Cinta Untuk Ceo

Cinta Untuk Ceo
sakit


__ADS_3

Pagi yang cerah, sang mentari menyapa. Seorang gadis masih meringkuk dibalik selimut.


"Tok,tok,tok."


"Kle, kamu nggak kerja? sudah siang ini nanti kamu terlambat."


"Iya sebentar Ayah!"


Kleo meraih jam diatas meja. Mata Kleo langsung membulat.


"Mati aku, Simonki nanti bisa kumat kalau aku sampai telat."


Kleo berlari kekamar mandi entah bagaimana dia bermain sulap dalam 15 menit dia sudah siap.


"Ting, tong."


"Ayah Kleo nggak ikut sarapan udah dijemput, takut telat."


Kleo berpamitan pada ayahnya lalu keluar.


"Ayo!"


Kleo dan Rio lalu berangkat didalam mobil mereka membicarakan topik lalu.


"Rio kamu udah kasih tau dia belum?"


"Gimana mau ngasih tahu, dianya asyik nempel terus sama elu!"


"Apaan sih!"


"Ya emang benerkan lo lagi pe-de-ka-te atau malah udah jadian. cie..."


"Jadian kepalamu, jangan kaya "Mapi" tar ditabok orang baru tahu rasa."


"Lo tu ngomong apa nggak ngerti gue, Mapi apaan sih?"


"Mak-mak tukang rumpi lupa suami."


"Hahahaha, ada-ada aja lo Kle."


"Terus gimana, kapan kita kasih tahunya?"


"Nanti kita kesana bareng biar entar kalau singa jantan kumat ada pawangnya, hahaha!"


Kleo lalu memukul lengan Rio,


"Pawang-pawang emang aku dukun apa."


Sampai dikantor Kleo langsung menuju mejanya. Banyak berkas sudah menantinya.


Kleo memanggil Luna yang menjadi staff kepercayaan Kleo.


"Lun, tolong kumpulkan rekap laporan keuangan dari semua perusahaan cabang."


"Baik buk akan saya kerjakan."


"Apa Kiki sudah berangkat?"


"Sudah bu,mau saya panggilkan."


"Iya!"


Kleo lalu menelfon Rio kalau dia akan mencari tahu dulu dari Kiki sebelum diberitahukan pada Betran.


"Maaf bu, anda memanggil saya?"


"Iya, silahkan duduk."


"Sudah berapa lama kamu kerja disini?"


"Empat tahun."


"Cukup lama, kamu pasti karyawan yang sangat setia, karena sampai sekarang kamu masih disini?"


Kiki mulai gelisah, mendengar pertanyaan Kleo.


"Ii...iya bu."


"Kamu sudah menikah?"


"Sudah."


"Sudah punya anak?"


"Sudah Bu?"


"Bisakah kamu jelaskan ini pada saya?"


Kleo menyodorkan berkas laporan yang tidak sesuai dengan laporan bagian pemasaran.


Kiki bingung dia diam tidak bisa berkata apa-apa.


"Sepertinya aku akan menyampaikan ini kepada CEO perusahaan, karena selisihnya juga tidak sedikit."


Kiki langsung bangun dari kursinya dan bersujud dikaki Kleo.


"Ampun bu, tolong jangan beritahu Pak Betran , saya bisa dipecat dan dipenjara. Aku hanya disuruh bu."


Kiki menangis bersimpuh dikaki Kleo.


"Katakan siapa yang menyuruhmu?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu bu, dia mengancamku, dulu dia sempat menculik anak saya, dia mengembalikan anak saya setelah saya memberikan salinan data keuangan perusahaan ini."


"Aku bisa saja membantumu, asal kamu mau bekerja sama."


"Tapi bagaimana dengan anak saya, saat ini dia selalu mengawasi rumah saya."


"Akan aku pikirkan caranya, kamu kembalilah bekerja dan ingat jangan berbohong padaku."


"Baik bu, terimakasih."


Kiki lalu pergi dari ruangan Kleo.


Seseorang datang mengantarkan makanan pesanan Kleo yang tadi diorder Kleo lewat aplikasi.


Kleo merasa pagi ini ada yang kurang. Dia merasa aneh.


"Kenapa seperti ada yang berbeda, tapi apa ya? entah apalah, yang penting aku mau sarapan dulu. "


Seseorang langsung masuk tanpa permisi. Dia menutup mata Kleo.


"Siapa?"


Tidak ada jawaban Kleo berusaha melepaskan tangan itu tapi tetap tidak bisa.


"Rio, awas kamu main-main denganku ya, aku sangat lapar jangan menggangguku, kujitak kepalamu nanti."


"Rio?"


"Astaga simonki, aduh gimana ini dia pasti mikir macem-macem lagi."


Betran lalu melepaskan tangannya.


"Maaf sayang aku nggak tahu, habis kamu ganggu aku."


"Memangnya bocah itu sering buat apa sama kamu."


"Tukan bener."


"Enggak sayang, nggak ada, disini kan cuma kamu sama Rio yang suka usil."


"Aku usil?"


"Yaampun gimana aku ngomongnya sama simonki ini kalau udah kumat emang susah dijelasin."


"Udah ah sayang jangan dibahas aku lapar ni, kamu nggak kasihan sama aku!"


Kleo memasang wajah memelas.


"Kamu bikin aku gemas!"


Betran menoel hidung Kleo lalu mereka sarapan berdua.


Betran bersin.


"Kenapa kamu sakit ya?"


Kleo menempelkan punggung tangannya di wajah Betran.


"Yaampun sayang badan kamu panas sekali. Gimana ini?"


Melihat Kleo panik Betran senyum-senyum sendiri.


"Kamu kok malah senyum-senyum sih, dasar aneh."


"Aku seneng kamu khawatir sama aku, itu artinya kamu perhatian sama aku.


Wajah kleo langsung merah seperti tomat.


Malu gays, ketahuan dia kalau nanana....haha


(Author)


Aku nggak papa ini cuma demam biasa."


"Haciii!"


"Demam biasa gimana!"


"Aku ke ruanganku dulu, jika nanti selesai dengan pekerjaanmu datanglah keruanganku."


Betran mengecup kening Kleo, hal itu sudah seperti rutinitas hariannya saja sekaligus menandakan kepemilikannya pada Kleo.


Setelah Betran pergi, gantian tak lama kemuadian Rio yang masuk.


"Gimana Kle tadi sama kiki?"


Kleo menceritakan pembicaraannya dengan Kiki tadi kepada Rio.


"Kasihan Kiki, jadi gimana ni?"


"Kalau udah kaya gini, Betran harus tahu, kalau nggak bisa dipanggang aku nanti."


"Hahaha, kamu takut ya sama dia?"


"Ya bukan takut, gue takut nggak dikasih gaji!"


"Mana bisa gitu kamu kan kerja?"


"Loe nggak tahu kalau dia kumat apa?"


Kleo teringat kejadian lalu percakapan tentang potong Leher. Dia ngeri sampai bulu kuduknya merinding.

__ADS_1


"Tapi menurutku dia nggak sejahat itu deh."


"Eh kenapa lo tiba-tiba berubah, jangan bilang lo suka sama dia ya?"


Rio masih penasaran tentang perasaan Kleo ke Betran.


"Apaan sih, dia sakit tadi kamu nggak disuruh beli obat ya?"


"Sakit apa?"


"Kayaknya dia mau Flu deh badannya demam!"


Rio mengernyitkan dahinya.


"Iya tadi dia kesini, dia bersin terus."


"Tumben dia sakit, biasanya kalau kaya gitu dia salah minum."


"Maksudnya?"


"Dia alergi es krim, tapi dia kan nggak pernah makan es krim, karena dia tahu kalau dia makan es krim pasti dia langsung sakit."


"Berati dia sakit karena makan es krim kemaren."


"Kenapa kamu nggak bilang sih, yaampun!"


Kleo langsung bangkit dari kursinya. Dia menarik Rio dan bergegas keruangan Betran. Mereka langsung masuk keruangan Betran.


Betran tidur disofa menggigil kedinginan padahal badannya sangat panas.


"Yaampun kenapa jadi kaya gini kita kedokter saja ya?"


"Nggak usah aku nggak mau kedokter."


Betran ternyata seperti anak kecil. Kleo dan Rio saling melihat, seolah saling bertanya bagaimana.


"Rio cepat kamu beli obat ke apotik!"


"Ya baiklah nona?" sahut Rio malas.


"Dasar singa, merepotkan saja, ini Sikleo juga sudah mulai ikut-ikutan kaya bos gila itu, mereka memang cocok ."


Kleo menyiapkan air hangat untuk mengompres Betran. Kleo merawat Betran diruangannya. Betran sangat senang karena dia merasa mendapatkan peluang untuk memenangkan hati Kleo.


Rio akhirnya datang, Kleo lalu memberikan obat itu pada Betran dan menyuruh Betran meminumnya, Rio sampai heran.


"Memang Kleo pawangnya, lihat itu dia jadi penurut dan tidak rewel seperti bayi hahahaha...."


"Ngapain kamu masih disini sana keluar."


"Buset baru semenit diam, udah kumat jiwa singanya."


Saat Kleo akan beranjak. Betran meraih tangannya.


"Bukan kamu sayang, tapi bocah itu, kasihan dia lihat kita!"


"Astaga simonki ini bisa-bisanya, orang lagi sakit bukannya diam, bikin malu aja."


"Ye...enak aja, dasar bucin."


"Ya...ya...ya.., gue Keluar."


"Eh tunggu dulu, aku tidak terima tamu hari ini siapapun itu."


Betran lalu menyuruh Kleo duduk. Dia menidurkan kepalanya dipangkuan Kleo.


"Ayo sayang lanjutkan mengompresnya!"


Mata Kleo membulat.


"Dasar bos mesum."


"Gimana aku bisa ngompresnya kalau kamu kaya gini?"


"Ya udah kamu pijit aja kepalaku, temani aku jangan kemana-mana?"


"Sayang ini kantor gimana nanti kalau ada yang melihat?"


"Kamu tenang saja ini kantorku, mereka nggak akan ada yang berani kesini?"


Kleo memijat kepalanya perlahan. Betran memejamkan matanya menikmati pijatan Kleo.


"Sayang, pekerjaanku sangat banyak,nanti aku kembali bekerja ya jika kamu sudah enakan?"


"Biar Rio yang kerjakan."


"Kasihan Rio pekerjaannyakan juga banyak."


"Jadi kamu lebih mentingin Rio daripada aku?"


"Yaampun, sepertinya aku salah bicara!"


"Bukan begitu sayang, iya iya aku disini, emang aku siapa, kamu kan bosnya."


Sahut Kleo yang sudah malas berdebat. Sedangkan Betran, tersenyum puas.


Pintu ruangan Betran tiba-tiba terbuka.


"Ceklek!"


"Makasih ya buat teman-teman yang sudah setia buat baca, jangan lupa like dan komen ya biar author semangat buat upnya."❤❤❤😉

__ADS_1


__ADS_2