Cinta Untuk Ceo

Cinta Untuk Ceo
Martin pemaksa


__ADS_3

Maaf kakak, untuk cerita Ana sama Dave nanti aku akan buatkan sendiri ya ...jadi disini lebih banyak tentang Kleo Betran Martin dan Reina. jadi jangan kecewa kalau cerita Dave nggak berlanjut.


"Kleo, beraninya kau melakukan itu."


Kleo mengusap tengkuk lehernya yang masih membelakangi Betran.


"Kenapa aku seperti mendengar suara."


Kleo memejamkan matanya dan mengendus-endus seperti kucing.


"Seperti bau-bau kebakaran." Kleo mengucapkannya tanpa rasa berdosa.


"Bodo ah, masalah hukuman pikir nanti."dalam batin.


Betran sudah mengeratkan giginya karena tingkah istrinya yang pura-pura tidak tahu.


"Berani sekali kau nyonya."


"Kabuuuuuuurrrrr."


Kleo sudah berlari kecil tapi baru beberapa langkah Betran sudah menangkapnya.


Suaranyapun menjadi lembut.


"Kenapa kamu lari, apa kamu lupa disini ada malaikat kecilku."


"Hehe, aku takut dengan singa yang kesetrum."


Mata Betran membulat, tidak habis pikir dengan perkataan istrinya.


"Apa tadi kau bilang ?ya singa jantan kesetrum singa betina, jadi aku harus segera mengobatinya."


"Empt.."


Betran ******* bibir Kleo.


Kleo sudah berontak memukul dada Betran. Tapi Betran tak bergeming malah semakin memperdalam ciumannya.


Lantai itu sangat sepi, karena semua sudah diboking Betran untuk Rosi tentunya. Betran juga menyiapkan ruangan khusus untuknya beristirahat karena dia tidak mau sekamar dengan Rosi saat Rosi tertidur.


Betran menghentikan ciumannya dan menggendong Kleo ala bridestyle.


"Sayang kita mau kemana,jangan macam-macam?"


Tampak dua orang bodyguard berdiri didepan pintu kamar yang dituju Betran.


Betran hanya tersenyum.


"Jangan biarkan siapapun naik kesini jika aku belum turun kalian berjagalah ditangga. suruh orang untuk membereskan jalang itu."


Dua orang itu bergegas pergi dari sana,melaksanakan titah majikannya.


"Aku hanya mengobati singa yang kesetrum sayang." ucap Betran sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kleo yang paham dengan isyarat Betran, Berteriak sangat kencang.


"Dasar MMesummmmmmmm"


***


Diruangan presdir seseorang menggerutu tiada henti.


"Cih, kakaknya pria sombong dan playboy, adiknya gadis manja, lengkap sudah keluarga Ferdinand.


gue benar-benar gila, apa nanti kata Kleo anak itu pasti terus meledekku dan menceramahiku tiada henti.


Martin, kenapa kamu menikahi gadis manja, Martin kakaknya itu buaya, Martin bla,bla,bla,,,,ini gara-gara elo sih Kle gue jadi kepincut sama gadis manja itu, karena tingkahnya buat gue bisa lupain tentang lo, dari pada dengan popi yang ada tersiksa batin gue gara-gara tiap hari dengar dia tan,tin,tan,tin manggil orang kaya bunyi klakson begitu.

__ADS_1


Martin terkekeh sendiri dengan kehaluannya membayangkan hal-hal yang menurutbya menggelikan.


Tentu sikapnya berbeda jika dengan karyawannya, dia lebih terlihat cool dan galak tentunya.


Josep mengetuk pintu ruangan Martin.


"Masuk."


"Tuan ini kiriman dari non Kleo."


Letakkan disitu kamu boleh pergi.


Martin meraih paperbag yang dibawa diambilnya sebuah kotak berwarna hitam.


Martin yang masib penasaran langsung membuka kotaknya.


Iitu adalah jam keluaran terbaru, dan limited edition.


Ada secarik kertas didalamnya.


"Terimakasih sudah mau membantuku, sahabatku memang banyak, tapi sahabat terbaik sulit didapatkan


tetaplah menjadi sahabat terbaikku, Kleo."


Martin menarik ujung bibirnya.


Tak lama kemudian Josep masuk lagi mengatakan bahwa Reina datang ingin bertemu.


suruh dia masuk.


Diluar ruangan. Reina masih mengobrol dengan Sam.


"Hai Loren lo kemana aja sih, kok nggak pernah masuk?"


"Gue udah ngundurin diri,"


Belum sempat menjawab Josep sudah memotongnya.


"Nona Reina Tuan Martin sudah menunggu Anda"


Ucap Josep sambil membungkukkan badannya.


"Sam gue masuk dulu ya."


Sam masih bengong, otaknya masih berputar-putar.


"Kenapa tadi pak Josep memanggilnya Reina ya? kalau udah ngundurin diri ngapain dia kemari?"


Sam berlalu tidak mau ambil pusing. Meski sebenarnya dia juga masih penasaran.


***


Diruangan Ber Ac yang dingin, terasa panas karena dua orang yang sedikit canggung duduk berhadapan disofa.


"Ada apa kamu kesini, apa kamu merindukanku?"


"Jangan kegeran tuan pemaksa, aku hanya ingin tahu pertemuanmu kemarin dengan kakakku dan juga melihat keadaanmu."


Martin terkekeh dengan julukan yang diberikan untuknya.


"Apa kamu sangat ingin tahu gadis manja?"


"Tentu saja, aku bersyukur kamu tidak berakhir diranjang rumasakit."


"Hahahaha,,,,."


Martin terbahak, membuat Reina bergidik sendiri.

__ADS_1


"Itu hanya pria-pria bodoh dan pengecut yang dijodohkan denganmu dulu."


Tangan Reina mengepal kuat, pasalnya salah satu dari mereka ada yang menjadi kekasihnya, dan berakhir dirumahsakit karena Dave tidak menyetujuinya. Bagi Dave siapapun yang akan menjadi suami Reina harus atas persetujuannya entah itu dijodohkan ataupun kekasih Reina sendiri.


Dave harus tahu seperti apa pria yang akan menjadi pendamping adik satu-satunya yang sangat dijaga oleh Dave.


Meskipun Reina kabur dari rumah dia tidak lepas dari pengawasan Dave.


"Hei, hentikan tawamu itu, kamu merusak telingaku."


"Dengar gadis manja, sudah kukatakan padamu tidak akan ada orang yang bisa menolak pria dan mapan sepertiku termasuk kakakmu."


"Apa benar yang dikatakannya, melihat dia tidak terluka sama sekali, mungkin benar yang dikatakannya.."


"Aku rasa kakakku salah lihat, nanti akan kutanyakan padanya setelah dia pulang dari luar kota."


Tak disangka ucapan Reina yang menurutnya biasa, malah memancing kemarahan Martin.


Martin berdiri dan menghampiri Reina meletakkan kedua tangannya disamping kiri dan kanan Reina.


"Mmmmaa,mau apa kamu,jangan macam-macam."


"Menurutmu?" Martin mengikis jarak dianta mereka.


"Kau tidak percaya padaku."


Martin sudah mendekatkan wajahnya, Reina juga memejamkan matanya karena rasa takut dan gugupnya.


Martin akhirnya mendaratkan kecupan dikening Reina.


"Jangan meragukanku."


Sikap Martin menjadi lembut dia bergeser dan duduk disamping Reina. Reina sempat tidak percaya, pria yang dianggap kaku dan pemaksa ini ternyata bisa bersikap lembut.


"Apa kamu sudah makan." Sikap Martin yang tiba-tiba berubah membuat Reina tambah gugup,


"Eh, su-sudah."


"Kruk,kruk."


"Dasar perut sialan ,tidak tahu apa aku mau menghindar dari pria mesum ini."


"Jangan berbohong padaku, ayo aku akan mentraktirmu dan mengenalkanmu pada temanku."


Martin menarik tangan Reina, dia keluar ruangan dengan tangan masih menggandeng Reina, mungkin sebagian karyawan ada yang tahu siapa Reina karena dia dulu bekerja dikantor itu.


Tatapan karyawann yang dilewatinya membuat Reina malu karena Martin tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Dasar pemaksa, gue kan malu,l ihat itu karyawan itu pasti mengira gue cewek murahan lagi."


Reina langsung menghempaskan genggaman tangan Martin sedikit kasar.


Martin tersentak kaget atas perlakuan Reina.


"Kamu kenapa?"


"Kamu nggak lihat apa karyawanmu semua memperhatikan kita."


Martin lalu menoleh melihat sekeliling.


"Apa yang kalian lihat, sana kembali bekerja, atau kupotong gaji kalian."


"Dasar bisanya hanya mengancam saja."


"Sudah ayo jangan pedulikan mereka. mereka hanya iri melihat ketampananku."


"Hah..."

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak....❤❤❤


__ADS_2