
Makan bersama sahur ini cukup kikuk bagi Sonia, walau ia gadis yang biasa diantara pria dan wanita tua muda, tapi dipeluk dan jadi tontonan dari sebagian karyawan dipanti, membuatnya malu, tapi tidak dipungkiri juga, ada mawar- mawar kecil yang bermekaran dihatinya.
Frem terus memandangi Sonia yang makan dengan menunduk, tidak biasanya gadis ini menundukkan wajahnya didepan orang- orang. Walau tak ada satupun yang berani mengolok nona mereka, tapi Sonia tetap saja malu.
Berbeda dengan Frem, saat melihat kancil kecilnya tertunduk malu, dengan pipi yang merona, ia tersenyum penuh kemenangan." Kukira selama ini dia tidak kenal rasa malu, mengingat ia yang selalu tersenyum pogah, seperti tak pernah ada masalah, sulit dipercaya dia makin kesini makin sering malu- malu, apakah tandanya dia merasakan getaran pertama sepertiku." Prem terus bertanya dalam hati tanpa lepas menatap Sonia dengan tatapan menyelidik. Sampai Sonia tersedak, barulah Frem sadar kalau benar- benar sudah mengganggunya.
" Minum nona! Hampir dari sebagian pegawai muda mengangkat gelas dan menyodorkan pada Sonia, tidak terkecuali Zidan, pelayan yang sering curi pandang pada Sonia. Itu membangkitkan hal baru dalam diri Frem. Ia segera mengusap tengkuk Sonia. " Sayang...Hanya aku yang boleh memberimu minum dari tangan sendiri." Ujar Frem membuat semua menurunkan gelasnya dan kembali duduk dibangku masing- masing.
Kakek Tiono dan Han diam dan menjadi penonton kali ini, mereka ingin melihat bagaimana calon pasangan ini memulai mengatasi masalah- masalah kecil yang ditimbulkan oleh rasa mereka sendiri.
Sonia yang sudah tenang setelah minum,mencoba menatap Frem. " Makanlah makananmu, kalau asyik menatapku, kapan mulainya, apa masih minta disuapin seperti waktu itu? " Ucap Sonia seraya menyuapkan sesuap kemulut Frem. Sekarang Sonia melancarkan serangan balas dendam pada kekasih yang sudah membuatnya tersipu dihadapan pegawai pantinya. Tapi Sebagai lelaki Frem tak mau kalah. " Apa salahnya aku menyaksikan gadisku makan benar dulu sebelum aku makan?" Frem menekankan kata gadisku pada kalimatnya, membuat semua tidak ada yang berani lagi menatap pada Sonia. Detik berikutnya Frem sudah mulai makan, lalu sesekali menyuapkan untuk Sonia dengan sedikit memaksa.
Akhirnya pria dingin itulah yang jadi pemenangnya, ia benar- benar membuat Sonia tunduk kepadanya.
Menjadi raja dimeja makannya.Bahkan ketika orang ketiga dan keempat protes, Frem mengacuhkannya. " Hanya aku sendiri yang boleh mengaturnya." gumamnya dengan menyeringai.
Diangkatnya tangannya sebagai peringatan, kalau dia sedang tidak bisa dicegah. Saat Sonia sendiri ingin membantah, Frem malah mengancam dengan berbisik." Jangan membantah sayang, atau mau kubalas ciuman terciduk itu didepan semua. "
CK, Dia ini! Sonia mendecak dalam hati, untuk melepaskan kekesalannya, ia malah tak sengaja meremas paha Frem, membuat pria itu hampir gila dan hendak menciumnya didepan semua orang.
Namun tiba- tiba mata Frem beradu pandang dengan Umi panti yang baru tiba diruang makan, Frem sontak tertunduk malu.
" Gadis bandel, mengapa memancingku didepan orang. " Sungut Frem.
Makan paling lama terasa bagi Sonia akhirnya selesai juga. Dengan sisa nyalinya, Sonia beranjak dari sisi Frem dan membuatkan minuman untuk kedua kakek, lalu gadis itu meninggalkan ruang makan menuju ruang Tiono tanpa menatap lagi kekursi makan panasnya.
__ADS_1
Baru saja ia meletakkan mempan minuman dinakas, sepasang tangan besar telah melingkar di pinggangnya.
" Ka- kamu? Belum sempat Sonia meneruskan kalimatnya yang terbata. Sebuah kecupan hangat lalu mendarat dipipinya.
Cup
Deg...
Deg.
Deg...
" Aku hanya pandai melepas rindu dengan begini, tidak jadi kancil pencuri sepertimu. " Ujar Frem segera keluar dari ruangan kakeknya usai melepas kancilnya.
" Kakek, Kenapa kalian tidak mencegahnya!!!" Teriak Sonia setelah sadar dan terlepas dari sihir asmara Frem.
" Tadi kalian dimana? " Tanya Sonia dengan merengek.
" Pergi menjemput selimut kekamar kakek Han, ia minta ditemani sama kakek, katanya mau lanjut tidur setelah subuh, soalnya semalam katanya hampir takbisa tidur dikamar itu. " Jelas Tiono.
Sonia menggeleng pasrah sembari mengusap pipinya.
" Kenapa dik, apa dia masih mengganggumu? " tanya selidik Han melihat pipi Sonia yang kembali merona.
" Ti- tidak kek...Sebaiknya minum obat dan susunya , nanti keburu imsyak. " Ujarnya lirih, kemudian setelah menyentuh pundak kedua kakek bergantian dengan tangan yang masih gemetaran, Sonia kembali kekamarnya dengan perasaan berkecamuk.
__ADS_1
Cukup Lama Frem duduk bersandar disofa sembari meraba dadanya, merasakan getaran yang masih terasa. " Ternyata reaksi tubuhku begini dasyat, selama ini aku dengan mudah menolak gadis karna
aku tidak merasakan hal seperti ini, tidak disangka getaran halus diwaktu kecil, setelah dewasa menjadi goncangan yang besar begini, bahkan telah membuat serene menara diinti tubuhku beraung. Frem beralih menatap bagian bawah yang sudah berdiri menjulang dibalik blue jinsnya. Ini tidak benar, aku harus kekamar mandi kakek, mumpung mereka belum bangun dan melihat wajahku yang merah ini, apalagi 20 menit lagi Imsyak." Gumam Frem sembari menatap para pengawalnya yang masih terlelap. Frem cepat- cepat beranjak menuju kamar kakek untuk membujuk dan menjinakkan burung yang sedang meronta minta dilepas dari sangkar emas yang selama ini mengurungnya dibawah sana.
Satu menit lagi menjelang imsyak, barulah Frem selesai dengan ritual mandinya. Begitu keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk saja, kedua kakeknya menyingkap selimut. " Sepertinya Minggu ini juga kita harus mengurus pernikahan mereka Han, daripada sakit kepala melihat orang lari- lari kekamar mandi, trus semedi dikamar mandi, tak tahu ada orang yang sesak BAB dari tadi." Tiono bersesungut seraya berjalan cepat kekamar mandi.
" Kau juga Frem melakukan yang begitu, kenapa tidak kekamar kakek saja, disana ngak ada orang, lihatlah kakekmu hampir berak celana. " Ujar Han membela abangnya yang telah berlalu ketoilet.
" Mana kutahu, kikira kalian disana, tadikan ngak ada pas aku..." Frem menggantung ucapannya. Tapi sayangnya Han sudah mengerti.
" Berarti benar kau yang mengganggunya tadi ya,
sebab itu kau mengurung diri dikamar mandi.! " Han langsung saja beringsut dari kasurnya dan berjalan menghampiri Frem, dengan berjinjit ia menarik kuping Frem.
" Aduh....Mengapa jadi serba salah sih, padahalkan baru small experiment saja, hukumannya seberat ini..Keluh Frem sembari mengusap kupingnya yang panas.
" Emang kau kira cinta pake eksperimen segala. Rasakan tuh kuping, untung ngak sempat copot. " Ujar Han tanpa merasa berdosa.
Sedang Frem terpaksa pasrah, secepatnya ia berpakaian.
Tiono keluar dari kamar mandi, sudah bersuci dan terlihat segar. " Minta asistenmu mengurus berkas- berkas persiapan jelang nikah, atur agar acaranya bisa dilaksanakan sebelum lebaran, lebaran tinggal urusan pesta saja. Urusan dengan Sonia dan keluarganya biar kakek berdua yang mengatur. Sepertinya tidak bisa menunggu lebaran Haji." Ujar Tiono.
" Siapa yang bilang mau nunggu tiga bulan lagi, emang kayak kakek sama nenek dulu, tunangan sampe bertahun, orang sekarang mana bisa begitu ." Balas Frem, tapi hanya ia ucapkan didalam hati, untuk mengucapkan langsung tentu ia tak sanggup, itu hanya akan mengingatkan kakeknya pada perempuan satu- satunya dalam hidupnya,Frem tak mau kakeknya sedih.
" Baiklah kek, Wafi akan segera mengurus ini ." Ujar Frem sembari merapikan pakaiannya.
__ADS_1
Azan subuh berkumandang. Semua diam, dan bersiap untuk menunaikan seruan tersebut.