
Frem menatap Mimi yang sedang duduk menunggu dikursi makan panti paling
pojok. Melihat Frem, Wafi dan kelima anak buahnya mendekat, Mimi segera berdiri. Mata Frem menatap Mimi, kemudian beralih pada makanan yang sudah tertata baik dimeja makan. " Kamu-".
Frem tidak melanjutkan katanya, melihat senyum Mimi dan mata gadis itu tanpa kaca mata . bibir frem mendadak kaku." Ya Tuhan! apa yang Wafi katakan ternyata benar, perempuan tiga nama ini memang matanya sama." Sorak Frem dalam hatinya.
Ruang makan jadi hening, seorangpun tiada yang berani bekomentar ketika melihat sang big Bos menatap intens wajah Mimi.
Tiba- tiba Mimi meraba matanya."Astaga, ternyata aku lupa memakainya. " Batin Mimi, ia menjadi sangat canggung, apalagi Frem terus menatapnya tanpa berkedip.
Deg
Deg
Deg
Ada riak- riak kecil yang menggoncang dada Mimi, membuat Bibir mungilnya terasa berat untuk berkata. Sedang Frem tidak riak kecil lagi, didalam dadanya sedang memukul- mukul gendrang perang.
" Cincin itu begitu pas dijarinya, Jari tangan itu juga sangat imut, Warna jari dan tangan yang tidak sesuai dengan kulit wajahnya yang hitam manis. Apa yang kau lakukan gadis nakal? untuk apa kau melakukan penyamaran segala, dari siapa kau sembunyikan wajah aslimu? " Frem terus bertanya dalam hati. Ah, tidak, apa aku sudah gila, membayangkan gadis itu sebagai Sonia."
" Duduklah tuan- tuan, ini hidangan yang sederhana, tapi saya rasa akan cukup untuk mengganjal perut menjelang pagi tiba. Jangan ragu, makanannya terjamin
higienis, koki kami tidak kalah dengan koki Resto. " Ucap Mimi setelah susah payah akhirnya berhasil juga membuka mulut karna sudah banyak- banyak nyebut.
" Ayo bos! Nona Mimi sudah sangat ngantuk, matanya sudah mengecil karna ingin segera istirahat, sebaiknya kita tidak terlalu banyak menyita waktu istirahatnya." Ajak Wafi, seraya menarik kursi untuk Frem. Frem menurut duduk, tapi tatapan matanya beralih menatap tajam kearah Wafi.
" Aduh, ternyata salah pula aku, sudah berani menilai Miminya itu." Sekali lagi Wafi menyesali kelancangannya dalam hati.
" Tidak tuan Waf, mata saya memang tidak begitu lebar. He...He..." Mimi mencoba tertawa kecil untuk mengurangi kecanggungan.
" Maaf juga nona Mimi, saya juga hanya berniat menggoda Bos kami, sejak kejadian tadi sore kulihat ia masih kefikiran. " Balas Wafi yang tak urung dapat pelototan dari Frem, namun kemudian disusul tawa kecil.
" He...He...Cukup memacu andrenalin, saya juga harus mengganti Toyota Alphard milik Cucungut ini, yang ia dapatkan dengan susah payah mengumpulkan gajinya selama bekerja dengan papi." Ujar Frem sembari curi pandang pada Mimi.
" He...he...Ya, sambutan yang cukup extreme untuk seorang CEO baru, rupanya ada yang ingin coba- coba menguji nyali pimpinan baru." Balas Mimi dengan tersenyum.
" Uji nyali berujung maut! " Sela Wafi tersenyum ngeri. Tapi dihatinya senang, melihat Bosnya bisa tertawa. " Nona Mimi gadis ajaib, bukan cuma para kakek nenek yang senang padanya. Bahkan Bos
dingin kami bisa tertawa didepannya. " Kagum Wafi curi pandang pada Mimi.
"Aaaaaaak." Muka Wafi memerah menahan sakit, ketika Frem menghentak kakinya di bawah meja.
Semua menatap kearah Wafi, kecuali Frem. Wafi cepat - cepat tersenyum.
__ADS_1
Kakiku kepocong. " Bohongnya.
Semua manggut- manggut.
.
" Sudah, lupakan yang tadi sore, saatnya isi energi. Ayo! " Ajak Mimi dengan tersenyum riang, lalu mulai mengisi Delapan piring dengan nasi putih.
" Kalau untuk kawan nasi, silahkan pilih sesuai selera masing- masing. " Ucap Mimi sembari menyodorkan piring kedepan masing- masing. Dua orang pelayan lelaki datang dari dapur, mengantar mampan berisi semangkok besar sayur hijau, dan yang satunya membawa mangkok ayam bakar, dan sepiring sambal cabe ijo.
Sian menelan salivanya, melihat dan mencium aroma masakan yang nampaknya masih hangat itu, yang lain juga tidak kalah ngiler.
" Silahkan dinikmati hidangannya tuan muda Permana dan semua, semoga makan malam sederhana dipanti kami jadi makan malam yang mengesankan. " Ucap Zidan pelayan yang paling muda dan gagah, sedang mata pria itu malah tidak lepas menatap Mimi.
Deg.
Entah mengapa Frem merasa kesal, marah dan ada rasa ngilu dihatinya, ketika Zidan menatap Mimi dengan tatapan berbeda, Frem merasa sakit hati dan ingin melempar mata lancang Zidan dengan sepiring sambal.
" Busyet! Awas matamu pelayan! Urus saja hidanganmu. " Batin Frem seraya balas menatap Zidan dengan tatapan mengintimidasi.
Zidan yang tidak mendapat senyum sedikitpun dari tuan muda Permana, setelah capek menyapa dan beramah tamah hatinya bergidik." Kok jauh beda dengan kakeknya, ni orang pasti kurang bahagia masa kecil nich, sampe senyum saja pelit. " Celetuk Zidan dalam hati. Ia tidak menyadari kesalahannya.
Merasa tidak berbalas, Zidan lalu memilih untuk menunduk hormat, yang diikuti oleh rekannya. " Mungkin dia kurang faham bahasa sini. " Zidan berbaik sangka. Setelah melihat orang mulai mengisi piringnya dengan berbagai
Semua hening menikmati makanan masing- masing. Mimi juga turut makan menemani. Tak ada suara, hanya sesekali saja denting sendok yang tak sengaja berbentur piring.
" Besok keluarga nenek Yumi akan membawa semua barang peninggalan Almarhum nenek Yumi, kakek Han bisa tinggal dikamar itu, tidak perlu berbagi kamar lagi dengan kakek Tiono. " Ujar Mimi sehabis melap bibirnya dengan tisu.
" Mhem, baiklah. " Jawab Frem pendek.
Tepukan Mimi mendatangkan pelayan, beberapa orang berseragam biru muda datang untuk mengembalikan piring- piring kotor kedapur. Wafi dan pengawal Frem yang sudah sangat capek dan mengantuk, apalagi setelah makan besar, segera beranjak meninggalkan meja makan, tanpa melihat Bos mereka yang masih duduk terpaku menatap Mimi yang mulai sibuk membantu para pelayan beberes.
Dalam tiga menit meja sudah kosong.
" Kita pergi ya tuan..." Mereka ingin menyapu dan mengelap meja." Ajak Mimi
lembut, takut menyinggung Frem sebagai
tamunya malam ini.
" E- Eh Iya...Ayo! " Frem pun berdiri dan melangkah mengikuti Mimi.
Ketika Mimi ingin memasuki kamar kakek Tiono, Frem menarik tangannya.
__ADS_1
Deg
deg
Hati mereka berdua kembali bergetar, tatkala mata mereka beradu pandang.
Frem tak segaja meremas tangan Mimi dan membawanya kedadanya, sebenarnya Mimi ingin melempar Frem yang sudah berani menyentuhnya dan memainkan Cincinnya, tapi entah kekuatan apa yang ada dalam tatapan mata cucu tertua kakek Tiono ini, sehingga Mimi merasakan tubuhnya lemah dihadapan pria ini. Perasaan aneh menggerogoti hatinya, getar- getar hangat mengaliri aliran darahnya.
" Dima- ". Kedua orang itu membuka mulut bersamaan, dengan pautan tangan yang belum terlepas.
" Kamu yang duluan! " Titah Frem. Meminta Mimi menyelesaikan kalimatnya.
" Gimana? Apa tangannya masih sakit? " Tiba- tiba Mimi meniupi tangan Frem, membuat pria itu merasakan debaran dihatinya kian kencang, sentakan- sentakan listrik mengaliri darahmya yang semula dingin menjadi panas. Muka Frem memerah dengan tatapan mata sayu, mengarah pada bibir kecil gadis yang dengan lancang berkedut cantik didekat punggung tangannya. Sejenak Frem melupakan tujuannya mencegat Mimi, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah gimana caranya meremat bibir lancang itu, merasakan manis atau pahitnya bibir berwarna merah muda alami itu. Frem kian mendekat, wajahnya menunduk dan hampir mendekat kewajah Mimi yang masih asyik meniupi tangan frem yang memang sedikit mengeluarkan darah merah bercampur darah putih. Gadis itu tidak sadar, Frem akan mendaratkan ciuman padanya.
Ceklek
Pintu terbuka, mereka terlonjak kaget, mengurai segalanya.
Didepan pintu muncul kakek Tiono dengan senyum tanpa dosa. " Cepatlah istirahat sayang, besokkan mau cepat pergi kerja. " Ajaknya pada Mimi, seperti tidak pernah melihat adegan apapun.
" Tidak! Mimi biar tidur dikamarnya saja, kami tidur dengan kakek. " Ujar Frem dengan nada kesal.
" Tidak bisa! Kakek Han mu sudah mendengkur, kau kesana saja." Tolak Tiono.
" Kakek tidur dengan kami, ada yang mau kutanyakan." Pinta Frem lagi.
" Tidak! Kakek ngak mau Mimi tidur berduaan saja dengan kakek Han. " Tolak Tiono lagi.
Kalau begitu kami yang disini, Biar Mimi kembali kekamarnya. " Ujar Frem.
" Terserah." Tiono mengangkat bahu, lalu
masuk kedalam, meninggalkan Frem yang masih berdiri.
Frem melangkah besar menuju kamar Mimi. Matanya membulat melihat semua sudah pada bersusun diatas tempat tidur Mimi dengan telanjang dada. Suara dengkuran mereka, memenuhi ruangan.
Frem menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan putus asa. CK, Frem mendecak kesal dan ingin membangunkan mereka dengan kasar. Tapi ia teringat kembali kejadian hari ini.
Dengan langkah gontai ia pergi kekamar mandi. Setelah cuci muka, Frem mengambil kasur lipat dan mencoba berbaring disana dengan berbantal Jaketnya, karna semua bantal sudah dipakai.
Kacian Bos....
Bersambung...
__ADS_1