Cinta Untuk Ceo

Cinta Untuk Ceo
Musuh dalam selimut


__ADS_3

Selamat membaca ya.....semoga kalian suka, jangan lupa dukungannya.


πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šβ€β€β€β€β€πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


"Dert-Dert."


ponsel Nina berdering, "


"Ya halo,"


........................


"Apa, baik saya akan segera kesana."


Nina lalu meminta ijin pada Leo untuk pulang karena keluarganya sakit.


***


Sampai dirumahsakit Nina langsung menuju ruangan adiknya dirawat.


Dia melihat adiknya tengah duduk, dan memakan buburnya, tubuhnya penuh luka lebam dan berwarna kebiru-biruan.


"Astaga kenapa kamu bisa seperti ini?"


"Kemarin aku dipalak kak sama preman."


"Apa kamu tidak berteriak minta tolong."


"Sudah kak, tapi nggak ada yang berani nolongin aku."


Seorang suster masuk,


"Maaf mbak ini obatnya, kata dokter nanti sore sudah bisa pulang."


"Terimakasih." ucap Nina.


"Oh ya mbak, siapa yang bawa adik saya kerumahsakit, saya mau berterimakasih padanya!"


"Itu mbak, Tuan Rio."


"Apa dia nanti kesini?"


"Kurang tahu mbak, soalnya dia tidak bekerja disini!"


"Apa aku boleh minta alamatnya atau no telfonnya?"


"Kalau itu kami nggak tahu mbak."


"Hm, yasudah mbak makasih mbak!"


Nina belum tahu orang yang dimaksud suster tadi adalah Rio yang sangat dikaguminya.


"Dek, kakak bayar admistrasinya dulu ya?"


***


Rio sudah rapi, dia bersiap berangkat kekantor, tapi pagi ini, Betran menyuruhnya melakukan tugas rahasia.


Rio lalu bergegas untuk melakukan penyelidikan yang diperintahkan oleh Betran, Sebelum itu dia bergegas untuk kerumahsakit, melihat anak SMA yang kemarin ditolongnya


Dia sudah menelfon seseorang untuk membantu tugasnya.


***


Nina berjalan menuju bagian administrasi .


"Bruk."


"Maaf, saya tidak sengaja, karena nggak lihat jalan tadi."


"Tidak papa."


Seorang dokter tampan mengulurkan tangannya.


Nina menyambutnya.


"Terimakasih."


"Anda mau kemana Nona?"


"Saya mau ketempat administrasi."


"Kenalkan, saya Rangga."


"Saya Nina." ucap Nina tersenyum simpul.


"Kalau begitu saya permisi dokter."


"Ah ya silahkan."


"Cantik." gumam Rangga.


Rangga masih menatap Nina yang berjalan menjauhinya. Sudut bibirnya tertarik keatas, membuat para suster yang melihatnya, meleleh.


"Hai bro!" Rangga terperanjat.


"Ngagetin gue aja."

__ADS_1


"Ya ela, lagian lo lihatin apaan sih?"


"Permaisuri!"


"Cih permaisuri, gaya lo."


"Nggak percaya, lo sendiri mana katanya Dewi lo itu."


"Hehe, belum gue jemput."


Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yaudah gue tinggal dulu."


"Mau kemana lo?"


"Ada urusan sebentar."


"Hah." Rangga menghela nafas.


***


"Krek."


"Hai, bagaimana keadaanmu?" ucap Rio sambil berjalan memasuki ruangan, dia langsung duduk dikursi samping ranjang Revan.


"Apakah anda Tuan Rio?"


"Benar aku Rio, jangan panggil aku Tuan."


"Baiklah bang Rio, trimakasih sudah menolongku."


"Hem, sama-sama, siapa namamu?"


"Revan bang."


"Jadi laki-laki jangan terlalu lemah, kamu harus bisa bela diri, setidaknya untuk melindungi dirimu sendiri."


Revan menundukkan kepalanya.


"Hem, apa bang Rio mau mengajariku?"


"Gimana ya.., " Rio diam seolah tengah berpikir keras.


"Tapi baiklah tapi kau harus sembuh dulu."


"Makasih bang." Revan tersenyum, dia merasa senang."


"Hem."


Seorang perempuan masuk ruangan masih merogoh tasnya tengah mencari sesuatu.


Nina mulai melihat kearah Revan.


"Deg."


Orang yang dikagumi secara diam-diam ternyata ada didepannya.


Rio menatap Nina tanpa berkedip.


"Kenapa dia semakin cantik saja, rambutnya, pakaiannya benar-benar berbeda dia juga tidak pakai kacamata, terus tahi lalat yang kemarin nggak ada, apa Nina punya kembaran ya, tapi sorot mata itu tetap sama."


"Itu ketinggalan dimeja kak." Nina tidak menyahut adiknya lagi karena gugup ada Rio.


"Oh pak Rio, kenapa anda disini."


"Aku hanya melihat keadaannya."


"Apa pak Rio yang menolong adik saya kemarin?"


"Hem."


"Terimakasih pak."


"Terimakasih ditolak, aku juga punya permintaan, kamu harus temani saya mencari hadiah."


"Eh, em...baiklah."


"Tapi.."


"Apa kamu tidak mau?"


"B-bukan begitu, baiklah."


"Ayo..." Rio berdiri dari tempat duduknya.


"Revan kakak tinggal dulu sebentar."


"Lama juga ngak papa." ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.


"Dasar adik menyebalkan bikin malu saja."


"Sampai jumpa teman kita ketemu lagi setelah kau sembuh, "


"Bolekah aku minta nomormu bang?"


"Tentu saja, sekarang kau temanku bukan, tapi ingat."

__ADS_1


Rio membisikkan ditelinga Revan.


"Aku tidak suka pria lemah jadi kau harus jadi pria kuat."


"Kau mengerti?"


Revan mengangguk patuh, yang artinya dia paham.


"Baiklah, sekarang aku pergi."


***


"Pak kita mau kemana,?"


" Membeli kalung untuk pacarku."


"Duar."


Pupus sudah harapan Nina, bagaimana tidak pria yang disukai dan dikagumi beberapa waktu lalu, ternyata hatinya sudah dimiliki orang lain.


Nina tersadar, siapalah dia bagaimana mungkin dia bermimpi akan bersanding dengan Rio.


Nina mencoba mengendalikan hatinya agar tidak terperosok kedalam perasaan yang tak terbalas ini.


***


Sampai dimall Rio langsung mengajak Nina menuju toko perhiasan, dia berniat mendekati chelsea dengan memberikannya kalung.


"Coba kau pilihkan kira-kira mana yang disukai seorang wanita."


"Pak menurut saya, anda harus mengajaknya, karena meskipun kami sama-sama wanita selera kami berbeda."


Nina mencoba bernegosiasi.


"Begitu ya, tapi nggak papa coba kalau menurut kamu yang mana yang cantik?"


"Itu bagus, sederhana tapi kelihatan berkelas."


"Benar Nona, anda sangat pandai memilih." kata pelayan toko yang dari tadi hanya diam karena takut pada Rio.


"Baiklah bungkus yang itu."


"Baik Tuan."


Selesai membeli kalung Rio mengantar Nina kerumahsakit lagi, karena katanya adiknya nanti boleh pulang tapi Rio tidak turun karena dia harus menyelesaikan tugasnya dari Betran.


***


Rio telah selesai dengan misi rahasianya, tapi dia ingin memberikan hadiah dulu pada chelsea, dia tertarik dengan chelsea, tapi dia tidak tahu apa itu hanya rasa kagum, atau yang lain. Saat ingin memasuki ruangan Kleo, dia mendengar seseorang telfon ditempat yang sepi.


"Mana mau aku dengan pria rendahan apalagi nggak punya duit, nanti aku nggak dapat apa-apa."


.....


"Seleraku itu bos."


"Ya dia sudah menikah, tapi istrinya jarang kekantor."


.....


"Dia memang temanku, tapi aku suka pada suaminya.


Tentu aku akan merebutnya, apalagi sepupunya memberitahuku tentang Betran dan dia mendukungku.


....


"Tidak dia sangat mempercayaiku.


sudah dulu ya nanti ada orang dengar."


Rio lalu bersembunyi agar wanita itu tidak melihatnya.


Rio mengintip dibalik tempat persembunyiannya melihat siapa wanita itu.


"Chelsea kenapa dia berbicara seperti itu, apa jangan-jangan dia.......Astaga ternyata dia ular betina, untung aku belum memberikan kalung ini, trimakasih Tuhan telah menyadarkanku, untung aku selamat dari sihirnya, hampir saja aku melakukan kebodohan hanya karena aku tertarik padanya, cih dasar jalang kau tidak tahu siapa lawanmu."


Rio lalu keruangannya menyimpan kalung itu dilaci dan menguncinya.


Dia langsung keruangan Betran.


***


"Bang aku sudah tahu siapa orangnya, tapi..."


"Cepat katakan."


Dia teman Kleo, Rio lalu menceritakan semuanya.


"Cih, bodoh sekali orang ini baiklah kita ikuti permainannya, ingatkan istriku tapi jangan sampai membuatnya curiga."


"Baik Bang."


Rio keluar ruangan.


"Baiklah, aku akan segera menuntaskannya, ternyata berbaik hati padamu itu adalah sebuah kesalahan," Betran tersenyum sinis.


"Tunggu giliranmu, dasar iblis betina."

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


jangan lupa dukungannya ya........


__ADS_2