
Sore ini gerimis turun disertai dengan angin. Udara cukup terasa menyentuh tulang,badai petir mengubah warna langit menjadi lembayung . Keadaan cuaca yang kurang bersahabat, berlawanan dengan kondisi hati pria muda ini. Frem turun dilantai dasar kantornya tepat ketika jam tangannya menunjukkan pukul 15. 30 WIB. Baru saja Frem keluar dari liff, dan melangkah menuju pelataran gedung, Wafi sudah stanbay dengan payungnya. Siap membawa Bosnya agar aman dari titik hujan sampai dimobil.
" Jadi kita memenuhi undangan ngabuburit sama buka bersama Bos? " tanya Wafi setelah mereka dalam mobil, pria itu ragu karna kondisi cuaca.
" Mengapa tidak? Bukankah acara ngabuburit nya mendengarkan ceramah dari ustad yang terkenal asal pulau S itu, yang diadakan di ballroom? " tanya balik Frem memastikan.
" Iya Bos, acaranya in door." Balas Wafi.
" Aku sudah sering menonton Vidio pak ustad, tapi berjumpa langsung belum pernah, jadi pengen berjumpa langsung. " Ujar Frem dengan tersenyum lebar, hingga gigi putihnya terlihat jelas.
" Wahhh mengejutkan sekali, aku tak mengira Bos suka menonton siraman rohani.Padahal selama ini keluarganya terlihat sekular.." kagum Wafi dalam hati.
" Dulu keluarga kami tidak seperti ini Waf, Kakek Tiono dan nenek Thalia sangat senang menerima mami yang cantik, baik dan Sholeha.
Walau tidak termasuk Keluarga Siak, tapi
sukup Samawa. Sebelum datang Jessi sebagai sahabat yang berkhianat.Kedatangannya berubah segalanya, seperti hujan deras ditengah hari, sebelum semua sadar, ia menenggelamkan keluargaku dalam air bah yang sangat deras. " Kenang Frem dengan mata berkaca- kaca.
Wafi menyentuh pundak Frem." Sudahlah bos,jangan mengingat luka, yang penting kedepannya kita harus waspada, karna dalam dunia tidak seorang saja manusia seperti Ibu tiri Bos. Untuk masa yang akan datang, lebih selektif memilih orang kepercayaan. " Nasehat Wafi, sementara ia sendiri tak kuasa menahan sendu. Frem hanya berkaca- kaca, sedang Wafi menitikkan airmata, dua pria ini sama, sama merasa derita sedihnya tak beribu, hanya saja ibunya Wafi pergi karna menderita penyakit.
Frem menatap Wafi, mengulurkan sapu tangannya pada Wafi, lalu pandangannya, beralih kejam tangannya lagi. Hujan mulai reda, tinggal angin yang masih bertiup cukup kencang." Bagaimana kalau kita berangkat , mereka sudah capek menunggu. " Ajak Frem kemudian.
Wafi mengangguk dan mulai menjalankan mobil.
Setelah lama terdiam Frem kembali menatap Wafi.
" Kau benar Waf, jangan pernah memasuk kanwanita lain kerumah kita, dengan dalih kasihan pada seorang teman.Kalau ingin membantu cukup diluar saja, jangan membawa mereka kerumah.Seperti orang tua Sonia , menyediakan tempat yang berbeda untuk orang yang ingin mereka bantu. " Ucap Frem, kagum dengan kebijakan Almarhum Rendra.
" He...He, Tidak begitu juga Bos.Takdir setiap keluarga tidak sama,kudengar dari cerita kakek Joko , keluarga Kims sangat dekat dengan asisten rumah tangga mereka, tapi mujur bagi mereka, tiada yang berkhianat.
" Yang berkhianat tetap Wanita itu!!! " teriak dua pria muda itu bersamaan, mereka teringat pada berita tentang Jessi yang dulu mantan Barista dikafe Rendra.
" Berarti musuh Bos sama dengan Sonia." pangkas Wafi.
" Ya,bila dia menganggapnya musuh.
Apa gadis seperti dia punya kebencian apalagi dendam?"tanya Frem mengernyit.
Wafi menggeleng tak mengerti.Frem pun memilih berfikir sendiri.
Setelah berkendara selama 40 Menit karna jalanan cukup macet.Frem dan rombongan tiba diparkiran hotel, bertepatan ketika Sonia turun dari lamborgini merah.
Gadis cantik itu memakai dress violet, dengan penutup wajah warna senada. Sonia melangkah dengan mantap dikawal oleh lima lelaki muda dengan seragam putih dan masker serba putih.
__ADS_1
" Kau lihat dia Wafi? Gadis bandel itu tidak tahu, kalau aku sedang mencari putri Sonia saat ini, ternyata ia benar- benar hadir disini sebagai putri." Ujar Frem sembari merapikan maskernya.
" Kita lihat saja nanti Bos, dia kenalkan diri sebagai siapa terhadap para tamu abangnya.Untung kita jadi ngambil mobilnya tadi, kan penampilan kita tidak kentara." Ucap Wafi bangga dengan idenya sembari mengusap pintu kaca mobil barunya.
" Ya sudah, pakai masker masing- masing!Kamu Wafi,jangan lupa bawa surat- surat, dan undangan acara."titah Frem beralih kewajah seriusnya.
"Oke Bos!."Balas serentak orang- orang Frem.Kemudian semua lelaki itu memastikan kesiapan penampilan mereka dan sang Big Bos,sebelum turun.
***
Boy menyambut rombongan Frem dengan mengulurkan tangan."Silahkan mengambil tempat
tuan muda,"Ucap Boy sembari tersenyum.
Frem membalas hanya dengan mengangguk, lalu menerima uluran tangan Boy.Boy mengantar Frem dan rombongan menuju kursi yang masih kosong.
Acara Tauziah oleh sang Guru baru saja dimulai, Frem mengambil posisi duduk tidak jauh dari Sonia. Boy tersenyum tipis melihat sikap dingin Frem padanya, sementara berani curi pandang pada adiknya."Tuan SPP, direktur baru PJG , bagaimana bisa anda bersembunyi dari saya. " Batin Boy.
Frem balas menatap Boy dengan tersenyum,
seakan ia mendengar bahasa kalbu Boy."Semoga dia tidak menghalangiku, aku akan melamar Sonia padanya dan papi William."Balas Frem didalam hati.
Frem sadar sepenuhnya diatas langit ada langit, tapi untuk mencapai langit yang diatasnya, Frem tidak akan berputus asa.Permasalahan keluarga dimasa lalu, yang dibuat oleh Jessi, tidak membuat Frem takut akan menghadapi Boy. Hatinya sudah sangat lega telah menemukan gadis masakecilnya, untuk menggapai langit yang sudah nampak, Frem akan berjuang keras, lelaki ini juga memperkuat tingkat kewaspadaannya, kalau - kalau ada penghalang dijalan ini, ia sudah bersiap-siap.
Acara pengajian selesai, tepat menjelang waktu
Berikutnya dilanjutkan dengan magrib Berjamaah.
Para pengawal Frem istirahat dikamar yang disediakan untuk kamar ganti, satu bagi setiap
kepala rombongan.
Sedang Untuk Bos mereka Wafi memesan kamar
VIP dilantai 21.
" Kakak ikut kesini ? " tanya Jean dengan berbisik tatkala bertemu dengan Frem Usai Magrib.
" Uuuussssst." Frem meminta Jean diam.Sedang
Ella hanya tersenyum sembari setia menjaga Frem.
" Aku takkan membiarkan ini terjadi, tidak jadi pimpinan PJG, setidaknya kau jadi cucu mantu terakhir Raja Kims, takkan kubiarkan kau menikahi
__ADS_1
model itu."Seringai seseorang menatap sinis dari sudut ruangan.
Makan bersama digelar, Jean memilih duduk dekat kakaknya. Ella bergabung makan dengan kaum hawa, atas permintaan seorang pelayan.
Selang beberapa sendok memakan nasinya, Frem merasa kepalanya berat." Ya Ampun...Mengapa ngantuk sekali. " Ketus Frem.
Sedang Jean juga merasakan hal yang sama.
" Kak, kenapa hidangan ini bikin ngantuk ya?. " Tanya Jean mengernyit.
" Aku juga begitu, rasanya sudah tak tahan." Balas Frem.
Tidak berapa lama, kedua kakak beradik ini sudah tak tahu apa- apa lagi.
Dua Jam kemudian Frem terbangun dari tidurnya.
Lama Frem mengerjabkan matanya untuk dapat
memfokuskan pandangannya.
Frem terkejut, tatkala ia merasakan ada benda penghalang disisi kirinya, ketika ia meregangkan
tangannya.
Deg
Frem membeku dan lama tak bergeming, saking Syok melihat seorang gadis dengan dres merah disisinya.
" Ya Tuhan...Mengapa jadi begini? " Teriak Frem membuat gadis itu tersentak dan membalik menghadap Frem.
" Kamu???" tanya keduanya dengan berteriak..
Bersambung.
Hallo Say, akhirnya badai berlalu berkat doa sobat pembaca semua. Saat halangan cobaan dan rintangan bertubi- tubi, penulis mengira tidak bisa Up lagi. FB bermasalah, Aplikasi terhapus, loding cerita hilang, kembali keleptop lama, sudah leptopnya
demam, dijatuhkan pula sama anak. Akhirnya lapor
Q & A MT, setelah FAG dibalas, hati ini mulai lega,
setelah dibantu akhirnya akun ini menaut lagi.
Thank you buat kerja cepat dan Bagus Admin MT, maaf udah merengek adinda disana.
__ADS_1
Makasih banyak buat Editor dan Sobat pembaca yang sudah kasih saran dan doa untuk penulis.
Salam hangat untuk semua.