
Jessi Berjalan mondar- mandir seperti setrikaan dikamar pribadinya. Rasa kecewa, kesal dan bingung meliputi hatinya. Kemaren sore dengan tegas Rianti menyatakan mundur dari rencana yang sudah disusun oleh Jessi untuknya, Frem dan Sonia.
" Rianti tak bisa melakukan rencana mami, tak sanggup berbuat jahat pada orang yang tidak ada salah apa- apa pada Rianti. Maafkan Rianti Mi...sekarang Rianti sudah diibukota, jika mami ingin bertemu karna rindu pada anakmu ini, maka dengan senang hati kita atur pertemuan kita, Tapi jika hanya untuk membicarakan itu- itu lagi,lebih baik mami lupakan saja Rianti! " Ucapan panjang dan tegas penolakan putrinya ditelfon,terus berdengung ditelinganya,membuat kepalaJessi pusing dan dadanya sesak.
" Dasar lemah! Benar- benar lemah! Masak melakukan pekerjaan enak saja ia tak sanggup, padahal Kalau ia berhasil dapat keuntungan duakali lipat. Payah! payah sekali anak itu!Padahal sebelumnya ia setuju. Dasar penakut! " Umpat kesal Jessi setelah berkali mengusap dada dan memijiti kepalanya.
" Atau jangan- jangan_ Ufffhh... " Jessi menghempaskan nafas kasar, tatkala terfikir olehnya tentang kemungkinan Hendra sudah bertemu dengan putri mereka dan mencuci otak sang putri.
Disamping itu muncul lagi fikiran negatif yang lain dibenak Jessi, membuat kepalanya makin berdenyut.
" Akhir- akhir ini suamiku memang rada aneh,jarang pulang, tidak lagi posesif dan malah terkesan membebaskanku, bahkan aku pulang malam saja tidak ditanya macam- macam. Mungkinkah ia_"Jessi menggeleng, menolak fikirannya sendiri tentang kemungkinan cinta suaminya yang makin menipis dan bayangan akan ditinggal pria itu.
" Tidak! Tidak! Hendra sangat sayang
dan cinta padaku! jadi tak mungkin ia meninggalkanku , mungkin sekarang ia sedang sibuk saja, jadi perhatiannya teralihkan, memang kliniknya akhir- akhir ini sangat ramai. " Jessi kembali berusaha keras untuk menepis kemungkinan buruk yang sedang ia fikirkan.
Jesi sedang dalam tingkat stres yang tinggi.Sayangnya ia tak menyadari masalahnya ini.
" Memang Hendra orangnya begitu, kadang ia menggebu- gebu, dan dilain waktu ia bisa terlihat tenang. Tapi ia masih Hendra yang dulu, yang hidupnya hanya untukku. Kamu jangan mikir yang aneh- aneh kepala!" Jessi mengetuk jidatnya begerapa kali.
" Buang semua fikiran buruk ini Jessi!
Sekarang tak perlu memikirkan hal yang tak mungkin. Lebih baik fokus pada tujuanmu saja!." Jessi bicara dengan bayangannya lagi. Kemudian ia mengangguk dan senyum sendiri.
" Fokus pada rencanamu menghancurkan Frem dengan tanganmu sendiri, karna anak atausuami tak ada yang bisa diandalkan. Biarlah kau yang berusaha memberi bonus untuk Fredy yang sudah sengaja membohongimu!" Titah Jessi pada dirinya.
" Awas kau Fred! Sebentar lagi putra kesayanganmu akan hancur! Kau tentu takkan mau hidup lebih lama lagi menyaksikan kehancuran putramu! Putriku sudah menolak menjadi menantumu, itu artinya putramu tak berguna lagi untukku!" Jessi kembali menatap cermin yang memantulkan bayangannya dengan tajam seolah ia sedang berhadapan langsung dengan mantan suaminya dengan seringai kejam.
.
.
.
Sementara dikamarnya, ditempat tidur dalam posisi duduk,Rianti manarik nafas berkali- kali. Awalnya ia lega karna sudah menyatakan ketidak mampuannya dengan jujur. Namun entah mengapa malam ini ia kembali gelisah, mengingat nada suara mami Jessi yang terdengar sangat kecewa dengan keputusannya itu. Sejak magrib Rianti terus berdoa dan berharap, semoga kekecewaan tidak membuat Jessi memikirkan rencana lain, karna Rianti tak mau ibunya yang sudah tidak muda lagi itu berbuat nekat yang nantinya bisa membuatnya harus kehilangan sang ibu. Walau Rianti punya mama Aulia yang sudah membesarkan dan mendidiknya dengan limpahan kasih sayang, ia tetap tidak mau kehilangan Jessi sebagai ibu yang telah melahirkannya.
Rianti kemudian meraih kembali Telfon genggamnya yang tadi sudah ia simpan dinakas, lalu melangkah menuju Sofa dan duduk disana sembari mengetikkan pesan untuk sang Ibu.
Cukup lama Rianti menyusun kata demi kata, janggal sedikit saja langsung dihapus dan diganti. Setelah membaca ulang tulisannya itu. Ia tersenyum lega.
" Yes! tinggal kirim..." Soraknya puas dengan kalimat yang sudah berhasil ia ketik yang dinilainya cukup bagus.Rianti berharap kata- kata yang ia susun bisa menjadi penawar hati Jessi.
Dengan manisnya telunjuk mungil Rianti mengirim pesan itu.
* * *
Kembali pada Jessi yang sedang menyeringai didepan cermin hiasnya, tiba- tiba senyum itu menghilang tatkala ia membuka pesan dari Rianti.
" Benar- benar payah! sudah tak mau membantu ibu sendiri, malah sok menasehati segala. Ria...ria...Kamu belum paham saja kalau hidup itu butuh perjuangan nak, didunia ini kita harus berani mengambil peran utama kalau mau jadi yang terutama! Disana kau hanya anak angkat, tidak akan ada keluarga besar yang membiarkan mamamu itu memberikan harta lebih dari sepertiga saja, itupun kalau mereka berbaik hati, kalau tidak kau hanya dapat yang kau pakai sekarang saja, kalau kau berhasil melakukan apa yang kupinta kau akan mendapatkan kedudukan sekalian harta, kau tidak perlu lagi bersusah payah hingga anak cucumu "
" Tokoh utamalah yang terkemuka dalam dunia nak. Sayangnya kau tak mau berjuang untuk peran itu. " Jessi membalas pesan Rianti.
Rianti tersenyum kecut membaca jawab pesan
dari Jessi.Pesan yang sebenarnya tidak minta balasan.
Rianti paham dari kalimat itu, bermakna jika Jessi sangat kecewa dan tidak terima keputusannya.
" Ya Tuhan...ternyata mami belum sadar juga, bagiku dunia simpel saja, yang penting masih bisa bernafas lega dan berbuat yang tidak melanggar hati nurani ku, meski peranku hanya figuran tak apa, yang penting protagonis. Untuk apa jadi yang utama kalau berujung binasa???." Ucap Rianti bicara sendiri sembari mengetuk- ngetuk Layar HPnya.
" Kau bisa menjadi pemeran utama yang baik untuk kisahmu sendiri sayang...Semua akan indah pada waktunya bila kita mengambil peran yang baik! "
__ADS_1
Sebuah suara lembut membuat Rianti tersintak dari lamunannya. Sedang Aulia seolah tanpa dosa menghempaskan bokongnya samping Rianti.
" Mama... Sejak kapan ada dikamarku?Kapan datang dari kota C? " Tanya beruntun Rianti setelah mengatasi keterkejutannya dengan kedatangan Aulia yang tiba-tiba. Namun sang mama hanya menjawab dengan senyum lembut seraya merapikan anak rambut gadis itu.
" Kebiasaan DECH mam... datang ngak bilang,masuk ngak ngetuk..." protes Rianti dengan suara manjanya. Ditambah bibir mengerucut.
"He...He... Sebelum ada menantu mama bebas nyolonong kekamar putri sendiri dong! Mau ngintip putri lagi apa? Untung main masuk kayak pencuri, jadi tahu kalau putri masih galau." Ujar Aulia seraya memeluk Rianti.
" Ya dech mamaku sayang...Untung pintu maaf selalu terbuka untuk kesalahanmu yang selalu disengaja pada putrimu ini..." Canda Rianti. Jujur ia senang dengan kehadiran mama.
" He...He...Dasar bocah bandel! Mama sengaja berbuat salah untuk mencegat putrinya khilaf kok! " Balas Aulia tak mau kalah sembari menyentil hidung Rianti.
" Siapa juga yang mau khilaf coba? Emang boleh begitu, sengaja berbuat salah?
" Ya boleh dong...Masak bolela, bolelakan tentangga di C."
" Buk Lela! " Ralat Rianti.
Ha...ha .
Keduanya lalu terbahak sampai mata mereka berair.
Beberapa detik kemudian Rianti menatap mama Aulia yang juga sudah menatapnya dengan tatapan teduh seorang ibu.
" Makasih ya ma...sudah tulus membesarkan, menyayangi dan perhatian pada Rianti selama ini." Ucap Rianti lirih seraya turun dari Sofa dan berlutut didepan Aulia, menggenggam tangan sang ibu lalumengecupnya.
" Jangan lakukan dan katakan ini lagi sayang...Karna mama melakukan semua untuk Rianti dari hati mama. Menyayangi dari hati tidak mengharap balas walau itu hanya berupa ucapan terima kasih dari orang yang kita sayang,manisku...karna itu akan merusak nilai kasih sayang itu sendiri." Balas Aulia seraya menarik Rianti dan membawa sang putrikepamgkuannya.
" Mana ada begitu mama...prinsip mama lain dari yang lain saja."
" Mama tidak meminta orang lain setuju dengan mama sayang...Yang penting anak mama paham kalau mama mengasihi Rianti tulus, bukan mengharap pujian, sanjungan atau penghormatan yang berlebihan." Aulia menciumi puncak kepala putrinya dengan sayang. Membuat Rianti memejam menikmati kehangatan kasih tulus sang mama.
" Biarkan orang dengan prinsipnya masing- masing
sayang... Bagi mama Rianti adalah muara kasih sayang, dan mama tidak mengharap apapun balasannya nak. Andai Ria sendiri yang memutuskan untuk membalas, mama akan menganggapnya sebagai bonus. Tentu mama akan
bersyukur pada Allah untuk semua itu, yang penting nasehat mama jangan lupa, lakukan sesuatu yang sesuai dengan hatimu saja, dan jangan berbuat yang tidak tulus walau hanya sedikit saja, karna itu akan menyiksa hati sendiri."
Jelas panjang Aulia.
" Ya ma...Rianti paham sekarang, mulai hari ini akan melakukan hal- hal yang dibenarkan oleh hati kecilku saja. Aku akan belajar keras untuk memahami hatiku dulu!" Balas mantap Rianti.
" Ini baru anak mama! " Sorak senang Aulia sembari mengurai pelukan.
" Yang kemaren???"
" Entahlah...Jawab sendiri."
He...He...Keduanya tekikik riang.
" Selanjutnya? " Tanya Rianti setelah tawa mereka berhenti.
" Mama akan balik lagi kekota C besok pagi, hanya datang untuk melihat anak gadisku saja." Ujar Aulia.
" Belum, tunggu dulu! putrimu mau mengenalkan mamanya dengan seseorang yang istimewa juga bagi Rianti, setelah itu kita balik berdua." Ujar Rianti.
" Syukurlah Putri mama sudah mau bantu lagi di perusahaan. " Ucap Aulia seraya mengusap muka sendiri dengan kedua tangannya. Lalu ia menatap sang putri dengan menelisik.
" Siapa sih? Apa calon mantu? Mama jadi ngak sabar." Cicit Aulia.
" Kalau dibocorin, mana surprise lagi namanya ma...Jadi tunggu besok saja ya mamaku cantik!" Ujar Rianti mengecup pipi mamanya sekilas,lalu kemudian gadis manis itu berdiri cepat dan melenggok menuju kamar mandi, meninggalkan Aulia yang masih melongo.
__ADS_1
" Rianti belum shalat Isya ma..." kicaunya sebelum menutup pintu bath room.
" Dasar bocah nakal! Buat penasaran aja." Sungut Aulia namun kemudian ia tersenyum manis.
" Sejak kapan putriku mementingkan hubungannya dengan Tuhan? Ini perkembangan yang baik. Alhamdulillah ya Allah..." seru Aulia sembari berdiri dan berbalik hendak merapikan tempat tidur Rianti.
*
*
*
Sudah pukul 21 lewat.Sonia kembali menatap jam tangannya. Merasa heran sekali Frem belum juga menghubunginya dari tadi, bahkan pesan Sonia sejak sejam yang lalu belum juga dibaca membuat wanita hamil muda itu mulai cemas bercampur kesal. Apalagi kemaren suaminya berjanji akan siap siaga kapan saja Sonia memanggilnya, walau pria itu sedang sibuk sekalipun. Sekarang Frem sudah membuatnya menunggu lama dirumah sakit.
" Cik, kemana sih dia? padahal aku sudah sangat ngiler sekali makan bebek diCempaka Putih." Sonia mendecis dan mengomel sendiri.
" Kenapa Nia? apa Tuanmuda belum juga bisa dihubungi? " tanya Neha memergoki Sonia yang nampak kusut.
" Sepertinya kita harus susul kekantornya. Ayo! " Sonia langsung menarik Neha dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya menarik tasnya dari meja keejanya, kemudian melangkah besar keluar dari ruangan.
" Nia...Jangan cepat- cepat jalannya, aku tak bisa mengimbangi." Rengek sang asisten, namun sepertinya Nia masih berjalan seperti pencuri yang takut ketangkap Hansip.
" Nia perutku tar sakit, aku baru siap makan." Cerocos Neha lagi.
" Aku juga lupa, jika aku sedang hamil muda. " Gumam Sonia seraya menyentuh perutnya yang masih rata, dan memelankan langkahnya.
Empat puluh menit kemudian Sonia dengan didampingi Erlan, Bima dan Neha sudah tiba dipelataran parkir PJG. Baru saja Sonia turun dari Mobil, ia sudah melihat sekelebat bayangan mengendap- endap keluar dari belakang sebuah mobil.
Deg.
Dada Sonia berdebar, begitu sadar itu mobil suaminya.
Kedua keningnya menaut sempurna. " Apa yang dilakukan orang yang barusan dengan mobil suamiku? Pencurikah atau habis sabotase? Ahh, aku terlambat datang beberapa menit." Batin Sonia.
" Kak Bima, kau lihat itu? Cepat tangkap. " Titahnya
pada pengawal pribadinya dengan berbisik.
Bima mengangguk dan dengan cepat berlari kearah pandangan Sonia.
Seorang pria bertopeng yang menyadari ia dikejar, berlari dengan secepat mungkin, menyelinap dibalik kegelapan parkir bawah tanah itu.
Sedang Erlan waspada menjaga kedua wanita, takut ada penyusup yang lain mengganggu nyonya dan asustennya.
" Ayo keatas, perasaanku tak enak. Dan aku takkan bisa tenang sebelum bertemu dengan suamiku.
Orang itu biar jadi urusan kak Bima saja. " Ujar Sonia.
Erlan dan Neha mengangguk hampir bersamaan, kemudian mengikuti langkah Sonia.
Sepuluh menit kemudian Sonia sudah tiba dilantai kator Frem. Sampai didepan pintu ruang kerja suaminya yang terbuka lebar.
Baru saja mulut Sonia terbuka untuk mengucap salam. Mulut itu langsung ternganga lebar dengan kedua netra membola.
" Frem! Kau kenapa? " Teriak Sonia panik menatap suaminya yang bergeming dengan wajah tersandar diatas meja kerja pria itu.
Spontan Sonia berlari dan menghambur untuk memeriksa suaminya dengan degup jantung yang sudah tak karuan karna cemas.
Ia bahkan tak peduli pada teriakan Neha yang memperingatkannya untuk tidak berlari.
Bersambung.
__ADS_1