
Frem merasa terlihat sangat bodoh sudah menggedor pintu." Bukankah aku memasang Mini Camera pada mata cincin kembar kedua kakekku, lama- lama bersama dengan orang tua, aku ketularan pikun juga." batin Frem mengumpati dirinya dalam hati.
Frem kemudian bersandar dipintu seraya mengusap telfon genggamnya.
Berkali ia membuka sambungan IPC namun hanya layar gelap yang ia dapatkan. " Rumah sakit apa ini?.
Kenapa dokternya mengunci diri dengan pasiennya? Bahkan kameraku yang kupasang pada kedua kakekku juga tidak berfungsi, apa yang dilakukan oleh dokter itu pada papi, sekarang kedua kakekku pula ia kurung. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus cari tahu kebenarannya. Tenanglah Frem, kau harus tenang biar bisa berfikir. " Ucapnya lirih setelah berdebat dengan hatinya sendiri.
Sedang, kelima Pengawal Frem bingung, mereka tidak bisa berbuat apapun tanpa perintah, bagaimanapun juga mereka tetap turis dinegri ini. Hanya Boslah yang merupakan Warga Negara Asli. Mereka menatap Bos mereka seperti anak- anak harimau yang siap diajarkan berburu oleh
induk mereka.
Frem mengejar perawat yang sudah jauh dari pandangan, dengan langkah kakinya yang panjang, kemudian ia mencegat kedua perawat itu. " Kenapa dokter meminta kalian keluar, dan dokternya mengapa masih didalam mengunci diri dengan pasiennya, apa begini etika dirumah sakit ini? " tanya Frem dengan tatapan mengintimidasi kedua perawat itu.
" Seorang perawat tersenyum manis, mencoba menarik perhatian Frem. " Ini Kayaknya Bos tampan masih jomblo, terlihat dari wajahnya yang kaku dan datar. " Batin perawat itu kebesaran nyali.
" Hey! Ditanya kok malah cengengesan? Dengar tidak! " Hardik Frem, membuat gadis itu memucat.
Patah, gugur dan berserakan bunga yang baru ingin mekar dihati gadis itu.
" Eh...I- ya Tuan, didalam dokter pemilik rumah sakit kami, anda tunggu saja sebentar, kakek anda pasti aman, tadi sudah sadar kok. " Ujar seorang perawat yang lebih berumur. Sedang yang tadi coba Caper sama Frem tertunduk seperti kucing yang habis dijentik kupingnya.
Frem menatap kedua perawat itu tajam
" Pemilik rumah sakit? Semuda itu?Kalian bukan perawat samaran kan? " tanya Frem dengan mengendus- endus kedua perawat itu, seperti seekor kucing yang sibuk mencari ikan asin dipemanggangan.
" Perawat samaran? emang lagi main film? " Tanya mereka hampir bersamaan.
Gadis yang baru patah hati kembali bernyali mendengar pertanyaan konyol Frem.
Baru saja Frem membuka mulut untuk memprotes kedua perawat yang sudah berani meledeknya, telfon Frem berdering. Melihat telfon itu dari Wafi, Frem segera mencari tempat yang aman untuk menjawab telfon, lalu menyambungkan panggilan.
Sedang kedua perawat tersenyum lega. " Akhirnya bebas. " Ucap mereka lirih, saling pandang dan tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya memeriksa pasien keruang rawat yang lain.
" Kenapa kau ikutan pergi! Yang kusuruh Jean saja yang pergi Kampret! papi menghilang! Bagaimana bisa kau memilih rumah sakit baru seperti ini tempat melarikan papi untuk diobati Hey? Papiku sampai hilang!" Frem langsung menghajar Wafi dengan bermacam pertanyaan dan Umpatan.
Wafi tersenyum disebrang telfon, mencoba bersikap tenang seperti yang sudah disarankan tuannya.
" Tuan Permana sudah sehat dan aman tuan muda, ia dibawa kekota Bandung, barusan ia menelfon. Jangan heran kalau ada berita heboh ditelevisi , semua itu rencana tuan besar.
Esok akan diangkat Fresiden Group yang baru, Tuan yang beliau tunjuk untuk menggantikan tuan besar. Tuan Jean barusan kembali kerumah utama. Disana akan ada kejutan besar untuk mereka. " Jelas Wafi berbicara sebijak mungkin.
__ADS_1
" Ja- di Papi?
" Ya tuan memang diracuni, tapi ia tidak meminumnya, Ia bekerja sama dengan pelayan, serta orang yang pernah berurusan dimasa lalu dengan nyonya Jessi untuk rencana serangan balik." Jelas Wafi.
".Frem terdiam menarik nafas. Wafi kembali berkata " Rumah sakit ini masih milik mereka. " Jelas wafi lagi mendengar tuannya diam.
" Baik!" Balas Frem pendek. Lalu pria yang selama ini irit bicara, yang jadi begitu cerewet dan pemarah hari ini, melangkah menuju ruangan rawat kedua kakeknya.
" Siapa musuh Jessi yang lain, bagaimana papi tidak menyampaikan rencananya padaku, tapi kalau papi baik tak masalah, aku akan segera menemuinya. Dan perawat itu bilang dokter cantik itu pemilik rumah sakit.
Eh, Cantik? tidak! tidak ada wanita yang cantik luar dalamnya seperti Almarhum mami Nabila. Kalau Sonia sekarang gimana ya? Apa akan sama dengan
perempuan yang lain, matre, sok gaya dan mengagungkan harta? Is, kenapa dalam situasi segenting ini masih memikirkan Sonia." Frem memijiti keningnya, karna merasa fikirannya mulai
ngaur.
Telfon masih tersambung.
" Ya, tenang dan bersiaplah tuanku." Ujar Wafi setelah lama tidak terdengar suara Frem.
Mhem...Frem menjawab dengan berdehem. Wafi tersenyum kecut. Ia sadar sudah salah dengan kalimat terakhirnya sok menasehati tuan mudanya, ia yang sudah faham kemudian terdiam. Terlfonpun diputus oleh Frem.
Sementara Jean dan Ella tiba dipelataran rumah Utama dengan dahi mengernyit. Didepan sudah terparkir mobil Ambulance, juga mobil polisi.
" Maaf nak, mohon bersabar, papimu sudah tiada, pemakamannya akan segera diselenggarakan, kita tidak bisa melihatnya, karna selain keracunan ia terinfeksi Virus Corona. Petugas tidak
membolehkan mayatnya dibuka. Hu
...U..U..." paman Feihong meraung kuat dalam pelukan Jean.
" Ti- dak mungkin! Baru beberapa Jam yang lewat papi dinyatakan telah melewati masa kritisnya, ini pasti bohong! Ini pasti bukan Papi! " Ujar Jean berlari menuju Ambulance yang dikawal ketat oleh polisi dan mahluk - mahluk seperti astronot itu.
Jean meraung geram dan memaksa masuk, tapi dihalangi oleh petugas.
Tiba- tiba kepala Jean berdenyut, pandangan matanya mengabur, detik berikutnya Jean merasakan tubuhnya melayang.
Edi dan Ella yang mengikuti Jean langsung menangkap tubuh Jean, sebelum pria muda itu ambruk ketanah, Kemudian Edi dengan dibantu paman Feihong mengangkat Jean menuju kedalam Mansion keluarga Permana, diikuti oleh Ella.
******
Dirumah Sakit.
__ADS_1
Frem tiba didepan ruang rawat kakek ketika pintu terbuka.
Frem segera masuk kedalam seperti orang mengejar duren yang jatuh.
" Kau apakan kedua kakekku pakai
acara berkurung bertiga didalam segala? Rumah sakit apa pula seperti ini? Ruang VIP saja tidak ada call nurse nya, dan banyak lagi kekurangan fasilitas disini! " Frem menyerang dokter muda itu dengan pertanyaan, protes dan hujat, sedang matanya membulat dan ekspresi wajahnya seolah ingin menelan bulat - bulan dokter itu. Dokter itu hanya tersenyum seraya mau beranjak pergi. Frem yang merasa tak dianggap mencekal tangan dokter itu dan menghalangi langkahnya.
" Biarkan dokter Puput pergi Frem, ia mau Sholat magrib, waktunya sudah mepet." Ujar Tiono turun dari hospital bed.
Frem melemah, ia melepas tangan dokter muda itu, walau hatinya penuh kemarahan, tapi kalau sudah menyangkut waktu ibadah orang lain, ia tidak mau mengganggunya.
" Maaf..." Ucapnya pendek beralih menatap kakeknya tajam. Tiono tersenyum kemudian menggamit tangan Frem.
Sedang Kakek Han Tanoe baru saja keluar dari toilet dengan wajah dan rambut basah.
Wajahnya begitu cerah disenja ini , apalagi senyumnya yang sangat lebar, membuat darah Frem berdesir tak karuan.
" Apa yang kalian perbuat selama didalam? " tanyanya curiga, menarik tangan kanan kedua kakeknya dan memeriksa.
Melihat kedua orang tua itu hanya tersenyum sumbringah, Frem makin geram." Mengapa Cameranya tidak berfungsi? " tanyanya dengan wajah masam.
Kedua kakeknya menggeleng pelan." Tidak tahu... " Ucap mereka lirih
" Kau kira kami anjing pelacak Frem... kemana- mana harus dipantau keberadaannya. " Protes kedua orang tua itu dalam hati.
" Aku hanya ingin memastikan keselamatan kalian!" Ujar Frem kemudian
seperti tahu isi hati kedua kakeknya.
" Kami baik- baik saja kok sayang, masak iya ada gadis cantik memperkosa Aki- aki. " Ujar Han tak berfilter.
Mata Frem membola, gimana bisa dalam satu hari sikap semua orang begitu banyak berubah.
" Sudah, setelah menghabisi hari dengan marah, jangan malampun tetap marah juga. Hari ini kau juga sudah berubah dari Es menjadi Api. " Ujar Tiono.
" IYa... Sebaiknya kita fokus cari papimu saja. " Timpal Han Parmana Tanoe menyampaikan usulnya.
Mendengar papinya, Frem mengangguk, lalu segera melangkah keluar diikuti kedua kakeknya.
我们现在去 Wǒmen xiànzài qù ( Kita Berangkat Sekarang !) " Titahnya pada pengawal yang sudah menunggu dari tadi.
__ADS_1
Semua mengangguk patuh.