
Sementara suami rapat, Sonia mempersiapkan makan siang untuk suami dan para petinggi SGG. Untuk karyawan, Sonia meyediakan kotak berisi kue.
" Sebenarnya karyawan SGG mendapat jatah sarapan dan makan siang dari katering Langganan SGG nona. " Jelas Kepala koki.
" Aku tahu paman..Suamiku sudah menceritakan tentang fasilitas, kenyamanan dan kesejahteraan yang diberikan pada karyawannya." Jawab bangga Sonia.
" Maaf...Hanya tak tega melihat nak Sonia terlihat repot." Sambung pria paruh baya itu.
" Tak apa paman, kan sudah jadi, tidak terlalu susah hanya ngemas saja. Makasih untuk kerjasama dan kerja kerasnya. " Ucap tulus Sonia sembari memandangi ketiga kokinya sekilas sembari tersenyum.
Tidak berapalama datanglah pelayan lain yang dapat sif siang hari ini, mereka segera membantu Sonia packing kue yang akan dibawa.Semua siap, bertepatan dengan kedatangan paman Hong menjemput Sonia.
" Tunggu sebentar paman, Nia berkemas sebentar." Ucap Sonia begitu sopir kantor suaminya tiba didapur.
" Baik nona,paman akan bantu membawa ini kemobil."Balas Hong sembari mengangkat rantang
gold stainless yang didalamnya berisi makan siang.
" Semua boleh angkat kemobil berikut kuenya. Tapi untuk Yang kotak makan putar berwarna biru, aku sendiri yang akan membawa. Tolong paman San jagain ya, kalau ada apa- apanya, saya tidak akan segan- segan menyeret paman ketiang gantungan. " Ujar Sonia mengingatkan dengan tatapan tajam pada kepala kokinya, sebelum melangkah pergi.
" Ba_ baik nak..." Jawab San gugup. Bagaimana tidak? setelah setengah hari bercengkrama sambil memasak dengan Sonia, sekarang ia melihat sisi paling menakutkan dari istri cantik majikannya. Semua yang mendengar dan lihat, turut membeku sejenak, sebelum mulai bergerak kembali melanjutkan memindahkan makanan- makanan yang sudah siap itu menuju mobil.
Sedang San dengan terpaksa menjagai rantang putar warna biru yang tadi diisi sendiri oleh Sonia.
Sebenarnya Sonia bisa saja membawa rantang itu kekamarnya, tapi ia ingin melihat bagaimana paman Sun menjaga titipannya.
Setelah dikamar, Sonia bergegas menuju kamar mandi untuk bersih- bersih.Setelah cuci muka, Sonia mengganti baju rumahan dengan pakaian terbaik dan sedikit berhias wajah cantiknya.
" Sepertinya ini sudah cukup." Batin Sonia sambil memeriksa penampilannya didepan cermin.
Wanita cantik ini lalu turun dengan hati- hati, kemudian melangkah mantap menuju dapur untuk menjemput bawaannya.
" Makasih paman, Nia pergi dulu, terima kasih dan selamat siang. " Ujar Sonia sembari menenteng rantang.
__ADS_1
" Ya nak...Hati- hati dijalan. " sahut kepala koki itu.
" Jalan paman, bukankah semuanya sudah siap?" Ucap Sonia begitu selesai memasang selbet.
" Ya nak..." Jawab pendek Hong sebelum menstarter mobil. Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, akhirnya mobil tiba diparkiran kantor SGG.
Mereka disambut langsung oleh pemilik kantor dengan senyum terindahnya.
" Sayang...Kok lama? Padahal Ajo sudah tak sabar menunggu dari tadi. " Ucap Frem sembari menarik lembut tentengan Sonia dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya merengkuh pinggang kecil Sonia.
" lapar atau kangen? Goda Sonia sembari bergelayut manja pada Frem. Sejenak mereka jadi tontonan menarik dari karyawan parkir dan 4 orang karyawan OB yang diminta Paman Hong untuk siap- siap menjemput makanan melalui pesan satu jam yang lalu.
" Bidadari tanpa sayap! Pantas Bos kami bisa menjelma dari pangeran Es api menjadi malaikat tampan hari ini, ternyata bidadari ini yang telah merobahnya. Selamat atas keberuntunganmu! " Seru kagum hati petugas bersih- bersih dikantor SGG ini. Setelah tersadar dari keterpanaan mereka, semuanya mulai bergerak memindahkan kardus kue dan rantang makanan itu menuju lantai 23.
Chengyi, paman Hong dan kepala OB membagikan makanan sesuai pesan nona. Walau sudah mendapatkan makan siang dari catering, tapi memperoleh jatah makanan rumahan dari nyonya Bos, tak urung membuat para petinggi SGG tersenyum lebar.
" Ini pasti makan siang paling Yami. " Komentar manager Produksi.
Bos kedalam ruangan pribadinya. Hati para petinggi sangat senang siang ini.
" Akhirnya siang ini kita dapat rezeki luarbiasa." Cicit yang lain lagi.
" Ya melihat bidadari, plus dapat jatah makan siang Doble. " Balas pimpinan anak perusahaan yang bergerak di bidang perbankan.
" Walau beribu melihat wanita cantik, mata tuan masih nyalang juga melihat Nona Bos ya!. " Sanggah manager pemasaran.
" Yang cantik banyak Shin, tapi yang cantik plus menarik dan paket lengkap,baru kali ini aku melihat, hingga mata sipitku tak bisa berpaling, untung Bos cepat- cepat membawanya dari hadapan kita, kalau tidak aku takut tak bisa merasakan apa rasa makan siang ini, kalau harus makan dihadapan gadis kepunyaan Bos itu." Balas panjang pria berhidung yang terkenal dengan pecinta wanita ini.
" Sudah, Ayo makan! tak baik jatuh hati pada istri bos sendiri, sudah dapat resiko patah hati, ntar juga bakal patah tulang kalau berani Coba." Ujar Chengyi memergoki ketiga orang itu.
Semua terdiam, lalu membuka kotak makan mereka.
" Siapa juga yang bakal berani jatuh hati, tapi mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurnakan apa salahnya. " protes para pria muda itu dalam hati.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Chengyi memandangi mereka dengan tajam." Pandang tak sengaja rezeki, pandang berkali-kali yang bukan bagian kita adalah seretan iblis yang akan membawa kita pada
kurang kehancuran." Nasehat panjang Chengyi.
" Kurasa aku masih menikmati Rezki, karna aku hanya memandang sekali saja tanpa berkedip. " Cicit Kepala produksi.
He...He....Semua terbahak dengan kejujuran pria yang terkenal cukup pendiam itu.
Chengyipun tak dapat menahan senyum." Kufikir aku juga begitu, andai mama mencarikan gadis
seperti nona Sonia, dari dulu aku takkan menolak." Sekarang Chengyi sendiri yang berantam dengan hatinya. Ternyata pesona seorang Sonia tidak hanya berpengaruh ditanah airnya, sampai disini bahkan ia lebih dikagumi, walau sebagian hanya berani mengungkapkan dalam hati seperti asisten suaminya ini.
Uhuk...Uhuk...Sonia tersedak. Frem cepat mengusap pundak istrinya. " Sayang.. hati- hati. " ucap Frem sembari menyodorkan minum.
"Lumayan pedih, mungkin aku lupa berdoa." Ucap Sonia usai minum.
"Kalau begitu baca Bismiljahi awali wa akhiri." pinta Frem yang diangguki Sonia.
" Kalau Ajo tahu ada yang berani memperbincangkan Nia ketika jam makan begini hingga tersedak, pasti akan kusiram orang itu. " Frem kembali bersesungut dengan sengit.
" Sudah...Jangan percaya begituan! Nia tersedak karna terburu- buru, bukan karna sedang dibicarakan." Bujuk Sonia sembari menatap lembut suaminya.
" Siapa yang kan percaya mereka tidak membicarakan mu, tadi saja mata kecil mereka menatap tanpa berkedip, makanya Nia Ajo bawa buru- buru kedalam. " protes Frem tak mampan dengan bujukan Sonia.
" Kalau begitu nanti mau pulang Nia pakai masker saja. Sekarang kita lanjutkan makan nya ya Ajo sayang..." Rayu norak Sonia.
Frem tersenyum dan mengangguk, lalu ia mulai mengambil suapan pertama dan diberikan pada istrinya. Tentu saja Sonia menerimanya, tak mau membuat prianya kecewa.
" Nanti kemana- mana harus pakai masker. " pinta Frem sebelum menyuap untuk dirinya.
" Oke Ajo, tapi harus adil ya! Situ juga harus pakai masker." tuntut Sonia.
Frem mengangguk mantap.
__ADS_1