
Pintu kamar terbuka dengan kerasnya karena terdorong dari luar.
Muncullah Betran yang menatapnya dengan sendu.
Betran melihat wajah Kleo yang pucat, tubuhnya yang lemah badannya yang terlihat lebih kurus.
Betran langsung memeluknya.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu sakit."
Tiba - tiba tubuh lemah itu mendorong Betran dengan kuat.
"Jangan mendekatiku, aku jijik padamu, kau peluk saja wanita kesayanganmu itu."
"Deg."
"Apa maksudmu Kle?"
"Masih bertanya apa maksudku, setelah kamu sibuk dengan wanitamu itu?"
Betran berdiri mencoba mendekat pada Kleo. Dia tidak menyangka istrinya akan marah , selama ini Betran selalu berpikir Kleo akan mengerti dirinya.
"Berhenti disitu." ucapan Kleo langsung menghentikan langkah Betran.
"Oke aku salah Sayang, aku minta maaf."
"Cih mudah sekali dia minta maaf."
"Tuan Betran yang terhormat, apa kamu sudah puas dengan wanitamu itu sehingga kembali pada istrimu ini."
"Kleo, apa maksudmu? aku tidak suka kamu menghinanya aku sudah memberitahumu kalau aku hanya membalas kebaikannya menyelamatkan nyawaku."
"Wah-wah ternyata wanita itu sangatlah berharga untukmu Tuan Betran. Maaf Tuan Betran kalau anda sudah Bosan dengan jalangmu kau bisa mencari ****** lain tapi jangan aku karena aku bukan ****** seperti dia."
Kleo benar-benar menunjukkan sisi lain dari dirinya, sosok yang dikenal Betran menjadi orang yang penyayang, dan dermawan dan selalu tidak bisa membantah perkataannya tidak tampak lagi pada Kleo.
Sedangkan Betran mulai terpancing dengan ucapan Kleo.
"Kleo jaga ucapanmu."
"Kenapa tidak terima? bahkan aku akan menyebutnya iblis betina? "
"Kleo." Betran sudah mengangkat tangannya untuk menampar Kleo. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Cih, Demi iblis itu kau mau menamparku. tak kusangka seorang CEO perusahaan nomor satu yang terkenal dengan kecerdasannya, ternyata begitu bodoh karena mudah sekali ditipu oleh iblis betina sepertinya. Apa kamu benar benar tidak tahu dia sedang memanfaatkan kebodohanmu itu."
"Aku tidak ingin berdebat denganmu Kle jangan memancing kemarahanku."
Kleo lalu berjalan masuk kamar membuka laci meja dan mengambil setumpuk foto kemesraan Betran dengan Rosi.
"Jika kamu memang tidak bodoh dan aku tidak boleh menghinanya, menyebutnya iblis betina, bisakah kau jelaskan ini padaku!"
Kleo melempar foto itu ke atas tempat tidurnya.
Foto yang selalu dikirim seseorang setiap hari untuknya entah siapa pengirimnya.
"Apa itu yang disebut orang sakit?"
Betran terperanjat matanya membulat tidak percaya."
"Kle percayalah padaku, itu tidak seperti yang kamu pikirkan aku hanya menghiburnya."
Betran memegang pundak Kleo.
"Kalau begitu hibur wanitamu itu untuk apa kau disini, aku lelah dengan semua ini, bagaimana perasaanmu jika apa yang kamu miliki dinikmati oleh orang lain"
Suara Kleo melemah. Buliran air mata mulai jatuh, Kleo terisak.
Betran hancur melihat wanita yang sangat dicintainya menangis. Seseorang yang selalu ingin dijaga, dilindungi , dan dibahagiakan ternyata malah terluka karenanya.
Betran langsung mendekap tubuh Kleo dia menerima semua pukulan Kleo bertubi-tubi tanpa ada perlawanan.
Rasa sakit karna pukulan itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Kleo saat ini.
__ADS_1
"Jika kamu mencintainya, lepaskan aku."
"Duar."
Bagai tersambar petir disiang bolong, Betran tidak menyangka istrinya sampai mengatakan hal seperti itu, begitu terlukakah dia hingga ingin lari dariku.
"Sayang jangan berkata seperti itu, aku sangat mencintaimu,aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun.Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi maaf aku telah mengabaikanmu."
Tiba-tiba Kleo pingsan dalam pelukannya.
"Sayang, sayang, sayang."Betran langsung mengangkat Kleo membaringkan diatas tempat tidur.
Betran berteriak memanggil Bi Asti.
Bi Asti yang mendengar teriakan majikannya berlari menuju kakamar Betran.
"Iya Tuan."
"Cepat telfon dokter istriku pingsan."
Melihat wajah Kleo yang sangat pucat membuat Betran ketakutan dia semakin merasa bersalah.
"Sayang, bangun sayang."
Betran mengambil minyak kayu putih, menggosok-gosok tangan Kleo yang terasa dingin.
Dia segera mengambil foto-foto itu dan memasukkannya kedalam laci sebelum orang lain melihatnya, Dia akan menyelesaikan itu nanti.
Tak lama kemudian dokter Fani datang, Bi Asti mengantarkan dokter Fani kekamar Kleo. Mereka berjalan terburu-buru karena takut Betran mengamuk.
Kekejaman Betran sudah terdengar disemua telinga pegawainya. Apalagi jika mereka membuat kesalahan Betran akan menghancurkannya tak bersisa.
"Kenapa kamu lama sekali cepat periksa istriku." Betran sudah membentak dokter Fani dia memang tak pandang bulu siapapunitu.
Selesai memeriksa dengan segenap keberaniannya dia mencoba menyampaikan kepada Betran.
"Tuan saya harus menunggu istri anda sadar dulu agar bisa memastikan diagnosa saya."
"Kamu itu bisa kerja apa tidak, dasar tidak becus kenapa tidak tahu tentang penyakit istriku."
Bi Asti yang membawa minum itu ikut bergetar ketakutan mendengar amarah Betran dia sudah hafal dengan sifat majikannya jika tidak puas dengan pekerjaan bawahannya.
Dokter Fani sudah ketakutan karena Betran membentaknya.
"Auw."
Suara Kleo mengalihkan pandangan Betran.
"Sayang kamu sudah bangun?"
"Kepalaku sakit sekali."
Betran membantu Kleo untuk duduk bersandar.
Kleo masih memijit pelipisnya, rasa pusing dikepalanya belum hilang.
Melihat Kleo sudah tenang. dokter Fani memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Maaf nyonya ada yang ingin aku tanyakan, kapan terakhir anda datang bulan?"
Kleo yang sudah tahu kemana arah pembicaraan dokter itu sengaja menyulitkannya untuk menghukum suaminya itu.
"Aku tidak tahu aku lupa." jawab Kleo asal.
"Tuan bisakah kita bicara sebentar."
Betran yang merasa takut kalau Kleo mengidap penyakit tertentu, memilih mengikuti kata dokter Fani.
Betran meninggalkan Kleo dengan Bi Asti.
Diluar kamar dokter Fani mencoba selembut mungkin untuk menyampaikan pada Betran takut-takut salah malah dia yang dieksekusi.
"Tuan saya hanya menduga saja tapi untuk memastikannya Anda harus membawanya kerumah sakit."
"Deg."
__ADS_1
"Apa mksudmu, bicara dengan benar?"
"Astaga ternyata dia benar-benar suka makan orang, kurasa dihadapkan padanya lebih menyeramkan daripada sidang dipengadilan."
"Sepertinya istri anda hamil tuan, tapi biar lebih akurat anda harus membawanya kerumahsakit, saya tidak ingin anda kecewa."
"Benarkah?"suara Betran begitu lembut matanya berbinar.
Dokter Fani melongo tidak percaya dengan perubahan sikap Betran dari singa menjadi kucing rumahan.
"Aku akan mengajaknya kerumahsakit."
Betran meninggalkan dokter Fani begitu saja.
Masuk kekamar.
"Bi tolong tinggalkan kami."
Setelah memastikan Bi Asti keluar. Betran mulai membujuk Kleo.
"Sayang, kita harus kerumah sakit, untuk mengetahui lebih jelas penyakitnya. "
Betran mencari alasan agar singa betinanya itu tidak marah.
"Aku tidak punya penyakit jantung seperti jalangmu itu, untuk apa kerumahsakit."
Suara Betran melunak, dia berusaha membujuk Kleo.
"Aku minta maaf sayang, aku berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi."
"Aku tidak mau kau urus saja jalangmu itu, aku lelah, aku ingin istirahat"
"Tolong sayang jangan seperti ini, kamu boleh marah padaku, kamu boleh memukulku tapi aku mohon ayo kita kerumahsakit."
Melihat suami mesumnya itu memohon Kleo sebenarnya tidak tega tapi dia harus melakukannya untuk memberinya pelajaran.
"Aku lelah aku mau istirahat, apa kamu tidak dengar."
Betran menciut mendengar ucapan Kleo entah kenapa dia menjadi jinak dihadapan istrinya seperti kucing piaraan. Ya karena rasa bersalahnyalah yang membuatnya tak berkutik.
Kleo lalu berbaring menutup selimutnya keseluruh tubuhnya.
Untuk saat ini Betran mengalah dia tidak bisa memaksa Kleo, melihat kondisinya yang lemah dan moodnya yang tidak bagus, itu akan membuat Kleo semakin kesal padanya.
Dia lalu menyusul Kleo dan berbaring disampingnya.
Kleopun tidak menolak ataupun menghindar, sejujurnya dia sangat merindukan suaminya.
Kleo akhirnya terlelap dalam dekapan Betran.
Melihat Kleo tertidur Betran beranjak dari tempat tidurnya secara perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Betran menuju ruang kerjanya lalu menghubungi Rio.
"Rio kamu selidiki Rosi aku curiga dia berbohong padaku!"
"Tanpa Abang suruh aku sedah melakukannya."
"Katakan?"
Rio menceritakan pertemuannya dengan tante Nelin.
Rio tidak memberi tahu Betran dia saat itu sedang mengantar istrinya yang sakit, tentu dia akan menutupinya kalau tidak mau digantung dipohon semangka......
(Author ikutan oneng pohon semangka kan merambat ya... hahhahahah)
Tangan Betran terkepal mendengar penjelasan Rio.
"Jika dia sampai melakukannya aku tidak akan mengampuninya."
Betran langsung mematikan sambungannya.
Dia kembali kekamarnya untuk melihat istrinya.
"Ceklek." Mata Betran membualat melihat pemandangan didepannya....
__ADS_1
"Sayang...!
Hai readers jangan lupa like dan komennya ya jika berkenan dkung author dengan vote ya.......😘😘😘😘