Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Kalkulasi Cinta.


__ADS_3

Sepuluh hari diluar negri cukup membuat Sonia rindu berat pada tanah airnya. Begitu pesawat mendarat di bandara, Sonia sampai meneriakkan kata syukur. " Terima kasih Tuhan...Akhirnya kami selamat tiba kembali di bumi pertiwi!!! " Pekik Sonia yang membuat rombongan membelalak kaget. Sampai - sampai Wafi yang menyambut mereka karna sudah balik ke Jakarta tigahari yang lalu menarik Bosnya untuk berbisik.


" Apa bos lakukan pada nyonya disana? Sepertinya nyonya bukan habis kembali dari berbulan madu, seperti orang baru bebas dari pengasingan. " Ucap lancang Wafi dengan berbisik.


Sonia yang melihat orang bercengangan bukannya canggung, malah dengan santainya mulai menghidupkan telfonnya lalu mulai mengusap kontak orang tersayangnya yang ia tinggal.


" Kau ini, Sempat berfikir aku menyakiti istriku, tidak tahu saja kalau ia akan lebih merindukan dua lansia itu ketimbang aku. Coba dengar dan lihat apa yang sedang ia lakukan begitu sudah boleh menghidupkan ponsel. " Ujar Frem sembari mengedipkan matanya kearah Sonia yang sudah sibuk menjauhkan diri dari rombongan, untuk leluasa berbicara ditelfon.


Sonia tahu sedang dibicarakan, Namun kekhawatirannya pada kakek membuat ia tidak menghiraukan apapun. " Kakek...Bagaimana keadaan kakek Han? Semalam Nia bermimpi,kakek berdua sehatkan? " tanya Sonia beruntun begitu telfon tersambung.


Hening beberapa detik ditelfon. Hingga Sonia kembali bertanya dengan wajah cemas. " Kalian baikkan kek? Sudah dua hari kalian tidak menjawab telfon Sonia." Ujar Sonia.


" Kakek baik Nia...Tapi_ " Ucapan kakek Tiono terpotong, berfikir bagaimana mengungkapkan kenyataan yang terjadi agar Sonia tidak terkejut.


" Tapi Apa?" Kejar Sonia.


" Kakek Han kambuh sayang...Sejak kemaren malam kakek dirawat inap, kakek lupa bawa telfon semalam karna buru- buru, maaf ya cantik. Telfon kakek barusaja diantar sama Udin barusan." Jelas kakek Tiono sedikit gugup..


" Astaga...Pantasan Nia sampai memimpikannya. Sekarang bagaimana kondisinya kek? Mengapa tidak meminta yang lain menghubungi kami? "Benar apa yang diduga Kakek Tiono bahwa Sonia akan sangat cerewet jika itu menyangkut kesehatan mereka.


" Tenanglah sayang...Sekarang kakekmu sudah membaik, nafasnya sudah tak sesak lagi, hanya belum mau bicara saja, mungkin dengan Nia diaakan bicara.Cepatlah kembali." Ucap kakek Tiono dengan membujuk.


" Kami sudah kembali kek, sekarang diBandara, kakek dirumah sakit putri kan? "


" Tentu sayang, kemana lagi kakek akan dilarikan kalau bukan kerumah sakit pemilik panti kami. " Balas kakek Tiono sembari menatap adiknya yang terbaring lemah bed Pasien. Tiono sebenarnya belumlah baik, hanya saja Tiono tak mau Sonia tergesa dalam perjalanannya.Tak ingin sesuatu terjadi dengan keluarga baru penerusketurunannya itu.


Frem yang melihat wajah Sonia yang terlihat berubah jadi serius, bergegas menghampiri istrinya .


" Kita langsung kerumah sakit! Dan kau Wafi! Aku akan menghukummu karna sudah berani menyembunyikan kondisi kakek pada kami. " Ujar Sonia dengan wajah begitu merah menahan marah.


" Apa? Emang ada apa dengan kakek? " Tanya Frem dan Wafi bersamaan?.


" Jangan banyak tanya, cepat bawa aku kerumah sakit! Pria ini pasti bersandiwara, sejak jadian pacaran dengan putri matahari, kau jadi menyebalkan dan munafik." Tuding Sonia pada Wafi.

__ADS_1


Wafi yang memang tidak tahu dengan keadaan kakek yang disebut Sonia menggeleng bingung, ia tidak Sudi dituduh sembarangan, apalagi selama ini ia tak pernah mendengar kata kasar seperti barusan keluar dari mulut Sonia.


Sampai duduk dibelakang kemudi, Wafi mengusap dadanya. " Sabar Wafi! Nyonyamu begini karna lagi cemas, tolong jangan diambil hati. " Bujuknya pada diri sendiri.


Melihat dari Spion para pengawal Bosnya sudah berada dalam mobil, tanpa perintah, Wafi segera melaju.


Wafi melajukan mobil dengan cepat begitu hatinya kembali tenang. Sedang Frem segera meraih istrinya kedalam dekapannya." Sayang...Wafi baru saja kembali dan langsung dibawa sibuk oleh Jean di PJG, mungkin ia benar tidak tahu kondisi kakek. Lagian sayang seperti ngak tahu saja kalau kakek sering aneh, jangan- jangan kakek yang meminta agar tidak memberi tahu Wafi,karna memberitahunya sama dengan memberitahu kita.


Mungkin ia tidak mau mengganggu kita yang sedang dalam proses membuat cicit untuknya." Frem berusaha merayu istrinya.


" Kalau urusan nyawa, tak boleh begitu, kalau sesuatu terjadi dengan kakek Han, aku pasti akan menghukum kakek Tiono. " Sungut Sonia.


Frem mengusap kepala istrinya dan mengecup puncuknya. " Bukankah keduanya sama penting sayang? Jadi untuk apa menghukum yang satu karna yang satunya. Bukankah cintamu pada mereka Empat puluh - empat puluh, untuk suamimu ini kan cuma tertinggal sisanya." Ujar Frem yang membuat Sonia akhirnya tersenyum.


Walaupun senyum itu sangat tipis.


" Cik, Ajo ini! Masak cintaku sampai dikalkulasi begitu. " Protes Sonia, namun ketegangan yang tadi sedikit menguap.


Sonia menatap Wafi yang terdiam dan fokus mengemudi. Ia teringat sudah bersalah menuduh Wafi. Setelah mendegup salivanya yang masih terasa pahit. Sonia menatap Wafi. Cukup lama Sonia termenung dalam dekapan suaminya. Hingga mereka tiba didepan rumah sakit.


" Tak apa nyonya...Aku sudah melupakannya, sekarang Ayo kita turun dan segera memastikan kondisi kakek." Ucap Wafi tulus.


Pasangan itu mengangguk, lalu bergegas turun setelah Frem membantu Sonia melepas selbet.


Sedang Tian dan yang lain hanya lebih dulu keluar.


Siance membukakan pintu, sedang yang lain sudah berbaris rapi menunggu Bos mereka.


" Kalian menunggu disini saja! " Titah Frem.


" Baik tuan..." Jawab kelima pria itu serentak.


" Mheum..." Frem menjawab dengan deheman saja.

__ADS_1


" Sayang...Jalannya pelan- pelan saja, ntar kakek makin sakit, jika Nia tidak menjaga dengan baik calon cicitnya. " Ujar Frem seraya menggandeng Sonia setelah berhasil menahan langkah terburu wanitanya itu.


Kalau kondisinya tidak sedang begini, Sonia pasti sudah meledeki suaminya yang tingkat kepedeaannya luar biasa ini, mengira membuat anak itu seperti membuat godok pisang,aduk- aduk , goreng langsung jadi. Tapi Sonia tak sempat, yang ia fikirkan hanya kondisi kakek.


Begitu sampai diruang rawat kakek, Sonia langsung menghambur pada pria tua yang terbaring lemah itu. " Kakek...Nia pasti tidak akan ikut dengannya kalau tahu kakek bakal begini ditinggal Nia. " Ujar Sonia sambil meraih tangan kakek Han yang tidak diinfus. Sonia kemudian mengecup tangan kakek , airmata dan air hidung Sonia meluncur cepat membasahi tangan keriput itu. Semua yang ada didalam ruangan rawat menatap haru pada Sonia yang terlihat sangat down dengan sakitnya kakek Han.


Selama lima menit Sonia memeluk kakek Han yang terbaring sambil terus menangis. " Kenapa tiba- tiba begini kek? Padahal selama ini kakek sudah sangat stabil. " Ratap Sonia.


Han yang merasakan sentuhan Sonia, dan sayup mendengar suara cucu mantu kesayangannya, pelan- pelan membuka matanya. Ditatapnya Sonia lekat setelah beberapa kali mengedipkan matanya tak percaya.


" Benarkah ini Sonia?Sayang sudah kembali?ini bukan mimpikan? Apa pewarisku sudah tumbuh disini? Tidak ada yang mengganggu kalian selama disana kan?" Tanya Han bertubi, membuat semua yang menyaksikan melotot bingung, terutama abangnya Tiono.


" Kakek...Pelan- pelan ngomongnya...Ini benaran Nia, Nia dan fremmu baik- baik saja. " Jawab Sonia sembari mengecup kening sang kakek.


" Syukurlah..." Ujar Han berbinar.


" Begitu melihat Sonia, asmamu langsung lenyap ya! " Sorak Tiono, kesal, geli dan cemburu jadi satu.


" Aku begini ada alasannya bang...Kau jangan cemburu dulu." Protes Han seraya menatap sayu abangnya. Lalu kakek Han termenung sejenak, teringat percakapannya dengan seseorang ditelfon sebelum asmanya kambuh, dan penyakit lama dibawah sana kembali berdenyut, hingga ia kritis dan dilarikan kerumah sakit oleh Tiono dan Tim kesehatan panti.


Sekarang apa semuanya sudah baik, setelah melihat cucu menantu kita sudah sampai disini dengan aman? " tanya Tiono melihat adiknya Terdiam sembari mengusap dada. " Ya Bang... Akan jauh lebih baik jika Sonia segera memberikan kabar gembiranya. " Ucap Han pelan, namun masih bisa didengar oleh semua.


" Jangan berfikir yang lain- lain dulu kek...Kutahu kalau dikalkulasi, mungkin cinta istriku lebih besar pada kalian berdua dari aku dan papi, tapi aku mohon sembuhlah dulu, baru memikirkan soal anakmu itu. " Frem yang dari tadi diam angkat bicara, ia segera mendekat pada kakeknya, dan mengecup kening sang kakek yang sudah entah berapa puluh kali dicium Sonia tadi.


Semua tersenyum dengan ungkapan sayang berbalut cemburu Frem pada sang kakek.Tapi tidak


dengan Sonia dan Han.


Sonia tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih datar, dan menatap kakek Han yang terlihat begitu menghawatirkan nya.


" Apa ada yang mengancam keselamatanku dan janinku melalui kakek? Hingga kakek sampai jatuh sakit?" Tanya Sonia dalam hati.


" Ada apa? " tanya Frem mengernyit, melihat istrinya terdiam sambil mengusap perut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2