
Betran tampak tengah berbicara serius dengan seseorang disambungan telfon.
"Jangan sampai lengah aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada istriku."
"Tut,tut." sambungan terputus.
"Cih, kau belum tahu berurusan dengan siapa."
Betran tersenyum licik.
"Krek."
Kleo menghampiri suaminya dengan wajah cemberutnya.
Betran menaikkan sebelah alisnya."
"Sayang."
Kleo duduk dipangkuan Betran dia memainkan jarinya didada Betran menuliskan sesuatu yang tidak jelas disana.
"Sayang."
Kleo menekan katanya, mengalungkan tangannya ke leher Betran memasang wajah seimut mungkin.
"Cih dia pasti ada maunya, dasar gadis licik!"
"Ada apa hem?"
Betran merapikan rambut Kleo.
"Sayang, aku mau es krim cup besar."
"Baiklah Rio akan membelikannya untukmu."
Kleo menggeleng,
"Lalu?"
"Aku ingin kamu yang membelinya."
"Aku tidak mau." ucap Betran datar.
Kleo langsung berdiri dari pangkuan Betran dengan memasang wajah garang, tangan dipinggang.
"O... jadi kamu nggak mau, kamu mau anak kita mirip dengan Rio karena dia yang selalu memanjakannya? "
"Baiklah tidak usah kamu belikan."
Kleo mengelus perutnya.
"Sayang ayahmu tidak sayang padamu dia tidak mau membelikan es krim untukmu."
"Hiss,,iya baiklah-baiklah, jangan menghasut anakku, lagi pula aku tidak mau anakku mirip bocah sialan itu."
Betran mendekatkan wajahnya ditelinga Kleo,
"Tapi ingat sayang ini tidak geratis."
Betran menaik turunkan alisnya.
"Dasar suami mesum, aku kerjai baru tahu rasa."
***
Dicafe, Betran duduk disalah satu sudut cafe menghadap jalan , seperti biasa dia menatap kearah jalan, terlintas bayangan masalalu saat pertama kali dia melihat istri tercintanya. Betran menampakkan senyumnya.
"Tuan tampan, tumben nggak minum kopi, nanti aku buatkan kopi yang rasanya paling hot."
Betran hanya menatapnya dingin.
Dari semua pelayan cafe cuma dia yang berani berbicara dengan Betran layaknya teman.
Pelayan itu mengambil gelas kotor bekas pengunjung karena kecerobohannya dia tidak sengaja tersandung kaki kursi
"Prankk."
Terdengar suara gelas jatuh .
hingga gelas yang dia bawa menumpahkan jus sisa pada jas Betran.
Betran berdiri dengan tatapan membunuhnya.
"Aduh tuan maaf saya tidak sengaja." dengan pedenya dia mengambil tisu dan akan membersihkan jas Betran.
"Jangan menyentuhku."
Suara Betran menggelegar dicafe itu. semua karyawan tunduk sudah mengeluarkan keringat dinginnya.
"Siapa yang telah mempekerjakan karyawan tidak becus spertimu hah."
"Tuan, semakin tampan kalu sedang marah." sambil mencolek dagu Betran.
__ADS_1
Betran bergidik jijik.
"Astaga, oh shit..kenapa ada waria disini.!"
"Jangan dekat-dekat,"
"Sefa mana pesananku." teriak Betran
Dengan wajah yang sudah pucat, Sefa mendekat, memberikan dua buah cup es krim yang diingankan istrinya.
Betran langsung meninggalkan cafe dengan wajah kesalnya.
"Menjijikkan siapa yang mempekerjakan waria dicafeku, akah kuhabisi nanti."
Semua karyawan menatap Betran yang datang dengan membawa kantong plastik, jasnya sangat kotor. tapi tidak ada yang berani berkomentar.
""Krek."
Betran masuk keruangan Kleo disana sudah ada Rio.
"Bocah sialan jangan dekat-dekat dengan istriku, aku tidak mau anakku mirip denganmu."
Rio bengong tidak mengerti dengan yang diucapkan Betran
"Bagaimana bisa mir..."
belum sempat Rio melanjutkan kalimatnya.
"Keluar kau dari sini, ambilkan baju ganti untukku, dan satu lagi pecat karyawan yang tadi buat masalah dicafe."
"Iya Bang."
Rio masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Betran.
diluar ruangan dia menggerutu sendiri.
"Bagaimana anaknya bisa mirip denganku, cuma karena aku dekat dengan istrinya, kenapa dia jadi ogeb gitu, cinta memang suka bikin orang nggak waras terbukti bang Betran jadi bodoh begitu sudah jelas dia yang membuatnya bibit juga darinya, atau jangan-jangan hahahahaha....nakal kamu Kle....."
Karyawan yang melihat Rio tertawa sendiri bergidik ngeri.
Mereka saling berbisik.
"Tu kan Benar pak Rio jadi sedikit gila."
"Apa iya ya ,aku juga pernah lihat dia bicara sendiri."
Rio yang masih bisa mendengar, mulai menampakkan wajah garangnya.
Karyawan itu sudah ketakutan. Mereka lalu membungkukkan badan dan segera meninggalkan Rio yang dikira gila itu.
***
Betran melepas jasnya membuang kesembarang arah,
"Makasih sayang," Kleo menampakkan senyum manisnya. Kleo mengelus perutnya yang masih rata itu.
"Sayang ayahmu sangat menyayangimu, dia membelikan kita es krim."
Kleo langsung melahap es krim itu dengan rakus.
Betran lalu berjongkok dikursi Kleo duduk.
"Jagoan ayah, bilang pada ibumu kalau dia harus memberikan hadiah pada ayahmu nanti malam."
Betran mengedipkan matanya.
"Kleo memukul pundak Betran, jangan mengajarinya menjadi mesum sepertimu."
"Tentu dia akan sepertiku, aku ayahnya."
***
Makan siang telah tiba Kleo berulah lagi.
Dia meminta Betran untuk membelikan Bakso dipinggir jalan.
Meski sempat terjadi perdebatan kecil karena Betran tidak mengjinkannya memakan sembarang makanan tapi Betran tetap menurutinya.
Kleo benar-benar memanfaatkan kehamilannya untuk mengerjai Betran, dia selalu memberi alasan kalau anaknya bisa ileran jika apa kemauannya tidak dituruti dan harus betran yang melakukannya agar anaknya tidak mirip orang lain.
Betran hanya menurutinya entah kenapa Ceo dingin itu menjadi bodoh setelah kehamilan Kleo.
Hari minggu Betran berniat pulang kerumah utama untuk memberitahukan kepada ayahnya tentang kehamilan Kleo, dia tahu orangtuanya sangat menantikan ini.
***
Kleo tampak cantik dengan setelan hijau botol, senyum selalu mengembang diwajahnya.
"Sayang , kamu semakin cantik."
__ADS_1
Betran memeluknya dari belakang mencium leher Kleo. Kleo yang tahu keinginan suaminya itu. membalikkan badan dan mendorong pelan dada suaminya.
"Cukup nanti kita terlambat pergi ketempat Ayah Bernard"
""Apa kamu tidak kasihan pada adik kecilku, dia merindukan rumahnya."
"Apa kamu tidak lelah, setiap malam tidak membiarkanku istirahat dengan benar, menuruti adikmu itu."
"Tidak sayang untuk yang satu ini aku tidak pernah lelah."
"Astaga, dasar suami mesuummm."
Kleo mendorong Betran hingga terjatuh diranjang dia segera kabur meninggalkan Betran.
"Hey,jangan lari, Betran senang menggoda istrinya itu."
Ponsel Betran bergetar, dia mengangkat telfon dari seseorang.
"Tetap awasi mereka jangan sampai mereka mendekati keluargaku, aku akan menghancurkannya jika berani menyentuh keluargaku."
Telfon dimatikan oleh Betran
"Aku sangat mencintaimu sayang aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
***
Berlin langsung menghambur kepelukan Betran.
"Kak Betran aku merindukanmu. hai kak Kle."
Berlin memeluk Kleo. Kleo merasa sangat bahagia memiliki keluarga yang menyayanginya.
"Dimana ayah?"
Betran tidak pernah menanyakan ibunya dia belum bisa memaafkan ibunya.
"Hai Ayah ,apa kabar?"
"Dasar anak tidak tahu diri, kenapa kamu tidak pernah mengunjungi ayahmu."
"Maaf ayah,aku sangat sibuk."
Bernad menyambut menantunya memeluknya hangat, Kleo lalu memeluk ibu Betran.
Kleo merasa aneh karena Betran mengabaikan ibunya.
" Ada apa dengannya kenapa dia bersikap dingin pada ibunya, nanti aku akan menanyakannya."
"Trimakasih Kle, kamu mau datang kesini."
"Ibu jangan berkata begitu aku pasti akan datang jika ibu menginginkannya."
"Kamu memang menantu yang baik, beruntung Betran mendapatkan gadis sepertimu."
Kleo hanya tersenyum.
mereka menuju meja makan yang tekah diapkan pelayan sebelumnya.
"Kle cobalah ikan asam manis ini aku memasaknya sendiri."
"Iya bu."
Dimeja makan Kleo melayani suaminya seperti yang biasa dilakukan dirumah. Betran juga tidak protes apapun yang disajikan istrinya.
Berbeda ketika sebelum memiliki Kleo.
Betran terkenal dengan sikapnya yang dingin dan kejam.
Adiknyapun tidak berani membantahnya apalagi ibunya. kata-kata Betran seperti hukum dirumahnya hanya Bernard yang sesekali bisa didengarkan oleh Betran.
Kleo mulai mengambilkan ikan itu kepiring Betran.
Wina tersenyum melihat Kleo melayani Betran.
"Sayang aku tidak ma.."
Kleo langsung menyuapkan satu sendok makan kedalam mulut Betran, Mata Kleo sudah melotot.
"Enak kan sayang."
dengan menekan kata sayang nyali Betran langsung menciut. Sorot mata itu seolah menunjukkan ancaman jika tidak menurutinya maka Betran harus tidur diluar. Tentu saja Betran tidak mau bagaimana dia menjinakkan adik kecilnya jika tidur diluar.
"Habiskan makanannya sayang."
Betran diam lalu melanjutkan makannya tanpa protes.
Pasutri itu melongo tidak percaya dengan yang dilihatnya barusan. Betran menurut tanpa protes, apalagi mengamuk seperti dulu.
"Sepertinya menantuku ini wanita yang luar biasa, dapat mencairkan anak es ini. Benar katamu Rio sudah ada pawangnya."
Tampak Bernard tersenyum.
__ADS_1
"Hai kak, biasakan like dan koment ya....salam hangat dari Author..🌷🌷🌷🌷