lo menyelidikinya?"
Kleo akhirnya menceritakan semuanya pada Martin. Martin mengangguk mengerti.
"Baiklah Non aku mengerti, sudah jangan cengeng gue bakal bantuin lo, apa ini mental taekwondo yang kamu pelajari.?"
Ya selain Martin ada lagi satu orang yang tahu tentang kemampuannya yaitu Leo adiknya. Hanya saja saat ini tidak mungkin Kleo mengganggu meminta bantuan adiknya yang sedang menyelesaikan kuliahnya.
"Nggak usah bawa-bawa itu malas dengarnya, andai saja Betran tidak berhutangbudi sudah kulibas sampai keakarnya."
"Wah sekarang sepertinya lo sudah kembali tadi tenggelam dimana sampai kebanjiran?"
"Plakk."
"Makasih kamu udah mau bantuin, aku pulang dulu!"
__ADS_1
Hayo kakak, makasih ya udah mau mampir karya aku...kalau berkenan tinggalkan likenya ya...!❤❤