
Sementara Rianti menghabiskan waktu bercerita dengan sang mama sembari keliling Bali. Banyak kisah yang mereka tuntaskan. Ibu dan anak yang sudah sangat merindu itu seakan lupa waktu. Bahkan pesan Jessi sampai sore belum dibuka.
Katika Jessi menyadari pesannya belum dibaca, ia cukup kesal. Tapi ia sedang bersama suaminya.
Jessi terpaksa diam dalam kesal.
Tiga setengah jam yang lalu, karna bahagia, Hendra kembali kerumah, mendapat laporan istrinya memaksa keluar dengan alasan kangen ngurus makan siang untuknya. Hendra memutuskan mencari Jessi.
" Katanya badannya masih lemas semua, kok maksa keklinik? Jangan- jangan ia memaksakan badannya, karna ada maksud lain, atau ia sengaja menghalangi diriku cari tahu tentang Ria." Batin Hendra. Hendra bergegas mencari Jessi.
Jessi yang tidak tahu ditubuhnya sudah dipasang GPS oleh Hendra yang terhubung dengan telfon pria itu, hingga dengan mudah suaminya itu menemukannya. Itulah sisi ruginya main- main dengan dokter bedah ya Jess! 😉
Hendra menemukan Jessi dipusat perbelanjaan, saat membeli oleh - oleh untuk Jean. Ia Cukup terkejut ketika Hendra sudah memeluknya dari belakang." Kita jalan- jalan ya sayang... Setengah hari ini aku sengaja meliburkan diri untuk menyaksikan matahari terbenam bersamamu. " Ujar Hendra sembari menarik lembut Jessi kesisinya, tidak peduli perubahan wajah sang istri.
Dengan meremas jemari wanita itu, dan menatap lembut mata tajam sang istri, Hendra berhasil menghipnotis Jessi dan membawanya kedalam mobil tanpa penolakan.Setelah membawa Jesssi makan siang direstouran yang cukup ternama, Hendra melarikan Jessi kepantai ini.
Matahari terbenam yang indah tak menarik hati Jessi. Ia sangat ingin protes, tapi mulutnya terkunci. Rencananya tadi ingin mengunjungi putranya dikantor untuk mengatasi kegalauannya, jadi gagal total.
" Semua rencanaku amburadul, ini anak balas pesan aja susah, mana menemuinya untuk masa sekarang akan sulit. " Sungut Jessi dalam hati.
Jessi tidak tahu Rianti punya rumah diibukota. Selama ini ia bertemu dengan putrinya dikota C, kalau diIbukota paling ketemuan dikafe saja secara sembunyi- sembunyi.Berbeda dengan Hendra yang cerdas, mengetahui ada putrinya, ia mencari semua tentang putri sedetail mungkin dalam semalam, sampai kediaman rahasia sang putri ia dapati. Bahkan Sonia sampai hari ini tak tahu, Rianti punya rumah pribadi di Jakarta hingga ia menyarankan Rianti nginap dihotel keluarganya kalau mau kembali main ke Ibukota melalui pesan
Sedang Boy sudah tahu semua tentang Riantisejak insiden kakek Han. Boy tidak mau kebobolan menjaga adiknya, ia merasa Sonia tak berbeda dengan Nabila putrinya, mereka masih saja dianggap putri kecilnya yang perlu dilindungi, walau sekarang sang adik sudah dilepas jadi tanggung jawab orang lain sejak Ijab Qobul, namun Boy belum melepas sang adik begitu saja.
*
*
*
Sementara dikediaman pribadi keluarganya, Sonia berhasil membujuk para lelaki untuk mengizinkannya tetap beraktifitas dirumah sakit dan panti tapi dengan syarat dan peraturan baru dari Empat pria posesif tiga generasi.
Adapun sebagian dari peraturan itu berikut:
1.Wajib pakai sopir dan dikawal oleh kelima pengawal kemana saja Nia pergi.
2.Kalau dirumah sakit, kemana- mana Wajib dengan Neha asistennya bahkan sampai di toilet pun.
3.Kepanti hanya boleh sekali tiga hari, untuk itu Udin ditetapkan untuk menggantikan tugas Nia menghibur para lansia Pagi dan sore.
Seterusnya dan yang terakhir Jika ada yang coba mengganggu, atau Nia sendiri kesehatannya terganggu, bahkan mabuk atau mual saja bisa membuat izin kerja dicabut.
Sebenarnya Nia sangat tidak suka dengan seabrek peraturan yang jelas- jelas mempersempit langkahnya, tapi teringat badannya yang tidak lagi seorang diri saat ini, Sonia menerima aturan itu.
"Semoga saja aku hamilnya cantik,ngak mualdan lemas berlebihan seperti orang hamil kebiasaan." Harap Sonia yang khawatir memikirkan duduk diam dirumah saja jika izin kerjanya dicabut oleh suami.
Kakek Tiono tergelak mendengar doa Sonia, hingga orang tua yang lagi bersembunyi itu ketahuan.
" Huem...Ngapain kakek ngintip Nia baca surat kontrak sableng ini! " Sergah Sonia mendengar tawa orang tua itu.
" Ngak kok sayang...Kakek hanya ingin melihat Nia sebelum berangkat kerumah sakit. Tapi melihat Sonia sambilan dandan sembari baca, kakek jadi penasaran.
" Eh, ternyata ada yang ngarep bangat hamil cantik. Emang ada ya?He...He..
__ADS_1
" Ya adalah...Buk dokter Yuni dokter pribadi keluarga Kim kalau hamil sehat- sehat aja, dan malah makin cantik, jago makan dan_
" Dan tetap saja gembung kan jadinya!
Ha.ha.ha..." Tawa kakek Tiono kembali membahana begitu kakek Han yang baru datang memotong pembicaraan Nia.
" Ya kalau itu pastilah...tapi gemuknya cantik kok, karna wajahnya selalu ceria efek ngak mual dan senang berkuliner. Kalau perut buncit itu menambah keseksian sendiri. " Sanggah Sonia malu- malu.
" Semoga cintaku ini juga begitu." Sambung Tiono.
" Iya bang..tapi kalau boleh jujur kakek maunya Nia mual dan tak kuat kerja seperti orang hamil biasa, biar lelaki itu makin perhatian dan Nia stay dirumah dengan kita. " Han mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya kembali.
" Semoga doamu yang ini tidak diterima kakek! Karna tak baik, dan jelas bakal membuat Nia tersiksa. "balas Sonia mencebik. Kemudian Sonia memeriksa jam tangannya, lalu sekilas menatap Cermin hias, begitu merasa sudah oke, Sonia meraih tasnya,dan siap untuk berangkat.
" Sampai bertemu nanti sore kakek sayang..Ucap Sonia santai sembari melangkah.
"Oh lupa,salam cium dulu!" Ucapnya sembari berhenti untuk menyalami dan mencium tangan kedua kakek. " Atau kalau tak kuat ditinggal sebentar saja, boleh turut kok. " Godanya sembari menarik turunkan alisnya.
Kedua kakek terdiam dengan cemberut, karna mereka sudah berjanji pada Frem takkan kemana- mana.
" Kalau gitu yang manis dirumah ya cayang... Jangan lupa jaga papi mertuaku. " Ujar Sonia lagi dengan senyum penuh kemenangan. Wanita hamil muda itu berjalan kedepan dengan langkah pasti namun tetap waspada dengan diantar kepala pelayan.
Dipos Neha sudah menunggu dengan para pengawal. Begitu Sonia sampai didepan pintu Utama, mobil sudah berjalan dan berhenti tepat didepan pintu.
"Silahkan naik nyonya...Nanti Sore Tuan muda sendiri yang akan jemput nyonya, katanya mau dinner berdua." Ujar Bima sembari membukakan pintu.
" Boleh...Sepertinya aku suka dengan ide kencannya." Jawab Sonia sembari memasang selbet.
Perawat Neha dan para pengawal tersenyum. Bima
segera memutar haluan, dan melajukan mobil menuju jalan besar diiringi lambaian tangan dari petugas keamanan rumah.
Matahari tenggelam diufuk Barat.Malampun
perlahan tiba menyapa warga kota. Cahaya matahari digantikan dengan sinar bulan purnama yang baru muncul, juga kerlap- kerlip lampu jalanan menambah semarak pusat kota dengan gedung- gedung yang menjulang tinggi dan kehidupan sosial masyarakat yang komplek.
Frem membawa Sonia makan malam disalah satu restoran hotel kepunyaan keluarga. Walau ketika makan Sonia merengek minta makanan jalanan, Frem dengan senyum lebar tidak mendebat istrinya, malah dengan sengaja menelfon tukang sate keliling langganannya untuk datang.
" Tenang ya sayang.. Kalau mau nikmati ini dulu, Dua puluh menit lagi, Ajo Midun akan datang bawa sate segerobak, ntar kita kedepan nyambutnya, sekalian bawakan untuk anak panti dan anak jalanan yang kebetulan kita lihat, tapi syaratnya Nia tak boleh turun dari mobil sembarangan,biar Bima saja yang bagi- bagi. " Ucap panjang frem seraya menyuapkan sesendok soup buah tanpa Es kemulut istrinya usai menelfon.
Sonia mengangguk. " Bebas tapi terikat!negara hukum. " Batin Sonia.
Sementara Hendra membelokkan mobilnya menuju sebuah hotel.
" Kok Kesini?Tumben! " Sorak senang Jessi namun kemudian keningnya mengernyit.Selama dengan Hendra, wanita itu tidak pernah dibawa kehotel karna takut ketahuan.
" Sayang lupa ya, kita sudah pasangan resmi, ngak ada yang perlu ditakutkan lagi ujarnya seraya mengeluarkan kotak yang berisi buku nikah mereka dari laci mobil.
Jessi kemudian mengangguk, membuat Hendra tersenyum lebar." Melihat sayang sudah sehat dan kuat hari ini, aku ingin merayakannya dihotel bintang lima ini.Hitung- hitung membuat kenangan terindah, sekalian mengetes tingkat kesehatanmu, Abang akan memintamu bergoyang sepanjang malam. " ujar Hendra sembari memeluk pundak Jessi dengan tatapan rakus.
Deg.
Jesi mendegup Salivanya. " Habis aku! Kalau dihajar sepanjang malam, mana kuat aku jalan untuk menjalankan sendiri rencanaku, andai anak- anak tak bisa diandalkan. " Keluh keki Jessi dalam hati, tapi sekali lagi ia kalah dengan kelihaian tangan Hendra.
Hendra yang masih kuat, segera menggendong Jessi melangkah menuju lif yang akan membawa mereka menuju lantai, tempat kamar yang sudah Hendra pesan secara online.
Di kamar Sulte Room hotel X. Hendra berkali- kali membawa istrinya kesurga. Seolah tidak banyak waktu lagi untuk mereka, Hendra benar- benar menghujam Jessi sepanjang malam.
__ADS_1
Lalu dipenghujung percintaan mereka yang kesekian kali. Hendra bergumam lirih.
" Andai sayang memutuskan untuk tetap melanggarku, aku akan ikhlas jika ini jadi kenangan terakhir kita. Tapi kumohon, jangan libatkan buah cinta kita dalam urusanmu yang berbahaya, andai kau mau meninggalkanku yang kau anggap mengekangmu, mulai besok kau kubebaskan sayang. Tapi bilamana kau tidak merasa aku memenjarakanmu, tetaplah ikuti suamimu ini,
Ikhlaskan jiwa ragamu bersamaku dan jangan berbuat jahat lagi." pinta Hendra sembari meneteskan airmata.
Jessi tak menjawab, Hendra memeriksa Jessi yang sudah terlelap diatasnya. Hendra tersenyum kecut,
lalu membaringkan istrinya dengan lembut disisi sebelah kirinya.
" Sampai kapan kau begini sayang, selalu bersembunyi bahkan dari aku yang sudah sepanjang hidup setia padamu. Apa hebatnya menutup mata hati." Lirih Hendra pasrah.
* **
Sebulan sudah berlalu sejak malam indah itu. Semua sudah beraktifitas seperti biasa. Hendra bahkan sudah berjumpa dengan Rianti, dan sesuai kata Jessi putrinya itu tidak menolaknya.
Hendra sangat bahagia dan mengagumi wajah manis Rianti yang Hendra sekali.
" Kau manis sekali sayang...Jangan merubah karya Illahi. " Ucap Hendra mengagumi putrinya.
" Papi ini lucu dech..Masak Dokter bedah plastik melarang orang merobah wajah, padahal itu keuntungan buatmu ayah. " Cerocos bingung Rianti.
" Orang boleh merobah ciptaan Tuhan dalam keadaan terpaksa, seperti sumbing, luka bakar atau
bekas kecelakaan. " Sambung Hendra.
" Tapi mami merobah wajahnya untuk lebih sempurna, kok papi mau???" Tanya protes Rianti.
" Karna aku terlalu cinta, aku jadi buta, sekarang cintaku sudah teralihkan oleh duniaku yang lain. " Ujar Hendra tatapan misterius.
" Papi mencintai orang lain. Tak boleh! Aku takkan mau berjumpa lagi denganmu jika itu terjadi!
lelaki dimana saja sama, begitu mudah mengganti perempuan dari hati dan hidupnya! " Ujar marah Rianti, ia bermaksud hendak beranjak masuk meninggalkan ayahnya diruang tamu.
" Tidak sayang... Ayahmu bukan lelaki seperti itu. Ayah mencintai mamimu dan buah kasih kami." Ujar Hendra menahan langkah Rianti.
Rianti terduduk dipangkuan ayahnya, sembari menatap pria itu dalam.
" Tapi mamimu bandel Ria...Ia sekarang mulai sibuk menyerang Permana Jaya Group. Ia lebih mencintai ambisi ketimbang papi dan dirinya sendiri. " Jelas Hendra.
" Papi tidak mencegah dengan menasehatinya?
" Sudah capek, tak mampan. " Ujar Hendra angkat bahu.
Rianti pindah kesofa didepan sang ayah dengan menghempaskan bokongnya.
" Cik, ia sempat mengajakku terlibat, tapi aku tak bisa jahat papi, mamaku mendidikku untuk selalu berfikir untuk kebaikan saja. Mamaku orang yang baik, patah hati, ditinggal gebetan, bahkan ditinggal suami saja ia dengan mudah mengikhlaskan. Bagaimana bisa aku mengusik orang yang tidak pernah bersalah Pa???
" Tidak perlu! Kau jangan lakukan itu sayang..Kau jadilah seperti mamamu, bahkan dijahati saja ia tak dendam, apalagi berniat jahat pada orang baik. Itu dosa besar! Papi tak rela kau berbuat begitu! Walau_
" Walau aku hanya anak H_
" Suuut...Tak ada anak yang seperti mau kau sebut putriku, semua yang terlahir suci. Dosa orang tua mereka yang akan menanggung! Sekarang kau putri Aulia pramesti dan Sandia Jaya secara hukum, akan seperti itu statusmu selamanya! " Ujar Tegas Hendra setelah menutup mulut Rianti dengan ujung jarinya. Walau begitu tegas, nampak luka dan sedih dimata orang tua itu. Riati bisa melihat itu.
Rianti menitikkan airmatanya, merasakan kesedihan yang disembunyikan dihati kecil sang ayah. Tiba- tiba saja dalam hatinya terbersit keinginan yang cukup Gila.
" Andai saja bisa lahir kembali, aku ingin lahir sebagai putri Aulia dan dirimu papi Hendra.
__ADS_1
Atau Setidaknya papa dan mama bisa berjodoh. Tapi itu tak mungkin, paut usia kalian 20 tahun.
Andai keinginanku yang kelewatan itu terjadi, aku pasti akan merawat keduanya dengan kasih sampai ujung usia mereka, seperti Sonia dengan senang merawat para lansia dipantinya, aku akan membuat Syurga terindah dirumahku sendiri untuk papa mamaku." Batin Rianti.