Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Gejolak Jiwa Remaja


__ADS_3

Pria muda itu sampai kerumah Utama keluarga Tanoe dengan berkendara sedikit ugal- ugalan. Melihat putra datang ngebut , dan turun dengan wajah kusut, Jessi mengejar putranya. " Sayang nyawa dikit ya!!! Mami sudah melakukan banyak hal untuk menjadikanmu pewaris keluarga ini, kalau sampai mati sebelum situa dan sibangkot mati, bagaimana bisa dapat apa- apa. " Sergah kasarJessi dengan muka masam.


" Mami cuma mikirin harta, tidak tahu hati


putranya juga tersiksa. " Jawab asal Jean


yang lagi kesal, melangkah besar menuju


kerumah utama. Jessi berlari kecil menyeimbangi langkah sang putra.


" Tersiksa kenapa? Bukankah papimu memanjakanmu, bahkan mengasingkan sibangkot dan anak itu, kau diperlakukan seperti putra mahkota dirumah ini, kurang apa lagi? " tanya Jessi sembari menyeret putranya dan membawanya keruangan kedap suara.


" Aku jadi jadi putra mahkota, sementara mami sendiri diasingkan kerumah belakang, tak dianggap sebagai istri! Apa bangganya! " Cibir Jean membuat Jessi naik pitam.


" Hey Jean! Jangan mengungkit penderitaan mami, bagi mami tak masalah tak dianggap istri oleh situa, yang penting usaha mami tak sia- sia, dari dayang jadi ibu suri, kau belajarlah yang baik, biar kita bisa menguasai Permana Group." Tukas Jessi.


Ha...ha...ha...Jean tertawa seperti kesetanan. " Bagaimana bisa darah Suci keluarga ini tumbuh baik dirahim wanita licik seperti mami! kalau boleh minta reinkarnasi, aku ingin terlahir lagi, dari perempuan baik, menyesal aku , sudah terlahir sebagai pecundang! " Ujar Jean tak belfilter.


Plakk... Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat dipipi Jean.


" Tambah mi...tamparan ini takkan seberapa dibandingkan dengan tamparan yang akan mami terima kelak atas kecurangan yang sudah mami lakukan. " Ucap Jean sembari mengusap pipinya.


" Diam kau Jean!!! Kau anakku, sudah capek mengasuhmu supaya mengerti arti tujuan kita, malah sekarang berani melawan, siapa yang sudah mencuci otakmu? " tanya Jessi bingung karna selama ini Jean tak pernah menantangnya.


Sedang Jean sendiri yang sudah lama mendengar desas- desus tentang maminya, jiwa remajanya bergejolak,


fikiran kritisnya menolak perlakuan mami


pada kakek, papi dan abangnya. Mereka memang terlahir dari ibu yang berbeda, tapi darah yang sama membuatnya kadang merasa ingin bersama.


Melihat Bahri dan Bahar berbahagia dan rukun dengan kembarannya disekolah, hati Jean makin sering dilanda rindu pada sang abang.


Andai maminya berhati bersih, pasti ia bisa bersama- sama dengan orang - orang terpentingnya dirumah ini.

__ADS_1


Kesepian tinggal dirumah istana hanya berteman para pelayan, membuat Jean menyibukkan diri diluaran dengan teman- teman dan para gadis, hingga cap Playboy tak dapat dilepas dari dirinya. Bahkan untuk prestasi akademik Jean cendrung ketinggalan dari anak konglomerat sekelas dengannya, karna ia tidak sungguh - sungguh dalam belajar.


Saat memandikan kakek Tiono dengan para Care Worker, ia berfikir, untuk apa ada maminya, kalau mengurus satu mertua dengan banyak pelayan saja ia tak bisa, malah merasa bangga menyerahkan mertua kepanti werda. Semakin keki Jean pada maminya. Ditambah setelah mendengar sendiri penuturan Jessi yang nyata- nyata mengaku menghalalkan segala cara untuk menjadikannya pewaris, membuat fikirannya makin menggelap.


" Sadarlah mi...hidup tidak selamanya berpihak pada tujuan kita, adakalanya kita tak sadar kalau sebenarnya kita sudah membangun kehancuran kita dengan tangan sendiri. " Ucap Jean melembut.


Kemudian ia mengusap pipi Jessi, lalu mengecup keningnya. " Maaf sudah berkata kasar...tapi sebenarnya Jean sangat sayang pada mami, tidak ingin mami menyesal dikemudian hari." Ucapnya lagi sebelum berlalu dari ruangan itu.


" Selamat malam tuan muda!" Sapa para pelayan yang berpapasan dengan Jean sembari menunduk.


" Selamat malam bibi Mey...Paman Hong.." Apa ada pesan dari papi sebelum pergi keluar negri?. " tanyanya seperti orang bingung, bak lupa kalau papinya tak pernah tinggal pesan apa- apa sebelum pergi pada pelayan. Paling tuan Fredy mengirim pesan atau menelfonnya langsung begitu kegiatan bisnisnya sedang ada waktu senggang.


Akhir- akhir ini kesehatan papinya jauh menurun, membuat Jean kadang khawatir melepasnya bepergian jauh, tapi apa mau dikata, ia belum bisa mengurus perusahaan, selain masih terlalu muda, jiwa bisnisnya tergolong rendah.


Jean malah berharap abangnya yang akan meneruskan bisnis keluarga, biarlah


dirinya jadi wakil saja, agar tanggung jawabnya tidak begitu berat, berbeda dengan obsesi sang mami yang menginginkan Jean sebagai presiden Permana kemudian hari bahkan mau menjadikannya sebagai pewaris tunggal.


itu terkesan dingin dan terlihat penurut,


Bahkan Jessi berusaha mengasuh putranya menjadi penakluk dan perebut yang kejam, sombong dan tak kenal belas kasih, sekarang malah jadi penasehat. Jessi mengacak rambutnya sendiri merasa kecewa muridnya tidak terbentuk sebagaimana maunya. " Apa yang sudah membuatnya berbeda, dan siapa yang sudah merobah pandangannya. " tanyanya bergumam.


Perempuan itu tidak sadar, kalau selama ini antara dia dan putranya seorang memeram pisang dan satunya memeram batu.


Dikamarnya, seperti biasa, kalau sudah kembali, Jean selalu disambut.


" Tuan Jean mau mandi? Biar paman pe


siapkan. " tanya pelayan pribadi Jean, sedikit risau melihat Jean tampak sangat kusut.


" Ngak paman...aku akan melakukannya sendiri, kelak bila takdir melemparku ketempat yang tidak seenak diistana ini, biar aku punya sedikit kepandaian selain hanya bisa dilayani! " Ujar Jean yang membuat pelayan sekaligus pengasuhnya sejak kecil itu mengernyit tak percaya.


" Angin ****** beliung darimana yang sudah memutar letak otak tuan muda hingga jadi berfikir sejauh itu? " batin Tuan Feihong.

__ADS_1


" Pergilah paman beristirahat, mulai hari ini Jean akan belajar mandiri. Untuk apa sewaktu muda dilayani bak raja, setelah tua dibuang. " Ujar sinis Jean.


Paman Fe tersenyum seraya menyentuh pundak Jean dengan sedikit berjinjit. " Tuan muda sudah mengunjungi tuan besar ya? " tanyanya lembut.


" Ya paman...aku sempat memandikan kakek dengan para perawatnya, aku malu


karna tak bisa melakukan banyak hal untuk merawat kakekku, padahal didalam


darahku mengalir darahnya, dan semua fasilitas dan kemewahan yang kudapatkan ini dari hasil usahanya ketika muda. " Keluh Jean lirih.


" Syukurlah jika tuan muda menyadari itu, belum terlambat untuk berbuat baik pada orang tua selagi mereka masih ada, sering- seringlah kunjungi tuan besar, dan


selamatkan papimu dari musuh dalam selimut, ingatlah nak, kau adalah air jernih dalam berkas yang berdebu, berhati- hatilah agar debu itu jangan sampai mencemarimu. " Ucap lembut paman Fe menasehati tuan muda yang sudah dianggapnya putra.


Jean tercenung mencermati ucapan pengasuhnya. " Paman istirahatlah..Aku segara mandi. " Balasnya kemudian.


****


Sementara Sonia berbaring manja dalam pelukan mami Anjani, setelah sebelumnya berkeliling mengucapkan selamat malam pada para Bayi besar kesayangannya.


" Kapan Nia kembali kerumah? Tidak kangen pada keluarga besar? " tanya mami ketika Sonia sibuk mengendus- endus ketiaknya.


" Lebaran mi..." Jawab Sonia ringan sembari memejamkan mata.


" Gadis Uniq, begitu aneh caramu melipur lara. " batin Anjani.


Ia terus mengusap rambut halus sang putri, hingga terdengar dengkuran halus Sonia.


Sedangkan Jessi menyeringai dibawah temaram lampu tidur kamarnya. Tidak terima putranya berlaku tidak seperti yang dia inginkan.


" Selidiki siapa saja


yang sudah bertemu dengan tuan muda Jean hari ini, dan untuk selanjutnya! laporkan padaku! " Titahnya pada seseorang ditelfon.

__ADS_1


__ADS_2