
Akhirnya pernikahan yang diharapkan dilangsungkan dirumah Utama. Setelah sebelumnya sempat terjadi perbedaan pendapat mengenai lokasi pernikahan. Sonia ingin menikah dipanti, disaksikan keluarga barunya selama ini, sedang Tuan Bhalendra tentu tidak mau membiarkan adik bungsunya menikah diluar istana mereka.
" Cukup sudah selama ini Abang membebaskanmu Sonia! Untuk ini sebelum menikahkanmu,kaumasih dalam kuasa dan tanggung jawabku,setelah ijab Qabul terserah padamu, mau bagaimana selanjutnya dirimu terserah suamimu! " Pangkas Boy menatap adik kecilnya dengan tatapan menghujam.
" Lama hidup diluar membuatmu merasa kami seperti orang asing." Timpal Bella.
" Bukan begitu kak, aku hanya_ Sonia tidak mampu melanjutkan alasannya, menilik mami Anjani dan papi William menatapnya dengan tatapan penuh permohonan.
" Tolonglah Nia...Demi papi dan mami dan kelanggengan pernikahanmu kedepannya jangan berbantah sebelum menikah. " Begitu Sonia mengartikan makna tatapan kedua orang tua itu. Walau mereka tidak mengatakannya langsung, tapi Sonia kemudian terdiam setelah membalas tatapan mereka.
" Baiklah...Aku akan menikah disini, diruangan dimana aku kehilangan kedua orang tuaku bersamaan. Hiks....hiks..Sonia tidak bisa lagi menutupi perasaannya. Tangis didalam hatinya selama bertahun ia tumpahkan diruangan Jamaah keluarga besarnya itu. Rapat keluarga sehabis Taraweh itu, berujung dengan airmata.
Boy pergi meninggalkan ruangan itu dengan mata berkaca. Semula ia tidak terfikir kesitu tentang penolakan adiknya, ia hanya berfikir adiknya terlalu berani menantangnya. Melihat airmata yang mengalir bak air bah itu, hati Boy sungguh pilu.
" Maafkan Abang Nia, tidak berniat membuatmu sampai menangis." Batin Boy.
Yang lain melangkah keluar mengikuti langkah tuan besar keluarga itu. Tidak terkecuali kedua tuan muda yang tidak tahan melihat airmata Mimi mereka.
Anjani cepat- cepat datang kesisi Sonia,memeluk tubuh mungil kesayangannya itu. " Tumpahkan segala rasa sakit yang selama ini tertahan sayang, jangan meninggalkannya untuk hari depanmu. Sebab mami mau kedepannya kamu jadi Sonia yang kuat dan gembira, mampu bertahan dalam setiap kondisi, siap menghadapi semua masalah dalam hidup sebagai seorang istri, rekan hidup dan ibu dari anak- anakmu kelak. Jangan membawa luka ini lagi kerumah tanggamu, sebab kau akan menjadi obat bagi suamimu, maka untuk menjadi obat yang baik kau harus pas pada takaranmu, hingga tidak berubah fungsi menjadi racun. " Ujar panjang Anjani sembari mengusap- usap lembut punggung Sonia. Airmata keduanya bercucuran, tapi airmata Sonia sudah membasahi pundak Anjani.
" Apa yang mami lihat dari wajah calon suami Nia mami, hingga Nia harus bisa jadi obat???" tanya Sonia dengan kedua alis hitam lebatnya yang menaut. Sonia menatap mata tua didepannya dalam- dalam setelah mengurai pelukan mereka.
" Dendam dan luka yang dalam Nia... Nia akan masuk dalam kehidupannya, perlahan mengobati luka itu. Hingga berangsur dendam itu berkurang seiring sembuhnya luka. " Ucap lirih Anjani.
Sonia kembali menghambur dalam pelukan Anjani
" Kalau begitu mengapa tidak mencegah putrimu menerima pria itu? Bukankah itu sulit?"
"Cukup sulit... tapi mami melihat mata pria itu sudah membutuhkan putri kami sejak dari TK. Mami bahkan memperhatikan dengan jelas saat kepergian pria kecil itu dengan terpaksa bersama para pengawalnya 15 tahun lalu. Tatap mata anak yang sangat memprihatinkan, yang menggantungkan harapan pada seorang gadis kecil, mata yang tidak percaya pada dunia itu, sangat berbinar melihat gadis kecil kami, tegakah seorang ibu menghapus harapan dari anak, karna kasih terhadap anak yang lain? Seorang ibu seharusnya adil sayang..Mami berusaha untuk adil pada anak itu, karna melihat Nia juga menyukainya."
He...He...Sonia mengusapkan airmata dan ingusnya kebaju Anjani. " Ini hukuman untuk mami, Mata mami begitu penuh selidik, tapi,mami diam- diam menyembunyikan pandangan ini bertahun- tahun. Sekarang kedapatan memikirkan pria lain selain papi, dan menyayangi anak lain selain kami." Goda Sonia seraya menatap William yang masih duduk bersandar disudut ruangan, menunggu istri membujuk putri kecil mereka.
Mendengar tawa Sonia, hati Anjani lega, walau bajunya basah oleh airmata dan ingus, ia tidak peduli. Anjani menatap sekeliling." Ternyata tinggal kita bertiga diruangan ini, Ayo kekamar dan istirahat sayang, tiada yang benar- benar lebih menyayangimu selain mami dan papi..." Ucap Anjani terdengar sedikit memprovokasi.
" Ya, mereka takut salah komen nanti mami mengamuk. " sahut Sonia.
" He...He...tentu! karna mami dan papi tak mau putri kami yang secantik dan sebaik ini, masih saja ada yang berani berkata sinis! " Timpal William sembari berdiri.
" Besok seharian nyalon dengan mami ya. Ini ambil kartunya, papi ingin menanggung Sonia, sebelum esok tanggungan itu berpindah kepundak pria itu. " Ucap Wiliiam lagi, mengulurkan black card pada Sonia. Sonia tidak menerimanya langsung, tapi menatap Anjani. Anjani segera menarik kartu itu dari tangan Willi." Besok kita akan bersenang- senang sayang. Jangan khawatir, Aku akan mengembalikan putriku pada wujud aslinya besok sebelum menjadi ratu dikerajaan pria itu. " Ujar Sarkas Anjani seraya menyerahkan kartu itu pada Sonia.
" Mami- " Pekik Sonia tertahan. Tapi tangannya tetap menerima kartu itu.
" Makanya jadi anak perempuan itu mesti suka merawat diri sesekali, ini terlalu sibuk mengurus orang, tubuh sendiri dibiarkan berubah wujud. " Sanggah Anjani.
Sonia memeluk pinggang Anjani seraya menariknya pergi. Sedang papi William mengikuti langkah mereka dari belakang.
" Terserah mamilah ngatain apa, giliran orang lain yang ngatain Nia, mami marah. " Ucap Sonia mengalah.
Anjani menahan langkah dan berbalik." Sayang...sabar semalam lagi ya, bidadarimu masih ingin tidur ditempat putrinya. " Ujar Anjani.
Wiliiam menggedikkan bahunya pasrah.
" Dengan papi saja tidurnya mi...Jangan sampai papi demam rindu pada mami, Sonia tak kuat merawat papi, kan mau nikahan." Balas Sonia membujuk Anjani. Sudah beberapa malam sejak Sonia kembali kerumah ini, Anjani selalu tidur dengannya.
__ADS_1
" Baiklah..mami menurut deh...Jangan lupa tidur pake selimut, pasang anti nyamuk dulu." Ujar Anjani mengingatkan.
" Oke, mami sayang..." Sonia mendaratkan ciuman dipipi Anjani, sebelum berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
-
-
-
Sonia bermenung menatap langit -langit kamar." Semoga Nia bisa, walau mungkin ini tidaklah mudah. Apalagi begitu ia tahu Sonia punya kartu As wanita itu, apa reaksinya dikemudian hari? " Gumam Sonia sebelum memejamkan matanya.
Sementara Frem dipanti juga termenung, sembari golek kiri golek kanan. Para pengawal yang melihat bos mereka resah tidak berani berkomentar.
" Mungkin calon pengantin memang begini." Fikir mereka. Orang- orang itu terus melanjutkan aktifitas menonton dengan Volume berbisik, takut mengganggu penghuni lainnya.
Tinggal beberapa jam lagi pernikahan kami, tapi calon istriku tidak meminta apapun, bahkan ditelfonpun HPnya sering tidak menyambung,
apa orang yang jiwa sosialnya tinggi memang tidak bisa berfokus pada seorang saja ya? " fikir Frem.
****************
Sonia menatap pantulan wajahnya dicermin, senyum dibibirnya mengembang. " Putri mami sudah benar- benar berubah Wujud! " Sorak Sonia yang membuat juru riasnya mengernyit.
Sedang Nabila langsung protes.
Jelas- jelas Mimi kami cantik dari Sononya. " Ucap gadis belia itu.
" Apa Onty Nahda bilang gitu ya Naila? He...He...Sonia terkekeh mendengar ucap lebai Anak mantan Asisten pribadi Daddya ini.
" Iya sayang...Cepatlah...Asisten calon suamimu sudah sibuk menghubungi telfonmu. Bisa jadi Frem khawatir Sonia lari dari pernikahan ini, karna belum juga turun sampai detik ini. " Ujar Anjani
menilik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Sonia tersenyum." Baiklah...Ayo Bila, Naila dan Neha, sekalian kalian dampingi aku. " Ajak Sonia
sembari menggamit tangan Anjani.
Nabila, Perias dan asistennya Sonia mengangguk dan mengikuti langkah pengantin yang sangat mempesona dengan balutan kebaya jerik putih dengan bawahan selendang kotak hitam Gold.
Penutup kepala putih dengan Tiara indah berahtakan berlian Asli, menambah cahaya wajah indah Sonia.
-
-
" Nia! " Panggil sebuah suara yang membuat dada Sonia berdegup tak karuan.
Frem menatap Sonia yang sudah duduk disisinya
cukup lama. Dari jarinya yang lentik, bentuk tubuh yang mungil tapi berisi, dada yang penuh, hingga pada wajahnya yang sangat sempurna. Ini hari pertama Frem melihat Sonia dengan balutan yang lebih ketat.Membuat pria itu tak sengaja menelan salivanya.
" Kau kira dengan memandanginya saja kau sudah bisa memilikinya! " Sergah sebuah suara tua membuyarkan khayal Frem tentang bidadari disampingnya.
__ADS_1
" Kalau mau segera khalalkan adik ipar, kalau tak sanggup biar aku saja." Timpal suara satunya lagi.
Ger....Hadirin tak dapat menahan tawa. Sedang Sonia sudah berubah merona. Dan Frem beralih menghujam kakek Hannya dengan Sorot tajam.
Sedang yang dipandangi berlagak tak tahu saja.
" Bersedia menikahkan adiknya dengan anak muda ini Tuan Bhalendra? " tanya pak penghulu memusatkan kembali perhatian semua.
" Bersedia pak penghulu. " Jawab Boy seraya mengulurkan tangannya pada Frem.
" Nak Seno siap?
" Siap pak! " Sahut Frem mantap.
" Sonia mau dinikahkan dengan nak Seno Fremudya Permana?" Tanya pak penghulu beralih pada Sonia.
" Ya..pak penghulu. " Jawab Sonia setelah terdiam sejenak.
Frem menarik nafas lega, sebelum menjabat tangan Boy. Detik berikutnya akad nikah dimulai.
Tidak butuh menghabiskan banyak waktu bagi kedua raja bisnis beda generasi itu untuk mengucapkan ijab Qobul Sonia.
" Syah...." Seru para saksi disertai ucap Syukur semua hadirin.
" Akhirnya Syah! Selamat Bos..." Ucap Wafi dan Edi
bersamaan seraya menyalami Frem setelah acara penanda tanganan dilakukan.
" Simpan berkas ini, berikan bila istriku memintanya." Bisik Frem pada Wafi.
" Oke Bos...." Balas Wafi.
Lalu Acara makan bersama pun dilangsungkan.
Nabila menunduk dari tadi, bahkan nasi yang ditelannya sangat kesat ditenggorokan. Gadis belia
itu benar- benar canggung satu ruang dengan lelaki yang mendebarkan hatinya, dalam pengawasan mata tajam sang bunda.
Lain dengan pria dewasa itu, ia terlihat bagai tak mengenal siapapun selain Bosnya.
" Apa Jean tak datang la? tanya Sonia menatap Ella yang datang dengan didampingi Edi.
" Tidak sayang...Karna kakak ipar tak datang di pernikahan kami, maka suamiku cemberut. " Ujar Ella.
" Maaf...Aku benar- benar sedang dipingit saat itu. " Balas Sonia sembari memeluk Ella dengan perasaan bersalah.
" Bukan karna itu, aku hanya bercanda, adik iparmu masih ngantuk, tubuhnya masih lemas, aku saja tidak disentuh- sentuh, semoga kakak ipar bisa segera menggarapmu, tidak seperti adiknya yang lebih senang tidur. " Ujar Ella gamblang seraya curi pandang pada Frem.
" Suut...untung ia jauh, kau ini. " Sonia menilik suaminya yang sedang sibuk berbicara dengan Guru dan teman-teman TK mereka yang turut hadir memenuhi undangan.
" Masih takut ya? tanya Ella.
" Uhuk...Uhuk...Sonia terbatuk karna Frem sudah menyentuh pundaknya.
__ADS_1