Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Semoga Bukan .


__ADS_3

Bibir Sonia benar - benar memucat, begitu melihat suaminya yang tak bergeming.


Dalam keadaan cemas dan panik dihampirinya Frem cepat, hampir saja ia terjatuh saking tergesa.


Untung dengan sigap Erlan menahan tubuh nyonya itu.


" Ha_ hati- hati Dek Nia..." Ucap Erlan sedikit gugup karna jarak mereka yang sangat dekat, dan sekejap pandangan keduanya beradu, walau itu tidak berlangsung lama, karna Sonia buru- buru menepis tangan Erlan dari pinggangnya.


" Maaf..." Ucap Erlan tulus.


Sonia tidak menjawab, hanya anggukan kecil saja. Untuk mengucapkan terima kasih saja, Sonia tak sempat. Yang ia fikirkan saat ini hanya suaminya.


Ia sangat cemas, ada apa dengan Frem.


Sonia yang takut hal buruk menimpa ayah dari anaknya itu, dengan perasaan menghampiri Frem, dan mulai memeriksa denyut nadi dengan perasaan takkaruan.


Menit berikutnya Sonia menarik nafas lega, bahkan senyum tipis sudah terlihat dari bibirnya.


" Ternyata suamiku hanya tertidur saja bang...Biar Nia saja yang mencoba bangunkan. Abang dan kak Neha menunggu saja." Kalimat pertama yang terucap dari Sonia setelah memastikan kondisi suami.


Erlan mengangguk, namun ia tak membawa Neha beranjak dari situ.


" Hati kami takkan lega, sebelum tuan muda benar- benar bangun dan mengatakan apa sebenarnya yang telah terjadi." Batin Erlan. Erlan lalu memberi kode pada Neha untuk mengikutinya menunggu kedepan pintu.


Neha yang mengerti mengikuti Erlan.


Mengetahui suaminya hanya tertidur, Sonia sedikit tenang. Namun itu tidak berlangsung lama.


Karna berikutnya Sonia malah gusar, karna sudah capek menggoncang pundak Frem dengan kuat.


Tapi prianya itu tak kunjung terjaga.Rasabingung, kecewa dan curiga kembali memenuhi hatinya,hingga ia tidak sabar membuat Frem agar segera terbangun.


" Frem Bangun!" Panggil Sonia dengan menghentak.


Melihat Frem mengangkat wajah dengan mata yang masih menutup rapat dan wajah terangguk - angguk, sonia mulai mengomel.


Sedang Erlan dan Neha menahan tawa. Mereka merasa lucu dengan gaya tidur Frem. Tapi tentu saja bukan saatnya tertawa disaat seperti ini.


" Frem kamu kenapa? Kok bisa seceroboh ini? tidur disini tanpa mengunci pintu. "Cerocos Nia mulai mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin, menuangkan ketelapak tangan sedikit, lalu dipercikkan kewajah Frem.


Sedetik dua detik, tigadetik ...Sonia terus mengulang perbuatan itu, hingga satu menit mata Frem masih saja terpejam.


" Tidurnmu kok gini? padahal biasanya jam tidurmu minim dan sangat tipis. Ini kok susah sekali dibangunkan .Ck." Sonia mengomel dan mendecih sembari memutar bola matanya mengintari ruangan itu, mencari sesuatu yang mencurigakan.


Mata Sonia tertuju pada gelas kopi Frem yang sudah kosong. " Biasanya suamiku tidak akan membiarkan gelas kosong terletak lama dimeja. Dikamar ia akan merapikan sendiri mejanya, sedetik saja aku terlambat semua pasti sudah beres. Ia sangat mementingkan kebersihan dan kerapian." Gumam Sonia curiga.


" Mudah- mudahan bukan lagu lama, karna itu sangat membosankan. " Sungut Sonia dengan bergumam.


Kemudian Sonia teringat pada penyusup tadi, " " "Barangkali ini berhubungan dengan orang itu. Aku harus tahu secepatnya, ia tak boleh lolos! " Putus sonia dalam hati, sembari mendegup saliva.


" Bang Erlan turun! Periksa apa kak Bima berhasil menemukan orang itu! Pastikan jangan sampai lolos! " Titah Sonia dengan berteriak.


" Cepat kataku!!! Sonia kembali berteriak karna Erlan terlihat ragu meninggalkan mereka, mungkin karna suami bosnya belum sadar benar.


" Ba_ baik Nona." Jawab Erlan.


Hentakan suara perintah terakhir dari Sonia Rendra menggetarkan sendi- sendi kedua insan berbeda jenis itu. Apalagi Neha, ia sudah seperti kucing yang habis dipukul majikan. Tersudut dengan kaki gemetaran.


Dengan tergesa Erlan melangkah menuruti perintah. Namun ia tak lupa memperingatkan rekannya, walau wanita itu sedang dalam kondisi kurang baik." Neha,Jaga nona denganbaik,pastikan tidak terjadi apa- apa disini. Kirim pesan padaku kalau tuan muda sudah bangun. " Pinta Erlan dengan berbisik melewati Neha. Ia masih menghawatirkan nona mudanya itu. Sedang Neha hanya bisa mengangguk saja karna lidahnya masih tenggorokannya masih rasa terkunci.


Senangkan Frem mulai terbangun. Suara lima oktaf Sonia berhasil menembus alam bawah sadar Frem, bahkan hampir saja memecahkan selaput gendrang pria itu,karna Sonia teriak disisi kursi kebesarannya. Mata Frem yang tadinya berat jadi membuka lebar.


Frem memandang sekeliling dengan pelipis yang mengerut, lalu terhenti disosok istrinya. Wajah cantik yang sekarang merah karna marah.


" Sayang...datang- datang kok teriak? Kuping Ajo sakit. " Keluh Frem lalu mengusap kupingnya


sebelah kiri yang masih berdengung karna suara tadi.

__ADS_1


Bukannya mendengar keluhan Frem, Sonia malah melangkah menjauh, dan terus memeriksa ruangan itu.


" Bagaimana aku tidak marah, direktur utama Grup besar tertidur dimeja sendiri tanpa mengunci pintu, bahkan membiarkan penyusup masuk ke kantornya. Aku sangat cemas, kupikir kau tadi telah dilenyapkan!." Ujar sonia dengan nada naik turun. Terlihat sekali dari tatapannya kalau ia masih sangat kesal.


Frem berdiri dan melangkah menghampiri Sonia. Tangannya meraih tangan istri dan meng genggam dengan erat untuk menenangkan Sonia dan dirinya sendiri. Sampai berkali- kali Frem menarik nafas berat, dan menatap Sonia dengan tatapan sayu.


" Aku memang ceroboh, mau mempekerjakan orang baru dan dengan mudah percaya."Jawabnya pelan sembari mengumpulkan memory.


"Tadi aku ketiduran sehabis minum kopi dari paman itu." Frem menunjuk gelas kopi yang sudah kosong yang ada dimejanya. Apa itu sebabnya?" Dahi Frem kembali mengernyit.


" Pantas masih disini gelasnya, ternyata dugaan ku benar. " Batin Sonia menyimpulkan. Lalu menatap Frem dengan menelisik.


" Cik, Sonia mendecis dan melepas tangan Frem kemudian memeriksa ruangan itu kembali. Sepasang mata indah Sonia menajam, menyapu setiap sudut ruangan.


" Kemana Wafi asisten andalanmu! Juga para pengawalmu? Dari tadi,tidak seorangpun yang kulihat. Semua orangmu tak berguna Frem! " Cerca Sonia sengit. Dada perempuan itu sampai naik turun menahan Emosi.Sejak tadi ia melupakan panggilan sayangnya pada suami.


" Tenanglah Nia ...Kan tuan muda baik- baik saja.


Seharusnya kita bersyukur. " Sela Neha yang dari tadi diam membisu.


" Bagaimana aku bisa tenang kak... suamiku punya karyawan ribuan orang. Asisten dan pengawalpun ada, tapi semuanya tak ada yang becus! Bahkan bos sendiri hampir sekarat, semua menghilang entah kemana. Seorang OB pun tidak terlihat disini." Ujar Sonia dengan volume suara yang sedikit mulai turun.


" Tentu karyawan yang banyak sudah pulang Nia,Kan udah terlalu malam. OB nya juga sudah balik kali. Hanya petugas keamanan, asisten dan pengawal suamimu saja yang patut dipertanyakan.Protes Neha, tapi hanya berani ia kemukakan dalam hati.


Sedang Sonia seperti bukan dia yang marah- marah barusan. Kini wanita cantik itu telah asyik berkutat dileptop yang ada dimeja Sofa.


" Wafi tadi dapat telfon kalau adiknya kecelakaan, makanya ia pulang duluan sejak siang. Sedang Sian dengan Tian menungguku dilobi.Yang tiga lagi sudah kembali ke kenegaranya kemaren karna ada urusan kekuarga." Jelas Frem lirih.


" Urusan keluarga kok sama dan dadakan pula. " Sinis Sonia curiga.


" Lalu yang berdua kemana ?Kenapa meninggalkanmu sendiri, kalau mereka sengaja bolos, besok Aku yang pecat ! " Ujar Sonia.


" Kita pastikan dulu sayang...." Ucap Frem membujuk.


" Istriku ini..Aku yang pimpinan, kok malah dia yang mau main pecat. Apa benar aku sudah terlalu ceroboh dan lemah? Oke, kalau keduanya sudah jelas turut berkhianat, atau siapa saja yang terlibat, pasti aku juga takkan megampuni mereka. Batin Frem introspeksidiri dalam hati.


" Ya ampun Frem! Ini gawat! Bahkan hasil rekaman Kamera diruanganmu ada yang menghapus. kau tidak tahu! " Sentak Sonia membuat Frem terkejut kembali.


" Mungkin itu dilakukan setelah aku ketiduran. "


" Bahkan leptopmu ini pindah tempat kau masih belum sadar sayang! " Kesal Sonia sembari terus mengotak Atik leptop Apel.


Frem terkesiap, dadanya berdebar tak karuan, tapi ia berusaha bersikap tenang, walau matanya tak berkedip menyaksikan layar komputernya yang menampilkan rekaman CCTV ruangannya yang rusak.Juga ketika Sonia memeriksa File- file pentingnya, Frem memilih diam agar tak salah berkomentar.


Frem berkali -kali mengatur nafas, pria tampan itu kemudian tersandar lemas dipunggung istrinya, menenangkan hatinya sejenak.


" Izinkan sebentar Ajo bersandar nyaman disini Nia.. Masalah ini terlalu beruntun dan menyebakkan."Bisik Frem terdengar sendu.


Emosi Sonia turun, hatinya tersentuh dengan permintaan Frem.Sonia menutup aplikasi setelah memastikan File- file penting itu terkunci dengan aman, dengan menarik nafas kasar, ia shutdown komputer Frem. Lalu ia berbalik untuk memeluk suaminya.


Neha yang merasa tidak berkepentingan lagi disitu, diam- diam melangkah keluar, menunggu dokter cantik dan suaminya dilobi saja.


" Apa ada orang lain yang berambisi menghancurkanmu sayang? Ini ada yang mencoba membuka leptopmu tadi. Tapi ia tak berhasil menemukan kata kuncinya, karna tidak ada berhubungan denganmu. Lagian untung sistem pengamanannya berlapis-lapis." Ujar Sonia melembut, melihat suaminya yang sudah berkeringat dingin. Sonia Menepuk- nepuk lembut pundak Frem, dan mengusap peluh suaminya. Kemudian mengurai pelukan.


Sonimelangkah menuju jendela. Sekarang ia menatap kebawah dengan tatapan penuh misteri.


" Semoga bukan dia atau orang suruhannya. Kalau sampai beliau, aku tidak akan segan lagi menyeretnya kejeruji dengan menyertakan bukti kejahatan lalu yang kusimpan." Gumam Sonia.


Frem sekali lagi mengernyit, hatinya penuh tanda tanya.


" Apa sayang...Ajo tidak salah dengarkan? Nia menyimpan bukti kejahatan siapa? " Desak Frem penasaran dengan siapa yang dimaksud istrinya. Walau suara gumaman Sonia sangat lirih, tapi Frem masih dapat mendengarnya.


Frem menarik Sonia dan memutar tubuh mungil tapi berisi itu menghadap padanya, lalu menatap tajam sang istri dengan jarak yang sangat dekat. Frem merasa masih banyak hal yang disembunyikan Sonia darinya.


" Ajo sudah memaparkan segala tentang ku padamu Nia.... Bahkan penyimpanan File penting perusahaan ini saja Ajo serahkan padamu. Tolong jangan menyembunyikan apapun dariku. " Tuntut Frem dengan menahan dagu Sonia.


" Be_ Maksudnya belum jelas...Tadi aku hanya meracau saja karna kesal dengan kecerobohanmu dan orang- orangmu. " Jawab Sonia tergagap membuat Frem makin curiga.

__ADS_1


Namun detik berikutnya, Sonia dengan berani membalas tatapan Frem , seolah ia membiarkan Frem menembus mata batinnya.


" Belum saatnya suamiku...Kalau ia benar- benar taubat, aku akan tetap menyimpan rahasia itu, untuk menjaga hubunganmu dengan adikmu. " Batin Sonia.


" Jangan bersembunyi sayang...Katakan apa yang sedang kau fikirkan. " Pinta Frem mencoba selembut mungkin, karna ia teringat Sonia sedang dalam emosi naik turun pengaruh hormon kehamilan.


" A_Ajo...Sebaiknya kita memeriksa lagi. Jangan gegabah mengambil tindakan.Terdengar kembali panggilan sayang dari Nia, walau sangat canggung ia berusaha membujuk Frem.


" Nia...Ini telfon dari Bima tentang orang tadi. " Neha masuk dengan tiba- tiba mengantarkan Hp Sonia yang tadi ada didalam tas sandangnya yang dititip pada Neha.


" Nia jawab telfon dulu ya sayang..." Bisik Sonia berbalik menghadap Neha. Lalu meraih benda pipih itu dari sang asisten.


Sonia dengan cepat menjawab telfon itu. Setelah mendengar informasi dari Bima, ia segera menarik suaminya untuk pergi.


" Kita turun sekarang! Seorang yang berusaha menyabotase mobilmu sudah tertangkap! Entah ini berhubungan dengan OB baru dari rumah utama, atau lain lagi, sebaiknya kita selidiki." Ungkap Sonia.


" Ya Tuhan...sampai separah ini yang menimpaku hari ini..Pantas istriku meradang." Batin Frem.


" Mari kita turun. Tapi tak usah lari- lari! " Kali ini Frem yang memerintah, melihat istrinya berjalan begitu cepat.


Sonia tidak menghiraukan, ia bergerak cepat meninggalkan Frem dan Neha dibelakang.


Frem mengejar Sonia. " Kalau tidak mau berjalan pelan, aku akan menggendongmu didepan kak Neha. " Bisik Frem begitu telah berhasil mengejar istrinya.


" Tidak, Badanmu saja masih lemas begitu! "


Grepp


Up..


Dengan satu sentakan saja, Frem sudah menggendong Sonia. Ia sangat tidak suka dikatakan lemah oleh istri, membuatnya memaksa menguatkan langkah membawa Sonia dalam gendongannya, walau ia masih sedikit pusing


pengaruh obat tidur itu.


Walau malu dengan Neha, Sonia tak protes lagi.


Sedang Neha hanya senyum- senyum melihat pasangan muda itu terlihat mesra didalam lif. Bahkan Frem tanpa sungkan mengecupi pipi istrinya berkali.Dan Sonia balas membelai jakun suami.


" Walau masalah sedang didepan mata, dengan kontak fisik begitu, mereka tampak lebih tenang." Batin Neha.


" Jangan disitu dong Nia...ntar suamimu naik, aku yang sedang tidak mau menonton adegan panas gratis, karna suami lagi diluar kota yang menderita." Ujar Neha melihat Sonia memainkan jakun Frem. Tapi tentu itu masih Neha teriakkan dalam hati saja.


Detik berikutnya apa yang Neha takutkan terjadi.


Frem sudah meraup bibir Sonia. Ciuman panas pasangan sedang galau itupun tak dapat dihindari.


" Jangan..." Pekik Neha tertahan.


" Mhem...Sorry kak kelepasan.." Ujar Frem melepas pautan bibirnya dengan istri.


" Aku cuma ngontrak." Balas spontan Neha, lalu menutup mulut kembali karna sekilas ia melihat wajah Sonia yang sudah seperti tomat masak karna malu.


" Lanjutkan saja jika itu bisa jadi obat! Kakak akan tutup mata. " Ujar Neha.


Tentu saja membuat wajah Sonia makin merona. Sonia lalu menyembunyikan wajahnya didada bidang Frem.


Ting...


Pintu liff terbuka, menandakan mereka sudah sampai dilantai bawah.


Sonia ingin turun dari gendongan Frem. " Kali ini aku janji akan berjalan dengan pelan. " Ucap Sonia serius,yang akhirnya membuat frem menurunkan istrinya.


Tapi ia tidak melepaskan Sonia begitu saja, Frem berjalan dengan menggandeng istrinya itu menuju lokasi parkir.


" Kita Pakai Lamborgini biruku saja Jo, soalnya mobilmu disabotase kata kak Bima. Biar besok pagi diurus oleh montir dulu. " Ujar Sonia.


Neha dan Frem hanya mengangguk patuh. Mereka sudah menduga ketidak beresan ini. Tapi masih penasaran siapa saja terlibat,dan dalang semua ini. Juga dimana Tian dan Sian.

__ADS_1


__ADS_2