
" Untung Putraku menolak perjodohan dengan Rianti. Ternyata Rianti bukan putri kandung Aulia Ayu Pramesti temanku, tapi putri tersembunyi Jessi dan Hendra yang diadopsi. Kalau bukan karna jiwa pembangkang Bahar, hampir saja keluargaku dalam lingkaran Jessi melulu. Ternyata segitunya aku berusaha melupakan masa laluku, namun masa lalu itu sendiri datang membayangi kehidupan keluargaku. Ya Allah...Apa begini karma dari sebuah dosa besar? Tolong Ampuni mommy dan daddyku ya Robb, dan lapangkanlah kubur mereka." Airmata Boy menetes tak dapat terhindari tatkala teringat kembali pada awal dirinya ada didunia ini.
Boy yakin orang tuanya sudah damai disisi Maha Kuasa. Namun ketika ia dihadapkan kembali pada ingatan masa lalu, ia selalu terbawa perasaan. Sekarang pria yang masih gagah diusia menjelang senja ini tertunduk dengan berurai airmata.
" Tolong bantu aku, menepis bayangan masa laluku Robb..." Pinta Boy dikedalaman kalbunya.
Bahri yang masuk keruangan ayahnya tanpa aba- aba, tercenung melihat ayahnya yang selama ini ia pandang sebagai pria kuat, gagah berkharisma dan berkuasa menangis sesugukan dimeja kerjanya. Dan Isak itu terdengar pilu dan menyayat hati.
" Kenapa ayah begini rapuh, ada masalah apa dengan adik kesayangannya itu? Setahuku Mimi sudah bahagia dan baru kembali dari bulanmadu, Mengapa ayah sangat sedih, Adakah kejadian yang terlewatkan dari pengawasanku?" Bahri terheran- heran mencari- cari sisi terlemah yang membuat ayahnya sampai serapuh ini. Kedua alis Bahri sampai menaut bingung. Bahri datang ingin membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi dengan sang ayah, saking gugup dengan apa yang akan ia sampaikan pada ayahnya, Bahri sampai lupa baca salam. Dan ia menemukan kejutan yang diluar jangkauan fikirannya terlihat didepan matanya.
Bahri menghela nafas, melihat kondisi Boy, Bahri jadi ragu, dan memutuskan untuk kembali ke ruangannya." Sebelum ayah melihatku, aku pergi saja diam- diam. " Batin Bahri
Bahri berbalik badan bermaksud ingin pergi seperti pencuri yang batal melakukan aksi karna kasihan pada sasarannya yang ternyata sedang dalam kesulitan. Andai saja ada pencuri begitu🤭🤭🤭
Bahri melangkah pelan dan mengendap- endap ingin keluar. Baru saja beberapa langkah ia ingin berlalu, Boy sudah mencegatnya.
" Sudah masuk tanpa salam, perginya juga diam- diam. Jelangkung ditengah hari, kembali dan duduklah! " titah keras Boy yang membuat Bahri bergetar takut.
" Dimana kerapuhannya yang tadi?secepat itu ia membungkusnya.Ya Tuhan...Mampus aku! " Jerit hati Bahri yang gugup bercampur takut. Ia mengira karna tertunduk dan asyik dengan kesedihannya, ayahnya tidak akan melihatnya, tetapi ternyata ia salah besar. Dalam keadaan apapun Boy tetap sama, selalu waspada dan mengenali lingkungannya dengan baik.
" Kau dengar tidak? Kembali kata Ayah! " Terdengar lagi suara Boy yang menggema, tatkala melihat putranya diam ditempat.
" Ba_ baik Ayah..." Akhirnya dengan sudah payah Bahri dapat berucap. Anak muda itu kemudian berbalik badan dan berjalan dengan langkah sedikit
bergetar menuju meja kerja sang ayah.
Bahri mengumpulkan seluruh kekuatannya, menarik kursi dan duduk menghadap sang ayah sembari menatapnya, karna sang ayah pasti akan marah jika tidak ditatap saat bicara.
Cukup lama Ayah dan anak itu saling tatap dengan fikiran masing- masing. Setelah mengatur nafas, akhirnya Bahri membuka suara. " Tadi Aku ingin bicara dari hati kehati pada ayah menjelang jadwal makan siang ini. Tapi melihat Ayah, aku jadi segan, takut ayah sedang tak bisa diganggu. " Ucap Bahri dengan sangat berhati- hati.
Boy tersenyum lebar, seperti bukan dia yang barusan menangis. " Bau- baunya ada yang mau melangkahi, makanya sangat gugup dan kaku. " Ujar Boy menebak fikiran putranya.
__ADS_1
Deg.
" Ya Tuhan...Aku hanya tahu urusan mesin ciptaan manusia, lupa jika ayahku ahli membaca motor tubuh manusia ciptaan Tuhan." Sentak batin Bahri mengagumi keunggulan sang ayah.
" Ya ayah.. Aku memang ingin mengatakan itu, tapi sebaiknya kita tunda dulu membicarakan itu karna belum begitu penting.Sekarang yang lebih penting bagiku bagaimana bisa ayahku serapuh tadi? kalau boleh berbagi dengan anakmu yang tidak bijak ini, tolong bicarakan denganku ayah, aku ingin sesekali
mendengar curahan hati ayahku sendiri. Karna aku bukan ayah yang bisa membaca fikiran orang lain.
Tolong jadikanlah bahu anakmu yang masih kecil ini sebagai tempat bersandar. " Ujar Panjang Bahri sembari berdiri mengembangkan kedua tangannya.
" He...He....Bahumu bahkan sudah sering menjadi tempat bersandar wanitamu kau bilang masih kecil
Bahri Bhalendra Putra! Kau sangat lucu dan menggemaskan putraku. " Boy terbahak sembari berdiri dan melangkah menuju putranya. Boy tidak mau mengecewakan putranya, ia menghambur kedalam pelukan Bahri, tapi bukan untuk menangis, melainkan melanjutkan tawanya lalu kemudian menepuk pundak sang putra.
" Dadamu tidak enak untuk disandari. " Ujar Boy membuat Bahri mengerucut.
" Menurut ayah masa depan lebih penting dari masa lalu, walau kadang masa lalu membayangi masa depan seseorang. Dadamu bau perempuan." Ujar Boy keluar dari dekapan Bahri.Tanpa memberikan kesempatan pada Bahri, Boy kembali berucap." Bahri...secepatnya kita akan mengatur masa depanmu dengan gadis itu, sebelum terjadi kesalahan yang akan menjadi catatan masa lalu yang buruk kelak untuk kau kenang dimasa depanmu." Ucap Boy yang membuat putranya bingung bercampur kesal.
" Ayah tahu sayang...Kau masih menjaga batasanmu! Tapi itu karna belum masuk pihak ketiga dan keempat. Sebelum masuk pihak tersebut, bagaimana kalau kita atur pernikahanmu dengan Cery secepatnya. " Ujar Boy membuat Bahri kaget lagi untuk kesekian kalinya, tapi kaget kali ini disertai tarikan nafas lega.
" Ayah...Kau tahu hatiku, kau ayah terbaik! " Pekik Bahri menghambur kedalam dekapan ayahnya.
Boy menepuk- nepuk lembut pundak Putranya, membuat Bahri semakin membenamkan diri dalam
dekapan hangat sang ayah. Setelah cukup lama Bahripun mengendus- endus dada sang ayah.
" Ada apa?" Boy mendorong tubuh Bahri yang mengendusi dadanya.
" Sudah tua begini saja kau masih pecinta wanita. " Ujar Bahri kemudian.
" Apa maksudmu? Boy berpura- pura bingung.
__ADS_1
" Dadamu juga bau wanita! Bahkan farfum wanita itu masih melengket dibajumu. " Tuding Bahri dengan wajah serius.
Boy datang untuk menyentil kening putranya. " Dasar payah! Kau gunakan caraku untuk menggodaku! Tentu saja tubuhku bau wanita, karna sebelum kekantor aku bercinta dua kali dengan istriku, makanya kusuruh kau yang meeting
pagi tadi. " Jawab Boy tak berfilter, membuat wajah
putranya memerah karna malu.
" Ayah..." Pekik tertahan Bahri, lalu anak muda itu tertunduk malu, ia tak sanggup melihat wajah sang ayah yang terang- terang mengakui kemesuman orang tua itu dengan bundanya.
" Makanya secepatnya minta bundamu melamar Cery! agar kau tak perlu curi- curi dosa kecil lagi! " Ujar Boy.
Menit berikutnya Bahri menegakkan kepalanya, menatap sekeliling. Tidak lagi menemukan sang ayah, ia menggeleng pusing.
" Dasar jitah! Sudah tuapun masih tidak bisa kusaingi." Sungut Bahri.
Saat Bahri membalik dan dan ingin keluar dari ruangan, terdengar notifikasi Pesan diponselnya.
Bahripun segera membukanya.
" Istriku sudah menunggu dibawah untuk makan siang bersama. Kalau kau mau bicara dengannya datanglah kekafe X, ayah akan membantumu bicara. To the poin dan jangan bertele- tele, sebab habis sholat Zuhur kami akan meneruskan kencan kami dihotel ayah terdekat." Boy.
" Ya ampun....Sengaja sekali dia memanas- manasiku biar ngebet nikah. " Kesal Bahri.
" Tapi sekali lagi kuakui kalau kau sangat licik dan pandai membuka rahasia orang ayah, sedang hatimu tidak bisa kutebak sedikitpun." Bahri menggerutu sembari berjalan.
Langkah Bahri kembali terhenti mendengar bunyi pesan diponselnya, dibukanya lagi pesan itu.
" Jangan fikirkan yang tadi, ayah bersedih hanya teringat dengan Almarhum kakek dan nenekmu.
Fikirkan saja bagaimana caramu membuat bundamu setuju mengambil menantu gadis sederhana."
__ADS_1
Bahri tersenyum kecut, ia kembali gugup, ia tahu betul bundanya termasuk sulit untuk diambil hati. Akankah Bunda Bella mau merestui? Apalagi akan melangkahi Bahar yang awalnya juga menyukai Cery. Dada Bahri kembali berdegup tak karuan.