
Sementara Wafi mengatur urusan pernikahan sang Big Bos. Kakek Tiono dan Han mengantar lamaran secara resmi pada Keluarga Bhalendra. Sedang calon pasangan mulai dipingit.Frem dilarang kedua kakek menginjakkan kakinya dipanti dan rumah sakit sejak pagi itu.
" Kalau kau masih datang kesini dan kerumah sakit untuk testi- testi lagi, kami benar- benar akan membawa Sonia pergi jauh. " Ancam Tiono sok tegas.
" Tapi kek.." Frem mengusap mukanya dengan putus asa.
" Tak ada tapi- tapian. Tapian mandi hanya ada dalam istilah negri asal Mommy Sonia. Nanti tanya Sonia apa artinya setelah kalian Syah." Ujar Sang kakek memangkas semua protes yang akan Frem sampaikan waktu itu.
Sekarang seminggu sudah berlalu, Sejak perdebatan pagi itu. Frem tidak lagi pernah melihat kancil nakal kesayangannya. Bahkan semua akses ditutup, Frem bagai hidup dizaman batu, tak ada signal yang bisa menghubungkannya dengan Sonia.
" Namanya orang ketiga tak ada yang baik, masa telfonpun diblok, padahal masih banyak yang perlu kami bicarakan. " Sungut Frem masih pagi sudah cemberut diruang kerjanya.
" Ini juga, orang- orangku semua berpihak pada kedua kakek itu, tak ada seorangpun yang mau mematuhi perintahku kalau berhubungan dengan Sonia." Frem sudah merasa sesak dan sebak menahan rindu. Ia makin sering sedih sendiri, dan memgingat Almarhum maminya. Bahkan sekarang Frem sampai menangis sendiri dengan tertunduk lemas dimeja kerjanya. Untung pagi ini tidak ada meeting penting, Frem hanya akan memeriksa file dan laporan sehari ini.
" Ya Elah bos... tinggal nunggu malam 27 juga, Napa sampe kayak orang sekarat gitu, Emang segitunya ya kalau orang sudah jatuh centong." Goda Wafi saat memergoki Frem.
" Kau ini! Kebiasaan masuk tidak ngetuk dulu! " protes Frem, ia cepat- cepat mengusap airmatanya.
" Bos sampe menangis??? Oh Tuhan...tidak kusangka! " Sorak Wafi kaget melihat Frem susah payah menghentikan airmatanya.
" Aku teringat mamiku Wafi... makanya makinsedih begini. " Ucap Frem masih mengusap airmatanya yang masih mengalir.
Mendengar itu wafipun tak kuasa membendung airmatanya, ia teringat pula pada dirinya dan adik- adiknya yang tidak beribu.
Wafi melempar tubuhnya diSofa, dan bergolek disana.
" Bos masih syukur punya ayah, dua kakek yang kaya raya dan baik hati. A- Aku...Hanya sebatang kara membesarkan kedua adik perempuanku sejak ayah kembali menyusul ibu. Untung bos mempekerjakan ku sejak SMA, jadi hidupku tidak begitu buruk. Hiks....Hiks...Bos adalah Heroku, selagi masih ada nyawa, aku takkan melupakan jasamu. Huuuuuuuuu ."Sekarang Frem yang meski berjuang mendiamkan Wafi, karna Wafi sudah menangis seperti anak kecil.
__ADS_1
" Suuuuut...Sudahlah diam, Apa kata orang nanti, jika ada yang memergoki. " Ujar Frem seraya berjalan menyerahkan sapu tangan pada Wafi.
Frem teringat kembali saat ia terbang ketanah air waktu itu hanya satu hari, untuk interview calon asisten pribadi yang akan ia tugaskan memantau kehidupan papi dan juga kakeknya dipanti. Frem memanggil 25 orang untuk interview dari Seribu lebih pelamar online. Frem memilih Wafi dari 25 kandidat itu, karna melihat tatapannya yang jujur, serta penuturannya yang apa adanya. Walau pada awal interview Frem sempat kesal pada pria muda itu.
" Namaku Abdul Wafi, artinya hamba yang setia. Walau kita berbeda aku janji akan bekerja dengan setia padamu tuan." Ujar Wafi memperkenalkan diri.
" Tuan masih muda, terlihat lebih tua sedikit dariku, paling masih SMA tahun terakhir.. " Cerocos Wafi.
" Siapa yang menyuruhmu menilaiku, aku sudah tingkat akhir di perguruan tinggi, aku mengikuti program akselerasi.
" Um....ternyata calon bos Anak berkemampuan lebih ya. Wafi garuk- garuk kepala.
" Siapa yang bilang kau diterima? Apa kepandaianmu? Bisa karate?
Wafi menggeleng.
Memanah atau memegang pelatuk?
Frem menatap Wafi tajam, mukanya merah menahan marah.
" A- aku cuma bisa masak, ngurus adik. Saking Grogi melihat tatapan tajam Frem, Wafi hanya teringat kepandaiannya itu.
" Stop! Aku akan memanggil kandidat yang lain. Aku tak butuh orang sepertimu. Ini bukan pencarian baby siter." Frem segera mengusir Wafi. Tapi Wafi malah menarik kaki Frem dan menangis disana.
" Ayahku baru saja meninggal, ibuku sudah tiada sejak aku masih kelas Enam, tabungan ayah di ATM cuma cukup untuk makan sampai besok, adikku dua masih kecil, kalau tuan tidak mau memberikan aku pekerjaan aku memberi makan adikku pakai apa? Hiks.. hiks.... mendapatkan panggilan kerja ini rasanya seperti akan ada hari esok untukku, tapi rupanya ini tidak benar, tuan hanya memberi harapan palsu. " Wafi meraung tanpa melepas kaki Frem.
" A- aku bisa komputer dikit, trus silat sampe sabuk Ijo. Kalau senjata api baru pernah lihat diFilm Action.." Ucap Wafi diujung Isaknya terdengar pelan dan putus asa.
__ADS_1
Tanpa Wafi duga Frem mengusap pundak Wafi. " Baiklah...Aku akan memberikanmu pekerjaan ini, tapi harus belajar keras setelah ini. " Ujar Frem kemudian. Wafi makin meraung dikakinya.
Seperti hari ini, susah payah Frem mendiamkannya kala itu.
" Langkah, Jodoh, Rezeki dan maut seseorang sudah ditentukan. Rezekimu terikat dengan rezekiku Waf, sebab itulah aku menerimamu bekerja saat itu, meski kau mengaku tidak punya kepandaian apa- apa.
" Karna Bos dan aku merasa sesama tidak beribu." balas Wafi seraya mengusap airmatanya.
" Ya, selain itu matamu menunjukkan kejujuran dan kesetiaan, walau mulutmu berkata sembarangan. " Ujar Frem.
" He...He ..Maaf Bos, sepertinya dalam hal ini kita juga sama, kurang pandai berkata manis. "
" Kamu benar! Itulah bedanya orang yang dididik oleh seorang ibu dengan kita yang tidak. " Jawab sendu Frem.
Tidak berapa lama pintu diketuk. " Masuk! " Ujar Frem setelah merasa baik dan rapi.
Ceklek...
Tiba- tiba kegelapan hati Frem berubah jadi cerah. Seulas senyum dari gadis didepan pintu membawa cahaya terang benderang. Sejenak Frem melupakan Wafi, ia segera menarik gadisnya masuk.
Bar...Pintu dilempar keras. Sonia sudah ditarik kuat kedalam pelukannya. Rasanya Frem ingin menenggelamkan tubuh kecil itu kedalam dirinya.
" Hey...tidak puasakah tuan? atau sudah tak bisa melihat ada Wafi disini? " Tanya Protes Sonia dengan nada diplomatis sembari melepas dekapan Frem. Walau juga rindu, Sonia berusaha keras menepisnya tak ingin rencana pernikahannya kacau.
Sedang Wafi memejamkan matanya sejak dari tadi, ia berupaya supaya terlihat tidur, agar bosnya dan Sonia tidak malu. Ia ingin melihat bagaimana reaksi pasangan ini selanjutnya. " Sesekali nonton layar tancap ngak apa." Wafi kepikiran kemana- mana.
Bahkan ia teringat senyum nona Zhi, dan berharap bisa berpasangan dengan gadis cantik itu, menyusul sang Big Bos memiliki pendamping. " Ingat Fi, lagi puasa dan jangan memimpikan yang diluar jangkauan, apalagi kalian berbeda. " Wafi kembali menasehati hatinya yang menurutnya telah traveling terlalu jauh.
__ADS_1
Sedang Frem yang teringat ancaman kakeknya kemudian mengernyit. " Bukankah kita dipingit? Mengapa kesini?
Sonia membalas dengan tersenyum, senyum yang manis sekali Dimata Frem.