
Lama Jessi termenung dibalkon rumah belakang. Rumah yang dibangunkan Fredy untuknya. Rumah mini berlantai dua itu sudah menjadi tempat Jessi sejak ia mengandung Jean.
Jessi sedang berfikir, mengapa anak buahnya tidak kembali dengan membawa Sonia, bahkan sudah berhari- hari mereka tak ada berita. Dikirimnya utusan baru kemarin, itupun tidak kembali pula.
" Mengapa semua pada menghilang bak ditelan bumi ya? Apa anak lelaki Almarhum Rendra lebih tangguh dan tidak seloyo dadynya, Kejamkah Boy, Apakah anak buahku sudah dilenyapkan nya ? " tanya Jessi dalam hati mengira Boy lah yang sudah menggagalkan rencana penculikan Sonia dan menahan anak buahnya.
Jessi tidak pandai sedikitpun kalau urusan bertarung, ia hanya mengandalkan orang, terus bertarung halus dengan bubuk, itu keahlian Jessi
selama ini.
Lamunan panjang Jessika, terhenti, ketika suara notifikasi pesan terdengar dari telfon genggamnya.
" Sayang, saatnya buka perban, sudah lima hari, datanglah kesini dengan taksi." bunyi pesan masuk yang baru saja Jessi buka.
" Baik aku datang dengan segera. " balas Jessi.
" Wajah baru, bagaimana kalau Fredy protes dengan wajah baruku? Dan malah makin menjauhiku?" Tanyanya bergumam.
" Ahhh, Persetan dengan tuan permana mau bagaimana, yang penting setelah ini aku tampil dengan wajah yang berbeda, aku akan menikmati rupa baruku. " Ucapnya menghibur diri. Lalu masuk kekamarnya berjalan menuju walk-in closet untuk mengambil pakaian ganti
Setelah berganti pakaian dan merasa rapi, iapun memesan taksi online melalui Aflikasi.
" Kalau anak buahku semua tidak ada yang becus, biar aku sendiri yang mencari Sonia, menyerahkannya kedalam pelukan Jean. Apa yang tidak bisa kulakukan, menjebak Fredy aku bisa, membunuh Nabila aku sanggup, menyingkirkan anaknya aku berhasil, bahkan melenyapkan ayah mertua tidak sulit." Ujar Jessi menyeringai, mengira semua usahanya selama ini sudah berhasil. Ia sungguh tidak tahu, hanya sebagian saja yang terjadi sesuai rencananya, yang lainnya sudah gagal total!
Ditempatnya, seseorang sudah menyalin dan menyimpan rekaman apa yang barusan Jessi ucapkan.
" Tak ada urusanku dengan tuan Permana, tapi suatu hari siapa tahu rekaman ini berguna. " Gumam seseorang, menyimpan OTGnya rapi dikotak pentingnya.
Jessi berangkat dengan taksi sesuai dengan janjinya dengan kekasihnya.
Hati Jessi berdebar tak karuan, membayangkan bakal seperti apa wajahnya nanti setelah perbannya dibuka.
Setelah putraku 21 tahun, aku akan melenyapkan tua Bangka itu, menidurkan putri Sonia dipelukan putraku, setelah itu mengatur pernikahan mereka." Khayalnya sembari berjalan melewati lobi klinik Hendra.
Setengah jam kemudian, Jessi sudah sibuk mengagumi wajahnya dicermin.
Sedang dokter Hendra tersenyum puas melihat kekasihnya senang dengan hasil karyanya.
" Makin menggugah Selera untuk making love " Bisik pria itu seraya menggigit kuping Jessi, lalu turun ke lehernya.
Hissss...Jessika mendesis panjang merasakan gelenyar yang mulai menjalar. Biasanya perempuan kalau sudah diatas 40 akan berkurang hasratnya, namun untuk Jessi malah makin menggebu. Mungkinkah itu pengaruh hasrat terlarang?
Melihat Kekasihnya sudah gelisah, Hendra segera menyeret Jessi keruang kerjanya. " Aku sudah rindu, sudah lima hari, bayar dulu baru pulang. " Ucapnya dengan satu tangan mengusap wajah Jessi yang makin cantik, sedang tangan yang lain sudah mulai merayap kemana- mana.
Henda mendorong tubuh Jessi ke hospital bed. Menekan tombol remot penutup pintu, lalu mulai bergerilya membuka pintu yang lain.
Bahkan tempat tidur klinik itupun turut menjadi saksi bisu perbuatan mereka.
__ADS_1
Andai Jessi tidak serakah, apa salahnya ia dengan Hendra menikah, tanpa menjebak tuan Fredy. Toh Hendra tidak memiliki wanita lain selain Jessi, dan Hendra sudah menyukainya sejak Jessi masih bekerja sebagai seorang Barista, dimasa wanita ini memberi obat perangsang untuk Rendra. Tapi Hendra tidak memiliki kekayaan dan ketampanan seperti Predy permana. Itulah mengapa Jessi lebih memilih benih Fredy.
Justru karna alasan inilah lelaki ini memilih spesialisasi bedah plastik, Untuk bisa merubah bentuk wajahnya.
Hendra berhasil memperbaiki kekurangan wajahnya dengan operasi, hingga akhirnya Jessi sendirilah yang mendatangi ranjangnya.
_________________
Sementara Sonia yang merasa rindu pada kedua orang tuanya, kangen pada kakek Tiono dan Sedih sampai hari ini belum menemukan kejelasan tentang dimana tambatan hatinya.Sekedar untuk mengalihkan perasaannya, ia mendatangi kamar nenek Yumi.
" Nek, Mimi tidur ditempat nenek ya. " Tiba- tiba Sonia menyentuh pundak nenek Yumi yang lagi berdandan setelah mandi sore.
Mata tua nenek Yumi mendelik tak yakin. Sipitnya itu membulat lebar.
" Are you serious? " tanya sang nenek berbahasa Inggris tapi pengucapannya tentu lucu, karna lidah nenek sudah tak
selincah dulu.
Sonia mengangguk. " Ya, Mimi lagi galau dan pengen ada teman bercerita. " Ujar Sonia dengan wajah mayun.
Nenek Yumi menatap mata Sonia dari pantulan cermin hias, mencari kebenaran dari sorot mata indah gadis itu. " Sayang, mau cerita apa sama orang tua yang sudah bau tanah, kan ada tu sohib barunya siCeyri. " Nenek Yumi teringat kalau Cery sudah mulai berteman dengan Mimi.
" CK, kalau nenek tak Sudi ya ngak usah ngusulin yang lain , biar Mimi tidur dikamar saja. Perempuan muda itu mendecak dengan ekspresi wajah yang cemberut.
He...He..." Tentu nenek senang Cucu tidur
He...He.." Maksud nenek Mimi PHP Aliyas pemberi Harapan Palsu! Mana ada Mimi begitu! " Sorak Sonia sembari memutar kursi roda nenek Yumi menghadapnya.
" Ngak asyik Mandang dicermin, lebih enak Mandang langsung." Ujarnya lagi.
" Bilang saja ngak kuat saingan dengan wajah Glowing nenek. He..He..." Nenek Yumi terkikik sampe liurnya menyembur.
Soniapun turut tertawa, walau mukanya terkena semburan air liur gigi karatan sang nenek, tapi Sonia tidak mengusap mukanya.
" Sayang,...maaf ya, cuci muka sana gih, ntar wajah Mimi bau Iler kedaluarsa. " Gumam nenek Yumi. Nenek itu ingin mengusap pipi Sonia yang terkena semprotan liurnya dengan wajah sesal.
Namun Sonia menepis lembut tangan nenek Yumi lalu tersenyum menggoda. " Belum ada yang akan cium- cium ni pipi, jadi tak apa bau terasi dikit, ntar kalau wuduk, kan otomatis bersih. " Jawab Sonia enteng.
Nenek Yumi tersenyum malu. " Baiklah... terserah, nenek tunggu siap Isya ya, Awas PHP , kalau PHP ntar nenek mati, gentayangan dan gangguin Mimi ! " Ujar nenek Yumi.
" Kan Mimi punya doa penangkalnya, paling nenek repot cari kursi roda untuk kabur. " Balas Sonia bercanda.
Kemudian mereka tertawa, hingga mata nenek Yumi melotot.
" Ada apa nek? " tanya Sonia khawatir.
" I- ini meledak, perawat nenek lupa pakaikan popok, jadi ngalir. " keluh Nenek Yumi gugup.
__ADS_1
" Biasa aja lagi nek mukanya, biar Mimi beresin, namanya juga sarung melar. "Ucap Sonia , lalu mendorong nenek kekamar mandi, untuk mencuci lupis penyetnya.
Perawat nenek Yumi tiba ketika mereka sudah keluar dari kamar mandi.
" Maaf nona, saya lupa memakaikan popoknya. " Ujarnya kemudian mengambil kain lap basah. Lalu perawat itu mengepel genangan pipis sang nenek, tanpa memanggil OB. Sejak ada Sonia atau Mimi tak ada lagi pegawai panti yang pilih - pilih kerja.
" Lain kali jangan cerobah kak Tuti, nenekkan jadi insecure." Ujar Sonia menatap tajam Tuti.
Perawat itu mengangguk patuh.
" Tatapan matanya tiada beda dengan nona muda. " Batin perawat itu.
Sekarang sudah saya pakaikan popoknya. " Ujar Sonia tak membiarkan Tuti memikirkan dirinya.
" Um..Terima kasih. " balas Tuti.
Setelah pamit Sonia kembali kekamarnya.
Malam ini Sonia tidur dengan nenek Yumi, setelah mengalami banyak kejadian akhir- akhir ini, Sonia semakin kangen pada kedua orang tuanya. Hingga
kalau tidak kembali kerumah, ia akan tidur didekat nenek yang diinginkannya.
Tiada yang tidak senang dengan kedatangan Mimi menjadi kawan bercerita, apalagi gadis itu pandai mendongeng dan bernyanyi.
Sebenarnya sonia tak pernah jadi curhat pada mereka. Justru Sonia menjadi pendengar yang baik tentang kenangan masa muda para lanjut usia itu, khayal yang tertinggal, serta keinginan yang masih menggebu namun terbatas oleh tubuh yang sudah lemah.
Sonia selalu pandai merayu, ketika mereka merajuk, mengingat diri yang sudah dilempar kepanti karna sudah tiada berdaya lagi. " Kalau mereka menjaga nenek dirumah, bagaimana bisa berkenalan dengan Mimi sigadis paling manis, dan mana mungkin bertemu Nona Sonia, putri pemilik panti yang punya hati seputih salju. " Ujar Sonia menyembunyikan senyumnya, karna malu sudah memuji diri sendiri untuk menenangkan mereka.
" Sayang, cincinnya sangat bagus, Mimi sudah punya tunangan ya? " tanya Nenek tak sengaja menyentuh tangan Sonia.
" Hummmm, ya Nek. " Jawab Sonia. Nenek Yumi terkejut, ia menatap Mimi. Lalu ia menggelang- gelengkan kepalanya, karna ternyata gadis itu sudah
terlelap. " Bahkan dalam tidurpun masih merespon ucapan orang tua sepertiku...Putrimu memang istimewa dan langka Nyonya, semoga masa depannya selalu dianugrahi limpahan keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin..." Gumam nenek Yumi.
Sementara ditempat yang lain kakek Tiono membeku ditempat tidurnya, ketika Frem memeluknya dalam tidur sambil mengigau. " Sonia...Sudahkah dipakai cincin pemberian Seno?
Gimana kakek tidak terkejut mendengar cucunya menyebutkan nama itu dalam tidurnya, nama yang dirindukan oleh Tiono.
" Apa yang sudah ia lakukan? hingga memiliki telfon saja aku tak boleh? " tanya Tiono heran. Apa gadisnya sama? Kakek itu bertanya lagi.
Matanya membulat lagi, ketika Frem mencium pipinya dengan lembut, lalu meraih tangan tuanya dan mengecupinya.
" Mulai besok tak mau tidur lagi denganmu! " keluh Tiono karna kemudian Frem mengapit pinggangnya dengan kedua kakinya yang panjang.
" Jangan sampai kau mimpi basah juga, sambil memelukku ya anak muda brengsek! Akan kubalas memipisimu! " teriak kakek Tiono. Tapi Frem tak juga bangun. Pria itu masih tersenyum melakukan apapun dengan mata terpejam.
Next.... four years later Empat tahun Kemudian
__ADS_1