Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Cinta dan Luka


__ADS_3

" Sonia putri Hapsari, Bahkan memperkenalkan calonmu itu pada Abang saja tidak Sudi.Orang yang jatuh cinta memang begitu, sering tidak memperhatikan sekitarnya, mengira dunia milik berdua, sedang yang lain hanya pada ngontrak bahkan dikira lupa bayar kontrak setelah habis jatuh tempo." Ucap Jamil dalam hatinya, mata pria itu benar- benar sudah berembun, tinggal ditiup angin sedikit saja, bulir itu akan jatuh.


Mama Indri menatap putranya dalam- dalam, baru hari ini Indri melihat luka yang begitu dalam dihati Jamil setelah luka sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka ditinggal untuk selamanya oleh Abdillah Rahman papa Jamil.


" Nak Mika, nampaknya kak Jamilmu sedang kurang Enak Badan, gimana kalau kita pesan makanan dan buka dirumah saja. " Pinta Indri pada calon menantu Idamannya.


Mika menatap Wajah Jamil yang nampak berubah rona, serta sudut mata pria itu yang berair. Mika yang sangat ingin menikmati Buka bersama sembari menatap pemandangan alam disekitar Cafe yang sangat indah ini dengan terpaksa menekan keinginannya, apalagi teringat peringatan


gadis cantik yang dipanggil Putri, gadis yang disukai oleh lelaki impiannya ini, Mika tidak mau kehilangan kesempatan merebut hatinya Jamil.


" Kata orang, tidak sulit mengambil hati orang yang lagi patah hati, kita tinggal bantu dia saja melewati krisis perasaannya, mendengarkan curahan hatinya,setelah itu ia sendiri yang akan mencari kita sebagai teman berbagi hati." Mika berfikir dalam hati seraya melangkah kesisi Jamil, menggamit tangan yang begitu dingin itu dan meremasnya, walau Jamil tidak respon karna fikirannya masih terlihat kosong, tapi Mika tak patah semangat.


" Bang, kalau Abang ngak kuat masuk kekafe ini, Mika sama mama tak apa kok kita putar balik keMansion, lagian sudah disediakan hidangan oleh Koki mansion, kalaupun tidak pesan menu tambahan, kurasa itu cukup, soalnya koki di Mansion bang Jamilkan Pintar- pintar masak. " Ucap Mika membujuk calon suaminya itu.


Jamil kembali menatap kedalam kafe dan menggeleng." Ngak, kita masuk saja, lagian meja kita sudah dipesan tadi. " Ujar Jamil sembari menggigit bibir bawahnya.


" Apa kamu yakin nak? tidak akan sedih bila nanti berpapasan lagi?" Tanya Indri memastikan, karna ia tidak mau menambah sakit hati putranya hanya karna memaksakan untuk bersenang- senang dicafe yang terkenal dengan keindahan panorama alam sekitar ini.


" Lain kali kita datang lagi, sekarang kita pulang saja ya bang..." Bujuk Mika karna melihat langkah Jamil terlihat sangat berat.


Jamil beralih menatap mama Indri." Benar tidak apa digagalin acaranya? padahal tinggal 40 menit sudah dapat Waktu. " Tanya Jamil, karna tadi Mama dan Mika begitu semangat mengajaknya kekafe ini.


Mika tidak menjawab, tapi gadis itu segera menarik


Jamil menuju parkiran sembari mengedipkan matanya sebelah pada mama Indri agar mengikuti mereka.


" Sopir pribadi dokter Jamil mengernyit bingung


melihat majikannya balik sebelum berbuka.


Tapi untuk menanyakan mengapa, ia tidak selancang itu.


" Balik keMansion mas Juno. " Ucap Indri pada pria sebaya putranya itu, ia memanggil Mas, karna Putranya biasa manggil Juno dengan panggilan itu.


Selama dalam perjalanan 35 Menit itu, Jamil membisu dengan sesekali memicingkan matanya.


" Ternyata cintaku membawa luka." Ringis batin Jamil. Hingga tak sengaja pria itu mengusap dada bidangnya, merasakan sedalam mana ngilu yang terasa.


Mika menarik lembut Jamil agar bersandar dipundak mungilnya." Menangis lah bang, jangan ditahan, luka hatimu akan secepatnya sembuh, jika tangismu tidak ditahan. " Ujar Mika pelan. Walau Mika cemburu dengan kenyataan Jamil yang mencintai gadis lain, tapi ia sadar sepenuhnya jika cinta itu datang tidak diundang.Cinta hadir seperti pencuri dimalam hari, tidak tahu darimana datangnya, tapi sudah mengambil separo jiwa kita.


Seperti Mika yang mencintai Pria itu sejak lama, sering terluka karna penolakan Jamil, tapi Mika masih tetap mencintai dokter ini.


" Cinta memang membawa orang bahagia, sekaligus luka bang. Orang yang tidak pernah jatuh cinta tidak akan pernah merasakan luka sesakit ini,

__ADS_1


juga sebaliknya jika tidak berani jatuh Cinta dengan


segala resiko yang akan ditanggung, maka orang itu tidak pula merasakan bahagia sebenarnya." Ujar Panjang Mika seraya megusap- usap Pundak Jamil.


Jamil tidak marah seperti biasa tatkala diperlakukan mesra oleh Mika, tapi Jamil tidak menjawab ataupun merespon. Setelah Mobil berhenti dipelataran, pria itu buru- buru masuk kerumah dan mengunci dirinya dikamar. Saat waktu berbuka tiba, pelayan yang mengantar makan minumnya


Tinggallah Mama dan Mika buka berdua dimeja besar Dapur mansion keluarga Abdillah, sedang para pelayan makan di pavilium belakang. " Niat mau update status BUBER bareng dokter tampan jadi batal dech. "Batin Mika, usai makan ia memutar- mutar ponselnya dimeja, untuk melampiaskan rasa kecewanya.


Sedang mama Indri tidak berkomentar, ia terdiam karna melihat betapa dalam luka yang terlihat Dimata putranya. " Gadis itu sangat cantik memang, sekarang justru makin cantik sejak terakhir aku melihatnya. Tapi putraku sepertinya tidak hanya memandang kecantikan Fisik perempuan itu, anak itu santun pada orang tua,


tapi sedikit terkesan angkuh pada sebayanya. Lalu Apa keistimewaan lain dari dokter putri ini


hingga dari dulu Jamil begitu kukuh ingin menjadikan Putri kekasih." Indri bertanya - tanya dalam hati.


*


*


*


*


Sonia dan Nabila sampai dikediaman Utama pada pukul Delapan Lewat. Nabila merunduk seperti kucing habis mencuri ikan asin ketika lewat diruang keluarga bersama miminya, mendengar suara ayah dan bundanya sedang bercengkrama dengan para pekerja dirumah. " Sepertinya malam ini Ayah sibuk bagi THR untuk pelayan, koki , pengawal dan penjaga dirumah. Aman! " Sorak hati


" Ayahkan Sersan ( Serius tapi Santai ). Jangan- jangan ia berpura sibuk sementara menyiapkan hukuman untukku, karna sudah berani curi waktu


besama pria muda." Batin Nabila.


" Assalamualaikum! Malam semua! " Sapa kedua gadis dengan nada yang berbeda.


Sonia dengan suara lantang dan wajah ditegakkan, sedang Nabila dengan suara tercekat dan wajah ditekuk. " Biasa ajalah sayang, tegakkan kepalamu nanti ayahmu malah makin curiga. " Bisik Sonia pada ponakannya.


Hingga ketika salam mereka dijawab, Nabila masih menahan langkah dirinya dan sang Aunty. Itu membuat Hanna dan Bella yang lagi sibuk buat parsel dibantu para pelayan menatap mereka dengan mengerutkan dahi.


Sedang Boy dan Hafis sejenak menghentikan aktifitas mereka membagi THR.


Nabila menegakkan kepalanya, tubuhnya bergetar karna takut ketahuan, siapa tahu ayahnya memantau mereka dengan Camera pengintai tadinya. " Tenanglah tidak ada Camera tadi. " Bisik Sonia yang mengerti kegugupan remaja cantik itu.


Barulah Nabila tenang, Ia akhirnya mengikuti Sonia menyalami Hafis, Hana dan semua pekerja yang berkumpul, dengan salam jaga jarak." Ngak taraweh bareng Bang? " Tanya Sonia.


" Bentar lagi, tinggal nunggu kalian. Sedang Twin masih nginap dipanti, katanya menggantikan Sonia


untuk sementara. " Ujar Boy.

__ADS_1


" Oh....Sonia tersenyum Smirk, ia tahu ada udang dibalik bakwan dari rajinnya Bahar dan Bahri tinggal dipanti, tapi Sonia tidak repot memikirkan itu, selagi mereka tidak melakukan hal yang tidak baik, Sonia oke- oke saja pada kegemaran para ponakannya.


" Kalau begitu kami bersiap dulu kedalam." Sonia pamit.


" Ya, pukul Sembilan kita mulai." Ujar Boy.


" Sonia yang bertemu kekasih, kenapa pipi putriku turut bersemu? Jadi menyesal sudah mengambil janji dengan sikancil tidak mengintip pertemuan mereka. " gumam Boy.


" Ok, Ayah..." Barulah Nabila berani buka suara, melihat Ayahnya terdiam, ia berusaha bersikap wajar.


" Semoga ilmu Jiwa Ayah lagi menguap karna musim panas. " Doa Nabila dalam hati sembari mengikuti Sonia.


" Tenanglah...Walau ia curiga tapi ia tidak akan tahu apa- apa. Mimi janji menutupi ini, tapi kalau lain waktu tak boleh lagi janjian begitu ya. Tunggu sampai dewasa dan siap dipersunting, baru boleh bertemu lagi. " Bisik Sonia.


" Ya ampun...Ni Mimi lagi, masak kami harus menunggu 4 tahun lagi baru boleh bertemu. " Sungut Nabila dalam hati.


" Jangan ngeyel sayang...Perempuan itu ibarat bunga. Bunga akan dilupakan setelah layu dan gugur, makanya jangan buru- buru mekar sebelum masanya. " Ujar Sonia seperti tahu apa yang difikirkan Nabila.


" Bila ia serius menyayangimu, ia akan sabar menunggu sampai waktu itu tiba sayang..." Pungkas Sonia kemudian.


_


_


_


Sedang Frem, Wafi, dengan Edi tiba dikediaman Ella pada pukul Sepuluh malam, untukmenyaksikan pernikahan Jean.


Baru saja memasuki ruang, Frem sudah mengedarkan tatapannya kesetiap sisi ruangan.


" Mami Jean mana? " Tanya Frem curiga dengan tidak terlihatnya Jessi diruangan pernikahan itu.


" Oh ya Bos, aku lupa mengatakan ini. Bos Jean menikahkan Maminya dengan dokter Hendra ketika Jessi sakit dirumah sakit pasca gagal menukar Ella dengan Sonia. Sepertinya sejak menikah mami Jean tidak kenana- mana tanpa Suaminya, mereka tinggal di Villa Hendra." Jelas Edi.


Frem mengangguk, tapi hatinya belum melepas dendamnya pada Jessi. " Sekarang boleh bersenang- senang dulu, begitu aku berhasil mengumpulkan bukti pelenyapan nenek dan mamiku, aku pasti membawamu kejeruji." Kecam Frem dengan mengepalkan tinjunya.


Jean yang melihat Frem tiba dengan rombongan segera berdiri dari duduknya. " Tunggu dulu sebentar pak penghulu, aku mau minta restu dari Kakak, karna kakak pengganti Papi bagiku saat ini. " Ucap Jean tulus.


" Silahkan nak Jean. " Sahut pak penghulu. Kemudian Jean melangkah menyambut kakaknya, dan menghambur kepelukan Frem.


Semua menatap kagum pada kedekatan dua penerus Permana itu. Tiada yang tahu ada cinta dan luka dalam hati Frem yang mungkin dapat menghancurkan kemesraan itu, atau justru sebaliknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2